Suami di Tengah Dua Keluarga: Beban Keseimbangan yang Menentukan Harmoni Rumah Tangga
Dalam banyak pembahasan keluarga, sering terdengar satu kalimat, “Kuncinya ada di suami.” Ketika suami netral, adil dan bisa membawa adapasi yang baik, maka bisa saja ada jalan keluar terbaik ketika keluarga baru tinggal dengan orang tua.
Ya, semua ada di tangan suami. Kalimat ini benar, tetapi sering disalahpahami. Seolah-olah suami harus selalu kuat, selalu bijak, dan tidak boleh lelah. Padahal dalam realitas sosial Indonesia, posisi suami justru paling berat secara emosional, berdiri di antara keluarga asal dan keluarga baru yang sedang dibangun.
Artikel ini membahas mengapa peran suami begitu menentukan, sekaligus mengapa beban itu tidak sederhana.
Suami: Titik Temu Dua Loyalitas
Dalam budaya Indonesia, suami berada pada persimpangan dua tuntutan besar:
1. Menghormati Orang Tua dan Keluarga Asal
• Ada nilai bakti
• Ada rasa hutang budi
• Ada sejarah pengasuhan dan pengorbanan
2. Melindungi dan Menyayangi Keluarga Baru
• Istri sebagai pasangan hidup
• Anak sebagai tanggung jawab utama
• Rumah tangga sebagai amanah baru
Masalah muncul ketika dua loyalitas ini dianggap harus selalu sejalan, padahal dalam praktiknya sering bertabrakan.
Mengapa “Netral” Tidak Selalu Adil
Banyak suami memilih sikap diam atau netral dengan alasan-alasan yang bisa saja dianggap masuk di akal. Tapi apakah hal tersebut bisa dimaklumi, atau bagaimana? Ya, suami dalam hal tersebut punya alasan:
• Tidak ingin menyakiti orang tua
• Tidak ingin konflik membesar
• Takut dicap durhaka
Namun dalam relasi kuasa, netral sering berarti membiarkan yang kuat tetap dominan.
Dalam banyak kasus yang terjadi bisa saja pikiran berikut muncul:
• Orang tua memiliki kuasa simbolik
• Istri berada di posisi paling rentan
• Diamnya suami terasa seperti pembiaran
Akibatnya, istri tidak hanya menghadapi konflik dengan mertua, tetapi juga kehilangan rasa aman dari pasangannya sendiri.
Prinsip Penting: Tidak Berpihak, tapi Berprinsip
Peran suami bukan memilih siapa yang dibela, melainkan menegakkan prinsip. Tapi bukan haya sekedar prinsip tetapi bagaimana prinsip-prinsip tersebut tetapi bagaimana hal tersebut membantu keberlangsungan keluarga yang sudah dibangun di tempat orang tua.
Prinsip yang sehat antara lain:
• Keputusan rumah tangga dibicarakan dan diputuskan bersama pasangan
• Orang tua dihormati, tetapi tidak mengatur detail rumah tangga
• Masalah disampaikan dengan bahasa hormat, bukan diam atau meledak
Dengan prinsip ini, suami tidak sedang “melawan orang tua”, tetapi memindahkan pusat keputusan ke tempat yang semestinya: pasangan.
Beban Emosional yang Jarang Diakui
Sering luput disadari bahwa suami juga mengalami berbagai perasaan dalam mengambil sikap berada di 'tengah' tersebut. Bisa jadi suami merasa:
• Rasa bersalah pada orang tua
• Tekanan menjadi penengah
• Ketakutan dianggap tidak tahu diri
• Kelelahan emosional karena dituntut selalu kuat
Karena budaya jarang memberi ruang bagi laki-laki untuk mengungkapkan beban ini, banyak suami memilih diam sebagai mekanisme bertahan, bukan karena tidak peduli.
Namun diam terlalu lama justru:
• Menumpuk konflik
• Membuat masalah laten
• Menggerus kepercayaan pasangan
Keseimbangan Bukan Soal Sempurna, tapi Konsisten
Suami tidak harus selalu benar, tetapi perlu konsisten. Konsisten dalam hal apa saja?
• Konsisten menyatakan bahwa istrinya adalah partner utama
• Konsisten menjaga adab pada orang tua
• Konsisten membuat batas yang jelas
Keseimbangan bukan kondisi statis, melainkan proses negosiasi yang terus berjalan. Akan ada salah, akan ada koreksi, tetapi arah harus jelas.
Ingat! Saat Suami Absen, Konflik Membesar
Dari banyak cerita keluarga:
• Konflik menantu–mertua jarang membesar tanpa absennya peran suami
• Ketegangan meningkat ketika suami menyerahkan semuanya pada istri
• Harmoni lebih mudah terjaga ketika suami hadir, meski tidak sempurna
Ini bukan soal kemampuan komunikasi semata, tetapi keberanian mengambil posisi dewasa.
Penutup
Menjadi suami di tengah dua keluarga adalah peran yang berat, bukan karena harus memilih, tetapi karena harus menjaga keseimbangan dengan prinsip. Hormat tanpa kehilangan arah, sayang tanpa memutus silsilah.
Keharmonisan keluarga bukan lahir dari ketiadaan konflik, melainkan dari kejelasan posisi dan keberanian bertanggung jawab.

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.