Gereja Setelah Pandemi: Belajar dari Gereja Mula-Mula yang Bertumbuh dari Rumah ke Rumah

Table of Contents
Ada satu kebiasaan dari masa pandemi yang mungkin tanpa sadar masih kita bawa sampai hari ini: kita belajar bahwa beribadah tidak selalu harus berada di dalam gedung gereja.

Ketika COVID-19 memaksa banyak gereja menutup sementara pintunya, orang Kristen menemukan berbagai cara untuk tetap beribadah. Ada yang mengikuti ibadah melalui YouTube, Zoom, Google Meet, radio, atau siaran langsung media sosial. Ada pula keluarga yang belajar membuka Alkitab, berdoa, memuji Tuhan, dan mendengarkan khotbah dari ruang tamu mereka sendiri.

Waktu itu, semua dilakukan karena keadaan.

Tetapi sekarang, pertanyaannya menjadi berbeda.

Setelah gereja kembali dapat berkumpul, apa yang seharusnya kita pertahankan dari pengalaman tersebut?

Sebab pandemi ternyata tidak hanya mengubah cara kita bekerja, belajar, dan berkomunikasi. Pandemi juga memaksa gereja bertanya kembali tentang sesuatu yang sangat mendasar: sebenarnya apa arti menjadi gereja?

WHO sendiri pada 5 Mei 2023 mengakhiri status COVID-19 sebagai public health emergency of international concern, tetapi menegaskan bahwa COVID-19 tetap merupakan persoalan kesehatan yang perlu dikelola dalam jangka panjang. Jadi, pembicaraan kita hari ini bukan lagi tentang menunggu “kembali normal”, melainkan tentang bagaimana mengambil pelajaran dari perubahan yang sudah terjadi. 

Ibadah di Rumah Tidak Harus Menjadi Lawan Ibadah Bersama

Salah satu warisan positif pandemi adalah kesadaran bahwa ibadah di rumah mempunyai tempat penting dalam kehidupan orang percaya.

Namun, jangan sampai muncul pertentangan seolah-olah kita harus memilih: ibadah di rumah atau ibadah di gereja.

Alkitab justru memberikan gambaran yang jauh lebih menarik.

Dalam Kisah Para Rasul 2:42-47, jemaat mula-mula digambarkan tekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti dan doa. Mereka berkumpul bersama, tetapi juga memecahkan roti dari rumah ke rumah. 

Bahkan Kisah Para Rasul 5:42 menggambarkan aktivitas mereka berlangsung di Bait Allah dan dari rumah ke rumah. 

Ini penting.

Gereja mula-mula ternyata tidak membangun kehidupan jemaat hanya berdasarkan satu tempat pertemuan besar. Mereka mempunyai pertemuan bersama, tetapi juga mempunyai kehidupan komunitas yang lebih dekat di rumah.

Karena itu, mungkin kita tidak perlu bertanya, “Mana yang lebih benar: gereja di gedung atau gereja di rumah?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Bagaimana keduanya dapat saling melengkapi untuk membangun kehidupan jemaat?”

Gereja Bukan Sekadar Tempat untuk Hadir

Pandemi memberikan kesempatan kepada gereja untuk melihat kembali makna kehadiran.

Seseorang bisa hadir secara fisik di gedung gereja tetapi tidak sungguh-sungguh mengenal orang yang duduk di sebelahnya.

Sebaliknya, sebuah kelompok kecil yang hanya terdiri dari beberapa keluarga dapat menjadi tempat seseorang benar-benar dikenal, didengarkan, didoakan, dan ditolong.

Di sinilah konsep kelompok kecil gereja menjadi penting.

Gereja mula-mula tidak hanya berbicara tentang jumlah orang yang hadir. Mereka membangun relasi. Mereka makan bersama, berbagi apa yang mereka miliki, memperhatikan kebutuhan sesama, berdoa dan bertumbuh bersama. Kisah Para Rasul 2 bahkan menggambarkan mereka makan bersama dengan sukacita dan ketulusan hati. 

Dengan demikian, persekutuan jemaat bukan sekadar aktivitas sosial setelah kebaktian selesai.

Persekutuan merupakan bagian dari kehidupan iman itu sendiri.

Dari Gereja Besar ke Kelompok-Kelompok yang Bertumbuh


Di sinilah saya melihat kemungkinan yang menarik bagi gereja modern.

Bayangkan sebuah gereja mempunyai ibadah raya setiap minggu. Itu penting sebagai bentuk kebersamaan seluruh jemaat.

Tetapi setelah itu, jemaat tidak berhenti di sana.

Mereka dibagi atau membentuk kelompok-kelompok kecil berdasarkan wilayah tempat tinggal, usia, keluarga, pekerjaan, atau kebutuhan tertentu.

Satu kelompok mungkin terdiri dari enam sampai sepuluh orang.

Mereka bertemu di rumah secara berkala.

Bukan untuk membuat “gereja baru” yang terpisah, tetapi untuk membangun komunitas Kristen yang lebih dekat.

Di sana orang dapat bertanya tanpa takut dihakimi.

Pasangan suami istri dapat berbicara tentang pergumulan keluarga.

Anak muda dapat berbicara tentang pekerjaan, pendidikan, relasi dan masa depan.

Orang tua dapat berbagi pengalaman.

Orang yang sedang mengalami kesulitan dapat didoakan.

Dan ketika kelompok tersebut semakin besar, kelompok itu dapat berkembang menjadi dua kelompok baru.

Kemudian dua menjadi empat.

Dengan pola seperti itu, pertumbuhan gereja tidak hanya terjadi karena semakin banyak kursi terisi di gedung gereja, tetapi karena semakin banyak komunitas kecil yang hidup dan bertumbuh.

Semangat seperti ini memiliki kemiripan dengan gambaran jemaat mula-mula yang berkumpul di tempat umum sekaligus dari rumah ke rumah. 

Teknologi Bukan Pengganti Persekutuan, tetapi Jembatannya

Pandemi juga meninggalkan satu hal yang tidak mungkin kita abaikan: teknologi.

Hari ini, seseorang yang sedang sakit, berada di luar kota, merawat anggota keluarga, atau memiliki keterbatasan tertentu masih dapat mengikuti khotbah melalui internet.

Karena itu, ibadah online tidak harus dipandang sebagai musuh ibadah tatap muka.

Data Pew Research Center di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pola partisipasi keagamaan setelah pandemi memang berubah. Dalam survei 2023-2024, sekitar 40% orang dewasa Amerika mengatakan mereka mengikuti ibadah setidaknya sebulan sekali, baik secara langsung, online, maupun keduanya. 

Artinya, teknologi telah menjadi bagian dari cara sebagian orang menjalani kehidupan keagamaan.

Tetapi ada hal yang tidak mudah digantikan oleh layar.

Kita dapat menonton khotbah melalui ponsel, tetapi layar tidak otomatis mengetahui ketika seseorang sedang kesepian.

Kita dapat memberikan emoji “amin”, tetapi belum tentu mengetahui siapa yang membutuhkan makanan.

Kita dapat mengikuti doa melalui livestream, tetapi belum tentu mengetahui siapa yang membutuhkan seseorang untuk duduk di sampingnya dan berkata, “Saya akan berdoa bersama Anda.”

Karena itu, teknologi sebaiknya menjadi jembatan menuju komunitas, bukan alasan untuk kehilangan komunitas.

Kembali kepada Pola Gereja Mula-Mula

Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar yang dapat kita ambil.

Gereja mula-mula bukan hanya gereja yang rajin berkumpul.

Mereka adalah komunitas yang belajar, bersekutu, berdoa, makan bersama, berbagi dan memperhatikan kebutuhan orang lain. 

Jadi ketika kita berbicara tentang gereja di rumah, jangan membayangkannya sekadar memindahkan ibadah Minggu dari gedung gereja ke ruang keluarga.

Esensinya lebih dalam.

Rumah menjadi ruang untuk membangun relasi.

Ruang untuk belajar menjadi murid Kristus.

Ruang untuk mendengarkan pergumulan.

Ruang untuk berdoa.

Ruang untuk berbagi.

Dan bahkan ruang untuk menemukan orang-orang baru yang kemudian dapat bertumbuh menjadi komunitas baru.

Inilah yang mungkin sangat dibutuhkan gereja modern: bukan hanya lebih banyak acara, tetapi lebih banyak hubungan yang bermakna.

Gereja Modern Perlu Menemukan Kembali “Ruang Kecil”

Selama bertahun-tahun kita mungkin terlalu mudah mengukur kesehatan gereja melalui jumlah jemaat, besarnya gedung, banyaknya kegiatan, atau meriahnya ibadah.

Pandemi membuat ukuran-ukuran tersebut perlu direnungkan kembali.

Sebab ketika gedung gereja harus kosong, iman tetap harus hidup.

Dan ternyata iman itu dapat hidup di ruang keluarga, melalui percakapan sederhana, doa bersama, perhatian kepada tetangga, dan kelompok kecil.

Sekarang ketika gereja sudah kembali dapat berkumpul, jangan sampai pelajaran tersebut hilang.

Jangan kembali kepada gedung gereja dengan melupakan rumah.

Justru kita dapat membawa pengalaman dari rumah kembali ke gereja.

Ibadah bersama tetap menjadi tempat seluruh jemaat berkumpul dan menyembah Tuhan. Kelompok kecil menjadi tempat jemaat saling mengenal dan bertumbuh. Teknologi menjadi sarana menjangkau mereka yang tidak selalu dapat hadir. Rumah menjadi ruang pelayanan dan pembentukan komunitas.

Dengan demikian, gereja bukan hanya sebuah tempat yang kita datangi setiap minggu.

Gereja menjadi komunitas yang kita hidupi setiap hari.

Dan mungkin di situlah kita menemukan kembali semangat gereja mula-mula: mereka berkumpul bersama, tetapi juga hadir dalam rumah-rumah; mereka beribadah kepada Tuhan, tetapi juga memperhatikan sesama.

Sebab pada akhirnya, seperti yang diajarkan Yesus dalam Matius 22:37-40, mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama tidak dapat dipisahkan.

Mungkin inilah saatnya kita tidak sekadar kembali ke gereja setelah pandemi, tetapi kembali menemukan arti menjadi gereja.

Posting Komentar