Bersyukur Menurut Alkitab: Mengapa Kita Bisa Tidak Tahu Berterima Kasih Tanpa Menyadarinya?
Ada satu kebiasaan sederhana yang sejak kecil kita ajarkan kepada anak: mengucapkan “terima kasih.” Ketika menerima hadiah, dibantu orang lain, atau mendapatkan sesuatu yang baik, kita mengajarkan anak untuk mengatakan terima kasih.
Namun, bersyukur menurut Alkitab ternyata jauh lebih dalam daripada sekadar mengucapkan dua kata tersebut.
Alkitab bahkan menyebut “tidak tahu berterima kasih” sebagai salah satu karakter manusia yang perlu diwaspadai. Dalam 2 Timotius 3:2, sifat ini muncul bersama kecenderungan mencintai diri sendiri, mencintai uang, sombong, membual, memberontak kepada orang tua, dan kemudian tidak mempedulikan hal-hal rohani. (Bible.com)
Ini membuat kita perlu bertanya: mengapa ketidakbersyukuran dianggap begitu serius?
Jangan-jangan masalahnya bukan sekadar seseorang lupa mengatakan terima kasih. Jangan-jangan kita bisa menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih tanpa merasa bahwa kita sedang melakukannya.
Apa Arti Bersyukur Menurut Alkitab?
Dalam 2 Timotius 3:2, kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “tidak tahu berterima kasih” adalah ἀχάριστοι (acharistoi). Kata ini berarti tidak bersyukur atau tidak tahu berterima kasih. Kata tersebut hanya muncul dua kali dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam 2 Timotius 3:2 dan Lukas 6:35. (Bible Hub)
Menariknya, Lukas 6:35 menggunakan istilah yang sama ketika Yesus berbicara bahwa Allah tetap baik terhadap orang yang tidak tahu berterima kasih dan orang jahat. (Bible Hub)
Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa ketidakbersyukuran bukan hanya persoalan tata krama.
Ada sesuatu yang lebih dalam, yaitu ketidakmampuan atau ketidakmauan seseorang untuk menyadari kebaikan yang telah diterimanya.
Orang yang bersyukur bukan sekadar orang yang sering mengatakan “terima kasih”. Ia adalah orang yang mampu menyadari:
“Apa yang saya miliki tidak semuanya saya hasilkan sendiri.”
Ada orang lain yang berkontribusi. Ada kesempatan yang diberikan. Ada pertolongan yang diterima. Dan bagi orang percaya, ada Tuhan yang menjadi sumber kehidupan dan anugerah.
Mengapa “Tidak Tahu Berterima Kasih” Berhubungan dengan Mencintai Diri Sendiri?
Perhatikan urutan 2 Timotius 3:2.
Paulus memulai dengan gambaran manusia yang mencintai dirinya sendiri, kemudian menyebut berbagai perilaku lain, termasuk tidak tahu berterima kasih.
Hubungan ini sangat menarik.
Ketika seseorang terlalu berpusat pada dirinya sendiri, pertanyaannya cenderung berubah menjadi:
“Apa yang saya dapat?”
Bukan:
“Apa yang sudah saya terima?”
Apalagi:
“Siapa yang sudah berbuat baik kepada saya?”
Inilah yang membuat ketidakbersyukuran sangat dekat dengan sikap egois.
Orang yang terlalu berpusat pada diri sendiri akan lebih mudah melihat apa yang kurang daripada apa yang sudah dimiliki.
Ia melihat rumah orang lain lebih bagus.
Melihat pekerjaan orang lain lebih baik.
Melihat pasangan orang lain lebih perhatian.
Melihat anak orang lain lebih sukses.
Melihat kehidupan orang lain lebih menyenangkan.
Akhirnya, berkat yang sudah dimiliki menjadi tidak terlihat karena perhatian terus tertuju kepada sesuatu yang belum dimiliki.
Kita Bisa Tidak Bersyukur Karena Terlalu Terbiasa Menerima
Ada paradoks dalam kehidupan manusia.
Sesuatu yang dahulu sangat kita syukuri, setelah diterima dalam waktu lama, bisa berubah menjadi sesuatu yang kita anggap biasa.
Ketika pertama kali mendapatkan pekerjaan, kita sangat bersyukur.
Beberapa tahun kemudian kita mengeluh tentang pekerjaan itu.
Ketika pertama kali membeli rumah, kita merasa sangat senang.
Beberapa tahun kemudian kita mulai membandingkannya dengan rumah orang lain.
Ketika anak pertama kali memanggil “Mama” atau “Papa”, kita mungkin merasa sangat bahagia.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, panggilan itu menjadi bagian biasa dari kehidupan.
Demikian juga dalam pernikahan.
Dulu kita merasa beruntung memiliki seseorang yang selalu menunggu di rumah, menemani ketika sakit, menyediakan makanan, atau mengingatkan banyak hal.
Setelah bertahun-tahun, semua itu bisa berubah menjadi rutinitas.
Bukan karena kebaikannya hilang.
Kita saja yang sudah terlalu terbiasa menerimanya.
Di sinilah pentingnya melatih rasa syukur.
Kita perlu belajar melihat kembali sesuatu yang sudah terlalu lama kita anggap biasa.
Bersyukur Bukan Berarti Tidak Boleh Menginginkan Lebih
Ada kesalahpahaman lain mengenai rasa syukur.
Bersyukur bukan berarti kita tidak boleh mempunyai cita-cita.
Kita boleh ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.
Boleh memperbaiki ekonomi.
Boleh mencari pekerjaan yang lebih baik.
Boleh memperbaiki rumah.
Boleh mempunyai target pendidikan untuk anak.
Boleh berusaha meningkatkan kualitas keluarga.
Tetapi ada perbedaannya.
Kita boleh mengejar sesuatu yang belum kita miliki tanpa merendahkan sesuatu yang sudah kita miliki.
Inilah keseimbangan yang penting.
Keinginan untuk maju tidak harus membuat kita tidak bersyukur.
Sebaliknya, rasa syukur tidak harus membuat kita berhenti bertumbuh.
Hubungan Rasa Syukur dengan Psikologi
Dari sisi psikologi, rasa syukur juga menarik karena berkaitan dengan cara seseorang mengarahkan perhatiannya.
Jika perhatian terus-menerus diarahkan kepada kekurangan, manusia akan lebih mudah merasa tidak cukup.
Sebaliknya, latihan untuk mengenali hal-hal baik yang sudah dimiliki dapat membantu seseorang melihat kehidupan dengan perspektif yang lebih luas.
Ini bukan berarti rasa syukur menyelesaikan semua masalah psikologis.
Orang yang sedang mengalami kesedihan, kehilangan, atau masalah berat tetap membutuhkan ruang untuk mengakui emosinya.
Kita tidak perlu mengatakan kepada orang yang sedang menderita:
“Sudahlah, bersyukur saja.”
Syukur bukan cara untuk menyangkal kesulitan.
Syukur adalah kemampuan mengatakan:
“Saya sedang menghadapi masalah, tetapi masalah ini bukan satu-satunya hal yang ada dalam hidup saya.”
Masih ada kebaikan yang bisa dilihat.
Masih ada orang yang mengasihi.
Masih ada kesempatan.
Dan bagi orang percaya, masih ada Tuhan.
Mengajarkan Anak Bersyukur Tanpa Membuat Mereka Merasa Berutang
Dalam keluarga, rasa syukur perlu diajarkan sejak dini.
Tetapi orang tua perlu berhati-hati.
Mengajarkan anak berterima kasih bukan berarti mengatakan:
“Papa sudah membiayai kamu, jadi kamu harus membalas Papa.”
“Mama sudah membesarkan kamu, jadi kamu punya utang kepada Mama.”
Kasih orang tua bukan transaksi.
Tujuannya bukan membuat anak merasa memiliki utang yang harus dibayar.
Yang ingin dibentuk adalah kesadaran:
“Saya menerima kebaikan, maka saya belajar menghargai kebaikan.”
Dan lebih jauh:
“Karena saya telah menerima kasih, saya juga belajar memberikan kasih kepada orang lain.”
Dengan demikian, rasa syukur tidak berhenti pada hubungan anak dengan orang tua.
Ia menjadi karakter.
Anak belajar menghargai guru.
Menghargai teman.
Menghargai pasangan ketika dewasa.
Menghargai orang yang bekerja untuknya.
Dan terutama, belajar menghargai Tuhan.
Bagaimana Cara Melatih Hidup Bersyukur?
Latihan bersyukur sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Setiap malam, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri:
Apa kebaikan yang saya terima hari ini?
Bukan hanya sesuatu yang besar.
Mungkin hari ini kita menikmati makanan.
Ada teman yang membantu.
Anak tersenyum.
Pasangan melakukan sesuatu yang baik.
Kita masih dapat bekerja.
Kita masih diberi kesehatan.
Atau bahkan kita mendapat kesempatan memperbaiki kesalahan.
Kemudian kita dapat melangkah sedikit lebih jauh:
Siapa yang telah melakukan kebaikan kepada saya hari ini?
Pertanyaan ini mengubah perhatian kita dari “apa yang saya punya” menjadi “siapa yang telah memberikan kebaikan kepada saya.”
Dan akhirnya:
Apa kebaikan yang bisa saya berikan kepada orang lain?
Di sinilah rasa syukur mulai menghasilkan tindakan.
Jangan Sampai Kita Membaca 2 Timotius 3:2 untuk Menilai Orang Lain
Mungkin bagian paling penting dari pembahasan ini adalah bagaimana kita membaca ayat tersebut.
Ketika mendengar “tidak tahu berterima kasih”, kita mungkin langsung teringat seseorang.
Anak yang tidak menghargai orang tua.
Pasangan yang tidak menghargai pengorbanan kita.
Teman yang lupa ketika sudah berhasil.
Atau orang yang pernah kita tolong tetapi kemudian mengecewakan kita.
Tetapi firman Tuhan seharusnya juga menjadi cermin bagi diri sendiri.
Coba bertanya:
Apakah saya masih menghargai pasangan saya?
Apakah saya masih mengingat kebaikan orang tua?
Apakah saya menghargai orang yang pernah membantu saya?
Apakah saya terlalu fokus pada apa yang belum saya miliki?
Apakah saya merasa semua yang saya miliki adalah hasil usaha saya sendiri?
Dan yang paling dalam:
Apakah saya masih menyadari bahwa kehidupan saya sendiri adalah anugerah Tuhan?
Pertanyaan seperti ini mungkin lebih berguna daripada sekadar menunjuk siapa yang tidak tahu berterima kasih.
Bersyukur Adalah Cara Keluar dari Pusat Kehidupan Bernama “Saya”
Pada akhirnya, bersyukur menurut Alkitab bukan hanya soal mengucapkan terima kasih.
Syukur mengubah cara kita melihat kehidupan.
Dari:
“Apa yang belum saya dapatkan?”
menjadi:
“Apa yang sudah saya terima?”
Dari:
“Mengapa orang lain tidak melakukan sesuatu untuk saya?”
menjadi:
“Siapa yang sudah melakukan kebaikan kepada saya?”
Dan akhirnya dari:
“Apa yang bisa saya dapatkan?”
menjadi:
“Apa yang bisa saya berikan?”
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa “tidak tahu berterima kasih” muncul begitu serius dalam 2 Timotius 3:2. Ketidakbersyukuran dapat menjadi cermin dari hati yang semakin berpusat pada diri sendiri. Sebaliknya, rasa syukur mengarahkan perhatian keluar dari diri dan membuat kita kembali melihat Tuhan, sesama, keluarga, dan berbagai kebaikan yang selama ini mungkin sudah terlalu biasa bagi kita. (Bible Hub)
Jadi, jangan hanya mengajarkan anak mengucapkan “terima kasih”.
Jangan hanya meminta pasangan menghargai pengorbanan kita.
Dan jangan pula hanya menuntut jemaat supaya lebih bersyukur.
Kita sendiri perlu belajar melihat kembali.
Mungkin ada banyak hal dalam hidup kita yang dahulu pernah kita doakan, tetapi sekarang sudah kita anggap biasa.
Mungkin ada orang yang dahulu sangat berarti bagi kita, tetapi sekarang kebaikannya jarang kita ingat.
Dan mungkin ada begitu banyak anugerah Tuhan yang setiap hari kita terima tanpa pernah benar-benar kita sadari.
Karena itu, mari belajar bersyukur.
Bukan karena hidup kita sempurna.
Tetapi karena kita sadar bahwa di tengah hidup yang tidak sempurna pun, masih ada begitu banyak kebaikan yang telah kita terima.
Dan orang yang sungguh-sungguh bersyukur akhirnya tidak hanya pandai berkata:
“Terima kasih.”
Ia akan menjalani hidup dengan kesadaran:
“Saya sudah menerima banyak kebaikan. Karena itu, saya juga ingin menjadi orang yang membawa kebaikan bagi orang lain.”

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.