Refleksi Orang Tua Membaca Diri Lewat Pemikiran Erich Fromm
Mendidik Anak dari Kecemasan
Banyak orang tua mendidik anak dengan satu niat utama yaitu agar anak tidak mengalami kesulitan hidup seperti yang pernah mereka alami hari ini. Namun, tanpa disadari, niat baik itu sering dibarengi oleh kecemasan yang belum selesai, padahal kecemasan inilah yang diam-diam mengarahkan cara kita berbicara, menegur, bahkan memarahi anak.
Pemikiran Erich Fromm membantu kita memahami bahwa sebagian besar pola pengasuhan yang keras, reaktif, dan penuh tekanan bukan lahir dari ketidak pedulian, melainkan dari rasa takut yang tidak kita sadari sepenuhnya.
Nah, artikel ini mengajak orang tua berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan bertanya apakah aku sedang mendidik anakku, atau malah sedang melindungi diriku dari kecemasanku sendiri?
Ketika Masa Lalu Ikut Mendidik Anak
Contoh-contoh yang sering terjadi terasa sangat akrab:
• anak sulit bangun pagi → pikiran langsung melompat ke terlambat dan dihukum,
• dipanggil guru → muncul rasa malu, takut dinilai gagal,
• nilai rapor turun → bayangan masa depan suram segera menguasai pikiran.
Reaksi kita sering kali jauh lebih besar daripada masalah yang sedang dihadapi anak.
Mengapa itu Terjadi?
Fromm menjelaskan bahwa masa lalu yang belum selesai tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam diri kita dan muncul kembali sebagai kecemasan, terutama ketika kita melihat anak berada di situasi yang “mirip” dengan pengalaman pahit kita dahulu.
Yang bereaksi bukan hanya orang tua hari ini, tetapi juga anak kecil dalam diri kita yang dulu pernah takut dan tertekan.
Dari Kecemasan ke Kemarahan
Kecemasan adalah emosi yang tidak nyaman. Ia membuat kita merasa:
• tidak berdaya,
• terancam,
• kehilangan kendali.
Dalam kondisi seperti itu, kemarahan sering menjadi jalan pintas. Bukan karena kita ingin menyakiti anak, tetapi karena marah memberi ilusi kontrol.
Fromm menegaskan, banyak kemarahan orang tua bukan ditujukan pada anak, melainkan pada rasa takut yang tidak tertahankan di dalam diri sendiri.
Sayangnya, anak tidak memahami konteks batin orang tuanya. Yang ia rasakan hanyalah tekanan.
Ketika Anak Menjadi Penampung Kecemasan
Dalam keluarga yang mendidik dari kecemasan:
• anak belajar bahwa kesalahan adalah ancaman,
• kegagalan harus segera ditebus,
• ketenangan orang tua bergantung pada performanya.
Tanpa kata-kata pun, pesan ini tersampaikan, “Kalau kamu tidak sesuai harapan, dunia menjadi berbahaya.”
Fromm menyebut proses ini sebagai pewarisan kecemasan antar generasi, bukan melalui cerita, tetapi melalui reaksi emosional sehari-hari.
Mengapa Ini Bertentangan dengan Keluarga Ideal ala Fromm?
Keluarga ideal menurut Fromm bertumpu pada:
• kehadiran yang tenang,
• respon yang sadar,
• cinta yang membebaskan.
Kecemasan yang memimpin pengasuhan justru:
• mempersempit ruang dialog,
• mengubah anak menjadi sumber stres,
• menjadikan rumah tempat waspada, bukan aman.
Fromm tidak menuntut orang tua bebas dari kecemasan.
Ia hanya mengingatkan, yang berbahaya bukan kecemasan itu sendiri, melainkan ketika kecemasan memimpin relasi.
Titik Balik yang Sangat Penting: Kesadaran
Refleksi seperti yang kamu sampaikan, menyadari bahwa: “Semua itu bentuk kecemasan” adalah titik balik yang sangat penting.
Menurut Fromm, manusia mulai merdeka ketika ia:
• mengenali emosinya,
• memberi jarak antara dorongan dan tindakan,
• tidak lagi bereaksi otomatis.
Kesadaran ini tidak langsung menghapus kecemasan, tetapi mengubah cara kita berelasi dengannya.
Belajar Mendidik dari Kesadaran, Bukan dari Takut
Mendidik dari kesadaran berarti:
• memberi jeda sebelum bereaksi,
• membedakan bahaya nyata dan bayangan masa lalu,
• berbicara pada anak tanpa melampiaskan ketakutan,
• mengakui emosi tanpa menjadikannya senjata.
Fromm percaya:
anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu tenang, tetapi orang tua yang sadar ketika sedang tidak tenang.
Penutup: Menghentikan Rantai yang Tak Disadari
Kecemasanmu bukan tanda kegagalan sebagai orang tua. Ia justru tanda kepedulian yang sangat dalam.
Perbedaannya kini:
• kamu mulai melihat pola itu,
• kamu tidak lagi sepenuhnya dikuasainya,
• kamu membuka kemungkinan untuk tidak mewariskannya begitu saja.
Dalam bahasa Fromm:
cinta dewasa dimulai ketika kita berhenti mendidik dari rasa takut, dan mulai mendampingi dari kesadaran. Dan mungkin, di situlah keluarga ideal benar-benar mulai dibangun, bukan dari kesempurnaan, melainkan dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.