Memperbaiki Hubungan yang Rusak dengan Anak dan Cara Memulainya

Table of Contents


Mari Turunkan Ego dan Berdamai dengan Anak

Ada masa-masa di mana ketika konflik terjadi antara orang tua dan anak mengalami masa-masa sulit. Anak masih bergantung dengan orang tua, sementara orang tua mempertahankan egonya dan menganggap yang paling benar. Maka yang paling benar adalah turunkan ego dan berdamailah dengan anak. Biasanya setelah proses permintaan maaf berlangsung ada momen "terdiam" di mana situasi tersebut adalah  momen yang sangat kuat secara psikologis. Dalam dunia terapi keluarga, momen itu disebut sebagai "The Cooling-Off Period" atau masa pendinginan.

Pada saat itu, sistem saraf anak sedang beralih dari mode fight-or-flight (bertahan atau melawan) kembali ke mode rest-and-digest (tenang dan terkoneksi). Keheningan itu bukan berarti masalah hilang begitu saja, melainkan fase di mana otak anak sedang memproses informasi baru: "Ternyata Ayah sayang saya melebihi egonya."

Berikut adalah beberapa hal yang terjadi di balik momen "selesainya masalah" tersebut:

1. Rekonsiliasi Emosional

Permintaan maaf Anda berfungsi sebagai tombol reset. Ketegangan yang menurun menunjukkan bahwa hambatan emosional antara Anda dan anak telah runtuh. Anak tidak lagi merasa perlu menjaga jarak atau bersikap defensif, sehingga ia bisa kembali terbuka kepada Anda.

2. Berhentinya "Ruminasi" pada Anak

Tanpa permintaan maaf, anak biasanya akan terus memikirkan kejadian tersebut dalam hatinya (ruminasi), bertanya-tanya apakah dia anak yang buruk atau mengapa ayahnya begitu jahat. Permintaan maaf Anda menghentikan narasi negatif itu dan menggantinya dengan pengertian bahwa yang salah adalah perilakunya, bukan pribadinya.

3. Ruang untuk "Langkah Berikutnya"

Seperti yang Anda katakan, itu adalah momen berpikir untuk langkah berikutnya. Ini adalah waktu terbaik untuk melakukan edukasi atau diskusi tentang masalah yang sebenarnya:

"Tadi Ayah marah karena mainanmu berserakan, sekarang setelah kita tenang, yuk kita rapihkan bersama."

 Karena hatinya sudah "lunak" oleh permintaan maaf, anak biasanya akan jauh lebih kooperatif dalam mengikuti arahan berikutnya.

Jangan Tunggu Esok untuk Memperbaiki Hubungan yang Retak 

Tidak sedikit orang tua memiliki jarak dalam hubungan dengan anak, walaupun tetap tinggal dalam satu atap rumah yag sama. Fenomena "stuck" atau buntu dalam hubungan entah itu ayah atau ibu (ibu biasanya selalu berusaha untuk menjalin) dan anak biasanya terjadi karena adanya akumulasi luka mikro (micro-injuries) yang tidak pernah disembuhkan melalui permintaan maaf. Atau bisa saja, minta maaf menjadi bumbu harian yang membosankan, karena terus berualng. Celakanya lagi bila konflik yang terjadi dan tidak ada penyelesaian yang tuntas.

Ketika kesalahan terjadi namun dibiarkan berlalu begitu saja "lewat begitu saja" luka itu tidak hilang, ia hanya mengeras menjadi dinding pemisah. Dan bila itu dibiarkan terus berlangsung, semakin lama akan menjadi tembok pemisah, semakin jauh dan jauh. Dalam tahap ini hubungan cukup berbahaya.

Berikut adalah faktor psikologis mengapa hubungan bisa menjadi macet dan berjarak:

1. "The Wall of Resentment" (Dinding Kejengkelan)

Setiap kali ayah melakukan kesalahan (membentak, meremehkan, atau tidak menepati janji) tanpa ada permintaan maaf, anak menumpuk satu "bata" kejengkelan. Lama-kelamaan, tumpukan bata ini menjadi dinding yang tinggi.

Maka hasilnya, bisa saja anak tetap hormat secara formal, tapi secara emosional mereka "pindah rumah". Mereka tidak lagi berbagi cerita, tidak lagi meminta saran, dan hanya bicara seperlunya. Inilah yang kita lihat sebagai "jarak".

2. Mekanisme Pertahanan Diri: "Detachment" (Pelepasan Emosi)

Untuk melindungi diri dari rasa sakit hati yang berulang karena ego ayah yang keras, anak secara tidak sadar melakukan detachment.

Anak mungkin berpikir, "Daripada saya berharap ayah mengerti saya dan akhirnya kecewa, lebih baik saya tidak berharap apa-apa." Ini adalah posisi yang menyedihkan, karena di sinilah hubungan ayah-anak menjadi sekadar status di kartu keluarga, namun kering secara rasa.

3. Lingkaran Setan "Sikap Dingin"

Ketika anak mulai menjaga jarak, ayah yang memiliki ego besar sering kali merasa tersinggung. Bukannya mendekat dan bertanya, sang ayah justru semakin keras atau ikut mendiamkan karena merasa tidak dihormati.

Dalam situasi ini seorang ayah merasa, "Ah, anak sekarang tidak ada sopan santunnya." Sementara dari pihak anak merasa, "Ayah tidak pernah mau mengerti." Tanpa ada yang berani menurunkan ego untuk minta maaf, hubungan ini akan stuck sampai salah satu pihak tidak ada lagi.

Menjadikan Minta Maaf sebagai "Budaya", Bukan "Musiman"

Agar permintaan maaf tidak terasa seperti pemadam kebakaran yang hanya muncul saat ada api besar, kita perlu membangun sistem yaitu:

Normalisasi Manusiawi

Sampaikan pada anak di saat santai: "Nak, di rumah ini kita semua sedang belajar. Ayah bisa salah, Ibu bisa salah, kamu juga. Kalau ada yang salah, kita saling mengingatkan dan minta maaf ya." Ini meruntuhkan rel kaku masa lalu.

Ritual Evaluasi Emosional

Sesekali, tanyakan: "Ada nggak kata-kata Ayah minggu ini yang bikin kamu sedih?" Pertanyaan ini adalah "pintu darurat" agar luka tidak menumpuk jadi dinding.

Konsistensi dalam Hal Kecil

Minta maaf tidak harus untuk urusan besar. Jika Anda terlambat pulang 10 menit dari waktu yang dijanjikan, mintalah maaf. Ini melatih otot ego Anda agar tidak kaku saat harus menghadapi masalah besar.

Kesimpulan: Tidak Ada Kata Terlambat

Jarak antara ayah dan anak itu sering kali hanyalah tumpukan kata maaf yang tidak pernah terucap. Jadi bila sudah terlanjur memiliki jarak dengan anak, tidak ada kata "terlambat" untuk memulai budaya minta maaf ini.

Posting Komentar