Pujian yang Membawa Ketenangan: Membangun Keluarga yang Bersukacita dalam Tuhan

Table of Contents


Ada hari ketika rumah terasa begitu ramai, tetapi hati justru terasa sepi. Anak-anak sibuk dengan gawai, orang tua memikirkan pekerjaan, pasangan mungkin sedang lelah dengan berbagai persoalan, sementara percakapan di rumah semakin sedikit.

Dalam keadaan seperti itu, mungkin kita tidak membutuhkan nasihat panjang. Kadang-kadang kita hanya perlu berhenti sejenak, berkumpul, berdoa, lalu menyanyikan sebuah lagu pujian bersama.

Pujian kepada Tuhan ternyata bukan hanya bagian dari ibadah di gereja. Pujian dapat menjadi kebiasaan sederhana yang membawa keluarga kembali mengingat bahwa di tengah kesibukan, masalah, dan ketidakpastian, Tuhan tetap hadir.

Mazmur 100 mengajak umat Tuhan datang kepada-Nya dengan sukacita, nyanyian dan ucapan syukur. Alasannya sederhana: Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya turun-temurun.

Mungkin inilah alasan mengapa pujian layak mendapat tempat lebih besar dalam kehidupan keluarga Kristen.


Apa Arti Pujian kepada Tuhan?

Pujian bukan sekadar menyanyikan lagu rohani dengan musik yang indah. Pujian adalah respons hati terhadap kebaikan, kasih, kesetiaan dan karya Tuhan.

Kita memuji Tuhan bukan karena Tuhan kekurangan penghargaan lalu membutuhkan manusia untuk membuat-Nya merasa berharga. Sebaliknya, kita memuji karena kita menyadari siapa Dia dan apa yang telah Dia kerjakan dalam hidup kita.

Karena itu, pujian tidak selalu harus lahir dari keadaan yang sempurna.

Kita dapat memuji ketika mendapatkan berkat. Kita juga dapat memuji ketika sedang menunggu jawaban doa. Bahkan ketika keadaan belum berubah, kita tetap dapat berkata, “Tuhan, aku percaya Engkau tetap baik.”

Di sinilah pujian menjadi lebih dari sekadar musik. Pujian menjadi latihan untuk mengarahkan kembali hati kepada Tuhan.


Pujian Tidak Harus Menunggu Hari Minggu

Salah satu kebiasaan yang mungkin perlu diperbarui adalah anggapan bahwa pujian hanya dilakukan ketika berada di gereja.

Padahal, keluarga dapat membangun budaya pujian di rumah.

Misalnya, sebelum memulai aktivitas pada pagi hari, keluarga menyanyikan satu lagu rohani. Sebelum tidur, orang tua dan anak dapat menyebutkan beberapa hal yang mereka syukuri hari itu. Ketika sedang melakukan pekerjaan rumah, musik pujian dapat diperdengarkan.

Tidak harus formal.

Tidak harus menggunakan peralatan musik yang lengkap.

Bahkan tidak harus memiliki suara yang bagus.

Yang penting adalah hati yang diarahkan kepada Tuhan.

Teknologi digital justru membuat hal ini semakin mudah. Lagu pujian dapat didengarkan melalui berbagai layanan musik atau dinyanyikan bersama dari ruang keluarga. Namun, jangan sampai teknologi hanya menjadikan keluarga sebagai pendengar pasif.

Sesekali, matikan layar dan bernyanyilah bersama.


Mengapa Bernyanyi Bersama Bisa Membuat Keluarga Lebih Dekat?

Menariknya, penelitian tentang musik dan bernyanyi memberikan perspektif yang dapat melengkapi pemahaman kita.

Sebuah systematic review menemukan bahwa aktivitas bernyanyi bersama berpotensi mendukung kesejahteraan anak dan kaum muda, terutama melalui rasa keterhubungan sosial dan kepercayaan diri.  

Penelitian lain mengenai group singing juga menemukan hubungan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis dan sosial, walaupun para peneliti mengingatkan bahwa hubungan sebab-akibat tidak selalu dapat dipastikan.

Artinya, kita tidak perlu mengatakan bahwa “bernyanyi otomatis menyembuhkan stres”. Klaim seperti itu terlalu sederhana.

Namun, ada sesuatu yang menarik.

Ketika ayah, ibu dan anak menyanyikan lagu yang sama, mereka melakukan sesuatu secara bersama-sama. Mereka mendengarkan, mengikuti irama, mengingat lirik, dan mengalami momen yang sama.

Pujian dapat menjadi pengalaman bersama, bukan sekadar suara yang terdengar di ruang keluarga.

Dan pengalaman bersama seperti inilah yang sering kali justru hilang dalam keluarga modern.


Ketenangan Keluarga Dimulai dari Hati yang Bersyukur

Kita sering membayangkan ketenangan keluarga akan muncul ketika semua masalah selesai.

Padahal, masalah dalam keluarga mungkin tidak pernah benar-benar berhenti.

Anak bertumbuh dan menghadapi persoalannya sendiri. Orang tua memiliki pekerjaan. Keuangan dapat berubah. Kesehatan menjadi perhatian. Hubungan antaranggota keluarga juga tidak selalu sempurna.

Karena itu, keluarga membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar keadaan yang nyaman.

Keluarga membutuhkan cara untuk tetap memiliki hati yang bersyukur di tengah keadaan yang tidak selalu mudah.

Di sinilah pujian memiliki tempat.

Ketika keluarga menyanyikan pujian, perhatian kita sejenak dialihkan dari persoalan kepada Tuhan. Bukan berarti persoalan menghilang, tetapi cara kita memandang persoalan dapat berubah.

Kita belajar berkata:

“Masalah ini memang ada, tetapi Tuhan juga ada.”

“Aku sedang lelah, tetapi aku tidak berjalan sendirian.”

“Aku belum mendapatkan jawaban, tetapi aku masih memiliki alasan untuk bersyukur.”

Inilah salah satu bentuk ketenangan yang tidak selalu terlihat dari luar. 



Ajarkan Anak Mengenal Tuhan Melalui Pujian, Bukan Hanya Nasihat

Orang tua sering ingin anak mengenal Tuhan melalui nasihat.

Itu penting.

Tetapi anak juga belajar melalui pengalaman.

Bayangkan seorang anak melihat ayah dan ibunya memuji Tuhan bukan hanya ketika mendapatkan sesuatu, tetapi juga ketika sedang menghadapi kesulitan.

Anak sedang melihat sebuah pelajaran iman yang sangat konkret.

Ia belajar bahwa iman bukan sekadar kata-kata.

Ia belajar bahwa Tuhan bukan hanya dicari ketika membutuhkan pertolongan.

Ia juga belajar bahwa bersyukur tidak selalu bergantung pada keadaan.

Karena itu, jangan terlalu cepat menilai kualitas suara anak ketika mereka menyanyi lagu rohani.

Mungkin bagi kita suaranya tidak merdu.

Tetapi bagi sebuah keluarga, suara seorang anak yang menyanyikan pujian dapat menjadi kenangan yang jauh lebih berharga daripada sebuah pertunjukan musik yang sempurna.


Jangan Menjadikan Pujian sebagai Kompetisi Rohani

Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan.

Pujian bukan perlombaan tentang siapa yang paling hafal lagu rohani, siapa yang paling keras menyanyi, atau siapa yang paling ekspresif mengangkat tangan.

Pujian juga bukan cara untuk terlihat lebih rohani daripada orang lain.

Pusat pujian adalah Tuhan.

Karena itu, keluarga perlu belajar bahwa setiap orang dapat memuji Tuhan dengan caranya masing-masing.

Anak kecil mungkin menyanyi dengan suara keras. Remaja mungkin lebih menyukai lagu dengan aransemen modern. Orang tua mungkin menyukai himne atau lagu rohani yang sudah lama dikenal.

Perbedaan selera tidak harus menjadi sumber konflik.

Justru dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal.


Buat Tradisi Pujian Kecil di Rumah

Keluarga tidak perlu membuat program yang rumit.

Cobalah membangun beberapa kebiasaan sederhana:

Pertama, satu lagu sebelum tidur.

Pilih satu lagu pujian dan nyanyikan bersama sebelum berdoa.

Kedua, satu ucapan syukur setiap hari.

Masing-masing anggota keluarga menyebutkan satu hal yang disyukuri.

Ketiga, gunakan pujian ketika suasana sedang berat.

Bukan untuk berpura-pura bahwa masalah tidak ada, tetapi untuk mengingatkan keluarga bahwa masalah bukanlah satu-satunya kenyataan.

Keempat, biarkan anak memilih lagu.

Dengan demikian, pujian menjadi pengalaman bersama, bukan kewajiban yang dipaksakan.

Kelima, sesekali bernyanyilah tanpa gawai.

Tidak perlu karaoke, video, atau musik latar. Suara manusia yang sederhana justru dapat menciptakan kedekatan yang berbeda.


Pujian Mengubah Suasana, tetapi Bukan Alat untuk Mengendalikan Tuhan

Kita perlu memahami hal ini dengan benar.

Pujian bukan transaksi: “Saya memuji Tuhan supaya Tuhan memberikan apa yang saya inginkan.”

Pujian juga bukan formula untuk memastikan semua masalah berakhir dengan cara yang kita harapkan.

Kita memuji Tuhan bukan karena kita tahu masa depan, melainkan karena kita mengenal Dia.

Mazmur 100 menempatkan sukacita dan ucapan syukur berdampingan dengan pengenalan bahwa Tuhan adalah Allah dan kita adalah umat-Nya. (American Bible Society⁠)

Dengan demikian, pujian bukan terutama tentang mendapatkan sesuatu.

Pujian adalah tentang mengingat.

Mengingat kebaikan Tuhan.

Mengingat kesetiaan-Nya.

Mengingat bahwa keluarga kita berada dalam pemeliharaan-Nya.

Dan ketika keluarga mengingat hal-hal tersebut bersama-sama, suasana rumah dapat berubah. Bukan karena sebuah lagu memiliki kekuatan ajaib, tetapi karena hati manusia kembali diarahkan kepada Tuhan.


Rumah yang Penuh Pujian Tidak Berarti Rumah Tanpa Masalah

Ini mungkin bagian terpenting yang perlu kita ingat.

Keluarga yang suka memuji Tuhan bukan berarti keluarga yang tidak pernah bertengkar, tidak pernah menangis, tidak pernah kekurangan atau tidak pernah mengalami masalah.

Keluarga Kristen tetaplah keluarga yang terdiri dari manusia yang memiliki kelemahan.

Namun, keluarga dapat memiliki kebiasaan untuk kembali kepada Tuhan ketika keadaan menjadi sulit.

Ketika marah, kita belajar berdoa.

Ketika kecewa, kita belajar bersyukur.

Ketika takut, kita belajar percaya.

Ketika mendapatkan berkat, kita belajar memuji.

Dan ketika seluruh keluarga berkumpul menyanyikan pujian, anak-anak tidak hanya mendengar sebuah lagu.

Mereka sedang melihat bagaimana sebuah keluarga menghadapi kehidupan.


Mari Membawa Pujian Kembali ke Rumah

Setelah menjalani hari yang panjang, mungkin kita tidak membutuhkan sesuatu yang besar untuk mengembalikan sukacita di rumah.

Mungkin cukup dengan berkumpul.

Mungkin cukup dengan sebuah doa.

Mungkin cukup dengan satu lagu pujian yang dinyanyikan bersama.

Pujian tidak menghapus semua masalah. Tetapi pujian dapat mengingatkan kita bahwa masalah bukanlah pusat kehidupan.

Tuhanlah pusatnya.

Karena itu, mari menjadikan rumah bukan hanya tempat untuk makan, tidur, bekerja dan beristirahat, tetapi juga tempat di mana keluarga belajar bersyukur.

Biarkan anak-anak mendengar orang tuanya memuji Tuhan.

Biarkan pasangan melihat bahwa di tengah kelelahan masih ada ucapan syukur.

Dan biarkan keluarga mengalami bahwa sukacita tidak selalu menunggu keadaan menjadi sempurna.

Sebab hati yang belajar memuji Tuhan dapat menemukan ketenangan bahkan ketika kehidupan belum memberikan semua jawaban.

“Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya.”

Mungkin kalimat itu sederhana. Tetapi jika menjadi kebiasaan sebuah keluarga, ia dapat menjadi warisan iman yang terus hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Posting Komentar