Ketika Mertua Tidak Merestui Pernikahan: Apa yang Harus Dilakukan?
Table of Contents
Ada satu perubahan sudut pandang yang menurut saya sangat penting untuk artikel ini. Draf lama masih membawa gagasan bahwa pasangan perlu “meluluhkan hati mertua” dan menjadikan penerimaan mertua sebagai semacam tujuan akhir. Untuk konteks sekarang, saya justru akan membaliknya: pasangan tidak selalu bisa membuat mertua setuju, tetapi mereka bisa menentukan bagaimana rumah tangganya dijalankan.
Ini juga lebih kuat secara psikologis. Penelitian Indonesia pada pasangan yang tinggal bersama orang tua/mertua menunjukkan bahwa ekspresi emosi positif berkaitan dengan kepuasan perkawinan, sementara ekspresi negatif berkaitan dengan kepuasan yang lebih rendah.
Saya juga menghindari kesan bahwa semua penolakan mertua pasti harus “dilawan”. Ada perbedaan antara mertua yang tidak menyukai pilihan anak, mertua yang masih membutuhkan waktu untuk menerima, dan mertua yang melakukan kontrol atau intervensi serius terhadap rumah tangga. Ketiganya membutuhkan respons berbeda.
Ketika Mertua Tidak Merestui Pernikahan: Haruskah Pasangan Memilih Antara Cinta dan Orang Tua?
Menikah dengan orang yang kita cintai seharusnya menjadi awal kehidupan baru. Tetapi bagaimana jika setelah pernikahan berlangsung, ada satu pihak yang belum bisa menerima hubungan tersebut?
Bukan orang asing. Bukan mantan kekasih. Melainkan orang tua dari pasangan sendiri.
Penolakan mertua bisa terasa sangat menyakitkan karena persoalannya bukan sekadar, “Ibu atau ayah tidak menyukai saya.” Di dalamnya ada pertanyaan yang jauh lebih besar: Apakah saya benar-benar diterima sebagai bagian dari keluarga ini? Apakah pasangan saya akan membela saya? Dan sampai sejauh mana orang tua boleh ikut menentukan kehidupan pernikahan kami?
Persoalan ini bisa semakin rumit ketika penolakan berkaitan dengan perbedaan suku, agama, kelas sosial, pendidikan, pekerjaan, karakter, pilihan hidup, atau sekadar karena orang tua merasa anaknya memilih pasangan yang “tidak sesuai harapan”.
Namun ada satu hal penting yang perlu dipahami pasangan: mertua boleh tidak menyukai pilihan anaknya, tetapi pernikahan tetap membutuhkan ruang bagi pasangan untuk mengambil keputusan sendiri.
Penelitian mengenai pasangan Indonesia yang tinggal bersama orang tua atau mertua bahkan menunjukkan bahwa dinamika emosional dalam keluarga multigenerasi berkaitan dengan kepuasan perkawinan. Karena itu, persoalannya bukan hanya bagaimana mendapatkan restu, tetapi bagaimana menjaga kualitas hubungan ketika restu tersebut belum sepenuhnya hadir. (Jurnal UII)
1. Bedakan Mertua yang Belum Menerima dengan Mertua yang Mengontrol
Tidak semua penolakan mempunyai tingkat masalah yang sama.
Ada orang tua yang awalnya kecewa tetapi kemudian perlahan menerima. Ada yang masih menjaga jarak, tetapi tidak mengganggu kehidupan anak. Ada pula yang terus berusaha mengendalikan pasangan setelah pernikahan berlangsung.
Ketiganya tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sama.
Jika mertua hanya membutuhkan waktu, pasangan mungkin cukup memberikan ruang.
Jika mereka terus mempertanyakan keputusan rumah tangga, pasangan perlu membangun batas.
Jika sudah terjadi penghinaan, ancaman, manipulasi, atau tekanan yang serius, persoalannya bukan lagi sekadar “bagaimana mengambil hati mertua”.
Kenali masalahnya sebelum menentukan respons.
2. Jangan Jadikan Restu Mertua sebagai Syarat Kebahagiaan
Keinginan untuk diterima keluarga pasangan adalah hal yang sangat manusiawi.
Tetapi pasangan perlu berhati-hati jika seluruh kebahagiaan pernikahan bergantung pada satu hal: apakah mertua akhirnya menyukai mereka atau tidak.
Bisa saja setelah berbagai usaha, mertua tetap tidak berubah.
Kalau demikian, apakah pasangan harus terus hidup dalam kecemasan?
Tidak.
Tujuan utama pernikahan bukan memenangkan persetujuan semua orang, melainkan membangun kehidupan bersama yang sehat, bertanggung jawab, dan saling menghormati.
Restu orang tua tentu bernilai. Namun setelah seseorang menikah, hubungan dengan orang tua perlu menemukan bentuk baru.
3. Pasangan Harus Menentukan Sikap Sebelum Menghadapi Keluarga
Kesalahan yang sering terjadi adalah suami dan istri langsung berhadapan dengan mertua tanpa terlebih dahulu membicarakan posisi mereka berdua.
Padahal mereka perlu menjawab pertanyaan mendasar:
* Apa yang sebenarnya membuat mertua menolak?
* Apakah alasan tersebut mempunyai dasar yang masuk akal?
* Mana kritik yang perlu didengarkan dan mana yang harus ditolak?
* Apa batas campur tangan orang tua?
* Bagaimana pasangan akan merespons jika tekanan semakin besar?
* Apakah mereka akan tinggal bersama mertua atau terpisah?
Pasangan yang belum mempunyai kesepakatan internal akan mudah terpecah ketika menghadapi tekanan eksternal.
Karena itu, solidaritas pasangan harus dibangun sebelum menghadapi konflik keluarga besar.
4. Suami atau Istri Tidak Harus Memilih: “Pasangan atau Orang Tua”
Ini adalah jebakan yang sering terjadi.
Ketika mertua menolak menantu, pasangan kemudian berkata:
“Kalau kamu mencintaiku, kamu harus memilih aku.”
Sebaliknya, orang tua bisa berkata:
“Kalau kamu masih anak Mama, kamu harus mengikuti Mama.”
Akhirnya seseorang dipaksa memilih salah satu hubungan.
Padahal kehidupan keluarga tidak harus bekerja seperti kompetisi.
Seseorang tetap dapat mencintai dan menghormati orang tuanya sekaligus menjaga komitmen terhadap pasangannya.
Yang diperlukan bukan memilih siapa yang lebih penting, melainkan menentukan batas dan prioritas dalam situasi tertentu.
5. Jangan Meminta Pasangan Memutus Hubungan dengan Orang Tuanya
Ketika merasa disakiti mertua, sangat manusiawi jika muncul keinginan:
“Jangan datang ke rumah orang tuamu lagi.”
Namun permintaan seperti ini bisa menciptakan masalah baru.
Pasangan mungkin merasa harus memilih antara menjaga pernikahan dan berbakti kepada orang tua.
Lebih sehat jika yang dibicarakan adalah perilakunya.
Misalnya:
“Silakan kamu tetap berhubungan dengan orang tuamu. Saya tidak ingin menghalangi. Tetapi saya berharap keputusan tentang keuangan rumah tangga tidak dibicarakan tanpa persetujuan kita berdua.”
Ini jauh lebih konstruktif daripada:
“Kamu harus memilih aku atau keluargamu.”
6. Suami Memiliki Peran Penting dalam Menetapkan Batas
Dalam konflik menantu dan mertua, sering kali menantu perempuan dianggap harus berbicara langsung dengan ibu mertua.
Padahal tidak selalu demikian.
Ada persoalan yang justru lebih efektif jika disampaikan oleh anak kandungnya sendiri.
Seorang suami dapat mengatakan kepada ibunya:
“Bu, saya tetap menghormati Ibu. Tapi untuk keputusan tentang rumah tangga kami, saya dan istri akan membicarakannya berdua terlebih dahulu.”
Kalimat seperti ini bukan bentuk durhaka.
Justru menunjukkan bahwa seorang anak memahami perubahan tanggung jawab setelah menikah.
7. Jangan Membalas Penolakan dengan Penolakan
Jika mertua berkata buruk tentang pasangan, godaan terbesar adalah membalas.
Jika mertua menyindir, kita ingin menyindir balik.
Jika mereka menjaga jarak, kita juga ingin menunjukkan bahwa kita tidak membutuhkan mereka.
Tetapi perang dingin dalam keluarga dapat berlangsung bertahun-tahun.
Lebih baik menjaga sikap yang konsisten.
Tidak perlu berpura-pura akrab, tetapi juga tidak perlu sengaja bermusuhan.
Sopan tanpa harus tunduk. Tegas tanpa harus kasar.
Ini mungkin salah satu posisi paling sulit, tetapi juga paling dewasa.
8. Waspadai “Segitiga Konflik” dalam Pernikahan
Ada satu pola yang menarik tetapi jarang dibahas.
Konflik sebenarnya terjadi antara menantu dan mertua, tetapi akhirnya suami dan istri yang bertengkar.
Contohnya:
Mertua mengatakan sesuatu kepada istri.
Istri merasa terluka.
Istri kemudian marah kepada suami karena dianggap tidak membela.
Suami merasa istrinya tidak menghormati ibunya.
Akhirnya masalah yang awalnya berada di luar hubungan suami istri justru masuk ke dalam pernikahan.
Karena itu, pasangan perlu belajar mengatakan:
“Kita sedang menghadapi masalah dari luar. Jangan sampai masalah itu membuat kita menjadi musuh satu sama lain.”
Ini bukan berarti pasangan harus selalu sepakat. Justru perbedaan pendapat tetap boleh terjadi. Yang penting, konflik tersebut tidak berubah menjadi perang antara suami dan istri.
9. Tinggal Terpisah Bisa Menjadi Strategi, Bukan Bentuk Permusuhan
Dalam budaya yang menghargai keluarga besar, keputusan untuk tinggal terpisah kadang dianggap sebagai bentuk ketidakhormatan kepada orang tua.
Padahal tidak selalu demikian.
Jarak fisik terkadang justru membuat hubungan lebih sehat.
Ketika tidak setiap hari bertemu, komentar kecil tidak selalu menjadi konflik besar. Pasangan juga memiliki kesempatan membangun rutinitas sendiri.
Jika kondisi finansial memungkinkan, tinggal terpisah dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjaga hubungan.
Bukan:
“Kita meninggalkan orang tua.”
Melainkan:
“Kita sedang membangun rumah tangga sendiri sambil tetap menjaga hubungan dengan keluarga.”
10. Jangan Abaikan Masalah Uang
Penolakan mertua kadang bukan semata persoalan cinta.
Ada persoalan ekonomi di belakangnya.
Mungkin orang tua khawatir anaknya menikah dengan seseorang yang dianggap tidak memiliki pekerjaan mapan. Mungkin ada persoalan warisan, tempat tinggal, biaya orang tua, atau harapan bahwa anak akan tetap membantu keluarga setelah menikah.
Karena itu, pasangan perlu membicarakan keuangan secara terbuka.
Berapa penghasilan masing-masing?
Berapa kebutuhan rumah tangga?
Berapa yang dapat diberikan kepada orang tua?
Apakah bantuan tersebut bersifat rutin?
Siapa yang mengambil keputusan jika kondisi ekonomi berubah?
Semakin jelas persoalan keuangan, semakin sedikit ruang bagi asumsi dan kecurigaan.
11. Jangan Menjadikan Anak sebagai Alat untuk Mendapatkan Penerimaan
Ketika pasangan kemudian memiliki anak, terkadang muncul harapan:
“Nanti setelah punya cucu, pasti mertua akan berubah.”
Mungkin iya. Tetapi jangan menjadikan anak sebagai alat untuk memperbaiki hubungan orang dewasa.
Anak bukan mediator.
Anak juga tidak seharusnya mendengar:
“Nenek sebenarnya tidak suka Mama.”
Atau:
“Papa menikah dengan Mama meskipun Nenek tidak setuju.”
Konflik orang dewasa sebaiknya tidak diwariskan kepada anak.
Jika hubungan dengan mertua membaik setelah hadirnya cucu, anggap itu sebagai perkembangan yang baik—bukan strategi yang harus dipaksakan.
12. Tentukan Batas yang Bisa Dijalankan, Bukan Sekadar Diucapkan
Batas keluarga sering gagal bukan karena batasnya salah, tetapi karena tidak pernah benar-benar diterapkan.
Misalnya pasangan mengatakan:
“Kami ingin keputusan pengasuhan anak menjadi keputusan kami.”
Tetapi setiap kali mertua memaksa, pasangan selalu mengalah karena merasa tidak enak.
Lama-kelamaan semua orang belajar bahwa batas tersebut sebenarnya tidak ada.
Batas yang sehat harus konsisten, realistis, dan disampaikan dengan tenang.
Tidak perlu membuat daftar larangan yang panjang.
Cukup mulai dari hal yang paling penting bagi kehidupan rumah tangga.
13. Kapan Harus Mencari Bantuan?
Tidak semua konflik keluarga harus dibawa ke psikolog.
Tetapi bantuan profesional layak dipertimbangkan ketika konflik sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, komunikasi pasangan terus memburuk, salah satu pihak mengalami tekanan emosional yang berat, atau pasangan tidak mampu lagi membicarakan masalah tanpa pertengkaran.
Konseling pasangan bukan berarti pernikahan gagal.
Justru terkadang pasangan membutuhkan pihak ketiga agar masalah yang sudah terlalu lama dipendam dapat dibicarakan dengan lebih aman dan terstruktur.
Mertua Tidak Harus Menjadi Musuh dalam Pernikahan
Pernikahan tidak selalu mendapatkan dukungan sempurna dari keluarga.
Ada pasangan yang harus menghadapi penolakan karena perbedaan latar belakang. Ada yang harus menghadapi orang tua yang sulit menerima kehilangan peran setelah anak menikah. Ada pula yang harus menghadapi campur tangan keluarga karena persoalan ekonomi atau tempat tinggal.
Namun satu hal perlu dibedakan:
mendapatkan restu adalah proses, sedangkan membangun rumah tangga adalah tanggung jawab pasangan.
Jangan habiskan seluruh energi untuk membuktikan kepada mertua bahwa pernikahan ini benar.
Bangunlah rumah tangga yang bertanggung jawab.
Jaga komunikasi.
Kelola uang dengan baik.
Hormati orang tua.
Tetapkan batas.
Jangan memutus hubungan hanya karena konflik.
Dan yang paling penting, jangan biarkan konflik dengan mertua membuat suami dan istri berhenti menjadi satu tim.
Mungkin suatu hari mertua berubah pikiran.
Mungkin juga tidak.
Pasangan tidak dapat mengendalikan hati orang lain. Tetapi mereka dapat mengendalikan cara mereka memperlakukan satu sama lain.
Pada akhirnya, kedewasaan dalam pernikahan bukan terlihat dari kemampuan membuat semua orang setuju.
Kedewasaan terlihat ketika pasangan mampu tetap menghormati orang tua tanpa menyerahkan kendali atas rumah tangganya sendiri.

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.