Tak Kenal Maka Tak Sayang: Membangun Kedekatan dengan Tuhan dan Keluarga melalui Komunikasi
Mengapa mengenal seseorang lebih dalam membutuhkan komunikasi, waktu, dan kehadiran—dan bagaimana prinsip yang sama menolong keluarga membangun relasi yang dekat dengan Tuhan.
Ada orang yang setiap hari tinggal serumah dengan kita, tetapi sebenarnya tidak benar-benar kita kenal.
Kita tahu namanya, pekerjaannya, kebiasaannya, bahkan mungkin tahu apa yang biasanya ia lakukan setiap pagi. Namun, apakah kita tahu apa yang sedang ia pikirkan? Apa yang membuatnya takut? Apa yang sedang ia perjuangkan? Apa yang membuatnya bahagia atau diam-diam terluka?
Di sinilah pepatah “tak kenal maka tak sayang” menjadi sangat relevan. Mengenal bukan sekadar mengetahui identitas seseorang. Mengenal berarti menyediakan waktu untuk mendengarkan, memperhatikan, berkomunikasi, dan hadir dalam kehidupannya.
Prinsip yang sama berlaku dalam keluarga, bahkan dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Tak Kenal Maka Tak Sayang Bukan Sekadar Pepatah
Kita tidak mungkin memahami seseorang secara utuh hanya berdasarkan kesan pertama atau cerita orang lain.
Seseorang yang terlihat pendiam mungkin dianggap sombong. Anak yang sering mengurung diri di kamar mungkin dianggap tidak peduli kepada keluarga. Pasangan yang lebih banyak diam mungkin dicap tidak memiliki perhatian.
Padahal, komunikasi yang lebih dalam dapat mengubah penilaian kita.
Semakin kita mengenal seseorang, semakin kita memahami alasan di balik perkataan, sikap, dan tindakannya. Karena itu, komunikasi dalam keluarga bukan hanya persoalan berbicara, tetapi juga usaha untuk memahami.
Sayangnya, keluarga modern menghadapi tantangan yang berbeda. Orang bisa tinggal dalam satu rumah tetapi sibuk dengan layar masing-masing. Ayah bekerja dengan laptop, ibu mengurus berbagai pekerjaan, anak belajar sambil menggunakan gawai. Secara fisik berdekatan, tetapi secara emosional bisa semakin berjauhan.
Karena itu, kedekatan keluarga tidak otomatis muncul hanya karena tinggal bersama.
Mengenal Membutuhkan Waktu dan Kehadiran
Dalam persahabatan, ada perbedaan antara sekadar kenal dan menjadi sahabat dekat.
Ada orang yang hanya kita sapa ketika bertemu. Ada yang kita kenal melalui pekerjaan atau komunitas. Tetapi ada pula sahabat yang mengetahui cerita hidup kita, memahami kelemahan kita, dan tetap hadir ketika keadaan tidak baik.
Kedekatan seperti itu tidak terbentuk dalam sehari.
Dibutuhkan waktu, percakapan, kepercayaan, perhatian, dan pengalaman bersama.
Hal yang sama berlaku dalam keluarga. Hubungan orang tua dan anak tidak menjadi dekat hanya karena orang tua memenuhi kebutuhan materi anak. Anak juga membutuhkan perhatian, percakapan, penerimaan, dan kesempatan untuk didengarkan.
Begitu pula hubungan suami istri. Tinggal bersama bertahun-tahun tidak selalu berarti semakin mengenal satu sama lain. Tanpa komunikasi yang sehat, pasangan bisa mengetahui rutinitas satu sama lain tetapi kehilangan pemahaman mengenai perasaan dan pergumulan masing-masing.
Maka, salah satu bentuk kasih yang paling sederhana adalah bertanya dan benar-benar mau mendengarkan.
“Bagaimana harimu?”
“Adakah sesuatu yang sedang kamu pikirkan?”
“Apa yang membuatmu khawatir?”
Pertanyaan sederhana dapat menjadi pintu menuju percakapan yang jauh lebih dalam.
Bagaimana dengan Mengenal Tuhan?
Jika mengenal manusia membutuhkan waktu dan kedekatan, bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan?
Alkitab menunjukkan bahwa mengenal Yesus bukan sekadar mengetahui informasi mengenai diri-Nya.
Dalam Matius 16:13-17, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya mengenai siapa diri-Nya menurut orang banyak. Ada yang menganggap Dia Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang nabi.
Mereka melihat pekerjaan Yesus. Mereka mendengar pengajaran-Nya. Mereka menyaksikan mukjizat-Nya.
Tetapi mengetahui apa yang Yesus lakukan tidak sama dengan mengenal siapa Dia.
Petrus kemudian menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.
Perbedaan ini penting. Mengenal Tuhan lebih dekat bukan sekadar memiliki banyak pengetahuan Alkitab, mengetahui berbagai doktrin, atau terbiasa mengikuti kegiatan gereja. Pengenalan kepada Kristus seharusnya membawa perubahan dalam cara kita berpikir, berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan pasangan, dan mendidik anak.
Pengetahuan tentang Tuhan seharusnya bertumbuh menjadi hubungan dengan Tuhan.
Ketika Hubungan dengan Tuhan Menjadi Rutinitas
Ada kalanya seseorang tetap membaca Alkitab dan berdoa, tetapi semuanya terasa seperti kewajiban.
Berdoa karena memang “harus berdoa”. Membaca Alkitab karena memang “harus membaca Alkitab”. Pergi beribadah karena sudah menjadi kebiasaan.
Aktivitas tersebut tidak salah. Namun, kita perlu bertanya: apakah semuanya masih lahir dari kerinduan untuk mengenal Tuhan?
Hubungan manusia dengan Tuhan juga dapat mengalami masa-masa ketika seseorang merasa Tuhan begitu dekat, tetapi pada waktu lain terasa sangat jauh.
Perasaan tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa Tuhan benar-benar menjauh.
Yakobus 4:8 berkata, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.”
Persoalannya terkadang bukan Tuhan yang berubah, melainkan perhatian kita yang terpecah, hati yang lelah, atau kehidupan yang terlalu penuh dengan berbagai suara.
Keluarga Dapat Menjadi Tempat Belajar Mengenal Tuhan
Di sinilah komunikasi keluarga memiliki peranan yang sangat penting.
Pengenalan kepada Tuhan tidak seharusnya hanya menjadi urusan pribadi orang tua atau kegiatan yang dilakukan anak ketika mengikuti sekolah minggu.
Anak dapat belajar mengenal Tuhan melalui bagaimana orang tuanya memperlakukan satu sama lain.
Anak belajar tentang kasih ketika melihat orang tua saling menghormati. Anak belajar tentang pengampunan ketika melihat orang tua berani meminta maaf. Anak belajar tentang doa ketika melihat orang tuanya membawa persoalan keluarga kepada Tuhan.
Dengan demikian, keluarga Kristen bukan hanya keluarga yang memiliki aktivitas keagamaan, tetapi keluarga yang berusaha menghadirkan nilai-nilai Kristus dalam komunikasi dan kehidupan sehari-hari.
Meja makan dapat menjadi tempat berbagi cerita.
Perjalanan dengan kendaraan dapat menjadi kesempatan berbicara.
Sebelum tidur dapat menjadi waktu untuk mendengarkan anak.
Bahkan konflik keluarga dapat menjadi kesempatan belajar mengenai pengampunan, kerendahan hati, dan kasih.
Jangan Hanya Mengenalkan Tuhan, tetapi Tunjukkan Kehidupan yang Mengenal Tuhan
Ada perbedaan antara mengatakan kepada anak, “Kamu harus mengenal Tuhan,” dengan menunjukkan seperti apa kehidupan seseorang yang mengenal Tuhan.
Anak mungkin lupa banyak nasihat yang diberikan kepadanya. Tetapi pengalaman ketika didengarkan, diterima, ditegur dengan kasih, dan melihat orang tuanya meminta maaf dapat tertanam jauh lebih dalam.
Karena itu, komunikasi orang tua dan anak bukan sekadar sarana menyampaikan aturan. Komunikasi adalah jalan untuk membangun kepercayaan.
Begitu pula dalam hubungan suami istri. Ketika pasangan dapat berbicara tanpa takut langsung dihakimi, hubungan menjadi tempat yang aman untuk bertumbuh.
Pada akhirnya, mengenal Tuhan juga seharusnya membuat kita semakin mampu mengasihi manusia yang Tuhan tempatkan paling dekat dengan kita.
Kedekatan Tidak Terjadi dengan Sendirinya
Kita sering menginginkan keluarga yang dekat, tetapi lupa bahwa kedekatan harus dibangun.
Kita menginginkan anak terbuka kepada orang tua, tetapi mungkin jarang menyediakan waktu untuk mendengarkan.
Kita ingin pasangan memahami kita, tetapi mungkin kita sendiri tidak lagi berusaha memahami pasangan.
Kita ingin mengenal Tuhan lebih dekat, tetapi mungkin kita membiarkan kesibukan mengambil hampir seluruh perhatian kita.
Karena itu, membangun hubungan membutuhkan keputusan untuk hadir.
Luangkan waktu. Dengarkan. Bertanya. Berbagi cerita. Berdoa bersama. Membaca dan merenungkan firman Tuhan. Belajar memahami sebelum menghakimi.
Sebab kasih bukan hanya perasaan. Kasih juga merupakan kesediaan untuk mengenal.
Dan semakin kita mengenal seseorang dengan benar, semakin kita memiliki kesempatan untuk mengasihinya dengan benar.
Begitu pula dengan Tuhan. Semakin kita mengenal Kristus, semakin kita memahami kasih-Nya dan semakin nyata pula kasih itu seharusnya terlihat dalam kehidupan kita—terutama kepada orang-orang yang setiap hari Tuhan tempatkan paling dekat dengan kita.
“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” — Yakobus 4:8

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.