Mengapa Sebagian Kita dalam Mendidik Anak Bisa Menerapkan Apa yang Kita Terima Dulu?
Setiap kita tumbuh dan besar dengan pola didikan orang tua kita masa lalu, dan ada kalanya pendidikan itu bertabrakan dengan pendidikan moderen yang mungkin berbeda. Tapi pola pendidikan itu menempel di belakang kepala kita, dan sering kali sebagai orang tua kita juga mau mengulanginya lagi. Hal ini disebut sebagai "Intergenerational Trauma" atau "Legacy Burden" (Beban Warisan). Termasuk kita enggan untuk minta maaf bila jelas-jelas salah kepada anak.
Apa yang "menempel di belakang kepala" itu sebenarnya adalah sistem operasi (OS) lama yang otomatis berjalan saat kita berada di bawah tekanan. Meskipun secara kognitif kita tahu cara mendidik anak di zaman modern, namun saat emosi memuncak, "suara" orang tua kita dululah yang keluar. Dan itulah kemudian yang kita terapkan dalam mendidik anak.
Mengapa Kita Orang Tua Enggan Meminta Maaf ke Anak?
Berikut adalah analisis psikologis mengapa "masa lalu" tersebut membuat permintaan maaf menjadi begitu berat bagi kita sekarang:
1. Bayangan "Dosa Durhaka"
Di masa lalu, banyak dari kita dibesarkan dengan konsep bahwa membantah orang tua adalah kesalahan fatal atau bahkan dosa. Orang tua diposisikan sebagai "wakil Tuhan" di rumah yang tidak boleh cacat.
Padahal dampaknya saat kita menjadi orang tua dan melakukan kesalahan, mengakui kesalahan tersebut kepada anak secara psikologis terasa seperti meruntuhkan tatanan suci yang selama ini kita yakini. Ada ketakutan bawah sadar bahwa jika kita minta maaf, kita sedang mengajari anak untuk "tidak hormat" seperti kita dulu dilarang membantah.
2. Identitas yang Melekat pada "Kebenaran"
Orang tua zaman dulu sering mengaitkan otoritas dengan infallibility (ketidakmampuan untuk salah).
1. Jika orang tua salah, mereka merasa identitasnya sebagai "pemimpin" hilang.
2. Akibatnya, mereka menciptakan "rel" yang kaku. Ketika Anda mencoba keluar dari rel itu dengan meminta maaf, muncul alarm di kepala Anda: "Hati-hati, kamu akan kehilangan kendali atas anakmu, seperti orang tuamu dulu selalu memegang kendali atasmu."
3. Tidak Adanya "Kamus" Permintaan Maaf
Kita sulit mempraktikkan sesuatu yang tidak pernah kita lihat contohnya.
Banyak dari kita tidak punya memori atau rekaman visual tentang bagaimana seorang ayah atau ibu duduk sejajar dengan anak, menatap mata, dan berkata, "Maafkan Ayah/Ibu, tadi Ayah/Ibu salah." Karena tidak ada "script" atau naskah di memori kita, saat kita ingin meminta maaf, lidah terasa kelu atau kaku. Kita tidak tahu harus mulai dari mana tanpa merasa terlihat konyol atau lemah.
4. Mekanisme Pertahanan: "Saya Dulu Juga Begitu dan Saya Baik-baik Saja"
Ini adalah bentuk penyangkalan (denial) yang sering muncul. Untuk melegitimali keengganan kita meminta maaf, otak kita membela diri dengan berkata: "Dulu orang tua saya tidak pernah minta maaf, toh sekarang saya sukses/baik-baik saja." * Padahal, mungkin ada luka-luka kecil yang kita pendam, dan dengan tidak meminta maaf kepada anak, kita sebenarnya sedang meneruskan rantai luka tersebut agar kita tidak merasa "sendirian" dalam rasa sakit itu.
Memutus Rantai: Proses "Unlearning"
Meminta maaf kepada anak sebenarnya adalah tindakan pemberontakan yang sehat terhadap pola asuh masa lalu yang kaku.
Bagi Suami: Meminta maaf adalah cara mendefinisikan ulang maskulinitas. Bahwa pria sejati tidak hanya kuat dalam memimpin, tapi juga kuat dalam mengakui kekhilafan.
Bagi Istri: Meminta maaf adalah cara memutus rasa bersalah yang toksik, menunjukkan bahwa ibu tidak harus sempurna untuk dicintai.
Memang melelahkan karena kita harus berjuang melawan "suara-suara" di belakang kepala tersebut setiap hari.
Memahami bahwa mereka juga "korban dari korban" (produk dari generasi sebelumnya) membantu kita memutus rantai kebencian, namun tetap memberi kita ruang untuk memperbaiki pola asuh di generasi sekarang.
Mari Berjuang untuk Menurunkan Ego Oranng Tua Kepada Anak
1. Saat Terjadi "Amukan" atau Reaksi Berlebih (Emotional Hijacking)
Orang tua sering kali membentak atau marah besar bukan karena kesalahan anak yang fatal, melainkan karena orang tua sedang lelah, stres pekerjaan, atau membawa beban dari masa lalu.
Kapan harus minta maaf? Segera setelah Anda tenang. Caranya: "Nak, maafkan Ayah/Ibu tadi membentakmu dengan keras. Ayah sedang lelah dan kehilangan kesabaran. Itu bukan salahmu, tapi kesalahan Ayah dalam mengelola emosi."
Pesan Psikologis: Ini mengajarkan anak bahwa emosi boleh ada, tapi perilaku buruk tetap harus dipertanggungjawabkan.
2. Saat Melanggar Janji atau Kesepakatan
Di masa lalu, orang tua sering menganggap janji kepada anak adalah hal sepele. Namun bagi anak, janji adalah bentuk integritas.
Kapan harus minta maaf? Saat rencana berubah atau janji tidak terpenuhi karena alasan apa pun. Meminta maaf dalam hal ini membangun kepercayaan (trust). Anak belajar bahwa menghargai komitmen adalah nilai yang dijunjung tinggi di keluarga.
3. Saat Salah Menuduh atau Menghakimi
Terkadang kita terburu-buru menyimpulkan anak bersalah tanpa mendengar penjelasan mereka.
Kapan harus minta maaf? Begitu Anda menyadari bahwa dugaan Anda salah. Ini adalah cara terbaik menurunkan ego. Anda menunjukkan bahwa kebenaran lebih penting daripada "gengsi" sebagai orang tua. Ini memberi anak rasa aman bahwa mereka akan diperlakukan secara adil.
Minta Maaf sebagai "Pendidikan Sosial" (Modelling)
Permintaan maaf adalah bagian dari pendidikan saat anak bergaul. Ada perbedaan mendasar antara "menyuruh anak minta maaf" dan "memberi contoh cara minta maaf":
Instruksi vs. Ilustrasi
Jika kita hanya menyuruh anak, "Ayo minta maaf ke temanmu!", anak melakukannya karena terpaksa atau takut. Tapi jika mereka sering melihat ayahnya minta maaf kepada ibunya, atau orang tuanya minta maaf kepadanya, anak akan memiliki kemampuan empati alami.
Membangun "Self-Correction"
Saat orang tua berani minta maaf, anak belajar bahwa meminta maaf tidak akan membunuhnya, tidak membuatnya rendah, dan tidak membuatnya kehilangan cinta. Ini akan membuatnya menjadi pribadi yang disenangi dalam pergaulan karena ia punya kemampuan untuk memperbaiki hubungan (repairing relationship).
Mengapa Ayah dan Ibu Sering Berbeda dalam Hal Ini?
Dalam konteks "masa lalu" yang kita bahas:
Ayah: Mungkin merasa bahwa jika ia minta maaf setelah "marah", maka "ancamannya" tidak akan ditakuti lagi oleh anak. Ia takut rel-nya patah.
Ibu: Mungkin lebih fleksibel, namun terkadang minta maafnya hanya untuk meredam tangis anak (menghindari konflik), bukan benar-benar mengakui kesalahan secara sadar.
Kesimpulannya:
Permintaan maaf orang tua bukan berarti kita membiarkan anak bebas berbuat semaunya. Justru, dengan minta maaf, kita sedang menggariskan standar moral yang baru: bahwa di rumah ini, siapa pun yang bersalah (termasuk Ayah dan Ibu) wajib bertanggung jawab. Ini adalah bentuk wibawa yang jauh lebih kuat daripada sekadar "selalu benar".
Dari poin-poin di atas, menurut Anda situasi mana yang paling sulit dilakukan bagi orang tua yang masih memegang teguh pola didik masa lalu? Apakah mengakui kesalahan saat marah, atau mengakui bahwa mereka salah menuduh anak?

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.