Berani Melangkah: Cara Mengambil Keputusan yang Tepat Saat Hidup Tidak Pasti
Ada satu pelajaran sederhana yang sebenarnya sudah kita lihat sejak masih kecil: ketika seorang anak belajar berjalan, ia tidak menunggu sampai yakin bahwa dirinya tidak akan jatuh.
Ia berdiri, mencoba melangkah, terhuyung, jatuh, menangis mungkin, lalu beberapa saat kemudian mencoba lagi. Tidak ada rapat panjang untuk memastikan apakah langkah berikutnya akan berhasil. Tidak ada kepastian bahwa ia tidak akan jatuh lagi.
Tetapi tentu saja, kehidupan orang dewasa tidak sesederhana belajar berjalan.
Ketika kita hendak menerima pekerjaan baru, memulai usaha, mengakhiri atau memperbaiki sebuah hubungan, memilih pendidikan, mengambil keputusan dalam keluarga, atau memulai pelayanan, konsekuensinya bisa jauh lebih besar. Karena itu, berani melangkah bukan berarti bertindak gegabah.
Justru di sinilah kita perlu belajar cara mengambil keputusan yang tepat: berpikir dengan jernih, memperhitungkan risiko, berdoa, mendengarkan nasihat yang relevan, kemudian berani mengambil langkah yang memang perlu dilakukan.
Mengapa Kita Sering Takut Melangkah?
Ada orang yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi terlalu lama menunggu sampai dirinya benar-benar yakin.
Masalahnya, dalam banyak situasi kehidupan, kepastian seperti itu tidak pernah datang.
Kita mungkin berkata, “Saya takut gagal lagi.”
Wajar.
Atau, “Bagaimana kalau keputusan saya ternyata salah?”
Itu juga pertanyaan yang masuk akal.
Namun, ketika pertanyaan tersebut terus berputar tanpa menghasilkan keputusan, kita dapat terjebak dalam overthinking. Berpikir seharusnya membantu kita menemukan pilihan, bukan membuat kita tidak mampu memilih.
Berbagai pembahasan mengenai overthinking saat ini juga banyak menyoroti persoalan takut salah, terlalu banyak pilihan, perfeksionisme, dan kecenderungan menunda keputusan.
Karena itu, salah satu cara membuat keputusan yang baik adalah membedakan antara berpikir dengan hati-hati dan berpikir tanpa akhir.
Yang pertama menghasilkan kejelasan.
Yang kedua sering kali hanya menghasilkan kecemasan.
Pengalaman Jatuh Tidak Harus Menentukan Langkah Berikutnya
Kegagalan mempunyai daya pengaruh yang besar terhadap keputusan kita.
Seseorang yang pernah gagal dalam bisnis mungkin menjadi takut membuka usaha kembali. Orang yang pernah mengalami hubungan yang menyakitkan mungkin takut membangun komitmen baru. Seseorang yang pernah mendapatkan kritik dalam pelayanan mungkin akhirnya memilih diam.
Pengalaman itu nyata dan tidak perlu disangkal.
Tetapi pengalaman masa lalu sebaiknya menjadi bahan evaluasi, bukan selalu menjadi penguasa masa depan.
Pertanyaannya bukan hanya, “Mengapa saya gagal?”
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
“Apa yang bisa saya pelajari dari kegagalan itu sebelum mengambil langkah berikutnya?”
Di sinilah keberanian berbeda dari nekat.
Orang yang nekat mengabaikan pengalaman.
Orang yang berani justru belajar dari pengalaman, memperbaiki strategi, kemudian mencoba kembali dengan pertimbangan yang lebih matang.
Cara Mengambil Keputusan yang Tepat: Pisahkan Fakta dari Kekhawatiran
Ketika sedang berada dalam situasi sulit, pikiran kita mudah mencampurkan fakta dengan asumsi.
Misalnya:
“Usaha saya pasti gagal.”
Benarkah itu fakta?
Atau sebenarnya fakta yang ada adalah, “Usaha saya pernah gagal sebelumnya”?
Keduanya berbeda.
Begitu juga dengan:
“Kalau saya mengambil pekerjaan ini, hidup saya pasti akan berantakan.”
Itu bukan fakta, melainkan prediksi.
Karena itu, sebelum menentukan pilihan, cobalah menuliskan tiga hal:
1. Apa yang benar-benar saya ketahui?
2. Apa yang masih merupakan kemungkinan atau kekhawatiran?
3. Apa yang dapat saya kendalikan?
Cara sederhana ini dapat membuat persoalan yang semula terlihat sangat besar menjadi lebih terurai. Menulis pikiran, membatasi waktu untuk berpikir, dan kemudian menentukan tindakan konkret juga sering digunakan sebagai strategi menghadapi overthinking.
Tidak Semua Keputusan Memerlukan Keberanian yang Sama
Ini bagian yang sering dilupakan.
Keputusan membeli buku baru tentu tidak mempunyai konsekuensi yang sama dengan keputusan mengambil utang besar. Memilih kegiatan akhir pekan berbeda dengan memilih pasangan hidup. Mengubah rutinitas olahraga berbeda dengan meninggalkan pekerjaan.
Karena itu, cara mengambil keputusan yang tepat harus mempertimbangkan tingkat risikonya.
Untuk keputusan kecil dengan risiko rendah, kita tidak perlu menghabiskan waktu berhari-hari.
Untuk keputusan besar dengan konsekuensi panjang, kita justru perlu memperlambat langkah.
Cari informasi.
Periksa kemampuan finansial.
Pertimbangkan dampak terhadap keluarga.
Mintalah pendapat orang yang kompeten dan dapat dipercaya.
Hitung kemungkinan terburuk.
Kemudian tentukan apakah risiko tersebut masih dapat ditanggung.
Dengan demikian, “berani melangkah” bukan berarti selalu bergerak cepat. Kadang-kadang keberanian justru berarti bersedia berhenti sebentar untuk memastikan kita tidak sedang berjalan ke arah yang salah.
Saat Sulit, Jangan Memaksa Diri Mendapatkan Keputusan yang Sempurna
Ada masa ketika kondisi hidup memang tidak ideal.
Kita sedang lelah. Keuangan sedang terbatas. Hubungan sedang bermasalah. Pekerjaan sedang tidak menentu. Banyak informasi yang belum tersedia.
Dalam kondisi seperti itu, kita mungkin tidak bisa memperoleh keputusan yang sempurna.
Yang dapat kita cari adalah keputusan yang paling masuk akal berdasarkan informasi yang tersedia saat itu.
Ini penting karena keputusan yang baik tidak selalu menghasilkan hasil yang langsung baik.
Sebaliknya, keputusan yang buruk kadang-kadang menghasilkan keberuntungan secara kebetulan.
Karena itu, jangan hanya menilai keputusan berdasarkan hasil akhirnya. Nilailah juga bagaimana keputusan tersebut dibuat.
Apakah kita sudah mempertimbangkan fakta?
Apakah kita memahami risikonya?
Apakah kita sudah meminta nasihat yang tepat?
Apakah keputusan tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih membantu daripada sekadar bertanya, “Apakah saya akan berhasil?”
Dalam Iman, Berdoa Bukan Berarti Berhenti Bertindak
Bagi orang percaya, mengambil keputusan tidak hanya menyangkut logika dan perhitungan. Ada dimensi iman yang tidak boleh diabaikan.
Amsal 21:2 mengingatkan:
«“Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”»
Ayat ini mengingatkan kita bahwa manusia dapat merasa pilihannya benar, tetapi tetap membutuhkan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Karena itu, berdoa sebelum mengambil keputusan bukan berarti menunggu tanda ajaib sementara kita tidak melakukan apa-apa.
Doa seharusnya berjalan bersama pertimbangan.
Kita berdoa, mencari kehendak Tuhan, memeriksa motivasi diri, mencari nasihat, melihat kenyataan, kemudian melakukan bagian yang memang dapat kita lakukan.
Iman tidak menghapus kebutuhan untuk berpikir. Iman juga tidak menghapus tanggung jawab untuk bertindak.
Justru iman dapat membuat kita berani melangkah tanpa harus menguasai seluruh masa depan.
Bagaimana Jika Ternyata Langkah Kita Salah?
Inilah salah satu ketakutan terbesar manusia.
Namun, tidak semua keputusan dapat diperbaiki dengan cara yang sama.
Ada keputusan yang bersifat mudah dibatalkan. Ada yang membutuhkan koreksi. Ada pula yang mempunyai konsekuensi jangka panjang dan harus dipertimbangkan jauh lebih hati-hati.
Karena itu, sebelum mengambil keputusan besar, tanyakan:
“Jika keputusan ini ternyata tidak berjalan sesuai rencana, apa yang masih bisa saya perbaiki?”
Pertanyaan ini membuat kita tidak hanya memikirkan keberhasilan, tetapi juga menyiapkan rencana cadangan.
Misalnya, sebelum memulai bisnis, kita menentukan batas kerugian yang sanggup ditanggung. Sebelum berpindah pekerjaan, kita memperhitungkan kebutuhan hidup selama beberapa bulan. Sebelum mengambil keputusan keluarga, kita membicarakannya dengan pihak-pihak yang terdampak.
Dengan demikian, keberanian tidak berdiri sendirian. Ia ditemani oleh persiapan.
Mulailah dari Langkah yang Bisa Dilakukan Hari Ini
Kadang-kadang tujuan kita terlalu besar sehingga kita tidak tahu harus memulai dari mana.
Maka kecilkan langkahnya.
Tidak perlu langsung membangun bisnis. Mulailah dengan riset pasar.
Tidak perlu langsung menguasai keterampilan baru. Mulailah belajar 20 menit.
Tidak perlu langsung menyelesaikan seluruh masalah hubungan. Mulailah dengan percakapan yang jujur.
Tidak perlu langsung mengetahui seluruh masa depan. Tentukan terlebih dahulu langkah berikutnya yang paling masuk akal.
Kemajuan tidak selalu terlihat seperti lompatan besar. Sering kali ia hanya berupa satu langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Seperti anak kecil yang belajar berjalan, kita mungkin masih akan jatuh.
Bedanya, sebagai orang dewasa kita mempunyai kemampuan untuk belajar dari kejatuhan tersebut.
Kita dapat mengevaluasi.
Kita dapat mengubah strategi.
Kita dapat meminta pertolongan.
Kita dapat berdoa.
Dan kemudian kita dapat mencoba lagi.
Berani Melangkah dengan Bijaksana
Hidup tidak memberikan peta yang lengkap kepada kita.
Ada keputusan yang bisa direncanakan dengan matang, tetapi hasilnya tetap tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Karena itu, cara mengambil keputusan yang tepat bukanlah mencari kepastian seratus persen sebelum bergerak. Yang lebih realistis adalah mengumpulkan informasi yang cukup, memahami risiko, mempertimbangkan dampak, mendengarkan nasihat, memeriksa hati, berdoa, lalu mengambil langkah yang bertanggung jawab.
Jangan biarkan kegagalan masa lalu membuat kita berhenti selamanya.
Tetapi jangan pula menjadikan keberanian sebagai alasan untuk mengabaikan perhitungan.
Berani melangkah berarti bersedia bergerak ketika waktunya memang tiba, sambil tetap rendah hati untuk mengevaluasi arah perjalanan.
Mungkin langkah kita hari ini masih kecil.
Tidak masalah.
Sebab kehidupan sering kali berubah bukan karena satu lompatan besar, melainkan karena keberanian mengambil langkah berikutnya.
Dan mungkin, seperti seorang anak kecil yang belajar berjalan, kita tidak perlu mengetahui seluruh perjalanan terlebih dahulu.
Kita hanya perlu memastikan bahwa langkah berikutnya adalah langkah yang layak diambil.

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.