Setelah Anak Lahir, Jangan Sampai Suami Istri Berhenti Menjadi Pasangan

Table of Contents


Kelahiran anak pertama membawa kebahagiaan yang sulit dibandingkan dengan pengalaman lainnya. Rumah yang sebelumnya hanya diisi suami dan istri kini mempunyai suara baru: tangisan, tawa, celoteh, dan berbagai aktivitas bayi.

Perhatian pun secara alami berpindah kepada anak.

Dan itu bukan sesuatu yang salah.

Bayi memang membutuhkan perhatian besar dari kedua orang tuanya. Ia belum mampu melakukan apa pun sendiri. Makan, tidur, mandi, berganti pakaian, bahkan menenangkan diri ketika menangis masih membutuhkan bantuan orang tua.

Namun, di tengah kebahagiaan menjadi ayah dan ibu, ada satu hal yang terkadang tidak disadari:

jangan sampai suami dan istri berhenti menjadi pasangan.

Sebab setelah anak lahir, hubungan suami istri juga membutuhkan perhatian.


Ketika Pulang Kerja, Siapa yang Dicari Pertama?

Bayangkan seorang suami pulang dari kantor.

Pintu rumah terbuka.

Ia masuk dan mungkin langsung mencari anak.

“Mana anak?”

Kemudian ia menggendong, mencium, atau bermain dengan anak.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Bahkan bagi seorang ayah, melihat anak setelah seharian bekerja tentu merupakan kebahagiaan tersendiri.

Tetapi coba bayangkan posisi sang istri.

Seharian ia mungkin sudah bersama anak.

Sejak pagi mengurus kebutuhan bayi, memberi makan, mengganti popok, menenangkan ketika menangis, membereskan rumah, dan melakukan berbagai pekerjaan lainnya.

Ketika suami pulang, mungkin ada harapan sederhana:

“Akhirnya suami saya pulang.”

Mungkin ia berharap disapa.

Mungkin ingin dicium.

Mungkin ingin ditanya:

“Bagaimana kabarmu hari ini?”

Tetapi yang datang pertama justru perhatian kepada anak.

Sekali dua kali mungkin tidak menjadi persoalan.

Tetapi kalau terus menjadi kebiasaan, bisa saja muncul sebuah gumaman kecil dalam hati:

“Pasti yang dicari pertama kali anak.”

Kalimat itu mungkin tidak pernah diucapkan.

Namun perasaan tersebut bisa tumbuh diam-diam.


Tidak Ada yang Salah dengan Anak, Tetapi Ada Sesuatu yang Bisa Hilang

Inilah bagian yang perlu dipahami dengan hati-hati.

Persoalannya bukan anak.

Persoalannya juga bukan karena ayah terlalu menyayangi anak.

Justru sangat baik jika seorang ayah mempunyai kedekatan dengan anaknya.

Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan perhatian.

Ketika seseorang menjadi ayah atau ibu, ia mendapatkan identitas baru.

Suami menjadi ayah.

Istri menjadi ibu.

Peran tersebut sangat penting.

Tetapi sebelum menjadi ayah, seorang laki-laki adalah suami.

Sebelum menjadi ibu, seorang perempuan adalah istri.

Identitas lama itu jangan sampai hilang hanya karena identitas baru begitu menyenangkan.


Istri Mungkin Sudah Seharian Bersama Anak

Ada satu hal yang sering luput dari perhatian.

Ketika ayah pulang dari kantor dan sangat ingin bertemu anak, mungkin ayah merasa:

“Saya sudah seharian tidak melihat anak.”

Tetapi ibu mungkin mengalami kondisi yang berbeda.

Ibu justru sudah bersama anak sepanjang hari.

Karena itu, ketika ayah pulang, yang mungkin diharapkan ibu bukan tambahan waktu bersama anak.

Ia mungkin menginginkan sesuatu yang berbeda.

Ia ingin berbicara dengan orang dewasa.

Ingin menceritakan bagaimana hari yang dilewatinya.

Ingin didengar.

Ingin merasa bahwa dirinya masih diperhatikan sebagai seorang istri, bukan hanya sebagai ibu dari anak-anak.

Maka, sebuah sapaan sederhana dapat mempunyai arti yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

“Bagaimana hari kamu?”

atau:

“Capek?”

atau bahkan sekadar mencium pasangan sebelum menghampiri anak.

Tindakan kecil tersebut bisa menyampaikan pesan:

“Saya melihat kamu.”


Jangan Sampai Anak Menggantikan Pasangan

Kehadiran anak memang mengubah pusat perhatian keluarga.

Tetapi jangan sampai perubahan itu berarti anak menggantikan posisi pasangan.

Anak adalah anak.

Pasangan adalah pasangan.

Keduanya memiliki tempat yang berbeda dalam kehidupan keluarga.

Seorang ayah boleh sangat mencintai anaknya tanpa mengurangi cintanya kepada istrinya.

Seorang ibu boleh memberikan perhatian penuh kepada anak tanpa melupakan suaminya.

Bahkan hubungan yang baik antara ayah dan ibu dapat memberikan lingkungan yang lebih baik bagi anak.

Karena anak tidak hanya membutuhkan ayah dan ibu yang mencintai dirinya.

Anak juga membutuhkan orang tua yang mampu menjaga hubungan satu sama lain.


Menjadi Orang Tua Jangan Membuat Kita Lupa Menjadi Suami dan Istri

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi praktiknya tidak selalu mudah.

Setelah mempunyai anak, pembicaraan pasangan bisa berubah.

Dulu:

“Mau makan di mana?”

Sekarang:

“Anak sudah makan?”

Dulu:

“Besok kita mau pergi ke mana?”

Sekarang:

“Besok anak ada jadwal apa?”

Dulu:

“Bagaimana pekerjaanmu?”

Sekarang:

“Popoknya sudah habis belum?”

Semua pembicaraan tersebut diperlukan.

Tetapi kalau seluruh komunikasi hanya berputar pada anak, hubungan pasangan bisa kehilangan ruang.

Suami dan istri akhirnya menjadi seperti dua orang yang menjalankan sebuah proyek bersama: membesarkan anak.

Padahal mereka tetap membutuhkan hubungan emosional sebagai pasangan.

Mereka tetap perlu berbicara tentang dirinya sendiri.

Tentang pekerjaan.

Tentang perasaan.

Tentang harapan.

Tentang kekhawatiran.

Bahkan tentang hal-hal sederhana yang tidak ada hubungannya dengan anak.


Perhatian Kecil Bisa Menjaga Hubungan

Menjaga hubungan suami istri setelah punya anak tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar.

Tidak harus pergi berlibur.

Tidak harus makan di restoran mahal.

Tidak harus menyediakan waktu berjam-jam.

Kadang yang diperlukan justru kebiasaan kecil.

Ketika pulang kerja, sapa pasangan lebih dulu.

Tanyakan bagaimana harinya.

Berikan pelukan.

Ucapkan terima kasih.

Bantu mengambil pekerjaan rumah.

Dengarkan ceritanya tanpa langsung memberikan nasihat.

Ketika pasangan sedang berbicara, letakkan telepon.

Dan sesekali luangkan waktu untuk berbicara sebagai suami dan istri, bukan hanya sebagai ayah dan ibu.

Hal-hal tersebut mungkin sederhana.

Tetapi hubungan yang kuat sering kali memang dibangun dari perhatian kecil yang dilakukan terus-menerus.


Bukan Memilih Anak atau Pasangan

Ada kekhawatiran bahwa memberi perhatian kepada pasangan berarti mengurangi perhatian kepada anak.

Padahal bukan begitu.

Ini bukan pilihan:

anak atau pasangan.

Yang dibutuhkan adalah keseimbangan.

Anak membutuhkan perhatian karena ia masih bergantung kepada orang tua.

Tetapi pasangan juga membutuhkan perhatian karena hubungan mereka adalah salah satu fondasi keluarga.

Bahkan ketika ayah memberikan perhatian kepada ibu, secara tidak langsung ia juga sedang memberikan sesuatu kepada anak.

Anak belajar bahwa ibunya dihargai.

Anak melihat bahwa ayahnya memperhatikan ibu.

Anak melihat bahwa kasih sayang bukan hanya diberikan kepada dirinya.

Dengan demikian, hubungan suami istri juga menjadi contoh bagi anak tentang bagaimana manusia memperlakukan orang yang dicintainya.



Kepekaan Menjadi Sangat Penting

Di sinilah pembahasan tentang kepekaan menjadi relevan.

Pasangan tidak selalu akan berkata:

“Saya merasa kurang diperhatikan.”

Kadang ia hanya diam.

Kadang menjadi lebih dingin.

Kadang berhenti bercerita.

Kadang tidak lagi meminta bantuan karena merasa percuma.

Pasangan yang peka akan mencoba melihat perubahan tersebut.

Bukan langsung bertanya:

“Kamu kenapa?”

dengan nada menuduh.

Tetapi bisa mengatakan:

“Akhir-akhir ini saya merasa kita jarang punya waktu berbicara. Apa kamu merasakan hal yang sama?”

Pertanyaan semacam itu membuka ruang percakapan.

Karena dalam kehidupan keluarga, tidak semua masalah dimulai dengan pertengkaran.

Sebagian masalah justru dimulai dengan perhatian yang perlahan berkurang.


Anak Tidak Akan Selamanya Bayi

Ada satu perspektif lain yang mungkin perlu dipikirkan.

Bayi akan tumbuh.

Anak akan semakin besar.

Suatu hari ia akan sekolah.

Kemudian mempunyai teman sendiri.

Kemudian mempunyai kehidupan sendiri.

Ketika itu terjadi, pasangan yang sejak awal tidak menjaga hubungannya bisa tiba-tiba menyadari bahwa selama bertahun-tahun mereka hanya sibuk menjadi ayah dan ibu.

Kemudian muncul pertanyaan:

“Sekarang anak-anak sudah besar, kita mau berbicara tentang apa?”

Karena itu, hubungan suami istri perlu tetap dirawat sejak anak masih kecil.

Bukan karena anak tidak penting.

Justru karena kita memahami bahwa peran sebagai orang tua memiliki fase, sementara hubungan suami istri adalah hubungan yang diharapkan terus berjalan.


Anak Adalah Anugerah, Tetapi Pasangan Juga Perlu Dijaga

Bagi keluarga Kristen, kehadiran anak tentu merupakan anugerah Tuhan.

Karena itu, mencintai dan merawat anak adalah sesuatu yang patut disyukuri.

Namun, menjaga hubungan suami istri juga merupakan bagian dari tanggung jawab keluarga.

Kasih tidak seharusnya hanya mengalir kepada anak.

Kasih juga perlu tetap mengalir di antara suami dan istri.

Sebab anak yang tumbuh dalam keluarga bukan hanya membutuhkan makanan, pakaian, pendidikan, dan perhatian.

Ia juga membutuhkan lingkungan keluarga yang memperlihatkan bahwa ayah dan ibunya saling menghargai dan mengasihi.


Jangan Kehilangan Kebiasaan Lama yang Baik

Kelahiran anak memang mengharuskan banyak kebiasaan disetel ulang.

Tetapi tidak semua kebiasaan lama harus dibuang.

Jika sebelum mempunyai anak suami terbiasa mencium istrinya ketika pulang, mengapa harus berhenti?

Jika sebelum mempunyai anak istri terbiasa bertanya tentang pekerjaan suaminya, mengapa harus hilang?

Jika dahulu mereka mempunyai waktu berbicara sebelum tidur, mungkin waktunya memang berkurang, tetapi bukan berarti harus benar-benar menghilang.

Kita mungkin tidak bisa mempertahankan semuanya seperti dulu.

Tetapi kita bisa mempertahankan makna dari kebiasaan tersebut.

Mungkin dulu bisa berbicara satu jam.

Sekarang hanya sepuluh menit.

Mungkin dulu bisa pergi berdua setiap minggu.

Sekarang mungkin hanya duduk bersama ketika anak sudah tidur.

Yang penting bukan lamanya.

Yang penting adalah pesan yang terus disampaikan:

“Di tengah kesibukan kita menjadi orang tua, kamu tetap penting bagi saya.”


Jangan Sampai Kita Hanya Menjadi Ayah dan Ibu

Kelahiran anak pertama memang mengubah kehidupan.

Rumah menjadi lebih ramai.

Waktu menjadi lebih terbatas.

Tidur menjadi tidak menentu.

Perhatian terbagi.

Tanggung jawab bertambah.

Tetapi satu hal jangan sampai hilang:

suami tetap menjadi suami, dan istri tetap menjadi istri.

Keduanya memang sekarang juga menjadi ayah dan ibu.

Namun menjadi ayah dan ibu seharusnya tidak menghapus hubungan yang sudah lebih dahulu dibangun sebagai pasangan.

Maka ketika pulang kerja, mungkin tidak ada salahnya berhenti sejenak.

Lihat pasangan.

Sapa dia.

Cium dia.

Tanyakan bagaimana harinya.

Baru kemudian menghampiri anak.

Bukan karena anak kurang penting.

Tetapi karena pasangan juga ingin merasakan bahwa setelah sepanjang hari menjalani perannya sebagai ibu atau ayah, ia masih mempunyai seseorang yang melihat dirinya sebagai pribadi yang dicintai.

Dan mungkin itulah salah satu bentuk kepekaan paling sederhana dalam keluarga:

tidak hanya melihat siapa yang membutuhkan kita, tetapi juga tidak melupakan siapa yang selama ini berjalan bersama kita.

Saya kira artikel ini bisa menjadi bagian yang lebih emosional dari seri “kelahiran anak pertama”. Artikel sebelumnya berbicara tentang kepekaan dalam berbagi beban, sedangkan artikel ini bergerak satu tingkat lebih dalam: kepekaan menjaga ikatan emosional suami-istri.

BACA JUGA:

Anak Pertama Lahir, Butuh Kepekaan Bagi pasangan

Anak Pertama Lahir, Pasangan Harus Menyetel Ulang Kebiasaan

Posting Komentar