Kalau Dunia Sudah Berubah, Bagaimana Seharusnya Kita Mempersiapkan Anak?

Table of Contents


Dunia tempat anak-anak kita tumbuh hari ini tidak sama dengan dunia ketika kita masih kecil. Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan apakah anak sekarang lebih lemah dibandingkan generasi sebelumnya, melainkan: bagaimana seharusnya kita mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang sudah berubah?

Istilah generasi stroberi sering digunakan untuk menggambarkan anak muda yang dianggap lebih mudah rapuh menghadapi tekanan, kritik, kegagalan, atau kesulitan. Istilah ini populer dalam pembicaraan mengenai generasi muda, termasuk melalui pemikiran Rhenald Kasali tentang Strawberry Generation.

Namun, kita perlu berhati-hati. Tidak semua anak muda dapat dimasukkan ke dalam satu kategori. Apalagi ketika pembicaraan mengenai generasi stroberi kemudian dikaitkan dengan kesehatan mental.

Ada persoalan yang jauh lebih menarik untuk dibicarakan: apakah cara kita membesarkan anak masih sesuai dengan dunia yang akan mereka hadapi?


Dulu, Kesulitan Kehidupan Menjadi Guru

Banyak orang tua hari ini tumbuh dalam keadaan yang jauh lebih terbatas.

Ketika ingin membeli sesuatu tetapi tidak punya uang, mereka harus menunggu.

Ketika tidak memiliki kendaraan, mereka berjalan atau menggunakan transportasi seadanya.

Ketika orang tua sedang kesulitan, anak sering ikut merasakan keterbatasan tersebut.

Bahkan banyak anak dahulu sejak kecil sudah terbiasa membantu pekerjaan rumah, menjaga adik, membantu orang tua bekerja, atau mengurus berbagai keperluannya sendiri.

Tanpa disadari, kehidupan memberikan banyak kesempatan untuk belajar.

Menunggu mengajarkan kesabaran.

Keterbatasan mengajarkan kreativitas.

Kegagalan mengajarkan ketekunan.

Tanggung jawab mengajarkan kemandirian.

Tentu kita tidak boleh meromantisasi masa lalu. Kesulitan juga bisa meninggalkan luka. Kemiskinan, kekerasan, pengabaian, dan tekanan yang berlebihan bukanlah metode pendidikan yang perlu diwariskan.

Tetapi ada satu hal yang patut direnungkan.

Generasi dahulu mungkin mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk mengalami ketidaknyamanan yang mendidik.


Ketika Orang Tua Berhasil Membuat Kehidupan Anak Lebih Nyaman

Kemudian keadaan berubah.

Banyak orang tua bekerja keras dengan satu harapan sederhana:

“Saya dulu susah. Anak saya jangan sampai mengalami kesusahan seperti saya.”

Kalimat ini sangat manusiawi.

Orang tua kemudian memberikan pendidikan yang lebih baik, makanan yang lebih baik, tempat tinggal yang lebih nyaman, teknologi, kendaraan, akses internet, berbagai fasilitas, bahkan berusaha memenuhi keinginan anak.

Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Persoalannya muncul ketika kasih sayang berubah menjadi penghilangan seluruh kesulitan dari kehidupan anak.

Anak lupa membawa tugas, orang tua mengantarkan.

Anak mendapat masalah dengan temannya, orang tua segera turun tangan.

Anak mendapat nilai buruk, orang tua mencari siapa yang harus disalahkan.

Anak kecewa karena tidak mendapatkan sesuatu, orang tua segera menggantinya dengan sesuatu yang lain.

Anak gagal, orang tua buru-buru menyelesaikan masalahnya.

Akibatnya, anak memang terlindungi dari kesulitan.

Tetapi pertanyaannya:

Apakah ia mendapatkan kesempatan untuk belajar menghadapi kesulitan?


Anak Tidak Perlu Dibuat Menderita untuk Menjadi Tangguh

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Membicarakan ketangguhan anak bukan berarti kita harus mengembalikan pola pendidikan masa lalu.

Tidak benar kalau kita mengatakan: “Dulu saya susah dan saya kuat. Jadi anak sekarang juga harus dibuat susah.”

Kesulitan tidak otomatis menghasilkan manusia yang tangguh.

Ada orang yang menjadi kuat karena mampu belajar dari kesulitan. Tetapi ada pula yang membawa luka dari pengalaman buruknya sampai bertahun-tahun kemudian.

Karena itu, tujuan pendidikan bukan menciptakan penderitaan bagi anak.

Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami tantangan yang sesuai dengan usianya dalam lingkungan yang aman dan penuh dukungan.

Anak boleh gagal.

Anak boleh kecewa.

Anak boleh mengalami penolakan.

Anak boleh mendapatkan tugas yang sulit.

Anak boleh menghadapi konsekuensi dari keputusannya.

Yang penting, ia tidak sendirian.

Orang tua tetap hadir, tetapi tidak selalu mengambil alih.


Dari Passenger Menjadi Driver

Salah satu gagasan yang menarik dalam pembahasan Rhenald Kasali mengenai Strawberry Generation adalah perlunya anak muda bergerak dari posisi passenger menjadi driver.

Metafora ini sangat relevan dalam pendidikan anak.

Seorang passenger berada di dalam kendaraan dan menunggu orang lain menentukan arah.

Seorang driver memegang kemudi.

Dalam kehidupan, kita tentu membutuhkan bantuan orang lain. Tidak ada manusia yang benar-benar mandiri sepenuhnya.

Tetapi anak perlu belajar bahwa suatu saat dialah yang harus memegang kemudi kehidupannya sendiri.

Karena itu, jangan semua keputusan dibuatkan.

Biarkan anak memilih.

Biarkan ia mempertimbangkan.

Biarkan ia salah dalam batas yang aman.

Kemudian bantu ia memahami konsekuensinya.

Pertanyaan orang tua tidak selalu harus:

“Mau dibantu?”

Kadang lebih baik bertanya: "Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan?”

Pertanyaan sederhana itu mengubah posisi anak.

Dari orang yang menunggu solusi menjadi orang yang mulai mencari solusi.



Ajarkan Anak Menghadapi Kata “Tidak”

Salah satu pelajaran kehidupan yang sederhana tetapi penting adalah belajar menerima bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi.

Anak perlu memahami bahwa keluarga memiliki keterbatasan.

Waktu terbatas.

Uang terbatas.

Tenaga terbatas.

Kesempatan juga terbatas.

Ketika anak meminta sesuatu yang belum dapat diberikan, orang tua tidak harus selalu merasa bersalah.

Kadang cukup mengatakan: “Kita belum bisa membelinya sekarang.”

Anak mungkin kecewa.

Biarkan ia kecewa.

Tidak semua rasa kecewa harus segera dihilangkan.

Sebab anak yang belajar menerima “tidak” dalam lingkungan yang aman akan memiliki kesempatan untuk memahami bahwa kekecewaan adalah bagian dari kehidupan, bukan keadaan darurat yang harus selalu diselesaikan orang lain.


Berikan Anak Tanggung Jawab, Bukan Hanya Fasilitas

Kita sering mengukur keberhasilan orang tua dari apa yang mampu diberikan kepada anak.

Sekolah yang bagus.

Gadget yang bagus.

Kamar yang nyaman.

Les.

Kursus.

Liburan.

Tetapi ada ukuran lain yang tidak kalah penting:

Apakah anak mampu mengurus dirinya sendiri?

Anak yang memiliki banyak fasilitas tetap perlu belajar mencuci piring, merapikan tempat tidur, menjaga barang miliknya, mengatur waktu, menabung, membantu anggota keluarga, dan menyelesaikan tugasnya.

Sebab tujuan parenting bukan membuat anak selamanya membutuhkan orang tua.

Tujuan akhirnya adalah membuat anak mampu menjalani kehidupan ketika orang tua tidak lagi berada di sampingnya.


Kesehatan Mental Tidak Boleh Disederhanakan

Pembahasan tentang generasi stroberi sering bersinggungan dengan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja.

Tetapi kita harus berhati-hati.

Tidak tepat jika setiap anak yang mengalami kecemasan, stres, depresi, atau gangguan mental kemudian dianggap sebagai akibat terlalu dimanjakan.

Persoalan kesehatan mental memiliki banyak faktor.

Sebaliknya, kesehatan mental juga tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk membuat anak tidak pernah mengalami tantangan.

Ada perbedaan antara trauma dan ketidaknyamanan yang sehat.

Ada perbedaan antara mengabaikan penderitaan anak dan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar menyelesaikan masalah.

Orang tua perlu belajar membedakan keduanya.

Ketika anak mengalami masalah serius, tentu ia membutuhkan dukungan dan, bila diperlukan, bantuan profesional.

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, anak juga perlu belajar menghadapi frustrasi, menyelesaikan konflik, menerima kegagalan, meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan mencoba kembali.


Dunia Baru Membutuhkan Ketangguhan yang Baru

Anak-anak kita tidak hanya akan menghadapi dunia seperti yang kita kenal.

Mereka hidup dalam dunia digital, informasi yang bergerak sangat cepat, perubahan pekerjaan, teknologi kecerdasan buatan, media sosial, persaingan global, dan perubahan sosial yang tidak selalu mudah diprediksi.

Karena itu, kita tidak cukup hanya mengajarkan:

“Belajarlah yang rajin supaya mendapat pekerjaan.”

Kita perlu mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar:

- bagaimana berpikir kritis,

- bagaimana mengambil keputusan,

- bagaimana mengelola uang,

- bagaimana mengelola emosi,

- bagaimana bekerja sama,

- bagaimana menghadapi kegagalan,

- bagaimana menyelesaikan masalah,

- bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab,

- dan bagaimana terus belajar ketika keadaan berubah.

Dunia yang berubah membutuhkan manusia yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan prinsip.


Jangan Mewariskan Luka, Wariskan Ketangguhan

Mungkin ini salah satu pekerjaan terbesar orang tua zaman sekarang.

Kita tidak harus memberikan kepada anak kehidupan yang sama sulitnya dengan kehidupan yang pernah kita alami.

Tetapi kita juga tidak boleh memberikan kehidupan yang begitu nyaman sehingga anak tidak pernah belajar menghadapi kenyataan.

Kita tidak perlu mewariskan kemiskinan untuk mengajarkan kesederhanaan.

Tidak perlu mewariskan kekerasan untuk mengajarkan ketegasan.

Tidak perlu mewariskan ketakutan untuk mengajarkan keberanian.

Tidak perlu membuat anak menderita untuk mengajarkan ketangguhan.

Yang perlu diwariskan adalah kemampuan menghadapi kehidupan.

Biarkan mereka belajar menunggu.

Biarkan mereka gagal.

Biarkan mereka mencoba.

Biarkan mereka mengambil keputusan.

Biarkan mereka menyelesaikan masalah.

Dan ketika mereka jatuh, jangan selalu langsung mengangkatnya.

Kadang-kadang, tugas kita sebagai orang tua bukan mengangkat anak secepat mungkin.

Tetapi berdiri di dekatnya sambil berkata, “Ayo, coba berdiri. Kamu bisa mencoba lagi.”


Kalau Dunia Sudah Berubah, Cara Kita Mendidik Juga Harus Berubah

Mungkin inilah saatnya kita berhenti membandingkan: “Anak zaman dulu lebih kuat daripada anak zaman sekarang.”

Pertanyaan itu tidak banyak membantu.

Yang lebih penting adalah: “Apakah kita sedang mempersiapkan anak untuk dunia yang akan mereka hadapi?”

Generasi sebelumnya ditempa oleh dunia yang mereka jalani.

Generasi sekarang akan ditempa oleh dunia yang berbeda.

Karena itu, kita tidak perlu mengulang seluruh metode pendidikan masa lalu.

Kita perlu mengambil hikmahnya.

Berikan cinta, tetapi juga tanggung jawab.

Berikan perlindungan, tetapi juga ruang untuk mencoba.

Dengarkan perasaan anak, tetapi jangan selalu menuruti keinginannya.

Bantu ketika mereka membutuhkan, tetapi jangan mengambil alih semua persoalan.

Dan yang paling penting:

jangan hanya mempersiapkan anak agar hidupnya nyaman. Persiapkan mereka agar mampu menghadapi kehidupan, termasuk ketika kehidupan tidak nyaman.

Sebab pada akhirnya, anak tidak akan selamanya tinggal di rumah yang kita siapkan.

Suatu hari mereka akan keluar, membuat keputusan sendiri, mengalami kegagalan sendiri, menghadapi dunia sendiri, dan memegang kemudi kehidupannya sendiri.

Maka pertanyaan terpenting bukan lagi: “Apa yang sudah kita berikan kepada anak?”

Melainkan: “Apa yang sudah kita ajarkan kepada mereka sehingga suatu hari mereka mampu menjalani kehidupan tanpa kita?” 

Posting Komentar