Kelahiran Anak Pertama: Ketika Suami Istri Perlu Belajar Saling Peka
Kehidupan yang sebelumnya hanya dijalani berdua kini berubah. Waktu tidur tidak lagi sebebas sebelumnya. Waktu makan harus menyesuaikan kebutuhan bayi. Pekerjaan rumah bertambah. Bahkan waktu untuk berbicara berdua pun bisa semakin sedikit.
Bagi orang tua baru, semua perubahan tersebut membutuhkan penyesuaian.
Karena itu, yang dibutuhkan pasangan setelah memiliki anak bukan hanya pengetahuan tentang cara merawat bayi, tetapi juga kemampuan untuk saling memahami dan saling membantu.
Salah satunya adalah kepekaan.
Ketika Kehidupan Tidak Bisa Lagi Berjalan Seperti Dulu
Sebelum mempunyai anak, suami dan istri mungkin mempunyai kebiasaan masing-masing.
Kalau lapar, tinggal makan.
Kalau mengantuk, bisa tidur.
Kalau ingin keluar rumah, tinggal bersiap.
Kalau pekerjaan rumah belum selesai, masih bisa ditunda.
Setelah anak pertama lahir, banyak hal tidak lagi sesederhana itu.
Bayi bisa menangis ketika orang tua sedang makan. Bayi bisa terbangun ketika ayah dan ibu baru saja hendak tidur. Pakaian bayi bisa menumpuk ketika kedua orang tua sedang kelelahan.
Semua keadaan tersebut tidak selalu dapat direncanakan.
Karena itu, pasangan perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi.
Penelitian mengenai komunikasi pasangan setelah kelahiran anak pertama juga menunjukkan bahwa perubahan peran dan bertambahnya tanggung jawab dapat menjadi sumber kelelahan dan ketegangan dalam keluarga baru. (Garuda Kemdikbud)
Di sinilah kerja sama suami istri menjadi penting.
Apakah Semua Pekerjaan Harus Dibagi?
Dalam banyak pembahasan mengenai keluarga, kita sering mendengar pentingnya pembagian tugas.
Siapa yang mengurus bayi?
Siapa yang memasak?
Siapa yang mencuci?
Siapa yang membersihkan rumah?
Siapa yang bangun ketika bayi menangis?
Pembicaraan semacam ini memang penting. Bahkan pasangan yang akan mempunyai anak sebaiknya membicarakan berbagai harapan dan tanggung jawab agar tidak terjadi kesalahpahaman setelah bayi lahir.
Namun, ada persoalan lain.
Apakah kehidupan keluarga harus selalu berjalan berdasarkan pembagian tugas yang kaku?
Dalam kenyataan, tidak selalu demikian.
Bayi tidak memahami jadwal.
Kalau anak menangis pada tengah malam, misalnya, mungkin bukan saatnya berpikir, “Ini tugas siapa?”
Yang lebih penting adalah:
“Siapa yang sedang terjaga dan bisa membantu?”
Kepekaan Bisa Menjadi Bentuk Komunikasi
Ada keluarga yang tidak selalu membicarakan secara formal siapa mengerjakan apa.
Suami melihat istrinya sedang sibuk mengurus bayi, sementara dirinya masih mempunyai tenaga.
Ia kemudian mengambil pekerjaan rumah yang lain.
Misalnya mencuci pakaian.
Tidak ada pembicaraan panjang.
Tidak ada perjanjian.
Tidak ada catatan pembagian tugas.
Ia hanya melihat bahwa ada pekerjaan yang perlu dilakukan dan ia bisa melakukannya.
Sebaliknya, ketika suami sedang lelah setelah bekerja, sementara istrinya masih memiliki tenaga, sang istri mungkin mengambil pekerjaan yang lain.
Begitulah keluarga dapat berjalan.
Bukan karena keduanya selalu membagi pekerjaan secara matematis, tetapi karena keduanya peka terhadap kebutuhan keluarga.
Kepekaan seperti ini berbeda dengan sekadar mengetahui tugas.
Seseorang bisa mengetahui bahwa mengganti popok adalah pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi belum tentu peka bahwa pasangannya sedang kelelahan.
Seseorang bisa mengetahui bahwa pakaian harus dicuci, tetapi belum tentu berpikir untuk mengambil alih pekerjaan tersebut ketika pasangannya sedang sibuk.
Maka, kepekaan sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam:
kepedulian.
Lawan dari Kepekaan Bukan Ketidaktahuan, tetapi Ketidakpedulian
Ada perbedaan antara tidak tahu dan tidak peduli.
Seorang ayah mungkin tidak tahu bagaimana mengganti popok bayi. Itu bisa dipelajari.
Seorang ibu mungkin belum tahu bagaimana melakukan pekerjaan tertentu. Itu juga bisa dipelajari.
Tetapi kalau seseorang melihat pasangannya kewalahan lalu berpikir, “Itu bukan urusan saya,” persoalannya bukan lagi kurang pengetahuan.
Itu adalah persoalan kepedulian.
Karena itu, pasangan yang baru mempunyai anak perlu belajar melihat keluarga sebagai sebuah tim.
Dalam sebuah tim, orang tidak hanya bertanya:
“Apa tugas saya?”
Tetapi juga:
“Apa yang sedang dibutuhkan tim?”
Pertanyaan kedua membuat seseorang lebih peka.
Keluarga Bukan Kompetisi untuk Menghitung Pengorbanan
Kelahiran anak pertama bisa membuat suami dan istri sama-sama lelah.
Ayah mungkin merasa sudah bekerja sepanjang hari.
Ibu mungkin merasa sudah sepanjang hari merawat bayi.
Kalau keduanya mulai menghitung:
“Saya sudah melakukan ini.”
“Saya sudah melakukan itu.”
“Mengapa kamu tidak membantu?”
maka keluarga dapat berubah menjadi arena perhitungan.
Padahal kehidupan keluarga tidak selalu bisa dihitung secara matematis.
Ada hari ketika ayah melakukan lebih banyak.
Ada hari ketika ibu melakukan lebih banyak.
Ada masa ketika salah satu sedang sakit.
Ada masa ketika salah satu mendapatkan pekerjaan yang lebih berat.
Ada malam ketika ayah yang lebih dulu terbangun.
Ada malam lain ketika ibu yang lebih banyak berjaga.
Yang penting bukan setiap hari harus persis sama.
Yang penting adalah keduanya merasa tidak sendirian dalam menjalani tanggung jawab keluarga.
Tetapi Kepekaan Tidak Berarti Tidak Perlu Berbicara
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Kepekaan memang indah.
Tetapi kepekaan tidak bisa menjadi satu-satunya cara berkomunikasi.
Tidak semua orang mempunyai kemampuan membaca keadaan pasangannya.
Seorang suami mungkin tidak menyadari bahwa istrinya sudah sangat kelelahan.
Seorang istri mungkin tidak mengetahui bahwa suaminya sedang menghadapi tekanan pekerjaan.
Karena itu, komunikasi terbuka tetap diperlukan.
Pasangan boleh membicarakan pembagian tugas.
Boleh menyepakati siapa yang melakukan pekerjaan tertentu.
Boleh membuat rutinitas.
Boleh mengatakan:
“Kalau malam ini kamu sudah sangat lelah, biar saya yang mengurus bayi.”
Atau:
“Besok saya harus bekerja lebih pagi. Mungkin malam ini kita perlu mengatur giliran.”
Pembagian tugas yang fleksibel justru dapat mengurangi ketegangan karena masing-masing mengetahui apa yang diharapkan.
Jadi, kepekaan bukan pengganti komunikasi.
Kepekaan melengkapi komunikasi.
Dari “Tugas Saya” Menjadi “Tanggung Jawab Kita”
Mungkin ini perubahan cara berpikir yang paling penting setelah mempunyai anak.
Anak bukan milik ibu saja.
Anak juga bukan tanggung jawab ayah saja.
Anak adalah tanggung jawab bersama.
Demikian pula rumah.
Karena itu, ketika bayi bangun malam, pertanyaannya tidak harus:
“Siapa yang mendapat giliran?”
Tetapi bisa:
“Siapa yang sekarang paling memungkinkan membantu?”
Ketika pakaian menumpuk:
“Siapa yang bertugas mencuci?”
bisa berubah menjadi:
“Siapa yang sedang punya tenaga untuk mengerjakannya?”
Perubahan kecil dalam cara berpikir ini dapat membuat kehidupan keluarga menjadi lebih lentur.
Menjadi Tim Berarti Saling Menggantikan
Dalam sebuah tim, tidak setiap orang melakukan pekerjaan yang sama.
Yang penting adalah setiap orang tahu bahwa dirinya menjadi bagian dari keseluruhan.
Begitu pula suami istri.
Ayah mungkin lebih banyak bekerja di luar rumah.
Ibu mungkin lebih banyak bersama bayi.
Tetapi ketika berada di rumah, ayah bukan sekadar “membantu ibu”.
Ia sedang menjalankan tanggung jawabnya sebagai ayah.
Begitu pula ketika ibu mengambil alih pekerjaan tertentu karena suami sedang kelelahan, ia bukan sedang “menggantikan tugas suami”.
Ia sedang menjadi bagian dari tim keluarga.
Kata “membantu” bahkan kadang perlu dipahami kembali.
Seorang ayah yang mengganti popok anaknya sebenarnya bukan sedang membantu istrinya.
Ia sedang menjadi ayah.
Seorang ibu yang menyiapkan makanan ketika suaminya sedang sibuk bukan sekadar membantu suami.
Ia sedang menjadi pasangan.
Jangan Menunggu Pasangan Meminta
Salah satu bentuk kepekaan yang sederhana adalah tidak selalu menunggu permintaan.
Kalau melihat pasangan kesulitan, kita bertanya:
“Ada yang bisa saya bantu?”
Kalau melihat pasangan sudah sangat lelah, kita bisa mengambil sebagian pekerjaan.
Kalau bayi menangis dan kita sedang terjaga, kita bisa segera mendekat.
Kalau pekerjaan rumah menumpuk dan kita punya waktu, kita bisa mengerjakannya.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak terlihat penting.
Tetapi dalam kehidupan orang tua baru, tindakan kecil bisa sangat berarti.
Karena kadang pasangan tidak membutuhkan nasihat panjang.
Ia hanya membutuhkan perasaan:
“Saya tidak sendirian.”
Anak Pertama Seharusnya Menyatukan, Bukan Memisahkan
Kehadiran anak memang membawa perubahan.
Tetapi perubahan itu tidak harus membuat suami dan istri semakin jauh.
Justru anak pertama dapat menjadi kesempatan bagi pasangan untuk belajar bekerja sama dengan cara yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Mereka belajar berbagi waktu.
Belajar berbagi tenaga.
Belajar memahami kelelahan masing-masing.
Belajar meminta bantuan.
Belajar memberikan bantuan tanpa diminta.
Dan belajar bahwa cinta dalam keluarga bukan hanya kata-kata.
Kadang cinta hadir dalam bentuk yang sangat sederhana:
Ayah bangun malam mengganti popok.
Ibu mengambil alih pekerjaan ketika suami kelelahan.
Ayah mencuci pakaian.
Ibu memasak.
Salah satu menggendong bayi sementara yang lain mandi.
Tidak selalu ada ucapan terima kasih.
Tidak selalu ada pembagian tugas yang tertulis.
Tetapi ada satu hal yang penting:
keduanya hadir.
Kelahiran Anak Pertama adalah Belajar Menjadi Tim
Pada akhirnya, kelahiran anak pertama bukan hanya membuat seseorang menjadi ayah dan ibu.
Kelahiran anak pertama juga mengajarkan suami istri menjadi sebuah tim.
Tim tidak berarti semua pekerjaan harus dibagi sama rata setiap hari.
Tim berarti ada kesediaan untuk saling memperhatikan.
Ketika salah satu kuat, ia membantu yang sedang lemah.
Ketika salah satu lelah, yang lain mengambil bagian.
Ketika keadaan berubah, pembagian tugas dapat berubah.
Dan ketika tidak tahu harus berbuat apa, mereka dapat membicarakannya.
Jadi, mungkin kehidupan keluarga yang sehat bukanlah keluarga yang selalu memiliki pembagian tugas yang sempurna.
Keluarga yang sehat adalah keluarga yang anggotanya tidak saling menunggu untuk peduli.
Anak pertama memang membuat kehidupan harus disetel ulang.
Tetapi perubahan itu tidak harus menjadi sumber ketegangan.
Dengan komunikasi yang terbuka, pembagian tugas yang fleksibel, dan terutama kepekaan terhadap pasangan, kehidupan baru sebagai orang tua dapat dijalani sebagai perjalanan bersama.
Karena pada akhirnya, yang paling dibutuhkan seorang ibu bukan suami yang sempurna.
Dan seorang ayah juga tidak membutuhkan istri yang sempurna.
Mereka membutuhkan pasangan yang bersedia berkata, melalui kata maupun tindakan:
“Kita jalani ini bersama.”
BACA JUGA:

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.