Sebagai Orang Tua, Haruskah Saya Membuat Anak Saya Lebih Kuat?

Table of Contents


Sebagai orang tua, tentu kita ingin anak kita kuat.

Kita ingin mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Kita ingin mereka mampu berdiri ketika jatuh, mampu menerima kritik, mampu menghadapi penolakan, dan tidak mudah hancur ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan yang mungkin tidak sederhana:

Haruskah saya membuat anak saya lebih kuat?

Kalau iya, bagaimana caranya?

Apakah anak harus dibuat mengalami kesulitan seperti yang pernah kita alami dahulu? Apakah mereka harus merasakan keterbatasan, penolakan, kegagalan, bahkan penderitaan supaya memiliki daya juang?

Di sinilah orang tua perlu berhenti sejenak.

Sebab membesarkan anak agar kuat tidak sama dengan membuat anak menderita.


Dulu, Kehidupan Sendiri yang Menempa Anak

Banyak orang tua hari ini tumbuh dalam situasi yang berbeda dengan anak-anak mereka.

Dahulu, keterbatasan sering menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tidak semua keinginan bisa dipenuhi.

Tidak semua anak memiliki fasilitas yang lengkap.

Ketika orang tua mengalami kesulitan ekonomi, anak ikut merasakan dampaknya.

Sebagian anak bahkan sejak kecil sudah terbiasa membantu pekerjaan rumah, menjaga adik, berjalan jauh ke sekolah, atau membantu orang tua bekerja.

Mereka tidak sedang mengikuti program untuk membangun resilience atau ketangguhan.

Mereka hanya sedang menjalani kehidupan.

Namun dari pengalaman tersebut, banyak yang belajar sesuatu:

kalau jatuh, harus bangun.

kalau gagal, harus mencoba lagi.

kalau tidak punya, harus mencari cara.

kalau ingin sesuatu, harus menunggu.

Kesulitan menjadi salah satu guru kehidupan.

Tetapi kita juga perlu jujur bahwa masa lalu tidak selalu indah.

Ada orang yang memang menjadi tangguh karena kesulitan yang dialaminya. Tetapi ada pula yang membawa luka, ketakutan, dan pengalaman buruk tersebut sampai dewasa.

Karena itu, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa semakin keras kehidupan seorang anak, semakin kuat pula dirinya.

Tidak sesederhana itu.


Ketika Orang Tua Justru Terlalu Cepat Menyingkirkan Kesulitan

Orang tua modern menghadapi situasi yang berbeda.

Banyak dari kita bekerja keras supaya anak tidak perlu mengalami kesulitan yang pernah kita alami.

Kalau dulu kita tidak punya kendaraan, sekarang kita mengantar anak.

Kalau dulu kita harus menunggu lama untuk mendapatkan sesuatu, sekarang kita bisa membelikannya.

Kalau dulu kita harus mencari jawaban sendiri, sekarang informasi dapat ditemukan dalam hitungan detik.

Kalau dulu kita harus menyelesaikan masalah sendiri, sekarang orang tua mungkin langsung turun tangan.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan memberikan kehidupan yang lebih baik kepada anak.

Justru salah satu tujuan orang tua bekerja keras adalah agar kehidupan anak lebih baik.

Persoalannya adalah ketika orang tua bukan hanya memberikan fasilitas, tetapi juga menghilangkan setiap kesempatan anak untuk menghadapi kesulitan.

Anak lupa membawa barang → orang tua mengantarkan.

Anak bertengkar dengan teman → orang tua langsung ikut campur.

Anak gagal → orang tua segera mencari jalan keluar.

Anak kecewa → orang tua buru-buru memenuhi keinginannya.

Anak mendapat kritik → orang tua langsung membelanya.

Akhirnya, anak memang hidup nyaman.

Tetapi mungkin ia semakin jarang mendapatkan kesempatan untuk belajar:

“Saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri.”


Jadi, Haruskah Anak Dibuat Susah?

Jawabannya bukan itu.

Kita tidak perlu sengaja membuat anak menderita supaya mereka menjadi kuat.

Tidak perlu mengurangi makanan supaya mereka belajar bersyukur.

Tidak perlu membiarkan anak menghadapi bahaya supaya mereka belajar berani.

Tidak perlu menggunakan kekerasan supaya mereka belajar disiplin.

Tidak perlu mempermalukan anak supaya mereka tahan terhadap kritik.

Tidak perlu menciptakan masalah hanya agar mereka belajar menyelesaikan masalah.

Yang diperlukan adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana:

jangan selalu menghilangkan kesulitan yang sebenarnya mampu mereka hadapi.

Ini perbedaan yang sangat penting.

Orang tua tidak perlu menciptakan batu di jalan.

Tetapi ketika ada batu di jalan, jangan selalu mengangkat anak dan membawanya melewati batu tersebut.

Ajarkan mereka melihat batu itu.

Ajarkan cara melewatinya.

Dan kalau mereka tersandung, dampingi mereka untuk bangkit.



Anak Membutuhkan Tantangan, Bukan Tekanan Tanpa Batas

Anak perlu menghadapi tantangan.

Tetapi tantangan berbeda dengan tekanan yang berlebihan.

Tantangan mengatakan:

«“Coba lakukan. Kalau gagal, kita cari cara lain.”»

Tekanan yang tidak sehat mengatakan:

«“Kamu harus berhasil. Kalau tidak, kamu mengecewakan saya.”»

Tantangan memberikan ruang untuk bertumbuh.

Tekanan berlebihan dapat membuat anak merasa bahwa dirinya hanya berharga ketika berhasil.

Karena itu, orang tua perlu melihat bukan hanya hasil, tetapi juga proses anak ketika menghadapi kesulitan.

Ketika anak gagal dalam ujian, misalnya, kita tidak harus langsung berkata:

«“Kamu kenapa sih? Belajarnya kurang!”»

Kita bisa bertanya:

«“Bagian mana yang paling sulit?”»

Kemudian:

«“Apa yang bisa kamu lakukan supaya berikutnya lebih baik?”»

Pertanyaan seperti ini membantu anak melihat kegagalan sebagai informasi.

Bukan sebagai identitas.

“Saya gagal” berbeda dengan “saya adalah orang gagal.”


Biarkan Anak Mengalami Kekecewaan

Ini mungkin salah satu bentuk pengasuhan yang paling sulit.

Kita tidak tahan melihat anak kecewa.

Ketika anak menangis karena tidak mendapatkan sesuatu, hati orang tua ikut sakit.

Tetapi tidak semua tangisan harus dihentikan.

Tidak semua kekecewaan harus diperbaiki.

Anak perlu belajar bahwa kehidupan memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan.

Kita bisa mengatakan:

«“Ayah/Ibu tahu kamu kecewa.”»

Bukan:

«“Sudah, jangan menangis!”»

Kemudian kita bisa berkata:

«“Memang tidak menyenangkan ketika keinginan kita tidak terpenuhi. Tetapi kita bisa belajar menghadapi perasaan itu.”»

Dengan demikian, anak belajar bahwa perasaan mereka boleh ada, tetapi perasaan tidak selalu harus menentukan tindakan.

Ini merupakan bagian penting dari kematangan emosional.


Ajarkan Anak Bertanggung Jawab atas Pilihannya

Ketangguhan juga tumbuh dari pengalaman mengambil keputusan.

Biarkan anak memiliki pilihan yang sesuai dengan usianya.

Biarkan mereka menentukan beberapa hal.

Tetapi bersamaan dengan itu, ajarkan bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Misalnya anak memilih bermain lebih lama daripada mengerjakan tugas.

Ketika akhirnya waktu menjadi sempit, jangan selalu orang tua yang menyelesaikan akibat keputusan tersebut.

Anak perlu memahami:

«“Pilihan saya mempunyai konsekuensi.”»

Ini bukan hukuman.

Ini adalah pendidikan kehidupan.

Orang dewasa nantinya akan hidup dalam dunia yang penuh pilihan dan konsekuensi. Karena itu, kemampuan mengambil keputusan perlu dilatih sejak kecil.


Jangan Jadikan Orang Tua sebagai “Pemadam Kebakaran” Kehidupan Anak

Ada orang tua yang selalu datang ketika anak menghadapi masalah.

Anak punya masalah dengan teman → orang tua datang.

Anak lupa tugas → orang tua membantu.

Anak salah mengatur waktu → orang tua memperbaiki.

Anak tidak bisa mengatur barang → orang tua membereskan.

Lama-kelamaan anak belajar satu pola:

“Kalau ada masalah, orang tua akan menyelesaikannya.”

Padahal tujuan akhir parenting bukan membuat anak terus-menerus membutuhkan kita.

Suatu hari mereka akan kuliah.

Bekerja.

Membangun hubungan.

Mengelola uang.

Menghadapi kegagalan.

Membuat keputusan.

Dan kita tidak selalu bisa berada di samping mereka.

Karena itu, sesekali kita perlu menahan diri.

Bukan karena tidak peduli.

Tetapi karena kita sedang memberikan kesempatan kepada anak untuk tumbuh.

Daripada langsung memberikan solusi, cobalah bertanya:

«“Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan?”»

Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi latihan kemandirian yang sangat berharga.


Kesehatan Mental Anak Tidak Boleh Dianggap sebagai Tanda Kelemahan

Pembicaraan tentang anak yang kurang tahan terhadap tekanan sering dikaitkan dengan kesehatan mental.

Di sinilah orang tua perlu sangat berhati-hati.

Anak yang mengalami kecemasan, depresi, atau persoalan kesehatan mental bukan berarti otomatis anak yang manja atau tidak memiliki daya juang.

Masalah kesehatan mental memiliki banyak faktor dan tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu penyebab.

Karena itu, jangan menggunakan istilah seperti “generasi stroberi” untuk meremehkan anak yang sedang mengalami masalah serius.

Namun di sisi lain, menjaga kesehatan mental anak juga bukan berarti menghilangkan semua kesulitan dari hidup mereka.

Anak tetap perlu belajar menghadapi konflik, menerima kekecewaan, mengatasi kegagalan, bertanggung jawab, dan mencoba kembali.

Kesehatan mental dan ketangguhan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Anak dapat belajar menjaga dirinya secara psikologis sekaligus belajar menghadapi tantangan kehidupan.


Jangan Wariskan Luka, Wariskan Ketangguhan

Mungkin ini adalah salah satu hal yang perlu direnungkan oleh orang tua.

Kita tidak harus memberikan kepada anak kehidupan yang sama sulitnya dengan kehidupan yang pernah kita jalani.

Kalau dahulu kita miskin, anak tidak harus dibuat miskin agar belajar bersyukur.

Kalau dahulu kita diperlakukan keras, anak tidak harus diperlakukan keras agar menjadi kuat.

Kalau dahulu kita sering mengalami kegagalan, anak tidak harus dipaksa gagal.

Tetapi pelajaran yang kita dapat dari semua pengalaman itu dapat kita wariskan.

Kita bisa mengajarkan kesederhanaan tanpa kemiskinan.

Mengajarkan disiplin tanpa kekerasan.

Mengajarkan keberanian tanpa membahayakan.

Mengajarkan ketangguhan tanpa menciptakan penderitaan.

Dengan kata lain:

«Jangan wariskan lukanya. Wariskan hikmahnya.»


Jadi, Haruskah Saya Membuat Anak Saya Lebih Kuat?

Mungkin pertanyaan itu perlu sedikit diubah.

Bukan:

“Bagaimana saya membuat anak saya kuat?”

Melainkan:

“Bagaimana saya memberikan kesempatan kepada anak saya untuk menjadi kuat?”

Kita tidak bisa menjamin bahwa anak tidak akan pernah mengalami kegagalan.

Kita tidak bisa memastikan mereka tidak akan pernah ditolak.

Kita tidak bisa menghapus seluruh kesulitan dari kehidupan mereka.

Dan sebenarnya kita tidak perlu melakukannya.

Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan mereka.

Berikan cinta.

Berikan batas.

Berikan tanggung jawab.

Berikan kesempatan untuk memilih.

Berikan ruang untuk gagal.

Berikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Dan ketika mereka jatuh, jangan selalu buru-buru mengangkatnya.

Beradalah di dekat mereka.

Katakan:

«“Ayah/Ibu ada di sini.”»

Lalu mungkin tambahkan:

«“Sekarang, mari kita pikirkan bagaimana kamu bisa bangkit.”»

Sebab anak yang kuat bukanlah anak yang tidak pernah menangis.

Bukan pula anak yang tidak pernah gagal.

Anak yang kuat adalah anak yang perlahan belajar bahwa ia boleh takut, boleh kecewa, boleh gagal, tetapi ia tetap mampu menghadapi kehidupan dan mencoba kembali.

Dan mungkin itulah salah satu hadiah terbesar yang dapat diberikan orang tua.

Bukan kehidupan yang selalu mudah.

Tetapi keyakinan bahwa:

«“Apa pun yang terjadi dalam hidup saya nanti, saya pernah belajar bagaimana menghadapinya.”»Meta description: Haruskah orang tua membuat anak lebih kuat? Pelajari cara membangun ketangguhan anak tanpa memanjakan, menekan, atau mewariskan luka masa lalu.

Posting Komentar