Membangun Kehadiran Orang Tua Tanpa Harus Selalu Ada di Depan Anak

Table of Contents


Refleksi Parenting Sadar di Tengah Kesibukan, Belajar dari Erich Fromm

Salah satu beban psikologis terbesar orang tua hari ini adalah perasaan yang bila diungkapkan kepada anak, kira-kira akan berkata begini, "Aku tidak selalu bisa ada untuk anakku.” Mungkin kita sebagai orang tua punya alasan kuat untuk melakukannya, dan bahkan semua orang bisa memaklumi. 

Berbagai bentuk alasan itu bisa berupa, kesibukan kerja, tuntutan sosial, kelelahan fisik, bahkan kebutuhan untuk diam sejenak membuat kehadiran penuh terasa mustahil. Di titik inilah banyak orang tua terjebak pada dua ekstrem: merasa bersalah berlebihan, atau membenarkan jarak sebagai hal wajar.

Pemikiran Erich Fromm menawarkan jalan ketiga yang lebih manusiawi: kehadiran tidak selalu soal waktu, tetapi tentang kualitas relasi dan ketersediaan emosional.

Kesalahpahaman Umum: Hadir = Selalu Bersama

Dalam praktik sehari-hari, kehadiran sering disalahartikan sebagai:

selalu menemani anak,

selalu ikut bermain,

selalu responsif setiap saat.

Padahal Fromm tidak pernah menuntut relasi yang melelahkan seperti itu. Ia justru mengingatkan bahwa cinta yang dewasa menghormati keterbatasan manusia, termasuk keterbatasan orang tua.

Masalahnya bukan karena orang tua sibuk, melainkan ketika kesibukan itu membuat anak merasa tidak diizinkan hadir secara emosional.

Kehadiran Menurut Fromm: Ketersediaan Emosional

Dalam kerangka Fromm, kehadiran berarti:

anak merasa orang tua bisa dijangkau,

emosinya diakui,

dan kebutuhannya tidak dianggap gangguan.

Orang tua boleh sibuk, namun anak perlu tahu bahwa: “Aku penting, meski orang tuaku sedang tidak bisa bersamaku.” Inilah perbedaan antara jarak yang jujur dan jarak yang mengabaikan.

Cara Membangun Kehadiran Tanpa Harus Selalu Ada

1. Hadir dengan Penjelasan, Bukan Pengusiran

Alih-alih sekadar berkata “main dulu”, orang tua bisa mengatakan, “Ayah/Ibu sedang butuh waktu sebentar. Setelah ini, aku ingin dengar ceritamu.”

Kalimat ini sederhana, tetapi menyampaikan pesan penting, anak tidak ditolak, hanya ditunda dengan hormat.

2. Tepati Janji Kecil

Bagi anak, janji yang ditepati membangun rasa aman. Tidak harus lama. Kadang lima atau sepuluh menit kehadiran penuh, tanpa ponsel, jauh lebih bermakna daripada waktu panjang yang setengah hadir.

Fromm menyebut ini sebagai tanggung jawab dalam cinta.

3. Validasi Emosi, Bukan Sekadar Mengatur Perilaku

Anak yang mendekat bukan selalu ingin ditemani bermain.

Sering kali ia hanya ingin:

diperhatikan,

diakui keberadaannya,

dirasakan hadir.

Kalimat seperti:

“Kamu kelihatan ingin ditemani ya,” kalimat seperti itu saja bisa membantu anak merasa dipahami, bahkan sebelum solusi diberikan.

4. Sediakan “Ruang Aman” Emosional

Anak yang merasa orang tuanya terbuka secara emosional akan:

berani mendekat saat butuh,

tidak memendam perasaan,

tidak mencari perhatian secara destruktif.

Kehadiran semacam ini tidak membutuhkan waktu terus-menerus, tetapi konsistensi sikap.

5. Kembali Hadir Setelah Pergi

Ini bagian yang sering terlewat. Bukan jaraknya yang melukai anak, melainkan ketika orang tua tidak pernah benar-benar kembali.

Fromm menekankan bahwa cinta dewasa tampak pada kemampuan, menyadari jarak, dan menjembataninya kembali.

Mengapa Ini Penting bagi Masa Depan Anak?

Anak yang mengalami kehadiran emosional yang cukup akan:

lebih percaya diri,

tidak takut ditinggalkan saat orang lain sibuk,

mampu membangun relasi sehat di masa dewasa.

Paradoksnya, anak yang merasa ditemani tidak akan menuntut kehadiran terus-menerus. Sebaliknya, anak yang sering merasa diabaikan akan:

mencari perhatian berlebihan,

sulit mandiri secara emosional,

atau menarik diri sepenuhnya.

Refleksi bagi Orang Tua

Fromm tidak meminta orang tua menjadi sempurna. Ia hanya mengajak untuk lebih sadar. Pertanyaan reflektif yang bisa diajukan:

Apakah anakku tahu bahwa ia boleh mendekat?

Apakah aku kembali setelah meminta waktu?

Apakah aku hadir secara emosional, meski tidak selalu fisik?

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada standar parenting apa pun.

Penutup: Kehadiran yang Manusiawi

Di dunia yang menuntut kecepatan dan produktivitas, kehadiran memang mahal. Namun bagi anak, kehadiran orang tua, walau singkat, adalah pondasi rasa aman seumur hidup.

Fromm mengingatkan kita, cinta bukan soal selalu ada, tetapi soal tetap bisa diandalkan. Dan orang tua yang mau sadar, jujur pada keterbatasannya, serta tetap kembali hadir, itulah orang tua yang sedang membangun keluarga yang manusiawi.

Posting Komentar