Hidup Cukup di Tengah Dunia yang Selalu Mengatakan “Kamu Masih Kurang”

Table of Contents


Pernahkah kita membeli sesuatu yang sudah lama kita inginkan, merasa sangat senang ketika akhirnya memilikinya, tetapi beberapa waktu kemudian perasaan itu menghilang?

Dulu kita berpikir, “Kalau saya punya ini, pasti saya bahagia.”

Setelah mendapatkannya, muncul keinginan baru.

“Kalau punya yang lebih bagus, mungkin saya akan lebih puas.”

Begitu seterusnya.

Kita mengejar sesuatu, mendapatkannya, menikmatinya sebentar, lalu kembali merasa kurang. Yang menarik, hari ini rasa “kurang” itu tidak hanya datang dari dalam diri. Kita hidup dalam dunia yang setiap hari memperlihatkan kepada kita apa yang belum kita miliki.

Media sosial memperlihatkan rumah orang lain yang lebih bagus. Mobil yang lebih baru. Liburan yang lebih menarik. Karier yang tampaknya lebih sukses. Tubuh yang lebih ideal. Bahkan kehidupan keluarga yang terlihat begitu sempurna.

Algoritma seolah-olah tidak pernah kehabisan alasan untuk berkata: masih ada yang lebih baik, masih ada yang lebih baru, dan masih ada yang perlu kamu miliki.

Lalu, kapan kita merasa cukup?

Ketika kepuasan selalu memiliki syarat

Kita sering membuat kebahagiaan dalam bentuk kalimat bersyarat.

“Saya akan puas kalau sudah punya rumah.”

“Saya akan tenang kalau sudah punya pekerjaan tetap.”

“Saya akan bahagia kalau sudah menikah.”

“Saya akan senang kalau penghasilan saya naik.”

“Saya akan puas kalau memiliki kendaraan yang lebih bagus.”

Tidak ada yang salah dengan memiliki cita-cita. Tidak salah pula bekerja keras untuk memperbaiki kehidupan. Masalahnya muncul ketika seluruh kebahagiaan kita ditempatkan pada sesuatu yang belum kita miliki.

Sebab Ketika Tujuan itu Tercapai, Kita Segera Membuat Tujuan Baru.

Inilah salah satu hal yang dikenal dalam psikologi sebagai hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk beradaptasi terhadap perubahan positif sehingga sesuatu yang dahulu terasa luar biasa akhirnya terasa biasa. Penelitian bahkan menemukan bahwa peningkatan kondisi hidup tidak selalu menghasilkan peningkatan kebahagiaan yang bertahan lama. (National Bureau of Economic Research⁠)

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata “berapa banyak yang kita punya”.

Persoalannya adalah berapa banyak yang kita anggap harus kita punya supaya kita merasa cukup.

Kita Hidup dalam Ekonomi yang Menjual Rasa Kurang

Dulu seseorang harus pergi ke toko untuk melihat barang yang ingin dibeli.

Sekarang barang datang kepada kita.

Ketika membuka media sosial, kita menemukan iklan. Ketika menonton video, ada rekomendasi produk. Ketika melihat siaran langsung, ada promo yang hanya berlaku beberapa menit. Ketika membuka marketplace, muncul pemberitahuan bahwa barang yang kita lihat sedang turun harga.

Bahkan pembayaran pun semakin mudah. Ada fitur cicilan dan buy now, pay later yang memungkinkan seseorang menikmati barang sekarang dan memikirkan pembayarannya kemudian.

Kemudahan ini tentu tidak selalu buruk. Teknologi dapat membantu kehidupan. Tetapi ada pertanyaan yang perlu kita ajukan:

Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau saya sedang membeli perasaan yang dijanjikan barang ini?

Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa gaya hidup konsumtif dan paparan media sosial berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan penggunaan layanan paylater pada sebagian konsumen muda. (E-Journal Uniska Kediri⁠)

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Kadang-kadang yang kita beli bukan sekadar sepatu, telepon genggam, pakaian atau barang elektronik.

Kita sedang membeli status, pengakuan, rasa diterima, atau perasaan bahwa hidup kita tidak kalah dari orang lain.

Bahaya terbesar bukan memiliki banyak, tetapi tidak pernah merasa cukup

Memiliki uang bukan dosa.

Memiliki rumah bukan dosa.

Memiliki mobil, pakaian bagus, teknologi terbaru, atau menikmati liburan juga bukan sesuatu yang harus dianggap salah.

Persoalannya adalah ketika benda-benda tersebut mulai menentukan nilai diri kita.

Kita mulai berpikir:

“Saya lebih berharga karena memiliki ini.”

“Saya lebih berhasil karena memakai itu.”

“Saya lebih rendah karena tidak mampu membeli seperti mereka.”

Pada titik itu, konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan. Ia berubah menjadi perlombaan identitas.

Yang Lebih Berbahaya, Perlombaan ini Tidak Memiliki Garis Finis.

Selalu ada rumah yang lebih besar.

Mobil yang lebih mahal.

Ponsel yang lebih baru.

Karier yang lebih tinggi.

Orang yang lebih populer.

Jumlah pengikut yang lebih banyak.

Dan akhirnya kita hidup bukan berdasarkan apa yang kita perlukan, tetapi berdasarkan apa yang membuat kita terlihat berhasil di mata orang lain.

Jangan membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan yang sudah diedit

Ada satu persoalan modern yang dahulu belum menjadi bagian besar dari kehidupan kita: perbandingan sosial digital.

Kita melihat foto orang lain ketika mereka sedang menikmati liburan, tetapi tidak melihat utang yang mungkin sedang mereka bayar.

Kita melihat keberhasilan seseorang, tetapi tidak melihat kegagalan yang mereka alami.

Kita melihat rumah yang rapi, tetapi tidak melihat masalah yang terjadi di dalamnya.

Kita melihat senyum, tetapi tidak mengetahui pergumulan di baliknya.

Media sosial memperlihatkan potongan kehidupan, bukan keseluruhan kehidupan.

Karena itu, jangan mengukur hidup kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.

Kita bisa kehilangan rasa syukur bukan karena kehidupan kita menjadi lebih buruk, tetapi karena kita terlalu sering melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih baik.

Belajar mengatakan: “Ini sudah cukup”

Mengatakan cukup bukan berarti menyerah.

Cukup bukan berarti berhenti bekerja.

Cukup bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita.

Cukup berarti kita mampu menikmati apa yang sudah Tuhan percayakan sambil tetap berusaha menjadi lebih baik.

Ada Perbedaan Besar antara Ambisi dan Keserakahan.

Ambisi berkata, “Saya ingin berkembang.”

Keserakahan berkata, “Saya harus memiliki lebih banyak, apa pun akibatnya.”

Ambisi masih dapat berjalan bersama rasa syukur.

Keserakahan selalu merasa kekurangan.

Karena itu, kita perlu belajar membuat batas.

Sebelum membeli sesuatu, tanyakan: apakah saya membutuhkan atau hanya menginginkannya?

Sebelum membandingkan diri dengan orang lain, tanyakan: apakah saya sedang melihat kehidupan mereka secara utuh?

Sebelum mengambil utang konsumtif, tanyakan: apakah saya sedang memenuhi kebutuhan atau sedang mengejar pengakuan?

Dan sebelum mengeluh tentang apa yang belum kita miliki, berhentilah sejenak untuk melihat apa yang sebenarnya sudah ada dalam kehidupan kita.

Kepuasan tidak selalu datang dari bertambahnya milik kita

Kadang-kadang kepuasan justru muncul ketika kita mulai menghargai apa yang selama ini kita anggap biasa.

Kesehatan.

Keluarga.

Teman.

Pekerjaan.

Kesempatan belajar.

Rumah sederhana.

Makanan di meja.

Tidur yang tenang.

Kesempatan untuk bangun pada pagi hari.

Dan terutama, hubungan kita dengan Tuhan.

Kita sering mengejar sesuatu yang besar sambil lupa menikmati berkat-berkat kecil yang setiap hari sudah ada di depan mata.

Padahal hidup bukan hanya tentang mendapatkan lebih banyak.

Hidup juga tentang mengenali nilai dari apa yang sudah kita terima.

Siapa saya tidak ditentukan oleh apa yang saya miliki

Pertanyaan “Siapa saya?” bisa menjadi sangat berat ketika identitas kita dibangun berdasarkan pencapaian.

Ketika gagal, kita merasa tidak berguna.

Ketika tidak kaya, kita merasa rendah.

Ketika tidak memiliki jabatan, kita merasa tidak penting.

Ketika tidak mampu mengikuti gaya hidup orang lain, kita merasa tertinggal.

Tetapi iman Kristen memberikan dasar yang berbeda.

Nilai manusia tidak pertama-tama ditentukan oleh jabatan, rekening bank, kendaraan, rumah, pekerjaan atau penampilan.

Kita adalah ciptaan Allah.

Karena itu, nilai diri kita tidak perlu terus-menerus dibuktikan melalui apa yang kita miliki.

Efesus 2:10 mengingatkan bahwa kita adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan-Nya.

Maka kita tidak perlu hidup hanya untuk membuktikan kepada dunia bahwa kita berhasil.

Kita dapat bekerja keras tanpa menjadi budak ambisi.

Kita dapat memiliki cita-cita tanpa kehilangan rasa syukur.

Kita dapat menikmati berkat tanpa diperbudak oleh keinginan untuk memiliki lebih banyak.

Carilah dahulu Kerajaan Allah

Yesus berkata dalam Matius 6:33:

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Ayat ini bukan ajakan untuk menjadi pasif.

Kita tetap bekerja.

Tetap belajar.

Tetap berusaha.

Tetap memperbaiki kehidupan.

Tetapi ada sesuatu yang harus ditempatkan lebih dahulu.

Jangan sampai kita mendapatkan banyak hal tetapi kehilangan damai sejahtera.

Jangan sampai rekening bertambah tetapi rasa syukur berkurang.

Jangan sampai rumah semakin besar tetapi hubungan keluarga semakin kecil.

Jangan sampai kita memiliki semakin banyak barang tetapi semakin sedikit waktu untuk orang-orang yang kita kasihi.

Dan jangan sampai kita mengejar kehidupan yang terlihat berhasil di mata manusia, tetapi kehilangan kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah:

“Apa lagi yang harus saya miliki supaya saya puas?”

Melainkan:

“Apakah saya sudah mampu melihat dan mensyukuri apa yang Tuhan percayakan kepada saya hari ini?”

Kepuasan sejati bukan berarti kita tidak memiliki keinginan.

Kepuasan sejati adalah ketika keinginan tidak lagi menjadi tuan atas hidup kita.

Kita boleh mengejar kehidupan yang lebih baik.

Tetapi jangan lupa menikmati kehidupan yang Tuhan sudah berikan.

Kita boleh bermimpi besar.

Tetapi jangan sampai mimpi membuat kita membenci kehidupan yang sedang kita jalani.

Dan kita boleh berkata, “Saya ingin lebih baik.”

Namun dalam hati kita tetap mampu berkata:

“Tuhan, terima kasih. Untuk hari ini, saya cukup.”

Posting Komentar