Refleksi Orang Tua tentang Kehadiran, Cinta, dan Gagasan Erich Fromm

Table of Contents


Semua orang tua, bisa dipastikan hampir selalu memulai dari niat yang sama yaitu ingin anak bahagia. Kita bekerja keras, menyediakan fasilitas terbaik, dan berusaha memenuhi apa yang menjadi kesenangan mereka. Komputer yang baik, ponsel yang mumpuni, akses hiburan yang luas, semuanya diberikan dengan harapan anak merasa senang dan menikmati dunianya. Begitu kan?

Namun, di tengah niat baik itu, sering muncul pertanyaan sunyi, apakah itu sudah cukup? Pertanyaan ini menjadi penting untuk kita renungkan ketika kita orang tua membanting tulang, berusaha dengan keras dan merasa sudah cukup. Padahal bukan hanya materi yang anak harapkan, tetapi ada yang lebih penting lagi.

Pemikiran Erich Fromm memberi kita sebuah jeda reflektif: bahwa dalam keluarga, yang paling dibutuhkan anak bukan hanya apa yang diberikan orang tua, melainkan apakah orang tua sungguh hadir.

Ketika Cinta Diterjemahkan Menjadi Pemberian

Di dunia modern, cinta orang tua kerap diterjemahkan secara praktis:

anak senang bermain game → dibelikan perangkat terbaik,

anak bosan → diberi hiburan,

anak diam dan tenang → dianggap sudah bahagia.

Cara ini tidak salah. Bahkan sangat manusiawi. Masalahnya muncul ketika pemberian menjadi pengganti kehadiran.

Fromm membedakan dua hal penting:

memberi sesuatu, dan

memberi diri sendiri.

Anak bisa menikmati apa yang diberikan, tetapi ia bertumbuh melalui siapa yang hadir bersamanya.

Keluarga yang Tampak Peduli, Tapi Kehilangan Koneksi

Fromm mengingatkan tentang satu model keluarga yang sering tidak disadari: keluarga yang secara materi sangat peduli, tetapi miskin keterhubungan emosional.

Dalam keluarga seperti ini:

kebutuhan fisik terpenuhi,

anak bebas mengekspresikan hobinya,

konflik jarang muncul,

namun:

percakapan batin jarang terjadi,

emosi anak kurang benar-benar didengarkan,

kehadiran orang tua tergantikan oleh layar dan rutinitas.

Anak tidak kekurangan fasilitas, tetapi kekurangan pengalaman ditemani.

Kehadiran: Sesuatu yang Tidak Bisa Digantikan

Yang dimaksud kehadiran bukan soal durasi, melainkan kualitas relasi, jadi:

Kehadiran berarti:

mendengarkan cerita anak tanpa tergesa,

tertarik pada dunianya, bukan hanya memfasilitasinya,

menemani kekecewaannya, bukan langsung mengalihkannya,

menjadi tempat aman bagi emosi yang belum ia pahami.

Fromm menyebut bentuk relasi ini sebagai cinta yang dewasa—cinta yang tidak menguasai, tetapi juga tidak meninggalkan.

Mengapa Kehadiran Penting bagi Masa Depan Anak?

Anak yang bertumbuh dengan koneksi emosional yang cukup akan:

lebih percaya diri,

lebih siap mandiri,

tidak mudah mencari pengganti cinta secara berlebihan,

mampu membangun relasi yang sehat di luar rumah.

Paradoksnya jelas yaitu anak yang ditemani dengan cukup, justru lebih siap berjalan sendiri.

Sebaliknya, anak yang “dipenuhi tetapi tidak ditemani” sering:

mencari pelarian berlebihan,

sulit mengenali dan mengelola emosinya,

merasa cukup hanya melalui benda atau pencapaian.

Refleksi Jujur bagi Orang Tua

Gagasan Fromm bukan untuk membuat orang tua merasa bersalah. Ia justru menjadi pengingat yang manusiawi.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini sering kali lebih penting daripada strategi pengasuhan apa pun:

Apakah saya hadir, atau hanya menyediakan?

Apakah saya mengenal dunia batin anak saya, atau hanya hobinya?

Apakah saya memberi karena cinta, atau untuk menebus rasa bersalah karena tidak hadir?

Kesadaran semacam ini bukan tanda kegagalan, melainkan kedewasaan dalam menjadi orang tua.

Dari Memberi ke Menemani

Materi bisa menunjang tumbuh kembang anak. Namun koneksi yang membentuk kepribadiannya. Fromm mengingatkan kita bahwa, anak tidak akan mengingat perangkat apa yang paling mahal, tetapi akan mengingat siapa yang hadir ketika ia merasa sendiri, bingung, atau takut.

Maka, tugas orang tua bukan berhenti memberi, melainkan melangkah lebih jauh: menemani.

Penutup

Kita tidak dituntut menjadi orang tua sempurna. Cukup menjadi orang tua yang mau sadar, belajar, dan hadir. Karena pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak bukan dunia yang penuh fasilitas, tetapi rumah yang penuh kehadiran.

Posting Komentar