Sudah Berdamai dengan Anak, Tapi Hubungan Masih Renggang: Tips Menyelesaikan Masalah dengan Tuntas
Langkah berdamai dengan anak yang sempat renggang karena sebuah konflik, langkah awal, namun biasanya bekas luka terkadang masih belum sembuh. Atau memulai kembali hubungan yang sudah terlanjur dingin atau "macet" memang membutuhkan keberanian ekstra, terutama bagi figur Ayah yang selama ini memegang kendali otoritas. Namun, dalam psikologi, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki ikatan (repairing the bond), karena pada dasarnya setiap anak, bahkan yang sudah dewasa sekalipun, memiliki bagian dalam dirinya yang tetap merindukan validasi dari orang tuanya.
Berikut adalah langkah-langkah untuk "Memulai Kembali" (The Great Reset) bagi orang tua yang ingin mencairkan kebekuan hubungan, beberapa hal berikut bisa dilakukan, dan jadikan hal ini sebagai pendidikan tidak langsung bagaimana orang tua menjadi kesatria dalam menjadi pendamai.
1. Mulai dengan "Pengakuan Tanpa Tuntutan"
Kesalahan terbesar saat mencoba memperbaiki hubungan adalah berharap anak langsung merespons dengan hangat. Ingat, dinding yang dibangun bertahun-tahun tidak runtuh dalam semalam.
Langkah yang dilakukan adalah mendatangi anak atau hubungi dia, dan akui pola lama secara jujur. Misalnya dengan menyampaikan kalimat, "Nak, Ayah baru sadar bahwa selama ini Ayah mungkin terlalu keras, jarang mendengarkanmu, atau sering merasa paling benar. Ayah minta maaf atas jarak yang tercipta di antara kita karena sikap Ayah itu."
Hal penting yang harus diingat adalah, jangan tambahkan kata "Tapi kamu juga...". Biarkan permohonan maaf itu berdiri sendiri.
2. Menggunakan Teknik "Jembatan Kecil"
Jika suasana sudah terlalu kaku untuk bicara mendalam, mulailah dengan hal-hal teknis yang menunjukkan perhatian tanpa mengintimidasi.
Langkah yang perlu dilakukan adalah, tanyakan pendapatnya tentang sesuatu yang dia kuasai (hobi, pekerjaan, atau teknologi). Dalam hal ini filosofinya, ini adalah cara halus untuk mengatakan, "Ayah menghargai kapasitasmu sebagai individu." Menghargai pendapat anak adalah bentuk "permintaan maaf terselubung" terhadap ego masa lalu yang selalu ingin mendominasi.
3. Jadilah Pendengar yang "Lapar"
Banyak ayah terjebak dalam posisi ingin segera memberi nasihat (fixing mode). Untuk memulai kembali, Anda harus menggantinya dengan mode listening.
Jika anak mulai bicara atau bahkan mengkritik masa lalu, jangan defensif. Dengarkan saja. Katakan, "Terima kasih sudah jujur sama Ayah, Ayah baru tahu kalau itu yang kamu rasakan."
Efeknya saat anak merasa "aman" untuk tidak setuju dengan Anda tanpa Anda marah, di situlah dinding kejengkelan mulai runtuh.
4. Konsistensi di Atas Intensitas
Meminta maaf sekali lalu kembali ke pola lama akan membuat anak semakin menutup diri karena merasa dipermainkan.
Langkah yang dilakukan adalah, lebih baik melakukan perubahan kecil yang konsisten daripada satu tindakan besar yang drastis tapi musiman. Misalnya, membiasakan diri menyapa lebih dulu, atau menahan diri untuk tidak mengkritik pilihannya setiap kali bertemu.
5. Meminta Izin untuk Menjadi Lebih Baik
Ini adalah langkah paling rendah hati yang bisa diambil seorang orang tua.
Bentuk kalimatnya bisa begini, "Ayah ingin memperbaiki hubungan kita. Mungkin Ayah tidak bisa langsung berubah sempurna, tapi kalau Ayah mulai kembali ke pola lama yang kaku, tolong diingatkan ya, Nak."
Filosofinya, ini memberikan "kekuasaan" kepada anak untuk ikut menjaga hubungan. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi dari orang tua kepada anak.
Hasil yang Mungkin Terjadi, biasanya, saat orang tua melakukan ini, anak akan mengalami "shock positif". Mereka mungkin akan diam, curiga, atau bahkan sinis di awal. Itu wajar. Itu adalah mekanisme pertahanan mereka agar tidak kecewa lagi.
Namun, jika orang tua tetap rendah hati dan konsisten, kebekuan itu biasanya akan mencair. Masalah mungkin tidak langsung selesai, tapi setidaknya "rel" komunikasinya sudah tersambung kembali.
Bagi teman-teman Anda yang merasa "stuck", poin mana yang menurut Anda paling sulit mereka lakukan? Apakah mengakui kesalahan masa lalu, atau menahan diri untuk tidak memberi nasihat saat anak mulai bicara jujur?

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.