Suami atau Istri, Siapa yang Lebih Dominan dalam Rumah Tangga?
Table of Contents
Pernahkah Anda menyadari bahwa dalam sebuah rumah tangga, keputusan-keputusan kecil pun hampir selalu datang dari orang yang sama?
Mau makan di mana, liburan ke mana, anak sekolah di mana, uang digunakan untuk apa, bahkan kapan harus mengunjungi keluarga besar—semuanya seolah sudah memiliki “pusat komando”. Pasangan yang lain akhirnya lebih sering menjawab, “Terserah kamu.”
Sekilas, keadaan seperti ini mungkin terlihat praktis. Bukankah memang harus ada seseorang yang lebih banyak mengambil keputusan?
Masalahnya bukan pada siapa yang lebih sering memimpin, melainkan apakah pasangan yang lain masih memiliki ruang untuk berpikir, berpendapat, menolak, dan ikut menentukan arah keluarga.
Karena rumah tangga yang sehat bukan pertandingan untuk menentukan siapa yang paling berkuasa. Rumah tangga adalah kemitraan.
Dominan Bukan Berarti Punya Peran Lebih Banyak
Istilah “dominan” sering rancu dengan peran suami sebagai kepala keluarga. Padahal keduanya tidak selalu sama.
Seseorang bisa lebih dominan dalam bidang tertentu tanpa berarti menjadi penguasa rumah tangga. Misalnya, istri lebih banyak mengatur keuangan karena memang lebih teliti, sementara suami lebih banyak mengambil keputusan berkaitan dengan kendaraan atau pekerjaan rumah.
Itu bukan masalah selama keputusan penting tetap dapat dibicarakan bersama.
Dominasi menjadi tidak sehat ketika satu pihak merasa pendapatnya otomatis lebih penting, sedangkan pasangan hanya diminta mengikuti.
Kalimat seperti “Pokoknya saya sudah putuskan” atau “Kamu ikut saja” mungkin terdengar sederhana. Namun jika terus menjadi pola, pasangan perlahan belajar bahwa pendapatnya tidak terlalu diperlukan.
Di situlah persoalannya dimulai.
Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Terlalu Dominan?
Ada banyak kemungkinan.
Perbedaan penghasilan, pendidikan, status sosial, pengalaman, bahkan kepribadian dapat membuat seseorang merasa lebih kompeten daripada pasangannya. Orang yang lebih banyak menghasilkan uang, misalnya, bisa tanpa sadar merasa mempunyai hak lebih besar untuk menentukan penggunaan uang keluarga.
Sebaliknya, pasangan yang merasa kontribusinya lebih kecil bisa memilih diam.
Ada pula pola yang dibawa dari keluarga asal. Seseorang yang sejak kecil terbiasa melihat ayah atau ibunya selalu menentukan segala sesuatu mungkin menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang normal.
Namun ada penyebab lain yang sering luput diperhatikan: pasangan yang dominan kadang muncul karena pasangan lainnya terlalu lama menyerahkan keputusan.
Awalnya mungkin karena malas berdebat.
“Ya sudah, kamu saja yang pilih.”
Lama-kelamaan menjadi kebiasaan.
Akhirnya satu pihak terbiasa memutuskan, sementara pihak lainnya terbiasa mengikuti. Tanpa disadari, rumah tangga membentuk hubungan antara pengambil keputusan dan pengikut keputusan.
Bukan Hanya Keputusan, Ada yang Disebut Mental Load
Salah satu perkembangan penting dalam pembicaraan tentang relasi pasangan sekarang adalah istilah mental load.
Mental load bukan sekadar melakukan pekerjaan rumah. Ia mencakup beban untuk mengingat, merencanakan, mengantisipasi, dan memastikan semuanya berjalan.
Siapa yang ingat jadwal imunisasi anak?
Siapa yang tahu tagihan apa yang harus dibayar?
Siapa yang memikirkan bekal sekolah besok?
Siapa yang ingat stok kebutuhan rumah sudah habis?
Siapa yang memikirkan ulang tahun orang tua?
Menariknya, orang yang memegang mental load kadang justru bukan orang yang terlihat paling dominan.
Seorang istri mungkin terlihat sebagai “pengatur rumah”, tetapi sebenarnya ia sedang memikul beban kognitif yang besar. Sebaliknya, seorang suami bisa terlihat sebagai pengambil keputusan keuangan, tetapi mungkin justru istrinya yang mengelola sebagian besar pekerjaan administratif keluarga.
Karena itu, mengukur dominasi hanya dari “siapa yang mengambil keputusan” tidak lagi cukup.
Kita juga perlu bertanya: siapa yang memikul beban untuk membuat keluarga tetap berjalan?
Penelitian terbaru mengenai pembagian pekerjaan rumah bahkan membedakan beban fisik dan beban kognitif, dan menemukan bahwa perubahan menuju pembagian yang lebih egaliter dapat berkaitan dengan kesejahteraan dan fungsi hubungan yang lebih baik.
Ketika “Saya Tidak Bisa” Menjadi Cara Menghindari Tanggung Jawab
Ada fenomena lain yang sekarang semakin sering dibicarakan: weaponized incompetence.
Sederhananya, seseorang terus-menerus menunjukkan ketidakmampuan dalam mengerjakan sesuatu sehingga akhirnya pasangan mengambil alih.
Misalnya, setiap kali diminta mengurus administrasi sekolah anak selalu berkata, “Saya tidak mengerti.” Ketika mencoba memasak lalu hasilnya kurang baik, ia kemudian berkata, “Memang saya tidak bisa masak.”
Jika terjadi sekali, itu mungkin memang ketidakmampuan.
Tetapi kalau ketidakmampuan tersebut terus dipelihara sehingga semua tanggung jawab akhirnya kembali kepada pasangan, masalahnya bukan lagi sekadar keterampilan.
Istilah ini memang populer dalam diskursus relasi beberapa tahun terakhir dan banyak digunakan untuk menggambarkan ketimpangan tanggung jawab domestik.
Menariknya, perilaku seperti ini bisa menjadi bentuk dominasi yang sangat halus.
Bukan dengan berkata, “Saya yang berkuasa.”
Tetapi dengan membuat pasangan berpikir, “Sudahlah, biar saya saja yang mengerjakan.”
Bahaya Terbesar: Pasangan Berhenti Menjadi Rekan
Dominasi yang terus berlangsung dapat menghasilkan dua posisi yang sama-sama tidak sehat.
Pihak pertama menjadi terlalu mengontrol.
Pihak kedua menjadi terlalu bergantung.
Lama-kelamaan pasangan yang selalu diatur bisa kehilangan keberanian untuk mengambil keputusan. Ia takut salah, takut dikritik, atau merasa percuma mengemukakan pendapat karena keputusan akhirnya selalu berubah mengikuti keinginan pasangannya.
Sebaliknya, pihak yang selalu mengontrol juga kelelahan karena merasa semua hal harus berada di bawah pengawasannya.
Akhirnya muncul hubungan yang aneh: satu orang merasa “Saya harus mengurus semuanya”, sedangkan yang lain merasa “Saya tidak pernah dipercaya.”
Padahal keduanya sama-sama lelah.
Beban kerja yang tinggi juga dapat berdampak pada kepuasan perkawinan dari waktu ke waktu, termasuk melalui efek beban pasangan terhadap kondisi hubungan.
Ada Perbedaan antara Dominasi dan Kontrol
Ini bagian yang penting.
Tidak semua pasangan yang memiliki satu pihak lebih dominan berarti berada dalam hubungan abusif.
Ada keluarga yang memang memiliki pembagian peran yang tidak sama persis, tetapi tetap sehat karena keputusan dibuat berdasarkan kesepakatan dan masing-masing pasangan merasa dihargai.
Namun jika dominasi sudah berubah menjadi kontrol terhadap kehidupan pasangan, persoalannya menjadi lebih serius.
Misalnya pasangan melarang bergaul dengan orang tertentu, mengontrol uang secara berlebihan, membatasi akses komunikasi, mengawasi aktivitas secara ekstrem, mengancam, atau membuat pasangan takut menyampaikan pendapat.
Ini bukan lagi sekadar persoalan “karakter dominan”.
Kontrol dan kekuasaan yang digunakan untuk menghilangkan kesetaraan pasangan dapat menjadi bagian dari pola kekerasan dalam hubungan. (The Hotline)
Karena itu, nasihat “komunikasikan saja” tidak selalu cukup untuk situasi yang sudah mengandung intimidasi atau kekerasan.
Bagaimana Mengubah Hubungan Penguasa dan Pengikut Menjadi Kemitraan?
Pertama, petakan keputusan keluarga.
Coba tuliskan siapa yang biasanya mengambil keputusan tentang uang, anak, pekerjaan rumah, keluarga besar, liburan, kesehatan, dan rencana masa depan.
Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk melihat pola.
Kedua, bedakan “punya keahlian” dengan “punya kuasa”.
Jika istri lebih pintar mengatur keuangan, bukan berarti semua keputusan keuangan harus menjadi hak mutlaknya. Jika suami lebih memahami kendaraan, bukan berarti keputusan membeli kendaraan tidak perlu dibicarakan.
Ketiga, bagi tanggung jawab, bukan hanya pekerjaan.
Jangan sekadar berkata, “Kamu bantu saya mencuci.”
Lebih sehat jika mengatakan, “Kamu bertanggung jawab atas urusan pakaian keluarga.”
Ada perbedaan besar antara membantu dan memiliki tanggung jawab.
Keempat, latih pengambilan keputusan bersama dari hal kecil.
Tidak perlu langsung membahas investasi, sekolah anak, atau pembelian rumah. Mulailah dari pertanyaan sederhana:
“Menurutmu bagaimana?”
Dan yang lebih penting, setelah bertanya, bersedia mendengarkan jawabannya.
Kelima, jangan menggunakan kontribusi ekonomi sebagai kartu kemenangan.
Penghasilan memang penting. Tetapi rumah tangga bukan perusahaan yang menentukan nilai seseorang berdasarkan besarnya pemasukan.
Mengurus anak, menjaga rumah, mendukung pasangan, mengelola pekerjaan domestik dan menjaga kehidupan keluarga juga merupakan kontribusi.
Pada akhirnya, pertanyaan terbaik bukan lagi:
“Siapa yang lebih dominan, suami atau istri?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Apakah pasangan saya masih merasa memiliki suara di dalam rumah ini?”
Sebab dalam pernikahan yang sehat, seseorang tidak harus kehilangan dirinya agar hubungan tetap berjalan.
Boleh ada yang lebih kuat dalam bidang tertentu. Boleh ada yang lebih sering memimpin. Boleh pula keputusan tertentu diserahkan kepada salah satu pihak.
Tetapi keduanya tetap memiliki sesuatu yang sama: hak untuk didengar, dihargai, dipercaya, dan ikut menentukan kehidupan yang sedang mereka bangun bersama.
Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga tanpa pemimpin.
Ia adalah rumah tangga yang tidak membutuhkan seorang penguasa.



Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.