Benarkah Susahnya Pria Minta Maaf Kepada Istri Karena Takut Dianggap Lemah?
Pria Susah Minta Maaf kepada Pasangan?
Tidak sedikit pria atau suami, mengakui kesalahan secara verbal dengan mengatakan, Maaf" kepada istrinya karena itu seperti "membuka luka" atau menunjukkan titik lemah yang selama ini mereka coba tutupi demi menjaga citra sebagai pelindung keluarga. Rekonsiliasi terkdang berada di wilayah abu-abu, tidak mengatakan maaf, tapi masalah dianggap selesai.
Jika kita rangkum, pola ini akan membentuk sebuah "Bahasa Rekonsiliasi Tersembunyi" yang perlu diketahui oleh para istri. Mari kita bedah mengapa faktor-faktor tersebut menjadi pilihan utama para suami:
1. Keengganan Membahas Kelemahan (Ego Protection)
Banyak pria tumbuh dengan konsep bahwa harga diri adalah segalanya. Membahas kesalahan secara detail (yang biasanya diinginkan istri agar masalah tuntas) bagi suami terasa seperti interogasi atau "sidang".
Mereka enggan membahasnya bukan karena tidak merasa bersalah, tapi karena mereka ingin segera "move on" dari perasaan tidak nyaman karena telah gagal melakukan hal yang benar.
2. Keterbatasan Komunikasi Verbal
Ada perbedaan biologis dan sosial dalam cara memproses emosi. Saat stres atau merasa bersalah, pria sering kali mengalami flooding (banjir emosi) yang membuat kemampuan verbalnya menurun.
Akhirnya, daripada salah bicara dan membuat masalah makin panjang, mereka memilih diam atau menggunakan sikap non-verbal.
3. Bahasa Non-Verbal sebagai "Ganti Rugi"
Pola ini sering disebut dengan Instrumental Repair. Karena sulit berkata "Aku minta maaf karena sudah membentakmu," suami menggantinya dengan:
- Memperbaiki barang di rumah yang rusak.
- Mengajak makan di luar.
- Menawarkan bantuan yang biasanya tidak dia lakukan.
- Memberikan uang belanja lebih.
Baginya, ini adalah penebusan dosa yang nyata dan terukur daripada sekadar kata-kata.
Bagaimana Mendamaikan Dua Sisi Ini?
Jika kita kembali ke pembahasan awal kita tentang Visi dan Misi serta prinsip "Mengalir", kita bisa mendudukkannya seperti ini:
Visi: Membangun keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang.
Misi: Saling memahami bahasa kasih dan bahasa maaf masing-masing.
Mengalir (Adaptasi): Jika istri tahu bahwa suaminya adalah tipe yang sulit bicara tapi sangat baik dalam perbuatan setelah konflik, maka istri bisa mencoba "mengalir" dengan menerima bahasa non-verbal tersebut sebagai bentuk maaf yang tulus, tanpa harus memaksakan kata-kata yang mungkin sulit keluar.
Sebaliknya, suami yang memiliki Visi untuk menjadi kepala keluarga yang bijak harusnya memiliki Misi untuk belajar menurunkan gengsi sedikit demi sedikit, karena ia tahu bahwa kata-kata "Maaf" bagi seorang istri adalah nutrisi bagi jiwanya.

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.