Parenting dan Tekanan Sosial: Memutus Pola “Takut Omongan Orang” demi Kemandirian Anak
Kalimat seperti:
• “Jangan begitu, malu dilihat orang”
• “Anak baik itu harus seperti ini”
• “Nanti dikira orang tua nggak bisa mendidik”
sering dianggap wajar, bahkan tidak pernah dicurigai sebagai bagian dari pendidikan. Padahal, di balik kesederhanaannya, kalimat-kalimat ini membentuk cara anak memandang diri, nilai, dan dunia sosialnya.
Ketika Tekanan Sosial Masuk ke Dalam Pola Asuh
Filsuf Inggris Bertrand Russell dalam bukunya The Conquest of Happiness menyebut takut pada pendapat orang banyak sebagai salah satu sumber utama ketidakbahagiaan manusia.
Yang sering luput disadari, ketakutan ini tidak muncul tiba-tiba saat dewasa, tetapi dipelajari sejak kecil yaitu di rumah. Bukan melalui kekerasan, melainkan melalui hal-hal berikut:
• alasan di balik larangan,
• nada suara orang tua,
• dan orientasi yang selalu diarahkan ke penilaian lingkungan.
Dari Pendidikan Nilai ke Pendidikan Reputasi
Awalnya, orang tua hanya ingin anak:
• sopan,
• tertib,
• dan tidak mempermalukan keluarga.
Namun tanpa disadari, pendidikan ini bergeser dari:
"Apa yang benar dan baik?”
menjadi
“Apa yang akan orang pikirkan?”
Inilah titik kritis yang dikritik oleh filsuf Bertrand Russell.
Ketika anak belajar bahwa:
• yang terpenting bukan nilai,
• melainkan penerimaan sosial,
maka pendidikan karakter berubah menjadi pendidikan reputasi.
Perbandingan Sosial: Tahap Lanjutan Tekanan Sosial
Seiring waktu, tekanan sosial ini sering berkembang menjadi kebiasaan membandingkan:
• “Lihat tuh anak si A”
• “Anak orang lain bisa, masa kamu nggak”
• “Seharusnya kamu seperti si B”
Perbandingan ini jarang dimaksudkan untuk melukai. Namun dampaknya nyata:
• anak merasa selalu kurang,
• kepercayaan diri bertumpu pada standar luar,
• dan nilai diri menjadi rapuh.
Russell melihat perbandingan sosial semacam ini sebagai racun halus kebahagiaan, karena membuat manusia terus mengukur diri dengan cermin eksternal, bukan bertumbuh dari dalam.
Dampak Jangka Panjang pada Kemandirian Anak
Anak yang dibesarkan dalam budaya takut omongan orang sering tampak baik-baik saja secara sosial. Namun secara psikologis, mereka berisiko mengalami:
1. Ketergantungan pada Validasi
Sulit mengambil keputusan tanpa persetujuan orang lain.
2. Takut Salah, Bukan Takut Tidak Jujur
Kesalahan dianggap memalukan, bukan sebagai proses belajar.
3. Kemandirian yang Rapuh
Mandiri secara fisik, tetapi tidak merdeka secara batin.
Russell menyebut kondisi ini sebagai kehidupan yang dikendalikan opini publik, bukan oleh rasio dan nurani pribadi.
Memutus Rantai: Parenting yang Membebaskan, Bukan Mengabaikan
Memutus pola ini bukan berarti membesarkan anak tanpa aturan atau nilai. Justru sebaliknya: ini tentang mengganti dasar pendidikannya.
Perubahan kecil namun penting:
• dari “nanti orang bilang apa” → “ini benar atau tidak?”
• dari “malu dilihat orang” → “apa dampaknya bagi kamu dan orang lain?”
• dari “anak baik harus begini” → “kamu bertanggung jawab atas pilihanmu.”
Dengan cara ini, anak belajar:
• berpikir,
• menimbang,
• dan bertanggung jawab, bukan sekadar patuh.
Parenting dan Kebahagiaan: Pelajaran dari Russell
Bagi Russell, kebahagiaan tidak mungkin tumbuh jika seseorang hidup dalam ketakutan sosial yang terus-menerus. Maka, pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang:
• membentuk keberanian batin,
• melatih penilaian mandiri,
• dan menumbuhkan rasa aman pada diri sendiri.
Anak yang dibesarkan seperti ini justru:
• lebih stabil,
• lebih dewasa dalam relasi,
• dan lebih siap hidup dalam masyarakat tanpa kehilangan dirinya.
Penutup: Mendidik Anak, Sekaligus Menyembuhkan Diri
Sering kali, pola takut omongan orang bukan berasal dari niat buruk, melainkan dari warisan pendidikan yang kita terima tanpa pernah kita sadari. Menyadari hal ini, seperti yang Anda refleksikan, adalah langkah besar, bukan hanya untuk anak, tetapi juga untuk diri kita sendiri sebagai orang tua.
Karena mendidik anak yang merdeka secara batin sering kali berarti berani meninjau ulang ketakutan yang dulu kita warisi. Dan di situlah, parenting berubah dari sekadar mendidik anak menjadi perjalanan pertumbuhan bersama.

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.