Ketika Teguran Terasa Menyakitkan: Belajar Berkomunikasi dalam Keluarga
Teguran Tidak Harus Menjadi Awal Pertengkaran
Pernahkah seseorang menegur kita, lalu bukannya memikirkan isi teguran itu, kita justru sibuk memikirkan nada bicaranya?
“Kenapa harus ngomong begitu?”
“Memangnya dia lebih baik dari saya?”
“Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Kalimat-kalimat seperti itu sering muncul dalam hati ketika kita menerima teguran. Kesalahan yang seharusnya menjadi bahan evaluasi akhirnya berubah menjadi persoalan harga diri. Di dalam keluarga, persoalan ini bisa lebih rumit. Teguran orang tua kepada anak dapat dianggap sebagai bentuk tidak dipercaya. Nasihat pasangan bisa terdengar seperti kritik. Bahkan perhatian seorang anak kepada orang tuanya kadang dianggap sebagai sikap kurang ajar.
Padahal, persoalannya mungkin bukan pada teguran itu sendiri, melainkan cara kita berkomunikasi ketika menyampaikan dan menerima kesalahan.
Dalam keluarga modern, komunikasi bukan lagi sekadar siapa yang berbicara dan siapa yang harus menurut. Anak perlu didengar, orang tua juga perlu dihargai. Pasangan perlu belajar menyampaikan keberatan tanpa merendahkan, sementara orang yang ditegur perlu memiliki ruang untuk menjelaskan keadaan.
Mengapa Kita Mudah Tersinggung Saat Ditegur?
Teguran sering terasa seperti serangan terhadap diri kita, meskipun sebenarnya yang perlu dikoreksi adalah perilaku tertentu.
Contohnya, seorang ibu berkata kepada anak, “Kamu memang malas sekali.”
Kalimat tersebut berbeda dengan, “Ibu melihat tugas sekolahmu belum dikerjakan. Ada kesulitan yang membuat kamu belum menyelesaikannya?”
Kalimat pertama menyerang identitas anak. Kalimat kedua membicarakan perilaku sekaligus membuka ruang dialog.
American Academy of Pediatrics menekankan bahwa komunikasi yang sehat dengan anak perlu menghindari menyalahkan, merendahkan, memberi julukan buruk, atau mempermalukan. Orang tua dianjurkan menjelaskan bahwa yang bermasalah adalah perilakunya, bukan nilai diri anak sebagai pribadi.
Ini menjadi penting karena anak yang terlalu sering menerima kritik dapat belajar bahwa melakukan kesalahan berarti dirinya adalah orang yang buruk. Akibatnya, ia mungkin memilih berbohong, menyembunyikan masalah, atau menghindari percakapan daripada terbuka kepada orang tua.
Jadi, teguran yang baik seharusnya memperbaiki perilaku tanpa merusak hubungan.
Teguran Bukan Berarti Menghakimi
Kita perlu membedakan antara menegur, mengkritik, dan mempermalukan.
Menegur berarti menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki. Mengkritik secara berlebihan dapat membuat seseorang merasa dirinya tidak pernah cukup baik. Sementara mempermalukan membuat orang berusaha mempertahankan harga dirinya daripada memahami kesalahannya.
Karena itu, ketika ingin menegur anggota keluarga, kita bisa mulai dengan tiga pertanyaan sederhana:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa dampaknya?
Apa yang dapat diperbaiki bersama?
Misalnya, daripada berkata, “Kamu tidak pernah membantu di rumah,” kita dapat mengatakan, “Ayah dan Ibu cukup kewalahan kalau semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri. Bisakah kita membagi tugas supaya lebih ringan?”
Pesannya tetap tegas, tetapi pintu komunikasi tidak ditutup.
Belajar Mendengar Sebelum Membela Diri
Menerima teguran membutuhkan kemampuan mendengarkan.
Ketika ditegur, kita tidak harus langsung setuju. Kita juga boleh menjelaskan jika ada bagian yang menurut kita kurang tepat. Namun, mendengarkan terlebih dahulu membuat kita memiliki kesempatan memahami maksud orang lain.
Konsep active listening atau mendengarkan secara aktif semakin penting dalam komunikasi keluarga. CDC menjelaskan bahwa mendengarkan aktif mencakup memberikan perhatian penuh, melakukan kontak mata, merefleksikan apa yang dikatakan anak, serta membantu mengenali perasaannya.
Dalam praktiknya, kita dapat mengatakan:
“Jadi, kamu kecewa karena merasa Ibu langsung menyalahkanmu?”
Atau kepada pasangan:
“Saya memahami bahwa yang membuatmu kecewa bukan hanya masalahnya, tetapi karena saya tidak memberi kabar.”
Kalimat seperti ini tidak otomatis berarti kita mengakui seluruh kesalahan. Kita sedang menunjukkan bahwa kita bersedia memahami.
Dan sering kali, seseorang baru siap menerima nasihat setelah merasa didengarkan.
Tidak Semua Teguran Harus Disampaikan Saat Emosi
Salah satu kesalahan komunikasi keluarga adalah menyampaikan teguran ketika semua orang sedang marah.
Orang tua lelah pulang bekerja, anak baru pulang sekolah, pasangan sedang menghadapi masalah, kemudian sebuah kesalahan kecil menjadi pemicu pertengkaran besar.
Padahal, waktu dan suasana sangat menentukan kualitas percakapan. AAP juga menyarankan memilih waktu dan tempat yang tepat untuk berbicara, serta memberi kesempatan kepada anak untuk tenang terlebih dahulu. (HealthyChildren.org)
Karena itu, tidak ada salahnya berkata:
“Kita bicarakan ini setelah kita sama-sama tenang.”
Menunda percakapan bukan berarti menghindari masalah. Kadang justru itulah cara menjaga agar masalah tidak berubah menjadi luka baru.
Teguran di Era Digital Juga Membutuhkan Kebijaksanaan
Ada satu hal yang berbeda dari masa ketika artikel ini pertama kali ditulis: keluarga sekarang hidup berdampingan dengan media sosial dan komunikasi digital.
Teguran yang dahulu hanya terjadi di ruang keluarga kini dapat berubah menjadi komentar di grup WhatsApp, pesan singkat, unggahan media sosial, atau bahkan video yang dilihat banyak orang.
Karena itu, prinsip sederhana perlu diingat: masalah keluarga sebaiknya tidak diselesaikan dengan mempermalukan anggota keluarga di ruang publik digital.
Jika anak melakukan kesalahan, tidak perlu langsung menjadikannya bahan unggahan. Jika pasangan mengecewakan kita, media sosial bukan tempat pertama untuk mencari pembenaran.
Komunikasi yang sehat membutuhkan ruang aman untuk berbicara, bukan penonton.
Bagaimana dengan Teguran Tuhan?
Dalam kehidupan iman Kristen, teguran memiliki makna yang lebih dalam. Ayub 5:17 berkata, “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.”
Ayat ini sering dipahami sebagai pengingat bahwa didikan dapat membawa seseorang kepada perbaikan. Namun, ada konteks penting yang perlu diperhatikan: perkataan tersebut merupakan bagian dari percakapan Elifas kepada Ayub. Karena itu, ayat tersebut sebaiknya tidak digunakan secara sembarangan untuk menyimpulkan bahwa setiap penderitaan atau masalah yang kita alami pasti merupakan hukuman langsung dari Tuhan.
Yang dapat kita renungkan adalah sikap hati terhadap koreksi: apakah kita mau memeriksa diri, belajar, dan kembali kepada jalan yang benar?
Dalam keluarga pun prinsip ini relevan. Orang tua bukan Tuhan yang selalu benar. Anak juga bukan pihak yang selalu salah. Suami dan istri sama-sama dapat keliru. Karena itu, keluarga yang sehat bukan keluarga tanpa teguran, melainkan keluarga yang mampu saling mengoreksi tanpa kehilangan kasih.
Teguran yang Membuat Hubungan Semakin Dewasa
Pada akhirnya, teguran adalah bagian dari kehidupan. Kita tidak akan pernah menjadi manusia yang sempurna.
Tetapi ada perbedaan besar antara keluarga yang menggunakan teguran untuk mengendalikan dan keluarga yang menggunakan teguran untuk bertumbuh.
Orang tua dapat belajar berkata, “Ibu salah karena tadi membentakmu.”
Anak dapat belajar berkata, “Saya mengerti kesalahan saya dan akan memperbaikinya.”
Suami dapat mengatakan, “Terima kasih sudah mengingatkan saya.”
Istri pun dapat berkata, “Saya perlu memikirkan nasihatmu.”
Kalimat-kalimat sederhana seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi dapat mengubah budaya komunikasi di dalam rumah.
Jadi, ketika menerima teguran, jangan buru-buru bertanya, “Siapa yang berhak menegur saya?” Cobalah bertanya, “Apa yang bisa saya pelajari dari teguran ini?”
Dan ketika hendak menegur seseorang, jangan hanya bertanya, “Bagaimana supaya dia menurut?” Tanyakan juga, “Bagaimana saya bisa menyampaikan kebenaran tanpa melukai hubungan?”
Sebab keluarga yang kuat bukan keluarga yang tidak pernah melakukan kesalahan. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang mampu berbicara tentang kesalahan, mendengarkan dengan rendah hati, memperbaiki diri, dan tetap memilih kasih.
Teguran yang disampaikan dengan kasih dapat menjadi jembatan menuju perubahan. Sebaliknya, teguran yang disampaikan dengan kemarahan dapat berubah menjadi tembok.
Karena itu, mari belajar memiliki hati yang lembut: cukup rendah hati untuk menerima koreksi dan cukup bijaksana untuk menyampaikan koreksi dengan kasih.

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.