Keluarga Ideal itu Seperti Apa? Begini Menurut Erich Fromm
Di tengah berbagai diskusi tentang parenting, disiplin, dan masa depan anak, satu pertanyaan mendasar sering terlewat: keluarga seperti apa yang benar-benar membantu manusia bertumbuh?
Pemikir humanistik Erich Fromm menawarkan jawaban yang tidak sederhana, tetapi sangat relevan hingga hari ini. Setelah mengkritik keluarga simbiotik yang mengekang dan keluarga tak peduli yang mengabaikan, Fromm mengusulkan satu arah ideal: keluarga yang memadukan cinta dan kebebasan secara dewasa.
Artikel ini mengulas secara khusus apa yang dimaksud Fromm dengan keluarga ideal, serta mengapa gagasan ini penting bagi orang tua di dunia modern.
Keluarga Ideal Bukan Keluarga Sempurna
Hal pertama yang perlu ditegaskan, keluarga ideal menurut Fromm bukan keluarga tanpa konflik, tanpa lelah, atau tanpa kesalahan.
Fromm sangat realistis. Ia memahami bahwa:
• orang tua membawa luka dan sejarahnya sendiri,
• pengasuhan sering berlangsung lewat coba–salah,
• kehidupan nyata penuh tekanan dan keterbatasan.
Karena itu, keluarga ideal bukan titik awal, melainkan arah pertumbuhan. Ia berfungsi sebagai kompas, bukan standar untuk menghakimi.
Fondasi Utama: Cinta yang Dewasa (Productive Love)
Inti keluarga ideal menurut Fromm adalah cinta yang produktif atau cinta yang dewasa. Cinta ini bukan sekadar perasaan, tetapi sikap aktif terhadap kehidupan orang lain.
Fromm menyebut empat unsur utama cinta dewasa:
1. Perhatian (Care)
Bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi sungguh memperhatikan kehidupan batin anak: perasaannya, ketakutannya, dan dunianya.
2. Tanggung Jawab (Responsibility)
Kesediaan untuk merespons kebutuhan emosional anak, bukan menghindarinya atau menyerahkannya pada gawai dan aktivitas pengganti.
3. Rasa Hormat (Respect)
Mengakui anak sebagai pribadi yang sedang bertumbuh, bukan milik orang tua atau proyek ambisi.
4. Pengetahuan (Knowledge)
Upaya terus-menerus memahami siapa anak itu, bukan hanya mengatur perilakunya.
Tanpa keempat unsur ini, cinta mudah berubah menjadi:
• kontrol dan posesivitas,
• atau pengabaian yang dingin.
Cinta yang Membebaskan, Bukan Menguasai
Bagi Fromm, tujuan utama keluarga ideal adalah membantu anak menjadi manusia yang mandiri secara emosional.
Artinya:
• orang tua hadir tanpa menguasai,
• membimbing tanpa menelan kebebasan anak,
• memberi rasa aman tanpa menciptakan ketergantungan.
Fromm menulis bahwa cinta sejati:
tidak membuat orang lain bergantung,
tetapi membuatnya mampu berdiri sendiri.
Paradoksnya, anak yang mengalami cinta semacam ini justru:
• lebih percaya diri,
• lebih siap berpisah,
• dan tidak takut menghadapi dunia.
Kebebasan yang Hangat, Bukan Dingin
Fromm menolak dua ekstrem yang sering terjadi dalam keluarga:
• keterikatan tanpa kebebasan (keluarga simbiotik),
• kebebasan tanpa kelekatan (keluarga tak peduli).
Keluarga ideal berada di tengah:
• ada batas yang jelas,
• ada kehangatan emosional,
• ada dialog,
• ada struktur yang manusiawi.
Anak tidak dibiarkan sendirian menghadapi hidup, tetapi juga tidak dikurung oleh kecemasan orang tua.
Peran Orang Tua dalam Keluarga Ideal
Dalam keluarga ideal ala Fromm, orang tua:
• tidak dituntut selalu benar,
• tidak harus selalu kuat,
• tidak harus selalu hadir secara fisik.
Yang dibutuhkan adalah kehadiran emosional yang dapat diandalkan.
Orang tua boleh:
• lelah,
• sibuk,
• keliru,
tetapi ia:
• jujur pada keterbatasannya,
• bertanggung jawab pada relasi,
• dan mau kembali hadir setelah jarak tercipta.
Di sinilah anak belajar bahwa:
• relasi bisa diperbaiki,
• cinta tidak identik dengan kesempurnaan,
• manusia boleh gagal tanpa kehilangan kasih.
Keluarga Ideal dan Masa Depan Masyarakat
Fromm selalu melihat keluarga sebagai miniatur masyarakat.
Menurutnya:
• keluarga otoriter melahirkan manusia patuh tapi takut,
• keluarga dingin melahirkan individu terasing,
• keluarga yang memanusiakan melahirkan manusia merdeka dan bertanggung jawab.
Karena itu, keluarga ideal bukan hanya penting bagi anak,
tetapi juga bagi masa depan sosial dan kemanusiaan.
Mengapa Gagasan Ini Sangat Relevan Hari Ini?
Di era modern:
• kehadiran sering tergantikan oleh fasilitas,
• cinta diterjemahkan menjadi pemberian,
• kesibukan dianggap pengorbanan.
Fromm mengingatkan bahwa yang paling membentuk kepribadian anak bukan apa yang dimilikinya,
tetapi relasi seperti apa yang ia alami di rumah. Keluarga ideal bukan yang selalu ada, melainkan yang hadir dengan sadar dan bertanggung jawab.
Penutup: Keluarga sebagai Ruang Menjadi Manusia
Keluarga ideal menurut Erich Fromm adalah keluarga yang:
• tidak mengkhianati kemanusiaan anggotanya,
• tidak mematikan kebebasan demi cinta,
• dan tidak mengorbankan cinta demi kebebasan.
Ia bukan tujuan yang dicapai sekali jadi, melainkan proses panjang belajar mencintai secara dewasa. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk dan terpecah, keluarga ideal ala Fromm adalah keluarga yang terus bertanya “Apakah relasi kita masih membantu manusia bertumbuh?”

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.