Kehidupan yang tergesa-gesa dan Absurd Kehidupan Menurut Albert Camus

Table of Contents


Hubungan antara absurd ala Albert Camus dan ketergesa-gesaan manusia modern bukan sekadar kebetulan, tetapi sebagai bentuk konkret dari cara manusia “melarikan diri” dari absurditas hidup. Kita mencoba untuk menelaah, ketergesa-gesaan, terburu-buru manusia dalam kehidupannya.

Absurd menurut Camus: Sebagai benturan, bukan Kekosongan

Menurut Albert Camus, absurd bukan berarti hidup tidak bernilai atau hampa.
Absurd muncul dari benturan antara dua hal, Hasrat manusia akan makna, kepastian, dan arah. Dan dunia yang diam, acuh, dan tidak memberi jawaban

Manusia bertanya: “Untuk apa semua ini?” Dunia menjawab: tidak menjawab apa-apa. Di titik inilah absurditas lahir.

Ketergesa-gesaan Ssebagai Strategi Pelarian

Dalam konteks ini, ketergesa-gesaan hidup sehari-hari bisa dibaca sebagai respons eksistensial terhadap absurditas, bukan sekadar persoalan manajemen waktu.

Dalam hal ini ada tiga lapisan.

a. Sibuk agar tidak sempat bertanya

Ketergesa-gesaan sering kali bukan karena hidup terlalu penuh,
tetapi karena takut pada jeda.

Jeda berarti:
refleksi
pertanyaan
kesadaran akan kefanaan
kesadaran bahwa banyak hal mungkin tidak bermakna seperti yang kita bayangkan

Maka:
agenda dipadatkan
target dikejar
notifikasi dibiarkan terus berbunyi

Kesibukan menjadi penangkal kesadaran absurd.

Dalam bahasa Camus: manusia lebih memilih aktivitas daripada kejujuran eksistensial.

b. Kecepatan sebagai ilusi makna

Ketika hidup dijalani dengan tergesa-gesa, muncul ilusi:
“Aku bergerak, berarti aku menuju sesuatu”
“Aku produktif, berarti hidupku berarti”

Padahal Camus justru curiga pada makna-makna yang:
terlalu cepat
terlalu rapi
terlalu siap pakai

Ketergesa-gesaan menciptakan makna instan, bukan makna yang disadari.

Ia mirip dengan:
bekerja tanpa bertanya mengapa
mengejar capaian tanpa memahami apa yang sebenarnya diinginkan

Bukan karena hidup jelas arahnya,
tetapi karena tidak tahan menghadapi ketidakjelasan.

c. Rutinitas sebagai “bunuh diri filosofis versi halus”

Camus menolak bunuh diri filosofis—yaitu melompat ke sistem makna (agama, ideologi, ambisi) hanya agar absurditas tidak terasa.

Ketergesa-gesaan sehari-hari sering menjadi:

bunuh diri filosofis yang disamarkan sebagai produktivitas

Bukan mati secara fisik,
tetapi mematikan kesadaran akan absurd dengan rutinitas mekanis.

Manusia terus berlari:
bukan karena yakin ke mana
tetapi karena berhenti terasa menakutkan

Lalu, Bagaimana Sikap Camus Terhadap Semua Ini?

Yang menarik: Camus tidak menyarankan pelan-pelan demi ketenangan,
dan juga tidak menyarankan berhenti dari hidup.

Ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih radikal.

a. Menyadari absurd tanpa melarikan diri

Camus mengajak manusia untuk:
hidup tanpa penghiburan palsu
bekerja, mencinta, berjuang tanpa jaminan makna final

Ini bukan pesimisme,
melainkan kejujuran ekstrem.

b. Memberontak dalam kesadaran

Dalam Mitos Sisifus, Camus menulis bahwa Sisifus bahagia bukan karena batunya sampai puncak, tetapi karena:
ia tahu absurditas nasibnya
ia tidak menyangkalnya
ia tetap mendorong batu itu

Jika dikaitkan dengan ketergesa-gesaan:
hidup bukan soal cepat atau lambat
tetapi sadar atau tidak sadar

Orang yang lambat tapi tidak sadar tetap terjebak.
Orang yang cepat tapi sadar bisa tetap eksistensial.

Ketergesa-gesaan yang Absurd vs Ketergesa-gesaan yang Sadar

Kita bisa membedakan dua jenis ketergesa-gesaan:
1. Ketergesa-gesaan yang absurd (dalam arti negatif)
lari dari pertanyaan
takut pada keheningan
sibuk agar tidak merasa kosong
2. Ketergesa-gesaan yang disadari
tahu hidup tidak memberi makna final
tetap memilih bertindak
sadar bahwa hasilnya tidak akan menyelamatkan eksistensi, tapi tetap dijalani

Camus tidak memusuhi aktivitas,
ia memusuhi aktivitas yang menyangkal kesadaran.

Mari Bereflektif

Jika Camus hidup hari ini, saya kira ia tidak akan berkata:

“Kalian terlalu sibuk.”

Ia mungkin akan bertanya:

“Dalam semua kesibukan itu, apakah kalian masih sadar bahwa hidup tidak menjanjikan jawaban—dan apakah kalian masih memilih hidup dengan jujur?”

Ketergesa-gesaan menjadi masalah bukan karena cepatnya,
tetapi karena digunakan untuk menutup absurditas,
bukan menghadapinya dengan mata terbuka.

Kalau kamu mau, kita bisa lanjutkan dengan:
absurd dan burnout modern
absurd vs spiritualitas (tanpa saling meniadakan)
atau membaca ulang Sisifus dalam konteks masyarakat Indonesia hari ini

Terburu-buru dalam bahasa Inggris in a hurry. Sikap terburu-buru akan membawa hasil yang kurang maksimal. Dalam pekerjaan tergesa-gesa tentu cenderung kurang perhitungan. Bahkan terburu-buru bisa menimbulkan celaka. Inilah solusinya supaya tidak terjebak pada sikap buru-buru.

Setiap orang pasti pernah tergesa-gesa pada saat melakukan sesuatu. Apalagi pada pagi hari Ada yang mau bekerja, anak-anak berangkat sekolah, semua terasa tergesa-gesa. Bisa saja karena tuntutan waktu, tapi terkadang ada juga orang yang kesehariannya memang selalu tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu. 

Apakah sikap tergesa-gesa itu? Apakah baik? Atau justru tidak baik? Nah justru dirasa lebih banyak efek negatif ya bila kita selalu tergesa-gesa. Misalnya tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau melakukan sesuatu tanpa persiapan yang matang sehingga tergesa-gesa. 

Orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau melakukan sesuatu tidak akan pernah memperoleh hasil baik, melainkan hanya akan mengalami kerugian. Itulah yang akan menjadi bagian dari orang-orang yang tidak memperhatikan pentingnya perhitungan yang matang sebelum melangkah. Orang yang cenderung tergesa-gesa, bertindak serampangan tanpa hikmat, tanpa pertimbangan, tidak cermat dan sebagainya. Dan akibatnya kerugian yang menjadi hasilnya. Untuk menutupi kerugian yang timbul bisa jadi jauh lebih mahal ketimbang apabila itu dikerjakan sejak awal dengan pertimbangan matang dan cermat.

Sebuah sikap tergesa-gesa selalu tidak membawa kebaikan atau keuntungan, tapi kerugian dan kemalanganlah yang seringkali menjadi akibatnya. Mengenai kerugian dari orang-orang yang suka tergesa-gesa atau terburu-buru mengambil keputusan sudah diingatkan dalam Amsal 21:5 "Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.” Ada kata rancangan disana yang berarti perencanaan, pertimbangan yang matang dan cermat, lalu ada kata 'rajin' disana. Rajin dalam hal apa? 

Dalam banyak hal, seperti rajin berpikir, rajin memperhitungkan dengan baik, rajin menimbang, rajin belajar, rajin bekerja, rajin mendengar nasihat atau masukan dari orang lain dan sebagainya, dan tentu saja rajin berdoa, meminta hikmat dan petunjuk dari Tuhan sebelum melangkah. 

Sahabat wanita, ketika kita tergesa-gesa melakukan sesuatu, seringkali yang kita hasilkan adalah sebuah persoalan baru. Memilih pekerjaan terburu-buru karena tergiur dengan iming-iming fasilitas, memilih teman hidup terburu-buru karena status dan harga diri, justru seringkali malah menjerumuskan kita ke dalam sebuah lubang persoalan baru. Hasil yang didapat, justru melenceng jauh dari yang diharapkan. 

Parahnya, kita sangat sulit keluar dari lubang itu, karena terlanjur terperosok semakin dalam. Dalam hidup ini, kita juga kerap tidak sabar menunggu waktu Tuhan. Ketika pertolongan Tuhan rasanya tak kunjung tiba, jangan tergesa mengambil jalan. Bukannya menyelesaikan masalah, malah sering kali mendatangkan masalah baru yang justru lebih besar. Akar ketidaksabaran adalah tidak percaya. Jika kita sungguh-sungguh percaya Allah mampu menolong, kita akan menanti Dia dengan sabar.

Kita memang harus arif, penuh hikmat dan tidak bebal alam memahami kehendak Tuhan atas diri kita, karena itulah yang terbaik. Kita harus ingat bahwa "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya." (Mazmur 37:23). Ini janji Tuhan yang sudah disampaikan pada kita jauh-jauh hari. Kepekaan kita terhadap suara Tuhan akan membuat kita mampu menjaga setiap langkah agar rencana Tuhan tergenapi dalam hidup kita. 

Semua kegelisahan merusak kebaikan. Ketenangan mendatangkan kebaikan dan pada saat yang sama menghancurkan kejahatan. Namun, yang terjadi seringkali justru sebaliknya. Kita suka tergesa-gesa bertindak untuk menghancurkan hal-hal jahat yang terjadi di sekitar kita, padahal itu semua keliru.

Sifat tergesa-gesa ini tentu bisa kita hilangkan dari keseharian kita. Penting untuk kita melatih diri agar kita tidak terbiasa melakukan pekerjaan dengan tergesa-gesa. Berikut beberapa cara yang boleh kita coba yang dapat menghindarkan kita dari kebiasaan melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa: 

  1. Mempersiapkan segala sesuatu sebelum pelaksanaanya 
  2. Mempersiapkan diri dengan baik 
  3. Jangan sampai kita menunda dan melakukan sesuatu di akhir waktu
  4.  Mengingat bahwa tergesa-gesa hanya akan merugikan kita karena apa yang kita lakukan menjadi tidak maksimal
  5. Melakukan pekerjaan sesuai dengan waktunya

Hal tersebut baik untuk kita lakukan sekaligus kita juga membiasakan diri sendiri dan keluarga kita, anak-anak kita. Mereka akan mencontoh apa yang kita lakukan, terutama dalam hal tidak menunda pekerjaan. Contoh yang baik juga untuk membiasakan anak-anak disiplin.

Sebagai orang-orang percaya, kita seharusnya mempercayai siapakah Allah yang kita sembah. Dia adalah Raja di atas segala raja, Pencipta Alam Semesta, Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan Dia adalah Pribadi yang sangat senang berbicara kepada umat-Nya. Jadi, saat masalah dan rintangan datang menghadang sebaiknya kita tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu. 

Tergesa-gesa mengambil sesuatu hanya karena emosi ataupun rasa takut. Biarlah kita bersandar pada Tuhan. Menyerahkan semua pada Tuhan. Berdoa untuk ketenangan hati kita sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan. Tenanglah senantiasa bersama-Nya karena itu merupakan wujud dari rasa percaya. Kepercayaan yang seutuhnya dapat menenangkan jiwa kita. Tidak takut pada kondisi atau kesulitan apapun. Hal ini akan membantu kita untuk menumbuhkan ketenangan. 

Ketika dunia harus belajar bertindak cepat untuk mencapai sesuatu, maka kita harus belajar tenang untuk mencapai sesuatu. Semua pekerjaan besar yang dilakukan untuk Allah harus diawali dengan membentuk ketenangan di dalam jiwa. Jadi Sahabat wanita, jangan pernah tergesa-gesa membuat keputusan yang penting, jika tidak ingin terperosok ke dalam kesulitan lain. Kita harus tahu bahwa bahwa Allah kita adalah Allah pemegang kedaulatan atas waktu. 

Ketika kita sabar menantikan Allah menjawab pergumulan kita, hasilnya pasti di luar perkiraan kita, dan pastinya kita malah bisa menyelesaikan persoalan yang ada, bukannya menambah masalah baru. Tergesa-gesa membuat kita tidak dapat berpikir dengan jernih. Bersikap tenang dapat membuat anda mempertimbangkan segala sesuatunya dengan lebih hati-hati.

Posting Komentar