Ketika Anak “Didiamkan”: Refleksi Orang Tua di Tengah Sibuknya Dunia Modern
Membaca Kebiasaan Sehari-hari Lewat Gagasan Erich Fromm
Hampir semua orang tua pernah berada pada situasi ini, anak mendekat ketika kita sedang sibuk-sibuknya, entah itu menerima tamu, bekerja, berbincang, atau sekadar lelah dan ingin “diam sejenak”. Lalu, dengan berbagai cara yang tampak wajar, anak diarahkan untuk sibuk sendiri.
Bentuk 'pengusiran' kepada anak banyak macamnya, bisa lewat gawai, kadang lewat mainan, tapi juga bisa dalam bentuk kalimat sederhana: “Main dulu ya. Mama lagi sibuk” Atau juga, dengan kata-kata yang tidak mengenakkan, "Pergi sana, apa gak lihat papa sedang repot?"
Awalnya kita sadar betul, bahkan yakin, bahwa pola ini tidak ideal. Namun ketika kita sendiri berada di dalamnya, penilaian itu menjadi jauh lebih lunak, dan sering kali, kita pun melakukannya.
Di titik inilah pemikiran Erich Fromm terasa bukan sebagai teori, melainkan pengingat yang sangat manusiawi.
Antara Tahu yang Ideal dan Hidup yang Nyata
Fromm memahami bahwa manusia, termasuk orang tua, tidak hidup dalam kondisi ideal. Kita hidup dalam posisi yang mungkin sebagian orang memahami kenapa kita berlaku seperti itu. Misalkan kita dalam:
• kelelahan,
• tuntutan sosial,
• ritme cepat,
• dan distraksi yang nyaris tanpa jeda.
Karena itu, Fromm tidak memulai dari pertanyaan, “Apa yang seharusnya dilakukan orang tua?” Melainkan, "Dalam kondisi seperti apa manusia akhirnya menjauh satu sama lain?”
Mendiamkan anak agar “tidak mengganggu” sering kali bukan keputusan sadar untuk mengabaikan, melainkan respon spontan terhadap keterbatasan diri.
Dari Sudut Pandang Anak: Pesan yang Diam-diam Tersampaikan
Masalah utama bukan pada satu-dua kali anak diminta bermain sendiri. Yang penting adalah pesan emosional yang ditangkap anak. Anak tidak menganalisis secara rasional. Ia merasakan.
Jika pola ini sering terjadi, anak bisa saja belajar secara diam-diam, dan menafsirkan sendiri situasi yang sedang dialaminya:
• kehadiranku mengganggu,
• kebutuhanku harus ditahan,
• lebih aman sibuk sendiri daripada mendekat.
Inilah yang oleh Fromm disebut sebagai awal keterasingan yang halus, bukan karena orang tua jahat, tetapi karena jarak yang dibiarkan tumbuh tanpa disadari.
Perbedaan Penting yang Sering Terlewat
Ada perbedaan besar antara, anak yang bermain sendiri karena aman dan anak yang bermain sendiri karena merasa tidak diinginkan saat mendekat.
Fromm akan menekankan bahwa, yang paling penting bukan apakah orang tua sibuk, tetapi apakah anak merasa orang tua tetap tersedia secara emosional. Anak bisa menerima orang tua yang sibuk. Namun anak sulit bertumbuh dengan orang tua yang selalu tidak hadir.
Mengapa Pola Ini Sangat Umum di Zaman Sekarang?
Fromm melihat keluarga sebagai cermin masyarakat.
Di dunia modern:
• perhatian menjadi barang langka,
• kehadiran tergantikan oleh efisiensi,
• diam dianggap tertib,
• sibuk dianggap bertanggung jawab.
Tanpa sadar, anak pun didorong menyesuaikan diri dengan logika yang sama yaitu “Jadilah anak yang tidak merepotkan.”
Inilah bentuk keluarga tak peduli yang paling sunyi dan mungkin banyak yang memaklumi untuk terjadi, bukan karena tidak cinta, tetapi karena cinta tidak sempat hadir.
Refleksi yang Lebih Jujur bagi Orang Tua
Kesadaran seperti yang kamu ceritakan adalah titik penting, bahwa apa yang kita nilai tidak baik, ternyata bisa kita lakukan sendiri. Fromm percaya perubahan tidak lahir dari rasa bersalah, melainkan dari kesadaran reflektif.
Pertanyaan yang lebih sehat bukan pada pertanyaan “Apakah aku orang tua yang buruk?” melainkan:
• Kapan aku benar-benar tidak bisa hadir?
• Kapan aku memilih tidak hadir padahal bisa?
• Bagaimana caraku kembali hadir setelah menjauh?
Kadang jawabannya sangat sederhana:
• menatap mata anak,
• menjelaskan dengan jujur,
• dan benar-benar kembali setelah urusan selesai.
Dari Menyingkirkan ke Mengakui Kehadiran Anak
Fromm menyebut cinta yang dewasa sebagai cinta yang:
• tidak menguasai,
• tidak mengabaikan,
• dan tidak menyangkal keterbatasan diri.
Orang tua tidak harus selalu siap. Namun anak perlu merasa, “Aku boleh mendekat, meski orang tuaku sedang sibuk.”
Kalimat sederhananya seperti, “Sebentar ya, setelah ini Ayah/Ibu ingin dengar ceritamu,” dan ditepati dengan sungguh-sungguh, sering jauh lebih berarti daripada waktu lama tanpa kehadiran batin.
Penutup: Kesalahan Kecil, Kesadaran Besar
Keluarga yang sehat bukan keluarga tanpa jarak, melainkan keluarga yang menyadari jarak dan mau menjembataninya kembali.
Fromm tidak meminta orang tua menjadi ideal. Ia hanya mengingatkan kepada kita, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu ada, tetapi orang tua yang mau kembali hadir. Dan refleksi seperti yang kita miliki di atas, itulah awal dari kehadiran yang lebih manusiawi dalam keluarga. Semoga!

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.