Validasi dari Orang Lain: Cermin untuk Mengenal Diri atau Sumber Ketergantungan?

Table of Contents


Kita sering mendengar nasihat, “Jangan terlalu membutuhkan validasi dari orang lain.” Nasihat ini memang penting. Terlalu bergantung pada pujian, penerimaan, atau pengakuan orang lain dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menghargai dirinya sendiri.


Namun, apakah berarti kita sama sekali tidak membutuhkan validasi dari orang lain?


Pertanyaan ini menjadi menarik ketika kita menyadari bahwa manusia tidak selalu mampu melihat dirinya sendiri secara utuh. Ada kelebihan yang tidak kita sadari, kekurangan yang tidak kita lihat, bahkan potensi yang baru muncul ketika orang lain menunjukkannya kepada kita.


Karena itu, persoalannya mungkin bukan apakah kita membutuhkan validasi atau tidak, melainkan bagaimana kita menggunakan validasi dari orang lain untuk mengenal diri tanpa menjadi tergantung kepadanya.


Kita Tidak Selalu Mengenal Diri Sendiri


Bayangkan seorang gadis yang sebenarnya memiliki wajah manis, menarik, dan cerdas. Namun, ia merasa tidak percaya diri karena tubuhnya tidak setinggi perempuan lain.


Perhatiannya begitu kuat kepada satu hal yang dianggap sebagai kekurangan sehingga kelebihan lain dalam dirinya menjadi tidak terlihat.


Di sinilah pandangan orang lain bisa memberikan sesuatu yang penting.


Ketika seseorang mengatakan, “Menurut saya kamu cantik,” atau “Saya melihat kamu memiliki kemampuan berpikir yang bagus,” kalimat tersebut bukan berarti orang itu sedang menentukan harga dirinya.


Ia sedang memberikan perspektif yang mungkin belum mampu dilihat oleh orang tersebut.


Dengan kata lain, validasi dapat menjadi informasi tentang diri kita.


Kita memang membutuhkan kemampuan untuk menilai diri sendiri, tetapi kita juga membutuhkan perspektif dari luar karena ada bagian diri kita yang tidak terlihat oleh kita sendiri.


Johari Window dan Bagian Diri yang Tidak Kita Sadari


Gagasan ini dapat dipahami melalui Johari Window, sebuah konsep yang menggambarkan bagaimana pengetahuan tentang diri terbagi menjadi beberapa wilayah.


Ada bagian yang kita ketahui dan diketahui orang lain. Ada bagian yang kita sembunyikan. Ada pula bagian yang tidak diketahui oleh diri sendiri tetapi sebenarnya dapat dilihat oleh orang lain.


Bagian terakhir ini disebut blind self atau area buta.


Di sinilah validasi dari orang lain dapat memiliki fungsi yang sehat.


Seseorang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya pandai berkomunikasi sampai seorang teman mengatakan, “Kamu ternyata mudah membuat orang memahami sesuatu.”


Seseorang mungkin tidak merasa dirinya kreatif sampai orang lain menunjukkan bahwa cara berpikirnya berbeda.


Demikian pula seseorang mungkin terlalu fokus pada kekurangan fisiknya sampai orang lain menunjukkan bahwa ada banyak hal menarik dalam dirinya.


Dalam konteks ini, orang lain menjadi cermin, bukan hakim.


Validasi Positif dan Validasi Negatif Sama-Sama Bisa Membentuk Diri



Validasi tidak selalu berbentuk pujian. Komentar negatif yang terus-menerus juga dapat membentuk gambaran seseorang tentang dirinya.


Seorang anak yang berulang kali mendengar, “Kamu bodoh,” mungkin pada akhirnya tidak lagi menganggapnya sebagai perkataan orang lain. Ia mulai mengatakan hal yang sama kepada dirinya sendiri.


Awalnya berasal dari luar:


«“Kamu bodoh.”»


Kemudian berubah menjadi suara dari dalam:


«“Saya memang bodoh.”»


Hal serupa bisa terjadi dengan validasi positif.


Seseorang yang terus-menerus dipuji karena kecantikannya mungkin membangun identitas bahwa nilai dirinya terutama berasal dari penampilan. Ketika suatu saat ia tidak lagi mendapatkan perhatian yang sama, kepercayaan dirinya dapat terguncang.


Karena itu, validasi positif sekalipun tidak selalu sehat jika menjadi satu-satunya fondasi identitas.


Yang menentukan bukan hanya apakah validasi itu positif atau negatif, tetapi bagaimana seseorang mengolahnya.


Kapan Validasi dari Orang Lain Menolong?


Validasi dari orang lain dapat menolong ketika ia membuka mata kita terhadap sesuatu yang sebelumnya tidak kita lihat.


Misalnya seseorang berkata:


«“Saya melihat kamu punya kemampuan dalam hal ini.”»


Kita tidak harus langsung mempercayainya sebagai kebenaran mutlak. Kita dapat menjadikannya bahan untuk berefleksi.


“Mungkinkah memang ada kemampuan itu dalam diri saya?”


Kemudian kita melihat pengalaman sendiri. Kita memperhatikan apakah orang lain juga melihat hal yang sama. Kita mencoba mengembangkan kemampuan tersebut.


Dengan demikian, validasi berubah menjadi feedback.


Ia memberikan informasi, tetapi keputusan tentang bagaimana menggunakannya tetap berada pada diri kita.


Validasi juga dapat menolong ketika seseorang sedang terlalu fokus pada kekurangannya. Bukan dengan menyangkal kekurangan tersebut, tetapi dengan mengembalikan keseimbangan.


“Kamu memang tidak tinggi. Tetapi apakah tinggi badan adalah satu-satunya hal yang menentukan nilai dirimu?”


Pertanyaan seperti ini dapat membantu seseorang melihat dirinya secara lebih utuh.


Kapan Validasi Mulai Menjatuhkan?


Masalah muncul ketika validasi berubah menjadi kebutuhan yang harus terus dipenuhi.


Seseorang mulai berpikir:


«“Saya cantik kalau orang mengatakan saya cantik.”»


«“Saya pintar kalau orang mengakui saya pintar.”»


«“Saya berharga kalau orang menyukai saya.”»


Pada titik tersebut, sumber penilaian diri telah berpindah sepenuhnya ke luar.


Hari ini mendapat pujian, perasaan melambung tinggi. Besok mendapat kritik, harga diri ikut runtuh.


Lebih jauh lagi, seseorang bisa menjadi kecanduan terhadap pengakuan. Ia terus membutuhkan komentar, perhatian, likes, pujian, atau persetujuan untuk merasa dirinya cukup.


Inilah yang membedakan menerima validasi dengan bergantung pada validasi.


Orang Lain Boleh Menjadi Cermin, tetapi Bukan Hakim


Mungkin inilah batas yang paling penting.


Kita tidak harus menjadi orang yang berkata, “Saya tidak peduli apa kata orang.”


Kita boleh peduli.


Kita boleh mendengarkan kritik. Kita boleh menerima pujian. Kita boleh bertanya kepada orang lain bagaimana mereka melihat diri kita.


Tetapi setelah mendengarnya, kita perlu memiliki jarak untuk bertanya:


«“Apakah ini benar?”»


«“Apa yang bisa saya pelajari?”»


«“Apakah ini hanya pendapat seseorang?”»


«“Apakah penilaian ini sesuai dengan pengalaman saya?”»


Dengan cara demikian, kita tidak menolak validasi, tetapi juga tidak menyerahkan kendali diri kepadanya.


Orang lain menjadi cermin yang membantu kita melihat, bukan hakim yang menentukan nilai kita.


Belajar Mengenal Diri Tanpa Kehilangan Diri


Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak bisa hidup sepenuhnya tanpa validasi dari orang lain. Manusia adalah makhluk sosial. Kita belajar tentang diri melalui relasi, percakapan, pengalaman, kritik, dan pengakuan orang lain.


Namun, kita juga perlu membangun kemampuan untuk melakukan validasi diri.


Bukan dengan mengatakan bahwa semua yang kita lakukan pasti benar atau semua kelebihan kita pasti luar biasa. Validasi diri yang sehat justru mampu mengatakan:


«“Saya memiliki kelebihan, tetapi saya juga mempunyai kekurangan.”»


«“Saya bisa menerima kritik tanpa menyimpulkan bahwa diri saya tidak berharga.”»


«“Saya bisa menerima pujian tanpa merasa harus hidup untuk mempertahankan pujian itu.”»


Di situlah keseimbangan ditemukan.


Kita membutuhkan orang lain untuk membantu mengenal diri, tetapi kita tidak harus menyerahkan definisi diri kepada mereka.


Johari Window mengingatkan bahwa ada bagian diri yang mungkin tidak kita kenali. Orang lain kadang membantu membuka jendela itu. Tetapi setelah jendela terbuka, tugas kita adalah melihat, memahami, dan mengenali diri sendiri.


Karena itu, validasi yang sehat bukanlah suara yang mengatakan, “Kamu berharga karena saya mengatakan kamu berharga.”


Validasi yang sehat justru berkata:


“Saya melihat sesuatu yang baik dalam dirimu. Mungkin selama ini kamu belum melihatnya. Sekarang, coba lihat sendiri.”


Dan ketika kita sudah mampu melihatnya sendiri, validasi dari luar tidak lagi menjadi sumber utama harga diri. Ia menjadi salah satu cermin yang membantu kita memahami siapa diri kita sebenarnya.

Posting Komentar