Mengapa Anak Pertama Sering Dianggap Istimewa?

Table of Contents


Refleksi Kristen Agar Orang Tua Tidak Terjebak Ketidakadilan dalam Keluarga

Dalam banyak keluarga termasuk di keluarga Kristen, sering terdengar ungkapan yang dianggap wajar, Namanya juga anak pertama. Kalimat ini biasanya diucapkan tanpa niat buruk. Namun, dalam perjalanan waktu, perlakuan istimewa terhadap anak pertama, yang terus berlangsung hingga dewasa, dapat menimbulkan luka tersembunyi bagi anak-anak berikutnya. Luka ini jarang dibicarakan di mimbar, tetapi nyata dalam kehidupan keluarga.

Sebagai orang percaya, penting bagi kita bertanya dengan jujur,  apakah pola ini sejalan dengan hati Tuhan yang adil dan penuh kasih?

Anak Pertama: Anugerah yang Datang Bersama Ketakutan

1. Anak Pertama adalah Awal dari Panggilan Menjadi Orang Tua

Anak pertama hadir saat:

orang tua masih belajar mempercayai diri sendiri

iman masih diuji oleh ketakutan akan kegagalan

kasih sering bercampur dengan kecemasan

Anak pertama sering diperlakukan dengan lebih protektif, lebih dipuji, dan lebih dijaga, bukan karena ia lebih berharga, melainkan karena orang tua belum tenang dalam perannya.

Alkitab menunjukkan bahwa Allah memahami proses ini—Ia adalah Allah yang sabar membentuk manusia secara bertahap (bdk. Mazmur 103:13–14).

2. Ketika Kasih yang Besar Tidak Disertai Kesadaran

Dalam psikologi perkembangan, anak pertama memang menerima perhatian penuh di masa awal. Namun iman Kristen mengingatkan kita bahwa, kasih yang tidak disadari bisa berubah menjadi ketidakadilan yang tidak disengaja.

Rasul Paulus menasihati, “Hai bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu.” Efesus 6:4. Amarah di sini bukan selalu kemarahan yang meledak, tetapi juga rasa terpinggirkan yang tumbuh diam-diam.

Ketika Keistimewaan Berubah Menjadi Hierarki

Banyak keluarga tidak sadar telah membangun hierarki nilai:

anak pertama dianggap paling bisa dipercaya

pendapatnya lebih didengar

kesalahannya lebih mudah dimaklumi

Sementara itu, anak-anak berikutnya belajar bahwa:

mereka harus berjuang lebih keras untuk diperhatikan

suara mereka tidak seberharga kakaknya

Padahal Alkitab dengan sangat tegas menunjukkan bahwa Allah, “tidak memandang muka.” Roma 2:11

Alkitab dan Kisah Favoritisme Keluarga

Alkitab tidak menutup-nutupi dampak favoritisme dalam keluarga. Kisah Yakub dan anak-anaknya adalah contoh jelas:

Yakub mengasihi Yusuf lebih dari saudara-saudaranya

kasih yang timpang melahirkan kecemburuan

kecemburuan berujung pada pengkhianatan

“Israel lebih mengasihi Yusuf… dan mereka membenci dia.” Kejadian 37:3–4, Firman Tuhan tidak menuliskan kisah ini untuk ditiru, melainkan diperingatkan.

Apa yang Perlu Disadari Orang Tua Kristen?

1. Anak Pertama Tidak Lebih Berharga di Mata Tuhan

Setiap anak:

diciptakan menurut gambar Allah

dikasihi secara utuh

tidak memiliki peringkat rohani

Yesus sendiri berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku… sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Markus 10:14. Tidak ada urutan lahir dalam Kerajaan Allah.

2. Adil Bukan Berarti Sama, tetapi Setara dalam Kasih

Setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi:

koreksi harus setara

penghargaan harus seimbang

suara harus didengar dengan adil

Kasih Kristen tidak membandingkan, tetapi memperhatikan secara personal.

3. Jangan Menjadikan Anak Pertama sebagai “Orang Dewasa Kecil”

Ketika anak pertama:

dijadikan sandaran emosi orang tua

diminta “mengerti” terus-menerus

dipaksa mengalah demi damai semu

Ia kehilangan masa kanak-kanaknya, dan adik-adiknya kehilangan rasa keadilan. Tuhan tidak pernah merancang anak memikul beban yang seharusnya ditanggung orang tua.

4. Kerendahan Hati Orang Tua adalah Kunci Pemulihan

Sikap yang paling menyembuhkan dalam keluarga adalah, kesediaan orang tua untuk mengakui kekeliruan.

Kalimat sederhana seperti:

“Papa-Mama bisa saja keliru.”

“Kami sedang belajar mencintai dengan lebih adil.”

dapat menjadi alat pemulihan yang dipakai Tuhan.

Penutup: Belajar Mengasihi dengan Kesadaran

Mengistimewakan anak pertama sering lahir dari kasih, tetapi kasih yang tidak disadari bisa melukai tanpa sengaja.

Sebagai orang tua Kristen, kita dipanggil bukan hanya untuk mengasihi, tetapi mengasihi dengan kesadaran dan keadilan—sebagaimana Kristus telah mengasihi kita lebih dahulu. “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Kolose 3:14.

Posting Komentar