Mendidik Anak Agar Teguh Memegang Prinsip di Tengah Budaya Ikut-Ikutan

Table of Contents


Ada masa ketika anak pulang sekolah membawa sesuatu yang tidak pernah kita ajarkan di rumah.

Suatu hari, misalnya, anak pulang sambil menyanyikan lagu yang belum pernah didengarnya dari orang tua. Ketika ditanya dari mana ia mengetahuinya, jawabannya sederhana: “Dari teman.”

Kita mungkin tersenyum mendengarnya. Tetapi sesungguhnya, di situlah kita sedang melihat sesuatu yang sangat penting dalam pertumbuhan seorang anak: anak belajar dari lingkungan.

Dulu, lingkungan itu terutama teman sekolah, tetangga, televisi, atau keluarga besar. Sekarang lingkungannya jauh lebih luas. Anak dapat melihat apa yang dilakukan orang lain melalui video pendek, media sosial, game, influencer, grup percakapan, bahkan rekomendasi algoritma yang terus-menerus menyajikan sesuatu yang dianggap menarik.

UNICEF Indonesia mencatat bahwa sebagian besar anak di Indonesia menggunakan internet setiap hari. Di saat yang sama, anak menghadapi risiko seperti paparan konten yang tidak pantas, cyberbullying, dan berbagai persoalan keamanan di ruang digital.

Karena itu, mendidik anak agar memiliki prinsip hidup yang kuat menjadi semakin penting.

Anak Tidak Hanya Meniru Orang, tetapi Juga Meniru Apa yang Dianggap Normal

Anak memang memiliki kecenderungan meniru. Mereka mengamati cara orang tua berbicara, cara teman bersikap, cara orang dewasa menyelesaikan masalah, bahkan bagaimana seseorang mendapatkan perhatian di internet.

Masalahnya bukan sekadar apakah anak meniru.

Masalah yang lebih dalam adalah apa yang akhirnya dianggap normal oleh anak karena terlalu sering dilihat.

Sebuah ucapan kasar yang awalnya membuat anak terkejut dapat menjadi biasa setelah berkali-kali didengar. Perundungan yang awalnya dianggap jahat dapat terlihat seperti hiburan ketika dikemas sebagai lelucon. Pamer kekayaan dapat dianggap sebagai keberhasilan. Mengejek orang lain dapat dianggap sebagai cara mendapatkan perhatian.

Inilah tantangan parenting pada zaman sekarang.

Anak tidak cukup hanya diberi daftar tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Mereka perlu dibekali kemampuan untuk bertanya:

“Apakah sesuatu menjadi benar hanya karena banyak orang melakukannya?”

Jawabannya tentu tidak.

Sesuatu tidak menjadi benar hanya karena viral. Sesuatu juga tidak menjadi baik hanya karena dilakukan oleh banyak orang.

Prinsip Bukan Berarti Anak Harus Keras Kepala

Mengajarkan anak memiliki prinsip bukan berarti mendidik mereka menjadi keras kepala atau selalu menolak pendapat orang lain.

Justru sebaliknya.

Anak perlu belajar membedakan antara prinsip dan ego.

Prinsip membuat seseorang mampu berkata, “Saya tidak mau melakukan itu karena saya tahu itu salah.”

Ego berkata, “Saya tidak mau melakukannya karena saya tidak suka.”

Prinsip membuat anak mampu mendengarkan nasihat, mempertimbangkan pendapat orang lain, lalu mengambil keputusan berdasarkan nilai yang diyakininya.

Karena itu, orang tua perlu menjelaskan alasan di balik sebuah aturan. Jangan hanya berkata, “Jangan!”

Ajarkan anak mengapa harus jujur, mengapa tidak boleh menghina teman, mengapa tidak boleh menyebarkan foto orang tanpa izin, mengapa harus menghormati orang lain, dan mengapa tidak semua sesuatu yang sedang viral layak diikuti.

Dengan begitu, ketika orang tua tidak berada di sampingnya, anak memiliki kompas moral, bukan sekadar mengingat larangan.


Tantangan Baru: Anak Bisa Ikut-ikutan Tanpa Mengenal Siapa yang Diikutinya

Dahulu orang tua mungkin mengenal teman-teman anaknya.

Sekarang seorang anak dapat merasa dekat dengan seseorang yang bahkan tidak pernah ditemuinya.

Ia bisa mengikuti influencer, kreator konten, gamer, selebritas, atau tokoh internet tertentu. Anak melihat kehidupan mereka melalui layar dan perlahan menganggap apa yang dilakukan tokoh tersebut sebagai sesuatu yang patut ditiru.

Lebih rumit lagi, anak dapat melihat konten yang sebenarnya dibuat untuk menarik perhatian, tetapi menerimanya sebagai gambaran kehidupan yang normal.

Karena itu, pendidikan prinsip harus disertai literasi digital.

Anak perlu belajar bahwa tidak semua yang muncul di layar adalah kenyataan utuh. Tidak semua yang viral layak dipercaya. Tidak semua orang yang memiliki banyak pengikut adalah teladan. Bahkan informasi yang terlihat meyakinkan tetap perlu diperiksa.

UNICEF juga mengingatkan bahwa misinformasi dan disinformasi dapat berpindah dengan mudah antara dunia daring dan kehidupan sehari-hari, termasuk melalui teman, orang tua, dan lingkungan pendidikan.

Ajarkan Anak Berani Berbeda

Salah satu pelajaran paling sulit dalam kehidupan adalah keberanian untuk berbeda.

Ketika semua teman memiliki sesuatu, anak mungkin takut menjadi satu-satunya yang tidak memilikinya.

Ketika semua orang mengikuti tren tertentu, ia takut dianggap ketinggalan zaman.

Ketika kelompok menertawakan seseorang, ia mungkin ikut tertawa karena takut menjadi sasaran berikutnya.

Di sinilah prinsip diuji.

Orang tua perlu mengatakan kepada anak bahwa diterima oleh kelompok bukanlah ukuran kebenaran.

Kita boleh berteman dengan siapa saja. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman. Kita boleh menikmati musik, teknologi, fashion, permainan, dan berbagai hal baru. Tetapi semuanya harus melewati satu pertanyaan penting:

“Apakah ini sesuai dengan nilai yang saya yakini?”

Anak yang memiliki prinsip tidak harus menjadi anak yang paling berbeda. Ia hanya perlu memiliki keberanian untuk tidak mengikuti sesuatu ketika hati nuraninya mengatakan bahwa itu salah.

Prinsip Anak Dimulai dari Teladan Orang Tua

Namun ada satu persoalan yang sering dilupakan.

Anak lebih banyak belajar dari apa yang dilakukan orang tua daripada apa yang dikatakan orang tua.

Kita dapat mengatakan kepada anak agar tidak kecanduan gawai, tetapi anak melihat orang tuanya terus-menerus memegang telepon.

Kita dapat mengajarkan kejujuran, tetapi anak melihat orang dewasa berbohong demi keuntungan.

Kita dapat melarang anak mengejek orang lain, tetapi di rumah anak mendengar orang tua merendahkan tetangga.

Maka pendidikan prinsip sesungguhnya dimulai dari rumah.

Anak perlu melihat bahwa ayah dan ibunya juga mampu berkata tidak kepada sesuatu yang salah, sekalipun banyak orang melakukannya.

Teguh dalam Prinsip, Bukan Terisolasi dari Dunia

Sebagai orang Kristen, kita tidak dipanggil untuk menutup diri dari dunia.

Kita hidup di tengah masyarakat, berteman dengan banyak orang, menggunakan teknologi, mengikuti perkembangan zaman, dan berinteraksi dengan berbagai macam karakter.

Yang perlu dijaga adalah agar kita tidak kehilangan arah hanya karena ingin diterima.

Rasul Paulus menulis:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…”
Roma 12:2

Ayat ini bukan ajakan untuk membenci dunia atau menjauhi semua orang yang berbeda. Ada panggilan yang lebih dalam: memiliki pikiran yang terus diperbarui sehingga mampu membedakan mana yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.

Itulah prinsip yang perlu diwariskan kepada anak.

Bukan sekadar, “Jangan ikut teman.”

Bukan pula, “Jangan ikut tren.”

Tetapi lebih dalam daripada itu:

“Belajarlah berpikir. Kenali nilai yang benar. Pertimbangkan akibatnya. Dan ketika semua orang berjalan ke satu arah yang salah, beranilah untuk tetap memilih yang benar.”

Sebab pada akhirnya, orang tua tidak mungkin selamanya berada di samping anak untuk mengatakan apa yang harus dilakukan.

Akan tiba waktunya anak harus mengambil keputusan sendiri.

Pada saat itulah kita berharap apa yang dahulu ditanamkan di rumah telah menjadi bagian dari dirinya: sebuah kompas yang menuntunnya ketika suara teman, tren, algoritma, dan dunia di sekelilingnya semakin ramai.

Dan semoga ketika ia harus memilih antara diterima oleh banyak orang atau tetap setia kepada kebenaran, ia memiliki keberanian untuk memilih yang benar.

Posting Komentar