Cara Menghadapi Orang yang Patah Hati: Jangan Terburu-buru Memberi Nasihat

Table of Contents


Ketika seorang teman baru saja diputus oleh orang yang sangat dicintainya, kita sering bingung harus berbuat apa. Apakah harus menghiburnya? Memberikan nasihat? Mengajaknya jalan-jalan agar melupakan mantan? Atau justru membiarkannya sendirian?


Kebingungan itu wajar. Sebab orang yang sedang patah hati tidak selalu membutuhkan nasihat. Bahkan nasihat yang sebenarnya benar bisa terasa tidak membantu apabila diberikan pada waktu yang kurang tepat.


Patah hati bukan hanya persoalan kehilangan pasangan. Bagi seseorang yang sangat mencintai pasangannya, berakhirnya hubungan bisa berarti kehilangan rutinitas, tempat bercerita, harapan tentang masa depan, dan seseorang yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupannya.


Karena itu, cara menghadapi orang yang patah hati sebaiknya tidak dimulai dengan usaha membuatnya segera “move on”.


Patah Hati Bisa Mengganggu Kehidupan Sehari-hari


Seseorang yang baru putus cinta bisa mengalami perubahan yang cukup terlihat.


Ia sulit berkonsentrasi, kehilangan semangat bekerja atau belajar, mudah tersinggung, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau justru tidur terlalu banyak. Pikiran tentang mantan bisa muncul berulang kali bahkan ketika ia sedang mengerjakan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan hubungan tersebut.


Secara fisik, orang itu mungkin berada di tempat kerja atau sedang berkumpul bersama teman. Tetapi pikirannya masih berada pada hubungan yang baru saja berakhir.


Karena itu, jangan buru-buru menganggap seseorang yang sedang patah hati sebagai orang yang malas, tidak profesional, atau mencari perhatian.


Bisa jadi ia memang sedang berusaha keras untuk menjalani hari seperti biasa sementara pikirannya sedang menghadapi kehilangan besar.


Jangan Langsung Mengatakan “Sudahlah, Move On”


Salah satu respons yang paling umum ketika melihat teman patah hati adalah memberikan nasihat.


“Sudahlah, masih banyak yang lain.”


“Lupakan saja dia.”


“Jangan menangis terus.”


“Dia memang bukan jodohmu.”


Kalimat tersebut mungkin dimaksudkan sebagai bentuk perhatian. Namun bagi seseorang yang masih berada dalam fase awal patah hati, kalimat itu bisa terasa seperti penghapusan terhadap perasaannya.


Ia tidak membutuhkan orang lain untuk membuktikan bahwa mantannya buruk atau bahwa masih banyak orang lain di dunia.


Mungkin yang sedang ia butuhkan justru seseorang yang mengatakan:


«“Aku tahu ini berat. Kamu tidak harus langsung baik-baik saja.”»


Inilah yang disebut sebagai validasi emosi. Validasi bukan berarti menyetujui semua pikiran atau keputusan seseorang. Validasi berarti mengakui bahwa perasaan yang sedang dialaminya memang nyata.


Dengarkan Sebelum Memberi Solusi


Kalau Anda ingin membantu teman move on, jangan merasa harus selalu mempunyai jawaban.


Cobalah bertanya:


«“Apa yang paling berat buat kamu sekarang?”»


Atau:


«“Kamu ingin aku mendengarkan saja, atau kamu ingin kita mencari jalan keluarnya bersama?”»


Pertanyaan sederhana seperti ini memberikan ruang kepada orang tersebut untuk menentukan apa yang dia perlukan.


Kadang-kadang seseorang yang patah hati tidak membutuhkan solusi. Ia hanya membutuhkan tempat yang aman untuk menceritakan kemarahan, kesedihan, kebingungan, dan kekecewaannya.


Setelah emosinya lebih stabil, ia biasanya akan lebih mampu melihat persoalan secara rasional.


Jangan Membeda-bedakan Laki-laki dan Perempuan


Ada anggapan bahwa laki-laki harus didekati dengan logika, sedangkan perempuan harus didekati dengan perasaan.


Pendekatan seperti ini terlalu sederhana.


Tidak semua laki-laki menghadapi patah hati dengan cara yang sama. Tidak semua perempuan membutuhkan pendekatan emosional. Ada laki-laki yang sangat membutuhkan ruang untuk menangis dan bercerita. Sebaliknya, ada perempuan yang justru merasa terbantu ketika diajak menganalisis masalah secara rasional.


Karena itu, pendekatan yang lebih tepat bukan berdasarkan jenis kelamin, tetapi berdasarkan kondisi orang tersebut.


Ketika emosinya sedang sangat kuat, jangan membanjirinya dengan argumentasi.


Gunakan terlebih dahulu bahasa hati:


«“Aku mengerti ini menyakitkan.”»


Setelah emosinya mulai stabil, barulah gunakan bahasa akal:


«“Kalau sekarang kita lihat kembali hubungan kalian, apa sebenarnya yang terjadi?”»


Dengan demikian, pendekatannya bukan perasaan versus logika, melainkan:


menenangkan → memahami → merefleksikan → mengambil langkah.


Bantu Dia Memisahkan Fakta dari Pikiran


Patah hati sering membuat seseorang menarik kesimpulan yang terlalu jauh.


“Dia meninggalkan saya karena saya tidak cukup baik.”


“Saya tidak akan pernah dicintai lagi.”


“Tidak ada seorang pun yang akan menerima saya.”


Sebagai teman, kita tidak perlu langsung menjawab, “Tidak, kamu sangat baik.”


Kita bisa membantu dengan pertanyaan:


«“Apa yang membuat kamu berpikir bahwa putusnya hubungan berarti kamu tidak cukup baik?”»


Seseorang perlu dibantu memahami bahwa gagal mempertahankan sebuah hubungan tidak sama dengan gagal sebagai manusia.


Seseorang bisa ditolak oleh orang yang sangat dicintainya tanpa kehilangan nilai dirinya.


Bantu Mengembalikan Rutinitas


Cara menghadapi orang yang baru putus cinta juga tidak hanya melalui percakapan.


Perhatikan hal-hal sederhana.


Apakah dia masih makan dengan baik? Apakah dia tidur? Apakah dia masih bekerja? Apakah dia masih bertemu orang lain? Apakah dia masih menjalankan tanggung jawabnya?


Jangan selalu menetapkan target “harus move on”.


Kadang target yang lebih realistis adalah:


hari ini makan, mandi, bekerja semampunya, berbicara dengan orang lain, dan tidur dengan cukup.


Kehidupan perlahan perlu mendapatkan kembali ritmenya.


Jangan Jadikan Mantan Sebagai Pusat Kehidupan Baru


Mendengarkan cerita tentang mantan memang penting. Tetapi jika setiap pertemuan selalu berakhir dengan pembicaraan berjam-jam tentang mantan, tanpa disadari kita bisa membuat mantan tetap menjadi pusat kehidupannya.


Secara perlahan, pembicaraan perlu bergerak dari:


«“Mengapa dia melakukan ini kepada saya?”»


menjadi:


«“Apa yang sedang terjadi pada diri saya?”»


dan akhirnya:


«“Setelah semua ini, kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun?”»


Inilah pergeseran yang lebih sehat.


Kapan Harus Mengajak Mendapatkan Bantuan Profesional?


Tidak semua patah hati membutuhkan psikolog atau psikiater. Kesedihan setelah putus cinta merupakan respons manusiawi terhadap kehilangan.


Namun perhatian lebih serius diperlukan jika seseorang mengalami gangguan fungsi yang berat atau menetap, tidak mampu menjalankan aktivitas sehari-hari, mengalami perubahan perilaku yang ekstrem, kehilangan kontak dengan kenyataan, atau berbicara tentang keinginan menyakiti diri.


Dalam kondisi seperti itu, jangan hanya mengandalkan nasihat teman. Ajak orang tersebut mendapatkan bantuan profesional dan jangan biarkan dia menghadapi situasi berisiko sendirian.


Menjadi Teman, Bukan Menjadi “Penyelamat”


Pada akhirnya, kita tidak harus menyembuhkan luka orang lain.


Tugas kita sebagai teman, sahabat, atasan, keluarga, atau orang dekat mungkin jauh lebih sederhana: hadir ketika dia sedang kesulitan, mendengarkan ketika dia perlu berbicara, membantu ketika kehidupannya mulai berantakan, dan memberikan perspektif ketika dia sudah siap menerimanya.


Jangan terburu-buru mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Kadang-kadang kalimat yang lebih bermakna adalah:


«“Aku tidak tahu kapan rasa sakit ini akan benar-benar hilang. Tapi untuk sementara, kamu tidak harus menghadapinya sendirian.”»


Mungkin itulah salah satu bentuk pertolongan terbaik bagi seseorang yang sedang patah hati: bukan memaksanya segera melupakan orang yang dicintainya, tetapi menemaninya sampai ia perlahan menemukan kembali dirinya sendiri.

Posting Komentar