“Siapa yang Minta Dilahirkan?” Ketika Anak Menolak Utang Emosional Orang Tua

Table of Contents

Ada sebuah kalimat yang semakin sering muncul dalam percakapan tentang hubungan orang tua dan anak:

«“Siapa yang minta dilahirkan?”»

Kalimat ini biasanya muncul ketika anak merasa orang tuanya terus-menerus mengungkit pengorbanan yang telah diberikan kepadanya.

Orang tua berkata:

«“Ibu sudah bertaruh nyawa ketika melahirkan kamu.”»

Atau:

«“Ayah bekerja keras siang malam supaya kamu bisa hidup dan sekolah.”»

Kemudian anak menjawab:

«“Memangnya saya yang meminta dilahirkan?”»

Jawaban tersebut bisa terdengar menyakitkan bagi orang tua.

Bahkan bagi sebagian orang tua, kalimat itu mungkin dianggap sebagai bukti bahwa anak tidak tahu berterima kasih.

Tetapi sebelum buru-buru menyalahkan anak, ada baiknya kita memahami apa yang sebenarnya sedang dikatakan oleh anak melalui kalimat tersebut.

Sebab bisa jadi anak tidak sedang mengatakan bahwa ia membenci orang tuanya.

Ia mungkin sedang mengatakan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

«“Tolong jangan jadikan kelahiran saya sebagai utang yang harus saya bayar sepanjang hidup.”»


“Siapa yang Minta Dilahirkan?” Bukan Sekadar Kalimat Pembangkangan

Secara emosional, kalimat “siapa yang minta dilahirkan?” memang terdengar seperti perlawanan.

Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada persoalan filosofis sekaligus psikologis di baliknya.

Tidak ada seorang anak yang memilih:

- siapa orang tuanya;

- di keluarga seperti apa ia dilahirkan;

- bagaimana kondisi ekonomi keluarganya;

- di mana ia dilahirkan;

- bagaimana masa kecilnya akan berlangsung.

Kelahiran adalah keputusan yang dibuat oleh orang dewasa.

Orang tua memilih untuk mempunyai anak.

Anak kemudian hadir sebagai akibat dari keputusan tersebut.

Karena itu, ketika orang tua mengatakan:

«“Kami sudah memberikanmu kehidupan!”»  Anak dapat merasa bingung ketika kehidupan tersebut kemudian diperlakukan seperti hadiah yang harus dibayar kembali.

Bukankah memiliki anak memang merupakan keputusan orang tua?

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Anak tidak meminta dilahirkan, tetapi setelah dilahirkan, ia kemudian diminta mempertanggungjawabkan keputusan yang tidak pernah dibuatnya.

Tentu saja, bukan berarti orang tua tidak boleh berharap anak menghargai perjuangan mereka.

Tetapi penghargaan berbeda dengan utang.


Anak Tidak Memilih Dilahirkan

Pernyataan bahwa anak tidak memilih untuk dilahirkan sebenarnya bukan pembenaran bagi anak untuk berbuat sesuka hati.

Ini perlu ditegaskan.

Seorang anak tetap memiliki tanggung jawab terhadap orang tua ketika ia tumbuh dewasa. Ia dapat menghormati, menyayangi, membantu, dan memperhatikan orang tuanya.

Tetapi semua itu berbeda dengan mengatakan:

«“Karena kami yang melahirkanmu, maka hidupmu adalah milik kami.”»

Ada perbedaan besar antara membesarkan anak dan memiliki kehidupan anak.

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk merawat anak yang mereka pilih untuk hadir ke dunia.

Tetapi tanggung jawab tersebut tidak otomatis memberikan hak kepada orang tua untuk mengatur seluruh kehidupan anak selamanya.

Anak yang tumbuh dewasa akhirnya harus mengambil keputusan sendiri:

- pendidikan apa yang ingin ditempuh;

- pekerjaan apa yang dipilih;

- dengan siapa ia menikah;

- di mana ia tinggal;

- bagaimana ia menjalani kehidupannya.

Tentu orang tua boleh memberikan nasihat.

Boleh tidak setuju.

Boleh menyampaikan kekhawatiran.

Tetapi nasihat tidak sama dengan kepemilikan.


Rasa Syukur Tidak Sama dengan Utang

Ini mungkin menjadi bagian paling penting dari pembahasan ini.

Anak boleh bersyukur kepada orang tua tanpa merasa dirinya berutang atas kelahirannya.

Keduanya bukan hal yang sama.

Rasa syukur berkata:

«“Saya menghargai apa yang sudah orang tua saya lakukan untuk saya.”»

Sementara utang emosional berkata:

«“Karena orang tua sudah melakukan semua itu, saya harus memenuhi keinginan mereka.”»

Yang pertama dapat melahirkan hubungan yang sehat.

Yang kedua dapat menciptakan tekanan.

Seorang anak mungkin berkata:

«“Saya sangat berterima kasih karena ayah dan ibu menyekolahkan saya.”»

Tetapi pada saat yang sama ia dapat berkata:

«“Namun keputusan mengenai pekerjaan saya tetap harus saya pertimbangkan sendiri.”»

Tidak ada kontradiksi di sana.

Kita dapat menghargai seseorang tanpa menyerahkan seluruh hak atas hidup kita kepadanya.


Ketika Pengorbanan Orang Tua Menjadi “Tagihan”

Bayangkan seorang anak yang sejak kecil terus mendengar:

«“Kami sudah menghabiskan banyak uang untukmu.”»

«“Kami tidak pernah membeli barang yang kami inginkan karena kamu.”»

«“Ibu tidak tidur ketika kamu sakit.”»

«“Ayah bekerja dalam hujan demi kamu.”»

Semua itu mungkin benar.

Namun jika terus-menerus diucapkan ketika anak melakukan sesuatu yang tidak disukai orang tua, pesan yang diterima anak dapat berubah.

Awalnya:

«“Orang tuaku sangat mencintaiku.”»

Kemudian berubah menjadi:

«“Aku harus membalas semua ini.”»

Dan akhirnya:

«“Aku tidak boleh mengecewakan mereka.”»

Pada tahap tertentu, anak mungkin tidak lagi membuat keputusan berdasarkan apa yang benar-benar ia yakini.

Ia mengambil keputusan berdasarkan pertanyaan:

«“Apa yang akan membuat orang tua saya tidak kecewa?”»

Di sinilah rasa syukur dapat berubah menjadi beban.


Anak yang Patuh Belum Tentu Anak yang Mengerti


Dalam artikel sebelumnya kita melihat bahwa kepatuhan tidak selalu berarti pemahaman.

Hal yang sama berlaku di sini.

Seorang anak bisa mengikuti semua keinginan orang tua karena ia memang memahami alasan di baliknya.

Tetapi ia juga bisa menurut karena takut.

Ia bisa menurut karena merasa bersalah.

Ia bisa menurut karena tidak ingin disebut anak durhaka.

Ia bahkan bisa menurut karena sudah lelah berkonflik.

Dari luar, semuanya terlihat sama:

anak patuh.

Tetapi secara psikologis, hasilnya sangat berbeda.

Kepatuhan yang lahir dari pemahaman dapat berkembang menjadi tanggung jawab.

Sementara kepatuhan yang lahir dari rasa bersalah dapat menghasilkan sesuatu yang berbeda: kepatuhan di depan, tetapi perlawanan di belakang.

Anak mungkin tidak lagi berdebat.

Tetapi ia menyimpan jarak.

Ia berhenti bercerita.

Ia tidak lagi meminta nasihat.

Ketika dewasa, ia mungkin tetap datang ke rumah orang tua, tetapi hubungan emosionalnya sudah semakin jauh.

Ironisnya, orang tua mungkin kemudian bertanya:

«“Mengapa anak saya sekarang tidak dekat dengan saya?”»

Padahal jarak tersebut mungkin dibangun sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.


Lalu Apakah Anak Boleh Mengatakan, “Saya Tidak Pernah Minta Dilahirkan”?

Secara prinsip, anak berhak mempertanyakan cara orang tua memperlakukannya.

Tetapi cara menyampaikan keberatan tetap penting.

Kalimat:

«“Saya tidak pernah meminta dilahirkan!”»

dapat menjadi ekspresi rasa frustrasi yang dapat dipahami.

Namun jika digunakan untuk menyatakan:

«“Karena itu saya tidak mempunyai kewajiban apa pun kepada kalian,”»

maka persoalannya menjadi berbeda.

Tidak memilih kelahiran tidak berarti seseorang tidak memiliki tanggung jawab setelah menjadi bagian dari keluarga.

Ketika seorang anak sudah dewasa, ia tetap perlu belajar mengenai tanggung jawab, termasuk tanggung jawab terhadap orang-orang yang telah hadir dalam hidupnya.

Karena itu, mungkin posisi yang lebih sehat bukan:

«“Saya tidak pernah meminta dilahirkan, jadi saya tidak berutang apa pun.”»

Tetapi:

«“Saya tidak pernah meminta dilahirkan, sehingga jangan jadikan kelahiran saya sebagai utang. Namun saya tetap menghargai dan bertanggung jawab atas hubungan saya dengan orang tua.”»

Di antara dua pernyataan tersebut terdapat ruang yang sangat besar untuk kedewasaan.


Orang Tua Juga Perlu Mendengar Pesan di Balik Perlawanan Anak

Kalimat keras dari anak sering kali membuat orang tua langsung defensif.

Orang tua mendengar:

«“Kamu tidak tahu berterima kasih!”»

Padahal mungkin anak sedang mengatakan:

«“Saya merasa terlalu banyak dituntut.”»

Orang tua mendengar:

«“Kalian yang memilih punya anak!”»

Padahal anak mungkin sedang mengatakan:

«“Saya ingin mempunyai ruang untuk menentukan hidup saya sendiri.”»

Orang tua mendengar:

«“Saya tidak membutuhkan kalian!”»

Padahal anak mungkin sedang mengatakan:

«“Saya ingin hubungan kita berubah karena saya sudah dewasa.”»

Tentu tidak semua ucapan anak harus dibenarkan.

Anak juga bisa bersikap kasar.

Anak juga bisa egois.

Anak juga bisa menggunakan logika untuk menghindari tanggung jawab.

Karena itu, mendengarkan anak bukan berarti selalu menyetujui anak.

Tetapi setidaknya orang tua mencoba memahami pesan di balik kata-kata yang mungkin tidak disampaikan dengan cara yang baik.


Orang Tua Tidak Perlu Menyesal Telah Berkorban

Pembahasan ini jangan sampai membuat orang tua berpikir:

«“Kalau begitu, percuma saya berkorban untuk anak.”»

Bukan itu maksudnya.

Pengorbanan tetap mempunyai nilai.

Membesarkan anak memang membutuhkan pengorbanan besar.

Ada waktu yang hilang.

Ada uang yang dikeluarkan.

Ada kesempatan yang dilepaskan.

Ada tidur yang terganggu.

Ada kekhawatiran yang tidak pernah diketahui anak.

Semua itu layak dihargai.

Tetapi justru karena pengorbanan itu berharga, kita perlu berhati-hati agar pengorbanan tidak berubah menjadi alat tawar-menawar.

Cinta menjadi lebih indah ketika diberikan tanpa terus-menerus menghitung berapa besar yang sudah dikeluarkan.

Orang tua mungkin tidak bisa memberikan semuanya.

Tetapi apa yang diberikan sebaiknya tidak berubah menjadi tagihan emosional.


Anak Juga Perlu Belajar Melihat Orang Tua sebagai Manusia

Di sisi lain, anak juga perlu memahami sesuatu.

Orang tua bukan mesin yang selalu benar.

Orang tua bisa lelah.

Bisa takut.

Bisa frustrasi.

Bisa salah bicara.

Bahkan bisa mengulang pola pengasuhan yang dahulu mereka terima dari orang tua mereka.

Ada orang tua yang sebenarnya tidak tahu bagaimana mengatakan:

«“Saya takut kehilangan kamu.”»

Maka yang keluar:

«“Kamu tidak pernah menghargai kami!”»

Ada orang tua yang ingin mengatakan:

«“Saya khawatir pilihanmu akan membuat hidupmu sulit.”»

Tetapi yang keluar:

«“Kamu harus menuruti orang tua!”»

Memahami hal ini tidak berarti anak harus menerima semua perlakuan.

Tetapi pemahaman tersebut dapat membantu anak melihat konflik dengan lebih dewasa.

Orang tua bukan musuh.

Anak juga bukan bawahan.

Keduanya adalah manusia yang sedang belajar menjalani hubungan.


Dari “Harus Membalas” Menjadi “Memilih untuk Berbuat Baik”

Mungkin di sinilah perubahan cara pandang yang paling penting.

Anak yang merasa berutang akan berpikir:

«“Saya harus melakukan sesuatu untuk orang tua karena mereka telah berkorban.”»

Anak yang memiliki rasa syukur berpikir:

«“Saya ingin melakukan sesuatu yang baik untuk orang tua karena saya menghargai mereka.”»

Perbedaannya hanya beberapa kata.

Tetapi secara psikologis sangat besar.

“Harus” berasal dari tekanan.

“Ingin” berasal dari kesadaran.

Tentu dalam kehidupan nyata, kita tidak selalu melakukan sesuatu karena ingin.

Ada kewajiban.

Ada tanggung jawab.

Ada keadaan yang memaksa kita melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita sukai.

Namun hubungan keluarga yang sehat idealnya tidak dibangun terutama melalui rasa bersalah.

Hubungan keluarga seharusnya memberi ruang bagi pilihan untuk melakukan kebaikan.


Orang Tua dan Anak Perlu Mengubah Cara Berbicara

Mungkin perubahan tidak selalu dimulai dari aturan besar.

Kadang-kadang dimulai dari kalimat sederhana.

Daripada mengatakan:

«“Setelah semua yang ayah lakukan untukmu, kamu masih melawan?”»

orang tua dapat mengatakan:

«“Ayah kecewa karena keputusanmu. Bolehkah kita membicarakan alasanmu?”»

Daripada:

«“Ibu sudah susah payah melahirkan dan membesarkan kamu!”»

bisa menjadi:

«“Ibu berharap kamu memahami mengapa keputusan ini penting bagi kami.”»

Dan anak pun dapat belajar mengganti:

«“Siapa yang minta dilahirkan?”»

menjadi:

«“Saya menghargai semua yang ayah dan ibu lakukan, tetapi saya juga ingin didengarkan sebagai pribadi yang sudah dewasa.”»

Kalimat kedua mungkin tidak sekeras kalimat pertama.

Tetapi justru karena itu, kemungkinan dialog terbuka menjadi lebih besar.


Tidak Ada Anak yang Berutang Karena Dilahirkan

Pada akhirnya, mungkin kita perlu memisahkan dua hal yang selama ini sering bercampur:

kelahiran adalah keputusan orang tua, sedangkan kehidupan adalah perjalanan yang harus dijalani anak.

Orang tua memilih untuk menghadirkan anak ke dunia.

Setelah anak lahir, orang tua memiliki tanggung jawab untuk merawat dan membesarkannya.

Kemudian anak bertumbuh.

Ia belajar.

Ia mengambil keputusan.

Ia melakukan kesalahan.

Ia menemukan jalan hidupnya sendiri.

Dalam perjalanan tersebut, tentu ada ruang untuk rasa terima kasih.

Ada ruang untuk berbakti.

Ada ruang untuk membantu orang tua.

Ada ruang untuk meminta maaf.

Ada ruang untuk memberikan kembali kebaikan yang pernah diterima.

Tetapi semua itu akan terasa jauh lebih bermakna ketika lahir dari kesadaran, bukan dari tagihan emosional.

Anak tidak perlu membayar orang tua karena telah dilahirkan.

Namun anak dapat memilih untuk menghargai orang tua karena telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Begitu pula orang tua tidak perlu berhenti mengingat perjuangannya.

Mereka hanya perlu berhenti menjadikan perjuangan itu sebagai senjata setiap kali anak tidak mengikuti keinginan mereka.

Sebab pada akhirnya, mungkin hubungan orang tua dan anak yang paling sehat bukanlah hubungan antara pemberi dan penerima utang.

Bukan pula antara penguasa dan orang yang harus patuh.

Melainkan hubungan antara dua manusia yang berbeda generasi, yang pernah berada dalam hubungan orang tua dan anak, tetapi kemudian harus belajar bertemu sebagai pribadi yang sama-sama memiliki pikiran, perasaan, pilihan, dan kehidupan.

Dan mungkin suatu hari, ketika anak berkata:

«“Saya tidak pernah meminta dilahirkan.”»

orang tua tidak perlu langsung membalas:

«“Kalau begitu, jangan pernah panggil kami lagi!”»

Mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya:

«“Apa yang sebenarnya sedang ingin kamu katakan kepada kami?”»

Barangkali pertanyaan sederhana itu justru dapat membuka percakapan yang selama ini tertutup oleh rasa bersalah, kemarahan, dan pengorbanan yang terus ditagihkan.

Karena tujuan akhirnya bukan memenangkan perdebatan antara orang tua dan anak.

Tujuannya adalah menyelamatkan hubungan.


BACA JUGA:

Ketika Pengorbanan Orang Tua Menjadi Alat untuk Menuntut Kepatuhan Anak

Posting Komentar