Bad Mood dalam Keluarga: Ketika Suasana Hati Buruk Bukan Sekadar Sikap Rewel
Pagi baru saja dimulai, tetapi suasana rumah sudah terasa berbeda.
Anak sulit dibangunkan. Setelah bangun, wajahnya cemberut. Disuruh mandi marah, sarapan tidak mau, ditanya sedikit menjawab ketus. Berangkat sekolah masih dengan wajah masam. Orang tua kemudian berpikir, “Anak sekarang kok sedikit-sedikit bad mood?”
Tetapi bagaimana kalau sebenarnya bukan hanya anak yang sedang bad mood?
Bisa jadi ayah sedang lelah karena pekerjaan. Ibu kehabisan tenaga setelah mengurus rumah. Anak sedang menghadapi tekanan sekolah atau persoalan dengan teman. Bahkan seluruh anggota keluarga mungkin sedang mengalami kelelahan yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Inilah yang menarik: bad mood dalam keluarga kadang bukan masalah satu orang, melainkan sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan bersama.
Apa Sebenarnya Arti Bad mood?
Bad mood adalah istilah sehari-hari untuk menggambarkan suasana hati yang sedang buruk. Seseorang bisa merasa sedih, kesal, mudah tersinggung, tidak bersemangat, frustrasi, atau ingin menyendiri.
Yang perlu dipahami, bad mood bukan diagnosis medis. Suasana hati manusia memang dapat berubah-ubah. Kita tidak mungkin selalu bahagia, selalu sabar, dan selalu bersemangat.
Karena itu, orang tua tidak perlu buru-buru memberi label kepada anak sebagai “pemarah”, “pemalas”, atau “anak yang susah diatur” hanya karena suatu hari ia sedang tidak menyenangkan.
Begitu pula sebaliknya. Ketika ayah atau ibu sedang mudah marah, keluarga tidak selalu harus menganggapnya sebagai persoalan karakter.
Kadang-kadang tubuh dan pikiran sedang mengatakan, “Saya sedang lelah. Tolong perhatikan saya.”
Jangan buru-buru menyuruh anak “jangan bad mood”
Salah satu kebiasaan dalam keluarga adalah berusaha segera menghilangkan emosi yang tidak menyenangkan.
“Sudah, jangan cemberut.”
“Jangan marah.”
“Jangan lebay.”
“Masalah kecil begitu saja dipikirkan.”
Maksudnya mungkin baik. Orang tua ingin anak kembali ceria. Tetapi ada perbedaan antara membantu seseorang mengelola emosinya dengan memaksa seseorang segera berhenti merasakan emosinya.
Anak perlu belajar bahwa marah, kecewa, sedih dan lelah adalah bagian dari kehidupan. Yang perlu dipelajari bukan bagaimana supaya tidak pernah merasakan emosi negatif, melainkan bagaimana mengenali emosi tersebut dan meresponsnya dengan cara yang sehat.
Ini berlaku juga bagi orang tua.
Keluarga yang sehat bukan keluarga yang tidak pernah marah. Keluarga yang sehat adalah keluarga yang belajar apa yang harus dilakukan ketika sedang marah.
Mengapa Anggota Keluarga Mudah Bad mood?
Ada banyak kemungkinan penyebab. Kurang tidur dan kelelahan merupakan salah satunya. Kualitas tidur berhubungan dengan kondisi emosional, konsentrasi dan kemampuan menghadapi tekanan. Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya tidur berkualitas bagi kesehatan fisik dan mental.
Selain itu, beberapa pemicu yang sering luput diperhatikan antara lain:
1. Kelelahan Fisik dan Mental
Orang yang terus-menerus bekerja, belajar, mengurus rumah, menghadapi perjalanan panjang atau berbagai tuntutan kehidupan bisa mengalami mental fatigue.
Kadang bukan karena satu masalah besar. Justru terlalu banyak masalah kecil yang menumpuk.
2. Kurang Tidur
Anak yang tidur terlalu malam karena gawai, orang tua yang tidur larut karena pekerjaan, atau kebiasaan membawa pekerjaan sampai ke kamar tidur dapat memengaruhi suasana hati keesokan harinya.
3. Tekanan Sekolah dan Pekerjaan
Nilai, ujian, pergaulan, pekerjaan, target, konflik dengan teman, masalah dengan atasan maupun ketidakpastian ekonomi dapat memengaruhi emosi seseorang.
Stres berlebihan memang dapat muncul dalam bentuk mudah marah, suasana hati berubah-ubah, sulit berkonsentrasi dan gangguan tidur.
4. Terlalu Lama Berada di Dunia Digital
Ini salah satu persoalan keluarga masa kini.
Bukan berarti gawai selalu buruk. Tetapi keluarga perlu memperhatikan apakah media sosial, berita, video pendek, percakapan grup, atau kebiasaan terus-menerus melihat layar justru membuat seseorang semakin sulit beristirahat secara mental.
WHO bahkan menyarankan membatasi paparan berita ketika mengikuti berita justru meningkatkan stres.
5. Kurang Bergerak
Tubuh yang terlalu lama pasif juga dapat memengaruhi kesejahteraan mental. Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati. Kementerian Kesehatan menyebut berjalan kaki, berkebun, naik tangga, bahkan pekerjaan rumah sebagai contoh aktivitas fisik yang dapat dilakukan sehari-hari.
6. Ada Masalah yang Belum Dibicarakan
Ini mungkin yang paling penting dalam keluarga.
Seorang anak yang terlihat pemarah mungkin sebenarnya sedang kecewa. Suami yang terlihat sensitif mungkin sedang menghadapi tekanan pekerjaan. Istri yang mudah tersinggung mungkin sudah terlalu lama kelelahan.
Karena itu, sebelum mengatakan “Kamu kenapa sih?”, mungkin lebih baik bertanya:
“Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?”
Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membuka pintu percakapan.
Bad mood jangan dijadikan alasan untuk menyakiti keluarga
Memahami emosi bukan berarti membenarkan semua perilaku.
Kita boleh marah, tetapi bukan berarti boleh membentak pasangan.
Anak boleh kecewa, tetapi bukan berarti boleh menghina orang tua.
Ayah boleh lelah, tetapi kelelahan bukan alasan untuk melampiaskan kemarahan kepada seluruh keluarga.
Inilah pelajaran penting yang perlu ditanamkan kepada anak: emosi boleh hadir, tetapi perilaku tetap memiliki tanggung jawab.
Kita tidak selalu bisa memilih apa yang kita rasakan. Namun kita dapat belajar memilih bagaimana meresponsnya.
Cara Keluarga Menghadapi Bad mood
Tidak ada satu resep yang berlaku untuk semua orang. Namun beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu.
Pertama, berhenti sejenak.
Ketika emosi sedang tinggi, jangan langsung menyelesaikan semua persoalan. Ambil waktu untuk bernapas, minum air, berjalan sebentar, atau menenangkan diri.
Kedua, beri nama pada perasaan.
Daripada hanya mengatakan “Aku bad mood”, coba lebih spesifik: “Aku kecewa”, “Aku lelah”, “Aku takut”, “Aku merasa tidak dihargai”, atau “Aku sedang kewalahan.”
Memberi nama pada emosi membantu kita memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Ketiga, perbaiki kebiasaan dasar.
Tidur cukup, makan bergizi, minum cukup dan bergerak secara teratur bukan solusi ajaib, tetapi merupakan fondasi penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. (Keslan)
Keempat, jangan mengisolasi diri terlalu lama.
Berbicara dengan pasangan, anak, sahabat atau orang yang dipercaya dapat membantu seseorang menghadapi tekanan. Hubungan sosial yang sehat juga dapat membantu mengurangi stres.
Kelima, ciptakan ruang aman di rumah.
Keluarga seharusnya menjadi tempat seseorang boleh mengatakan, “Hari ini saya sedang tidak baik-baik saja,” tanpa langsung dihakimi.
Dan jangan lupakan Tuhan
Sebagai orang percaya, kita tentu tidak memandang persoalan suasana hati hanya dari sisi psikologis atau fisik.
Ada dimensi rohani yang juga penting.
Tetapi mendekat kepada Tuhan bukan berarti kita harus berpura-pura selalu kuat. Justru di hadapan Tuhan kita dapat datang dengan segala kelelahan, kekhawatiran, kekecewaan dan ketakutan.
Mazmur penuh dengan contoh bagaimana manusia berbicara jujur kepada Tuhan mengenai perasaan mereka. Jadi, iman bukan berarti tidak pernah mengalami bad mood. Iman mengajarkan kita bahwa ketika suasana hati sedang tidak baik, kita tidak harus menghadapinya sendirian.
Bersyukur juga bukan berarti menyangkal masalah. Bersyukur berarti belajar melihat bahwa di tengah persoalan, masih ada kebaikan yang dapat kita kenali.
Kapan Bad mood Perlu Diperhatikan Lebih Serius?
Kita perlu membedakan antara suasana hati buruk yang sesekali muncul dengan perubahan suasana hati yang berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan.
Jika seseorang terus mengalami kesedihan, kehilangan minat, gangguan tidur, sulit menjalankan aktivitas sehari-hari, kecemasan berat, atau perubahan perilaku yang semakin mengkhawatirkan, jangan hanya menyebutnya “bad mood”.
Kondisi seperti itu layak dibicarakan dengan tenaga profesional. Kementerian Kesehatan juga menganjurkan mencari bantuan tenaga kesehatan ketika tekanan atau gejala sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.
Jadi, bad mood tidak selalu harus dilawan. Kadang ia perlu didengarkan.
Mungkin yang dibutuhkan anak bukan nasihat panjang, melainkan pelukan.
Mungkin pasangan tidak membutuhkan ceramah tentang berpikir positif, tetapi seseorang yang mau mendengarkan.
Mungkin kita sendiri tidak membutuhkan tuntutan untuk selalu kuat, tetapi waktu untuk berhenti sejenak, beristirahat dan kembali mengingat bahwa hidup ini tidak harus kita jalani dengan kekuatan sendiri.
Suasana hati memang naik dan turun. Itu bagian dari menjadi manusia.
Yang penting adalah jangan membiarkan bad mood menguasai keluarga. Belajarlah mengenali emosi, mengelolanya dengan sehat, saling mendengarkan dan saling memberi ruang.
Dan sebagai keluarga yang percaya kepada Kristus, kita dapat terus belajar membawa pikiran, perasaan dan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan.
Sebab keluarga yang kuat bukan keluarga yang selalu ceria.
Keluarga yang kuat adalah keluarga yang tahu bagaimana saling menemani ketika salah satu anggotanya sedang tidak baik-baik saja.
BACA JUGA

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.