Meredam Kekecewaan dalam Keluarga: Jangan Biarkan Kecewa Berubah Menjadi Jarak
Ketika Orang yang Paling Dekat Justru Menjadi Sumber Kekecewaan
Ada kekecewaan yang mudah dilupakan. Misalnya, pesanan makanan yang datang terlambat, rencana yang batal, atau pekerjaan yang hasilnya tidak sesuai harapan.
Tetapi ada kekecewaan yang berbeda. Kekecewaan dari orang yang kita cintai.
Kita bisa kecewa kepada pasangan, anak, orang tua, saudara, bahkan kepada teman yang sudah kita anggap seperti keluarga. Justru karena hubungan itu dekat, harapan kita terhadap mereka biasanya juga lebih besar.
Seorang ibu mungkin kecewa karena anaknya tidak mengikuti nasihatnya. Seorang ayah kecewa karena anak yang selama ini dididiknya ternyata mengambil keputusan yang tidak sesuai harapan. Suami kecewa karena merasa istrinya tidak memahami dirinya. Istri kecewa karena merasa suaminya tidak lagi memberikan perhatian seperti dahulu.
Masalahnya bukan sekadar rasa kecewa itu sendiri. Yang lebih berbahaya adalah apa yang kita lakukan setelah kecewa.
Ada orang yang memilih diam. Ada yang ngambek. Ada yang mulai menjaga jarak. Ada yang terus mengungkit kejadian lama. Bahkan ada yang tetap tinggal serumah, tetapi secara emosional sudah tidak lagi hadir dalam kehidupan keluarganya.
Padahal, keluarga bukan tempat tanpa kekecewaan. Keluarga justru tempat kita belajar bagaimana menghadapi kekecewaan dengan cara yang sehat.
Kecewa Itu Manusiawi, Tetapi Jangan Dipelihara
Kecewa pada dasarnya muncul ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Kita berharap pasangan memahami kita, tetapi ternyata tidak. Kita berharap anak menghargai pengorbanan orang tua, tetapi ternyata mereka mempunyai pilihan sendiri. Kita berharap orang tua memahami keputusan kita sebagai orang dewasa, tetapi mereka masih melihat kita seperti anak kecil.
Karena itu, kekecewaan sebenarnya sering kali mempunyai dua sisi: apa yang dilakukan orang lain dan apa yang kita harapkan dari orang tersebut.
Ini bukan berarti orang yang mengecewakan kita selalu benar. Ada kekecewaan yang memang muncul karena perlakuan yang salah, janji yang dilanggar, komunikasi yang buruk, atau tindakan yang menyakiti.
Namun, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah yang membuat saya sangat kecewa hanya peristiwa itu, atau karena kenyataan tersebut tidak sesuai dengan gambaran yang selama ini saya inginkan?
Pertanyaan sederhana ini penting karena tidak semua harapan kita dapat dipaksakan menjadi kenyataan.
Kekecewaan yang Tidak Diselesaikan Bisa Menjadi Masalah Keluarga
Kekecewaan yang dipendam terlalu lama dapat mengubah cara kita memperlakukan orang lain.
Awalnya hanya kecewa. Kemudian menjadi kesal. Setelah itu mungkin berubah menjadi sakit hati. Lama-kelamaan muncul rasa tidak percaya, sinis, atau keinginan untuk membalas.
Yang lebih sulit adalah ketika seseorang mengatakan, “Saya sudah memaafkan,” tetapi sebenarnya masih terus mengumpulkan daftar kesalahan orang lain.
Dalam keluarga, kondisi seperti ini berbahaya.
Hubungan suami-istri bisa menjadi dingin. Hubungan orang tua dan anak menjadi penuh jarak. Percakapan berubah menjadi sekadar komunikasi praktis: sudah makan, sudah pulang, besok ada kegiatan apa.
Rumah masih ada, tetapi kehangatan di dalamnya perlahan menghilang.
Karena itu, menyelesaikan kekecewaan lebih penting daripada sekadar meredakannya untuk sementara.
Bedakan antara Kecewa dan Harapan yang Tidak Realistis
Salah satu hal yang jarang dibicarakan tentang kekecewaan adalah bahwa kita kadang kecewa bukan karena orang lain melakukan kesalahan besar, tetapi karena kita mempunyai standar yang tidak pernah benar-benar dikomunikasikan.
Misalnya, seorang suami berharap istrinya memahami bahwa dirinya sedang lelah tanpa pernah mengatakannya.
Seorang istri berharap suaminya peka terhadap kebutuhannya tanpa pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Orang tua berharap anaknya mengerti pengorbanan mereka, padahal anak tersebut mungkin belum mempunyai pengalaman hidup yang cukup untuk memahaminya.
Dalam situasi seperti ini, masalahnya bukan hanya kurangnya perhatian. Bisa jadi ada harapan yang tidak pernah dikomunikasikan.
Karena itu, salah satu cara mengatasi kekecewaan dalam keluarga adalah belajar mengatakan apa yang kita butuhkan, bukan hanya berharap orang lain mampu menebaknya.
Jangan Mengambil Keputusan Besar Ketika Sedang Kecewa
Ketika hati sedang terluka, penilaian kita bisa menjadi lebih sempit.
Kita mungkin berpikir, “Dia memang selalu seperti itu.”
Padahal mungkin yang terjadi hanya satu peristiwa.
Kita mungkin berkata, “Anak ini tidak pernah menghargai saya.”
Padahal ada banyak kesempatan lain ketika anak menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda.
Kita mungkin menyimpulkan, “Suami saya sudah tidak peduli.”
Padahal persoalan sebenarnya mungkin adalah komunikasi yang selama ini tidak berjalan baik.
Karena itu, ketika sedang kecewa, sebaiknya jangan terburu-buru mengambil keputusan yang sulit diperbaiki.
Berikan waktu untuk menenangkan diri. Bukan untuk melarikan diri dari persoalan, melainkan supaya kita dapat melihat persoalan dengan lebih jernih.
Akui Kekecewaan, Jangan Berpura-pura Tidak Terluka
Menjadi orang Kristen bukan berarti tidak boleh kecewa.
Kita tetap manusia. Kita dapat sedih, marah, terluka dan kecewa.
Yang penting adalah bagaimana kita mengelola perasaan tersebut.
Tidak perlu berpura-pura kuat dengan mengatakan, “Saya tidak apa-apa,” ketika sebenarnya hati sedang terluka.
Kita dapat mengakui kepada diri sendiri bahwa kita kecewa. Kita juga dapat membawa perasaan tersebut dalam doa.
Doa bukan berarti menutup mata terhadap masalah. Justru melalui doa kita belajar membawa persoalan kepada Tuhan sebelum persoalan itu menguasai hati kita.
Bicarakan, Bukan Menghukum dengan Diam
Diam kadang diperlukan untuk menenangkan diri. Tetapi diam sebagai hukuman berbeda dengan mengambil waktu untuk menenangkan diri.
Dalam keluarga, silent treatment dapat membuat persoalan semakin besar karena orang lain tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Lebih baik mengatakan:
“Saya sedang kecewa dan butuh waktu untuk menenangkan diri. Nanti kita bicarakan.”
Kalimat sederhana seperti ini jauh lebih sehat daripada menghilang secara emosional selama berhari-hari.
Setelah lebih tenang, bicarakan persoalannya. Fokus pada kejadian dan perasaan, bukan menyerang karakter.
Bukan, “Kamu memang tidak pernah peduli.”
Melainkan, “Saya merasa tidak diperhatikan ketika hal itu terjadi.”
Perbedaannya kecil, tetapi dampaknya besar.
Mengampuni Bukan Berarti Membenarkan Kesalahan
Dalam kehidupan Kristen, pengampunan merupakan bagian penting dalam menghadapi kekecewaan.
Namun, mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan orang lain tidak masalah.
Pengampunan juga tidak selalu berarti kita harus langsung kembali mempercayai seseorang seperti sebelumnya.
Kepercayaan dapat membutuhkan proses untuk dibangun kembali.
Jika ada kesalahan yang serius dalam keluarga, tetap diperlukan percakapan, batasan yang sehat, perubahan perilaku, dan bila perlu bantuan dari pihak yang dapat dipercaya.
Pengampunan membebaskan hati dari keinginan untuk terus membalas. Tetapi penyelesaian masalah tetap membutuhkan tanggung jawab.
Jadikan Kekecewaan sebagai Kesempatan Bertumbuh
Tidak semua kekecewaan harus berakhir dengan hubungan yang rusak.
Kadang-kadang justru melalui kekecewaan kita belajar mengenal pasangan lebih dalam, memahami anak dengan lebih baik, mengenali kelemahan diri sendiri, dan memperbaiki cara berkomunikasi.
Kita juga belajar bahwa keluarga tidak dibangun oleh manusia-manusia yang sempurna.
Keluarga dibangun oleh orang-orang yang bersedia belajar, meminta maaf, mengampuni, memperbaiki diri, dan mencoba kembali.
Dalam kehidupan rohani, hubungan dengan Tuhan menjadi sumber kekuatan untuk menjalani proses tersebut. Seperti pohon yang akarnya kuat, kehidupan seseorang tidak berarti bebas dari terpaan angin. Ia tetap menghadapi angin, tetapi mempunyai dasar yang membuatnya tidak mudah tumbang.
Demikian pula kehidupan keluarga.
Kita tidak dapat menjamin bahwa keluarga kita tidak akan pernah mengalami kekecewaan. Yang dapat kita bangun adalah kemampuan untuk menyelesaikan kekecewaan sebelum berubah menjadi kepahitan.
Mungkin hari ini ada seseorang di dalam keluarga yang membuat kita kecewa.
Jangan buru-buru bertanya, “Bagaimana supaya saya tidak merasa kecewa?”
Cobalah bertanya lebih jauh:
“Apa yang sebenarnya saya harapkan? Apa yang perlu saya komunikasikan? Apa yang perlu saya lepaskan? Apa yang perlu saya maafkan? Dan apa yang perlu kami selesaikan bersama?”
Sebab keluarga yang sehat bukan keluarga yang tidak pernah mengecewakan.
Keluarga yang sehat adalah keluarga yang ketika kekecewaan datang, mereka tidak membiarkannya menjadi tembok. Mereka belajar menjadikannya pintu untuk berbicara, memahami, mengampuni, dan bertumbuh bersama.
Pada akhirnya, kita tidak selalu dapat mengendalikan apa yang dilakukan orang lain. Tetapi kita masih dapat memilih apa yang akan kita lakukan terhadap kekecewaan itu.
Jangan sampai sebuah peristiwa yang terjadi sekali, kita bawa berulang-ulang ke dalam pikiran, kemudian kita izinkan ia merusak hubungan yang sebenarnya masih bisa diselamatkan.
Bawalah kekecewaan itu kepada Tuhan. Hadapi kenyataannya. Akui perasaan kita. Bicarakan dengan orang yang bersangkutan. Belajar mengampuni dan, jika diperlukan, bangun kembali kepercayaan secara bertahap.
Karena terkadang yang perlu kita redam bukanlah rasa kecewanya, melainkan keinginan untuk terus hidup di dalam kekecewaan tersebut.
BACA JUGA:

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.