Apa yang Akan terjadi Saat Kebutuhan Material Anak Terpenuhi, tapi Kehadiran Emosional Hilang?
Keluarga Tak Peduli Anak dalam Pemikiran Erich Fromm
Dalam dunia modern, banyak keluarga tampak “baik-baik saja”. Kebutuhan materi tercukupi, pendidikan direncanakan, dan masa depan anak dipersiapkan dengan serius. Namun Erich Fromm mengingatkan bahwa ada satu bentuk keluarga yang secara lahiriah rapi, tetapi menyimpan masalah mendalam yaitu keluarga tak peduli.
Gagasan ini terasa semakin relevan hari ini, ketika kesibukan, tuntutan produktivitas, dan orientasi material sering menggantikan kehadiran emosional orang tua.
Apa yang Dimaksud Keluarga Tak Peduli?
Menurut Fromm, keluarga tak peduli adalah pola keluarga di mana:
• kebutuhan fisik dan material anak terpenuhi,
• aturan sosial dijalankan dengan baik,
• tetapi hubungan emosional antara orang tua dan anak sangat minim.
Orang tua tidak selalu abai secara sengaja. Mereka bisa saja:
• bekerja keras demi masa depan anak,
• percaya bahwa kemandirian harus dibentuk sejak dini,
• mengira cinta cukup diwujudkan lewat fasilitas dan pendidikan.
Namun bagi Fromm, cinta tidak pernah cukup bila hanya hadir dalam bentuk materi.
Pesan Utama Fromm: Anak Membutuhkan Kehadiran, Bukan Sekadar Fasilitas
Fromm menekankan bahwa manusia memiliki dua kebutuhan dasar, kebebasan, dan keterhubungan (relatedness).
Keluarga tak peduli sering kali memberi kebebasan, anak tidak terlalu dikontrol, tetapi gagal memenuhi kebutuhan keterhubungan.
Akibatnya, anak, memang belajar hidup mandiri, tetapi tidak belajar merasa dicintai, dan tumbuh tanpa pengalaman kelekatan emosional yang sehat. Fromm menyebut kondisi ini sebagai keterasingan (alienation) sejak dini.
Ciri-Ciri Keluarga Tak Peduli di Era Modern
Dalam konteks keluarga masa kini, pola ini tampak melalui:
• orang tua jarang hadir secara emosional meski tinggal serumah,
• interaksi digantikan layar dan rutinitas,
• dialog batin anak dianggap berlebihan atau “drama”,
• anak dipuji karena “tidak merepotkan”.
Keluarga berjalan efisien, tetapi relasi menjadi kering.
Dampak Jangka Panjang bagi Kepribadian Anak
Fromm tidak berbicara tentang dampak sesaat, melainkan pola kepribadian dewasa.
1. Kemandirian yang Kosong
Anak terlihat kuat dan mandiri, tetapi:
• sulit mengekspresikan kebutuhan emosional,
• merasa lemah ketika bergantung pada orang lain,
• menutup diri dalam relasi intim.
2. Kesulitan Membangun Kedekatan
Karena tidak mengalami kehadiran emosional, anak dewasa:
• menjaga jarak dalam hubungan,
• takut bergantung atau dipercaya,
• mencintai tanpa keintiman yang utuh.
3. Mencari Pengganti Kehadiran
Fromm melihat banyak individu modern yang, tenggelam dalam kerja berlebihan, konsumsi tanpa henti, dan relasi dangkal, sebagai upaya mengisi kekosongan afektif masa kecil.
Kritik Sosial Fromm: Keluarga Tak Peduli sebagai Produk Zaman
Fromm tidak menyalahkan orang tua semata. Ia mengaitkan keluarga tak peduli dengan:
• budaya produktivitas,
• logika ekonomi modern,
• manusia yang dihargai berdasarkan fungsi, bukan kehadiran.
Dalam masyarakat seperti ini, keluarga pun tanpa sadar mereproduksi nilai yang sama, anak dipersiapkan untuk “berhasil”, tetapi tidak selalu ditemani untuk menjadi manusia utuh.
Mengapa Gagasan Ini Sangat Relevan Hari Ini?
Di era modern, kehadiran sering digantikan oleh pemberian, perhatian digantikan oleh fasilitas, dan cinta digantikan oleh rencana masa depan.
Fromm mengingatkan bahwa, yang paling dibutuhkan anak bukanlah apa yang dimiliki orang tuanya, melainkan apakah orang tuanya sungguh hadir.
Penutup: Menghadirkan Kembali Cinta yang Manusiawi
Keluarga tak peduli bukan keluarga jahat. Ia sering lahir dari niat baik yang salah arah. Melalui gagasan ini, Fromm mengajak orang tua untuk berhenti sejenak dan bertanya, apakah anak saya merasa ditemani? Apakah ia aman mengekspresikan perasaannya? Apakah rumah menjadi tempat pulang, atau sekadar tempat tinggal?
Karena pada akhirnya, kehadiran tidak bisa digantikan oleh apa pun.

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.