Menghadapi Anak Tidak Sopan? Coba Teori Michele Borba yang Kontraintuitif Ini!
Pernahkah Anda berada di situasi di mana anak tiba-tiba menjawab perkataan Anda dengan ketus, memutar bola mata, atau bahkan membentak? Sebagai orang tua, reaksi spontan kita biasanya adalah langsung naik pitam. Kita memarahi balik, menceramahi panjang lebar, atau justru membujuknya agar suasana rumah cepat tenang kembali. Kita ingin masalah cepat selesai saat itu juga. Mendidik anak memang butuh kecerdasan.
Namun, sadarkah Anda bahwa respons kilat tersebut justru sering kali membuat perilaku buruk anak terulang lagi di kemudian hari?
Jika Anda mulai merasa cara-cara konvensional seperti memarahi atau bernegosiasi tidak lagi mempan, saatnya kita belajar dari psikolog anak ternama dunia, Dr. Michele Borba, Ed.D. Dalam teorinya dalam buku Membangun Kecerdasan Moral tentang perilaku anak, ia menawarkan pendekatan yang sangat menarik, bahkan terkesan bertolak belakang dengan apa yang biasa dilakukan mayoritas orang tua saat menghadapi anak tidak sopan.
Mengapa Anak Berlaku Tidak Sopan? Memahami Umpan "Mencari Perhatian"
Sebelum membedah solusinya, kita perlu memahami akar masalahnya dari sudut pandang psikologi. Menurut teori Michele Borba, ketidaksopanan anak sering kali merupakan sebuah umpan. Anak, baik secara sadar maupun tidak, sedang menggunakan taktik attention-seeking behavior atau perilaku mencari perhatian.
Dalam dunia psikologi anak, perhatian dari orang tua adalah sebuah "hadiah" yang sangat berharga. Bagi seorang anak, mendapatkan perhatian negatif (seperti diomeli, didebat, atau dilihat dengan tatapan kesal) rasanya masih jauh lebih baik daripada tidak diberi perhatian sama sekali.
Ketika kita langsung merespons sikap tidak sopan mereka dengan ledakan amarah atau kepanikan, kita sebenarnya baru saja memberikan "bensin" pada api yang mereka sulut. Anak belajar bahwa ketidaksopanan adalah tombol paling instan dan efektif untuk mengontrol emosi, fokus, dan waktu orang tuanya.
Inti Teori Michele Borba: Berani Diam dan Mengabaikan dengan Sengaja
Lantas, bagaimana cara mengatasi anak melawan orang tua atau bersikap kasar menurut Michele Borba? Jawabannya adalah: Jangan merespons, tetap tenang, dan lakukan planned ignoring (mengabaikan dengan sengaja).
Mengabaikan di sini bukan berarti kita acuh tak acuh secara emosional, melainkan memutus pasokan "bahan bakar" yang dicari anak. Dr. Borba menekankan bahwa orang tua harus menahan diri dari reaksi makro maupun mikro.
Saat anak mulai berlaku tidak sopan, pastikan Anda TIDAK melakukan hal-hal ini:
- Jangan membalas memarahi atau membentak.
- Jangan menghela napas panjang yang menunjukkan Anda lelah atau kecewa.
- Jangan memutar bola mata atau mengangkat bahu.
- Jangan membujuk atau menyogok anak agar mereka diam.
Jadilah seperti batu yang kokoh dan tenang. Pasang wajah datar (stone face) dan jangan tanggapi ketidaksopanan itu sampai anak itu berhenti dengan sendirinya. Ketika anak menyadari bahwa sikap kasarnya sama sekali tidak mempan untuk mengguncang emosi Anda, senjata mereka otomatis kehilangan kekuatannya.
Langkah Krusial: Mengabaikan Perilaku, Bukan Mengabaikan Anak
Satu hal yang wajib digarisbawahi oleh para orang tua: Kita hanya mengabaikan perilakunya yang buruk, bukan memutus hubungan dengan anaknya. Metode diam ini bukan bentuk silent treatment yang menghukum anak selama berhari-hari. Strategi ini hanya berlaku sampai anak berhenti bersikap kasar.
Begitu suasana mulai mereda dan anak kembali tenang, Dr. Borba menyarankan dua langkah lanjutan ini:
1. Berikan Perhatian Positif Saat Mereka Sopan
Begitu anak menurunkan nada bicaranya dan mulai menyampaikan maksudnya dengan baik, langsung berikan respons yang hangat dan penuh perhatian. Ini adalah pesan nyata bagi anak: "Oh, kalau aku bicara dengan sopan, Ayah dan Ibu akan langsung mendengarkan."
2. Diskusikan Batasan Saat Kepala Sudah Dingin
Jangan pernah menegakkan aturan di tengah badai emosi. Tunggu sampai malam hari atau momen santai ketika Anda dan anak sudah sama-sama tenang. Anda bisa mengajaknya berbicara dari hati ke hati:
"Kak, tadi siang waktu kamu bicara sambil berteriak, Ibu sengaja diam. Ibu sangat sayang sama kamu, dan Ibu hanya mau mendengarkan kalau kamu bicara dengan sopan. Lain kali, sampaikan dengan tenang ya, Ibu pasti dengarkan."
Sebuah Refleksi untuk Orang Tua
Bagi kita yang mungkin memiliki anak yang sudah beranjak dewasa, menerapkan teori Michele Borba ini mungkin terasa kontraintuitif atau bahkan memicu senyum kecil karena sangat kontras dengan apa yang kita lakukan bertahun-tahun lalu. Memang, menahan diri untuk tidak menghela napas atau mendelik saat ego kita sebagai orang tua diuji adalah tantangan batin tingkat tinggi.
Namun, tidak ada kata terlambat untuk belajar ilmu parenting. Setidaknya, prinsip ini bisa menjadi panduan berharga bagi banyak orang tua untuk memahami bahwa mendidik anak adalah tentang investasi jangka panjang, bukan sekadar mencari solusi cepat agar masalah selesai dalam hitung belas menit.
Menghadapi ketidaksopanan dengan ketenangan adalah bukti bahwa sebagai orang tua, kitalah yang memegang kendali atas atmosfer di dalam rumah, bukan emosi anak yang masih labil. Menerapkan disiplin tanpa amarah memang butuh latihan, tetapi hasil karakternya pada anak akan bertahan seumur hidup.

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.