Arti Tunangan Menurut Alkitab: Belajar dari Maria dan Yusuf tentang Komitmen Sebelum Pernikahan

Table of Contents


Pendahuluan: Apakah Tunangan Sudah Dianggap Suami Istri?

Dalam perjalanan sebuah hubungan, pertunangan sering dianggap sebagai tanda bahwa dua orang sudah benar-benar serius untuk menikah. Setelah melewati masa saling mengenal dan berpacaran, mereka memutuskan untuk membuat komitmen yang lebih jelas di hadapan keluarga dan lingkungan sosial.

Namun, muncul pertanyaan penting: apakah seseorang yang sudah bertunangan sebenarnya sudah memiliki kedudukan seperti suami atau istri?

Pertanyaan ini menarik ketika kita membacanya dari perspektif Alkitab. Dalam Injil Matius 1:18-25, kita menemukan kisah Maria dan Yusuf yang sedang berada dalam masa pertunangan. Ketika Maria diketahui mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami istri, Yusuf mempertimbangkan untuk menceraikannya secara diam-diam.

Mengapa Yusuf menggunakan tindakan perceraian, padahal mereka belum hidup bersama sebagai suami istri?

Jawabannya berkaitan dengan tradisi perkawinan masyarakat Yahudi pada zaman itu. Pertunangan dalam kebudayaan Yahudi memiliki kedudukan yang jauh lebih mengikat dibandingkan pertunangan modern yang kita kenal sekarang.

Memahami konteks tersebut penting, khususnya bagi pasangan Kristen yang sedang bertunangan dan para konselor pernikahan di gereja. Dengan demikian, kita tidak keliru memahami makna pertunangan dalam Alkitab, sekaligus dapat mengambil prinsip-prinsip yang relevan untuk membangun hubungan sebelum pernikahan.


1. Apa Arti Pertunangan dalam Tradisi Yahudi?

Untuk memahami kisah Maria dan Yusuf, kita perlu mengetahui terlebih dahulu bagaimana masyarakat Yahudi pada zaman Alkitab memandang perkawinan.

Pada masa itu, perkawinan bukan hanya keputusan pribadi dua orang yang saling mencintai. Perkawinan juga melibatkan keluarga, hubungan kekerabatan, kehormatan, tanggung jawab ekonomi, dan ketentuan agama.

Dalam tradisi perkawinan Yahudi, terdapat beberapa istilah yang membantu menjelaskan proses tersebut.


Shidduchin: Kesepakatan Menuju Pernikahan

Istilah shidduchin dikenal dalam tradisi Yahudi untuk menggambarkan proses kesepakatan atau penjajakan menuju perkawinan.

Pada tahap ini, kedua keluarga dapat terlibat dalam pembicaraan mengenai calon pasangan dan rencana perkawinan.

Praktik tersebut tidak selalu sama dalam setiap keluarga dan periode sejarah. Namun, kita dapat memahami bahwa perkawinan pada masyarakat Yahudi memiliki dimensi keluarga dan sosial yang kuat.


Kiddushin atau Erusin: Pertunangan yang Mengikat

Tahap berikutnya disebut kiddushin atau erusin.

Inilah bagian yang sangat penting dalam memahami pertunangan Maria dan Yusuf.

Dalam hukum perkawinan Yahudi, kiddushin merupakan ikatan resmi yang membuat seorang perempuan secara hukum dikhususkan bagi laki-laki yang akan menjadi suaminya.

Ikatan ini bukan sekadar janji untuk menikah. Secara hukum, hubungan perkawinan sudah terbentuk, meskipun pasangan belum memulai kehidupan rumah tangga bersama.

Ada beberapa konsekuensi penting:

- Perempuan yang sudah berada dalam ikatan tersebut tidak bebas menikah dengan laki-laki lain.

- Hubungan tidak dapat dibatalkan begitu saja seperti pertunangan modern.

- Jika ikatan hendak diakhiri, diperlukan tindakan perceraian.

- Pasangan belum tentu sudah hidup bersama sebagai suami dan istri.


Nisu'in: Memulai Kehidupan Rumah Tangga

Tahap berikutnya disebut nisu'in.

Tahap ini berkaitan dengan penyempurnaan perkawinan dan dimulainya kehidupan rumah tangga bersama.

Dalam tradisi Yahudi yang berkembang kemudian, tahap ini ditandai dengan upacara perkawinan dan masuknya pengantin perempuan ke dalam rumah tangga suaminya.

Dengan demikian, terdapat perbedaan antara ikatan perkawinan yang sudah terbentuk dan dimulainya kehidupan bersama.

Perlu dicatat bahwa rincian istilah dan tata cara ini terutama terdokumentasi dalam sumber hukum Yahudi rabinik yang lebih kemudian. Kita tidak boleh menganggap semua prosedur tersebut sudah dilakukan dengan bentuk yang persis sama pada zaman Maria dan Yusuf.

Namun, pembedaan ini membantu kita memahami mengapa pertunangan dalam Matius 1 memiliki konsekuensi yang begitu serius.


2. Mengapa Pertunangan Maria dan Yusuf Berbeda dengan Pertunangan Modern?

Dalam masyarakat modern, pertunangan umumnya merupakan pernyataan keseriusan untuk menikah. Pasangan belum otomatis memiliki status sebagai suami dan istri.

Jika pertunangan dibatalkan, biasanya tidak diperlukan proses perceraian sebagaimana dalam perkawinan.

Namun, dalam tradisi Yahudi, khususnya pada tahap kiddushin, ikatan tersebut sudah memiliki konsekuensi hukum perkawinan.

Perbedaan ini membantu kita memahami kisah Maria dan Yusuf.

Matius 1:18 menyatakan bahwa Maria telah bertunangan dengan Yusuf. Namun, sebelum mereka hidup sebagai suami istri, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus.

Dalam konteks masyarakat Yahudi, Maria sudah berada dalam ikatan perkawinan yang diakui secara hukum, meskipun kehidupan rumah tangga bersama Yusuf belum dimulai.

Karena itu, kita tidak boleh langsung menyamakan pertunangan Maria dan Yusuf dengan acara pertunangan yang biasa dilakukan pasangan Kristen sekarang.

Keduanya memiliki konteks budaya dan hukum yang berbeda.



3. Kisah Maria dan Yusuf: Mengapa Yusuf Ingin Menceraikan Maria?

Matius 1:18-19 merupakan bagian Alkitab yang sangat penting untuk memahami kedudukan pertunangan dalam tradisi Yahudi.

Ketika Maria diketahui mengandung sebelum mereka hidup bersama, Yusuf menghadapi persoalan yang sangat serius.


Matius 1:19 menyebut Yusuf sebagai suami Maria, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum. Karena itu, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

Mengapa Yusuf berpikir demikian?

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan.


Yusuf Sudah Terikat dalam Hubungan Perkawinan

Matius menggunakan kata Yunani mnēsteuō (μνηστεύω), yang berarti bertunangan.

Sementara itu, Yusuf disebut sebagai suami Maria. Hal ini tidak bertentangan karena pertunangan dalam konteks Yahudi tersebut sudah memiliki konsekuensi hukum perkawinan.

Dengan demikian, Yusuf bukan sekadar laki-laki yang sedang mempertimbangkan apakah akan melanjutkan hubungan pacarannya.

Ia adalah laki-laki yang sudah terikat dengan Maria dalam suatu komitmen perkawinan menurut tradisi hukum Yahudi.


Kehamilan Maria Menimbulkan Persoalan Kesetiaan

Dalam masyarakat Yahudi, kesetiaan dalam ikatan perkawinan merupakan persoalan serius.

Karena Maria diketahui mengandung sebelum mereka hidup bersama, keadaan tersebut dapat menimbulkan dugaan pelanggaran kesetiaan dalam hubungan mereka.

Kita harus mengingat bahwa masyarakat pada zaman itu sangat memperhatikan kehormatan keluarga dan kesetiaan seksual.

Karena itu, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut hubungan pribadi Maria dan Yusuf, tetapi juga kehormatan keluarga dan kedudukan mereka dalam masyarakat.


Yusuf Memilih Tidak Mempermalukan Maria

Hal yang menarik adalah Matius tidak hanya menggambarkan Yusuf sebagai orang yang mempertimbangkan ketentuan hukum.

Ia juga digambarkan sebagai orang yang tidak ingin mempermalukan Maria di depan umum.

Di sini kita melihat perpaduan antara kebenaran dan belas kasihan.

Yusuf menghadapi situasi yang sangat sulit. Namun, ia tidak ingin menyelesaikannya dengan mempermalukan Maria.

Kita dapat belajar bahwa komitmen dalam hubungan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan rasa hormat dan belas kasihan terhadap pasangannya.



4. Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Matius 1:18-25?

Kisah Maria dan Yusuf memberikan beberapa pelajaran penting mengenai hubungan sebelum pernikahan.

Komitmen Harus Dipandang Serius

Pertunangan bukan sekadar acara keluarga atau simbol bahwa dua orang akan menikah.

Dalam konteks Alkitab, kita melihat bahwa komitmen menuju perkawinan memiliki konsekuensi yang serius.

Bagi pasangan Kristen masa kini, prinsip ini tetap relevan. Ketika seseorang menyatakan kesediaan untuk menikah, ia perlu memahami bahwa perkataan tersebut membawa tanggung jawab moral.

Kesetiaan Tidak Hanya Berhubungan dengan Status Perkawinan

Kesetiaan merupakan nilai yang perlu dibangun sejak masa persiapan pernikahan.

Pasangan yang bertunangan perlu belajar menghormati komitmen, menjaga kepercayaan, dan menghindari tindakan yang dapat merusak hubungan.

Kesetiaan bukan hanya persoalan tidak menjalin hubungan dengan orang lain, tetapi juga menyangkut kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab emosional.

Belas Kasihan Harus Menyertai Kebenaran

Yusuf disebut sebagai orang yang benar, tetapi ia juga tidak ingin mempermalukan Maria.

Ini menjadi pelajaran penting bagi pasangan maupun konselor Kristen.

Ketika muncul persoalan dalam hubungan, penyelesaiannya tidak boleh hanya berorientasi pada siapa yang benar dan siapa yang salah.

Cara memperlakukan pasangan juga harus mencerminkan kasih, penghormatan, dan belas kasihan.

Ketaatan kepada Allah Harus Lebih Besar daripada Penilaian Masyarakat

Setelah menerima penjelasan malaikat melalui mimpi, Yusuf mengambil Maria sebagai istrinya dan menaati perintah Tuhan.

Ia tidak membiarkan penilaian masyarakat menjadi dasar utama keputusannya.

Bagi pasangan Kristen, kisah ini mengingatkan bahwa kehidupan perkawinan harus dibangun berdasarkan ketaatan kepada Allah, bukan semata-mata tekanan keluarga atau harapan sosial.


5. Apa Hubungan Pertunangan dengan Hukum Taurat?

Untuk memperdalam pemahaman mengenai pertunangan Yahudi, kita juga dapat membaca Ulangan 22:23-27.

Bagian ini membicarakan persoalan hubungan seksual dengan perempuan yang sudah bertunangan.

Dalam ketentuan tersebut, hubungan seksual dengan perempuan yang sudah bertunangan diperlakukan sebagai pelanggaran serius terhadap ikatan perkawinan.

Hal ini menunjukkan bahwa pertunangan dalam konteks hukum Taurat bukan sekadar hubungan romantis yang belum memiliki konsekuensi.

Namun, ada hal penting yang harus diperhatikan.

Ulangan 22:25-27 membedakan antara hubungan seksual atas persetujuan dan pemaksaan seksual. Perempuan yang menjadi korban pemaksaan tidak diperlakukan sebagai pihak yang bersalah.

Pembedaan ini penting agar kita tidak menggunakan pembahasan mengenai kesetiaan seksual untuk mengabaikan keadilan dan perlindungan terhadap korban kekerasan.

Dari bagian ini, kita dapat melihat bahwa komitmen perkawinan dalam Alkitab memiliki dimensi kesetiaan, keadilan, dan tanggung jawab.


6. Apakah Maria dan Yusuf Sudah Menjadi Suami Istri?

Pertanyaan ini sering muncul ketika orang membaca Matius 1.

Jika mereka sudah bertunangan dan ikatannya memiliki konsekuensi hukum perkawinan, mengapa Matius masih mengatakan bahwa mereka belum hidup sebagai suami istri?

Jawabannya berkaitan dengan perbedaan antara ikatan hukum perkawinan dan kehidupan rumah tangga bersama.

Dalam tradisi Yahudi, tahap *kiddushin* sudah menciptakan ikatan perkawinan. Namun, pasangan belum memulai kehidupan rumah tangga sebagaimana tahap *nisu'in*.

Matius 1:24 menyatakan bahwa setelah menerima pesan malaikat, Yusuf mengambil Maria sebagai istrinya.

Kemudian, Matius 1:25 menegaskan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai ia melahirkan seorang anak laki-laki.

Urutan ini memperlihatkan bahwa Matius membedakan keadaan Maria dan Yusuf sebelum dan sesudah mereka memasuki kehidupan perkawinan bersama.

Bagi pembaca modern, hal ini penting karena kita tidak boleh memahami pertunangan Yahudi menggunakan pengertian pertunangan yang berlaku dalam masyarakat sekarang.


7. Pandangan Para Penelaah Alkitab Mengenai Pertunangan Maria dan Yusuf



Beberapa ahli Alkitab telah membahas kisah Maria dan Yusuf dari sudut pandang sejarah, budaya, hukum, dan teologi.

Berikut beberapa sumber yang dapat membantu pembaca memahami persoalan ini secara lebih mendalam.

Raymond E. Born – The Birth of the Messiah

Raymond E. Brown merupakan salah satu ahli Perjanjian Baru yang sangat dikenal melalui penelitiannya mengenai narasi kelahiran Yesus.

Dalam bukunya The Birth of the Messiah, Brown membahas latar sejarah dan teologi kisah kelahiran Yesus dalam Injil Matius dan Lukas.

Pembahasannya membantu pembaca memahami bahwa pertunangan Maria dan Yusuf harus dilihat dalam konteks perkawinan Yahudi pada masa itu.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi orang yang ingin mempelajari kisah kelahiran Yesus secara akademis.

Craig S. Keener – A Commentary on the Gospel of Matthew

Craig S. Keener memberikan perhatian besar terhadap latar sosial dan budaya masyarakat pada zaman Perjanjian Baru.

Melalui komentarnya terhadap Injil Matius, pembaca dapat memahami mengapa kehamilan Maria menjadi persoalan serius bagi Yusuf.

Penjelasan Keener membantu kita melihat bahwa hubungan Maria dan Yusuf bukan sekadar kisah romantis, tetapi juga berkaitan dengan hukum, kehormatan keluarga, dan kesetiaan.

Philip F. Esler – The Righteousness of Joseph

Philip F. Esler menerbitkan penelitian berjudul The Righteousness of Joseph: Interpreting Matt 1.18–25 in Light of Judean Legal Papyri pada tahun 2022.

Penelitian ini menarik karena menggunakan dokumen-dokumen hukum Yahudi kuno untuk membantu memahami kisah Yusuf.

Esler membahas makna Yusuf sebagai orang benar dan bagaimana tindakan Yusuf dapat dipahami melalui nilai hukum serta kehormatan masyarakat Yahudi.

Tulisan ini sangat bermanfaat bagi konselor Kristen dan pengajar Alkitab yang ingin memahami Matius 1 secara lebih mendalam.



Adrian Thatcher – Living Together and Christian Ethics

Adrian Thatcher membahas pertunangan dalam Alkitab melalui pendekatan etika Kristen.

Buku Living Together and Christian Ethics memperkenalkan pembaca pada hubungan antara tradisi pertunangan Alkitab dan perkembangan pemahaman perkawinan dalam sejarah kekristenan.

Buku ini juga membantu kita mempertimbangkan bagaimana prinsip-prinsip Alkitab mengenai perkawinan diterapkan dalam kehidupan modern.

Peter Zaas – Matthew's Birth Story

Peter Zaas menulis artikel akademis Matthew's Birth Story: An Early Milepost in the History of Jewish Marriage Law.

Artikel ini mengangkat hubungan antara kisah kelahiran Yesus dan perkembangan hukum perkawinan Yahudi.

Pembahasannya menarik karena mencoba memahami kisah Matius melalui sejarah hukum perkawinan, bukan hanya melalui pembacaan teologis.


8. Apakah Pertunangan dalam Alkitab Harus Diterapkan Sama Persis Sekarang?

Ini merupakan salah satu pertanyaan terpenting bagi pasangan Kristen dan konselor pernikahan.

Jawabannya adalah tidak semua praktik pertunangan Yahudi pada zaman Alkitab harus diterapkan secara identik dalam kehidupan Kristen masa kini.

Ada perbedaan besar antara sistem hukum perkawinan Yahudi pada zaman Yesus dan sistem hukum perkawinan modern.

Dalam konteks Indonesia, pertunangan tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai suami atau istri menurut hukum perkawinan.

Karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa pasangan Kristen yang sudah bertunangan sekarang secara otomatis memiliki kedudukan hukum yang sama dengan Maria dan Yusuf.

Namun, ada prinsip-prinsip moral yang tetap relevan.

Pertama, komitmen harus dihormati.

Pasangan yang sudah menyatakan kesediaan untuk menikah perlu memperlakukan komitmen tersebut secara serius. Pertunangan bukan permainan emosional.

Kedua, kesetiaan harus dijaga.

Meskipun belum menikah, pasangan tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan dan tidak mempermainkan perasaan satu sama lain.

Ketiga, pengendalian diri merupakan bagian dari kedewasaan.

Dalam etika Kristen, hubungan seksual ditempatkan dalam ikatan perkawinan. Karena itu, pertunangan tidak dapat dijadikan alasan untuk menganggap batasan tersebut sudah berubah.

Keempat, tanggung jawab harus mulai dipersiapkan.

Pasangan perlu membicarakan keuangan, hubungan dengan keluarga besar, anak, pendidikan, pekerjaan, dan berbagai persoalan kehidupan rumah tangga.

Kelima, keputusan menikah harus didasarkan pada kesadaran, bukan tekanan.

Pertunangan tidak berarti seseorang harus tetap menikah meskipun ditemukan persoalan mendasar seperti kekerasan, manipulasi, atau ketidakjujuran serius.

Membatalkan pertunangan memang dapat menyakitkan, tetapi memaksakan pernikahan yang tidak sehat juga bukan keputusan yang bijaksana.


9. Panduan bagi Konselor Pernikahan Kristen dalam Mendampingi Pasangan Bertunangan

Pemahaman mengenai pertunangan dalam Alkitab dapat menjadi dasar penting bagi pelayanan konseling pranikah di gereja.

Konselor tidak cukup hanya membantu pasangan mempersiapkan upacara pernikahan. Mereka juga perlu mendampingi pasangan memahami makna komitmen dan tanggung jawab yang sedang mereka bangun.

Berikut beberapa bidang yang dapat menjadi perhatian dalam konseling pranikah.

A. Memahami Motivasi Menikah

Konselor perlu membantu pasangan mengevaluasi alasan mereka ingin menikah.

Apakah keputusan tersebut lahir dari kedewasaan dan kesediaan membangun kehidupan bersama, atau karena tekanan keluarga, usia, kehamilan, rasa takut kehilangan, dan alasan lainnya?

Memahami motivasi merupakan langkah awal untuk membangun keputusan yang sehat.

B. Membicarakan Perbedaan Karakter

Setiap orang membawa kebiasaan dan pola hubungan yang dibentuk oleh keluarga asalnya.

Konselor dapat membantu pasangan memahami bagaimana pengalaman masa kecil, pola komunikasi orang tua, dan kebiasaan keluarga memengaruhi kehidupan mereka sekarang.

Tujuannya bukan mencari siapa yang lebih benar, tetapi belajar memahami perbedaan.

C. Membicarakan Keuangan dan Tanggung Jawab

Persoalan keuangan merupakan salah satu hal yang sering menimbulkan konflik rumah tangga.

Pasangan perlu membicarakan penghasilan, utang, tabungan, pekerjaan, tanggung jawab ekonomi, serta bagaimana keputusan keuangan akan dibuat.

D. Membahas Seksualitas dan Batasan Hubungan

Konselor Kristen perlu membicarakan pandangan Alkitab mengenai seksualitas, kesetiaan, penghormatan terhadap tubuh, dan pengendalian diri.

Pembahasan ini sebaiknya dilakukan secara terbuka, tidak mempermalukan, dan tidak menggunakan rasa bersalah sebagai alat untuk mengendalikan pasangan.

E. Mengenali Tanda Hubungan yang Tidak Sehat

Pertunangan merupakan waktu yang penting untuk mengenali persoalan yang mungkin menjadi ancaman bagi kehidupan rumah tangga.

Konselor perlu memperhatikan adanya kekerasan, kontrol berlebihan, manipulasi, kebohongan, ancaman, dan perilaku merendahkan pasangan.

Apabila ditemukan kekerasan atau risiko keselamatan, prioritasnya adalah perlindungan pihak yang terdampak, bukan mempertahankan rencana pernikahan.

F. Mempersiapkan Kehidupan Setelah Pernikahan

Pasangan perlu memahami bahwa pernikahan bukan hanya sebuah upacara, melainkan kehidupan sehari-hari yang menuntut kerja sama.

Konselor dapat membantu mereka membicarakan pembagian tanggung jawab, pengasuhan anak, hubungan dengan keluarga besar, pekerjaan, dan cara menyelesaikan konflik.

Dengan demikian, konseling pranikah menjadi proses pembentukan kedewasaan, bukan sekadar formalitas sebelum pemberkatan atau pencatatan perkawinan.


10. Kesimpulan: Pertunangan Adalah Komitmen yang Perlu Dihormati

Kisah Maria dan Yusuf dalam Matius 1:18-25 memberikan gambaran yang sangat menarik mengenai kedudukan pertunangan dalam tradisi Yahudi.

Pada masa itu, pertunangan memiliki konsekuensi hukum perkawinan yang jauh lebih kuat dibandingkan pertunangan modern.

Karena itu, Yusuf tidak dapat begitu saja membatalkan hubungannya dengan Maria. Ia mempertimbangkan perceraian karena ikatan mereka sudah memiliki kedudukan hukum yang serius.

Namun, kita tidak boleh menyamakan seluruh praktik pertunangan Yahudi pada zaman Alkitab dengan pertunangan Kristen masa kini.

Dalam konteks modern, pertunangan merupakan komitmen menuju pernikahan, tetapi belum menjadikan pasangan sebagai suami dan istri.

Meskipun demikian, prinsip-prinsip Alkitab mengenai kesetiaan, tanggung jawab, penghormatan, pengendalian diri, dan belas kasihan tetap relevan.

Bagi pasangan yang sedang bertunangan, masa ini seharusnya digunakan untuk mempersiapkan diri memasuki kehidupan rumah tangga dengan lebih matang.

Bagi gereja dan konselor pernikahan, pemahaman ini dapat menjadi landasan untuk mendampingi pasangan agar tidak hanya mempersiapkan pesta pernikahan, tetapi juga membangun fondasi kehidupan keluarga yang sehat.

Ada satu prinsip yang perlu diingat:

Jangan memperlakukan tunangan seolah-olah sudah menjadi suami atau istri, tetapi jangan pula memperlakukan tunangan seolah-olah masih sekadar pacaran.

Pertunangan adalah komitmen yang serius menuju pernikahan. Ia perlu dihormati, dijaga, dan dijalani dengan kedewasaan.

Pada akhirnya, tujuan persiapan pernikahan Kristen bukan sekadar menyatukan dua orang dalam sebuah upacara, tetapi menolong mereka membangun kehidupan bersama berdasarkan kasih, kesetiaan, tanggung jawab, dan ketaatan kepada Allah.

BACA JUGA:

Arti Tunangan yang sebenarnya

Jangan Hanya Mempersiapkan Pernikahan: 7 Hal Penting Sebelum Menikah  

7 Hal Penting Percakapan Sebelum Memutuskan Menikah


Posting Komentar