Berdamai dengan Kenyataan Setelah Putus Cinta: Ketika Kita Harus Belajar Melepaskan
Ada satu jenis kehilangan yang tidak selalu terlihat dari luar: kehilangan seseorang yang masih kita cintai.
Orang lain mungkin hanya melihat sebuah hubungan yang berakhir. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, yang hilang bisa jauh lebih besar. Ada percakapan setiap hari, perhatian, kebiasaan, tempat berbagi cerita, rencana masa depan, dan berbagai kenangan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan.
Karena itu, cara menghadapi putus cinta tidak sesederhana mengatakan kepada diri sendiri, “Sudahlah, move on.”
Ada proses panjang untuk menerima bahwa seseorang yang dulu sangat dekat kini bukan lagi bagian dari kehidupan kita seperti sebelumnya.
Dan mungkin bagian paling sulit adalah ketika kita masih mencintainya, tetapi harus belajar menerima kenyataan bahwa hubungan tersebut telah berakhir.
Akui Bahwa Kita Sedang Terluka
Ketika mengalami patah hati, jangan terlalu cepat memaksa diri untuk terlihat kuat.
Kita mungkin mengatakan:
«“Saya harus dewasa.”»
«“Saya harus segera melupakan dia.”»
«“Saya tidak boleh menangis.”»
Padahal kita sedang kehilangan seseorang yang sangat berarti.
Tidak ada yang salah dengan mengakui:
«“Saya sedang terluka.”»
Mengakui kesedihan bukan berarti kita lemah. Itu merupakan bagian dari proses menghadapi kehilangan.
Kita tidak dapat menyembuhkan luka yang terus-menerus kita sangkal.
Karena itu, langkah pertama untuk mengatasi patah hati bukan memaksa diri berhenti merasa, melainkan mengakui apa yang sedang terjadi di dalam diri kita.
Menerima Kenyataan Tidak Berarti Menyukainya
Ini mungkin salah satu hal yang paling penting untuk dipahami.
Menerima kenyataan bukan berarti kita mengatakan:
«“Saya senang hubungan ini berakhir.”»
Bukan juga berarti:
«“Saya tidak lagi mencintainya.”»
Kita bisa tetap mencintai seseorang dan sekaligus menerima bahwa hubungan dengannya sudah berakhir.
Kita boleh berkata:
«“Saya tidak menyukai kenyataan ini, tetapi saya tidak bisa terus-menerus menyangkal bahwa ini adalah kenyataan.”»
Di situlah proses berdamai mulai terjadi.
Menerima bukan berarti menyetujui semua yang terjadi. Menerima berarti berhenti berperang dengan sesuatu yang memang sudah terjadi.
Jangan Terus Bernegosiasi dengan Masa Lalu
Setelah putus cinta, pikiran sering mencari kemungkinan.
“Bagaimana kalau saya menjelaskan sekali lagi?”
“Bagaimana kalau saya berubah?”
“Bagaimana kalau dia sebenarnya masih mencintai saya?”
“Bagaimana kalau saya menghubunginya lagi?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat manusiawi.
Namun jika keputusan untuk mengakhiri hubungan sudah jelas, terus-menerus mencari celah untuk mengubah keputusan tersebut hanya akan membuat kita terjebak.
Hubungan membutuhkan dua orang.
Kita bisa memperbaiki kesalahan kita, meminta maaf, dan menjelaskan perasaan. Tetapi kita tidak dapat memaksa seseorang untuk kembali mencintai atau memilih kita.
Pada titik tertentu, menerima berarti berhenti bernegosiasi dengan kenyataan.
Jangan Mengubah Penolakan Menjadi Kebencian kepada Diri Sendiri
Patah hati sering membuat seseorang menarik kesimpulan yang terlalu besar.
«“Dia meninggalkan saya karena saya tidak cukup baik.”»
«“Berarti saya memang tidak layak dicintai.”»
«“Tidak akan ada orang lain yang menerima saya.”»
Hati-hati dengan kesimpulan seperti ini.
Seseorang yang tidak memilih kita sebagai pasangan tidak otomatis sedang memberikan penilaian terhadap seluruh nilai diri kita.
Hubungan bisa berakhir karena banyak alasan.
Mungkin terdapat perbedaan kebutuhan, tujuan hidup, karakter, nilai, keadaan, atau persoalan yang tidak berhasil diselesaikan bersama.
Karena itu, bedakan:
“Dia tidak memilih saya.”
dengan:
“Saya tidak layak dicintai.”
Keduanya bukan kalimat yang sama.
Beri Ruang untuk Berduka
Ada anggapan bahwa semakin cepat seseorang melupakan mantan, semakin baik.
Padahal setiap orang memiliki proses yang berbeda.
Ada orang yang bisa kembali beraktivitas dalam beberapa minggu. Ada yang membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk benar-benar berdamai dengan kehilangan.
Yang penting adalah jangan menjadikan kesedihan sebagai identitas permanen.
Kita boleh berduka.
Boleh menangis.
Boleh merasa kehilangan.
Tetapi perlahan-lahan kita juga perlu kembali kepada kehidupan.
Makan dengan baik.
Tidur.
Bekerja.
Belajar.
Bertemu teman.
Berolahraga.
Beribadah.
Melakukan kembali hal-hal yang dahulu kita nikmati.
Berduka itu perlu, tetapi jangan membangun rumah di dalam duka.
Jangan Terburu-buru Mencari Pengganti
Kesepian setelah putus cinta bisa sangat menyakitkan. Karena itu, kita mungkin tergoda mencari orang baru secepat mungkin.
Namun orang baru tidak seharusnya menjadi obat untuk luka lama.
Jika kita masuk ke hubungan baru hanya karena takut sendirian, ada kemungkinan kita membawa luka dari hubungan sebelumnya ke dalam hubungan yang baru.
Lebih sehat jika kita sampai pada titik:
«“Saya ingin dicintai lagi, tetapi saya tidak membutuhkan orang lain untuk membuktikan bahwa saya berharga.”»
Hubungan baru seharusnya lahir dari kesiapan untuk berbagi kehidupan, bukan sekadar keinginan menghilangkan kesepian.
Kembalikan Kehidupan kepada Diri Sendiri
Ketika seseorang terlalu lama berada dalam sebuah hubungan, identitas pribadinya kadang ikut melebur dengan hubungan tersebut.
“Kita” menjadi lebih dominan daripada “saya”.
Setelah hubungan berakhir, ada kesempatan untuk kembali bertanya:
- Siapa saya sebelum hubungan ini?
- Apa yang saya sukai?
- Apa yang ingin saya pelajari?
- Siapa saja orang yang selama ini mendukung saya?
- Kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun?
- Apa yang saya pelajari dari hubungan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menghapus masa lalu.
Sebaliknya, kita sedang mengambil kembali kehidupan kita.
Jika Anda Seorang Kristen, Bawalah Kehilangan Itu kepada Tuhan
Bagi orang Kristen, patah hati juga dapat menjadi pergumulan iman.
Kita mungkin berdoa:
«“Tuhan, kembalikan dia.”»
Doa seperti itu manusiawi. Kita tidak perlu berpura-pura di hadapan Tuhan.
Namun seiring waktu, doa kita mungkin berubah:
«“Tuhan, kalau hubungan ini memang sudah berakhir, berikan saya kekuatan untuk menerima kenyataan. Tolong jangan biarkan kehilangan ini membuat saya kehilangan diri saya sendiri dan kehilangan Engkau.”»
Ada perbedaan antara meminta Tuhan mengubah keadaan dan meminta Tuhan memberi kita kekuatan menghadapi keadaan yang tidak dapat kita ubah.
Roma 12:2 mengingatkan tentang pembaruan budi. Dalam pengalaman patah hati, kita dapat melihatnya sebagai sebuah proses untuk belajar melihat kembali kehidupan dengan pikiran yang diperbarui.
Kita mungkin belum memahami mengapa sesuatu harus berakhir.
Tetapi kita dapat belajar mempercayakan masa depan kepada Tuhan.
Jangan Mengambil Keputusan Besar Saat Hati Sedang Hancur
Ketika emosi sedang sangat kuat, kita mungkin ingin melakukan banyak hal.
Mengirim pesan panjang.
Memohon agar mantan kembali.
Menghapus semua kontak.
Menyalahkan diri sendiri.
Menyalahkan mantan.
Atau bahkan membuat keputusan besar tentang masa depan.
Sebaiknya berhenti sejenak.
Tanyakan kepada diri sendiri:
«“Apakah saya sedang mengambil keputusan karena sudah berpikir jernih, atau karena sedang panik menghadapi kehilangan?”»
Tidak semua perasaan harus segera diterjemahkan menjadi tindakan.
Kadang-kadang tindakan paling bijaksana adalah memberi diri sendiri waktu.
Suatu Hari, Kita Akan Mampu Mengingat Tanpa Harus Kembali
Mungkin proses berdamai dengan kenyataan bukan ketika kita benar-benar lupa.
Mungkin justru ketika kita mampu mengingat seseorang tanpa lagi merasa harus mendapatkannya kembali.
Kita bisa mengatakan:
«“Saya pernah mencintai orang ini.”»
«“Hubungan itu pernah sangat berarti bagi saya.”»
«“Saya pernah bahagia bersamanya.”»
Tetapi kemudian kita juga mampu mengatakan:
«“Sekarang hubungan itu sudah berakhir, dan saya harus melanjutkan kehidupan saya.”»
Itulah bentuk penerimaan yang lebih dewasa.
Bukan melupakan.
Bukan menyangkal.
Bukan menganggap hubungan tersebut tidak pernah berarti.
Tetapi menerima bahwa sesuatu yang sangat kita cintai telah menjadi bagian dari masa lalu.
Anda Tidak Harus Segera Baik-Baik Saja
Jika hari ini Anda masih menangis, tidak apa-apa.
Jika besok Anda kembali mengingatnya, itu juga tidak berarti Anda gagal move on.
Pemulihan tidak selalu berjalan lurus. Ada hari ketika kita merasa sudah baik, kemudian sebuah lagu, tempat, foto, atau kenangan membuat luka terasa kembali.
Yang penting adalah melihat arah perjalanan.
Apakah perlahan Anda mulai bisa menjalani hari?
Apakah Anda mulai bisa memikirkan masa depan?
Apakah Anda mulai bisa tersenyum tanpa merasa bersalah?
Apakah Anda mulai memahami bahwa kehidupan Anda masih mempunyai arti meskipun hubungan itu telah berakhir?
Jika jawabannya perlahan mulai “ya”, mungkin sebenarnya Anda sedang sembuh.
Pada akhirnya, berdamai dengan kenyataan setelah putus cinta bukan tentang berhenti mencintai seseorang dalam satu malam.
Ini adalah proses belajar mengatakan:
«“Saya pernah sangat mencintai kamu. Saya tidak menyangkal bahwa kamu pernah sangat berarti dalam hidup saya. Tetapi saya tidak bisa memaksa kamu untuk tetap tinggal. Karena itu, saya memilih menerima kenyataan, merawat diri saya, mempercayakan masa depan kepada Tuhan, dan melanjutkan hidup.”»
Dan mungkin justru di situlah kita menemukan bahwa kehilangan sebuah hubungan tidak harus berarti kehilangan masa depan.

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.