Ketika Pengorbanan Orang Tua Menjadi Alat untuk Menuntut Kepatuhan Anak
Orang tua tentu berkorban banyak untuk anak-anaknya. Seorang ibu melewati masa kehamilan, menghadapi rasa sakit persalinan, bahkan dalam kondisi tertentu mempertaruhkan keselamatan dirinya. Seorang ayah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menghadapi panas, hujan, kelelahan, dan berbagai tekanan hidup.
Tidak ada yang salah dengan kenyataan tersebut.
Pengorbanan orang tua adalah sesuatu yang nyata. Banyak anak bertumbuh dan mendapatkan kesempatan dalam hidup karena ada orang tua yang bekerja, mengalah, menunda keinginannya sendiri, bahkan memberikan sebagian besar hidupnya bagi keluarga.
Namun, persoalan dapat muncul ketika pengorbanan orang tua kepada anak tidak lagi sekadar dikenang sebagai bagian dari perjalanan keluarga, tetapi mulai digunakan sebagai alasan untuk menuntut kepatuhan.
Kita mungkin pernah mendengar kalimat seperti:
«“Kamu tahu tidak betapa susahnya ibu melahirkan kamu?”»
Atau:
«“Ayah membanting tulang siang dan malam untuk membiayai kamu.”»
Bahkan ada orang tua yang mengingatkan anak tentang berbagai pengorbanan kecil yang pernah dilakukan selama bertahun-tahun.
Pertanyaannya bukan apakah semua itu benar.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi ketika pengorbanan tersebut terus-menerus diungkit untuk membuat anak menurut?
Ketika Pengorbanan Orang Tua Berubah Menjadi Alat untuk Menuntut Kepatuhan Anak
Pada awalnya, orang tua mungkin hanya ingin anak memahami bahwa kehidupan tidak diperoleh dengan mudah.
Mereka ingin anak belajar bersyukur.
Mereka ingin anak menghargai perjuangan keluarga.
Keinginan tersebut sebenarnya sangat wajar.
Masalahnya muncul ketika pesan tentang pengorbanan berubah menjadi tekanan emosional:
«“Setelah semua yang kami lakukan untukmu, kamu masih berani menolak?”»
Kalimat seperti ini membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar mengingatkan anak tentang masa lalu.
Secara tidak langsung, anak dapat menangkap pesan:
“Kami sudah berkorban untukmu, maka kamu harus melakukan apa yang kami inginkan.”
Di sinilah pengorbanan mulai berubah fungsi.
Dari sesuatu yang seharusnya menjadi ungkapan kasih, pengorbanan dapat berubah menjadi alat untuk mendapatkan kepatuhan.
Anak mungkin akhirnya menurut.
Tetapi pertanyaannya, apakah ia menurut karena memahami persoalan?
Ataukah ia menurut karena merasa bersalah?
Anak yang Merasa Berutang kepada Orang Tuanya
Seorang anak tidak memilih untuk dilahirkan.
Ia tidak memilih siapa orang tuanya, dalam keluarga seperti apa ia dilahirkan, atau kondisi ekonomi seperti apa yang akan dihadapinya.
Karena itu, ketika kelahiran dan kehidupan anak terus-menerus dijadikan alasan untuk menuntut balasan, anak dapat merasa seolah-olah ia memiliki sebuah utang yang sangat besar kepada orang tuanya.
Masalahnya, utang tersebut tidak pernah benar-benar bisa dibayar.
Bagaimana seorang anak membayar rasa sakit ibunya ketika melahirkan?
Bagaimana ia membayar kembali tahun-tahun ketika ayah bekerja keras?
Bagaimana seseorang mengembalikan waktu, tenaga, dan pengorbanan yang telah diberikan orang tuanya?
Tidak mungkin.
Akibatnya, sebagian anak tumbuh dengan perasaan bahwa apa pun yang mereka lakukan tidak akan pernah cukup.
Mereka bisa merasa:
- selalu berutang kepada orang tua;
- selalu kurang bersyukur;
- selalu bersalah ketika membuat pilihan sendiri;
- takut mengecewakan keluarga;
- merasa egois ketika memiliki keinginan yang berbeda.
Di sinilah hubungan antara orang tua dan anak dapat menjadi tidak sehat.
Bukan karena orang tua tidak mencintai anak.
Justru sering kali semuanya berawal dari cinta.
Namun, cinta yang bercampur dengan rasa frustrasi dan keinginan untuk mengendalikan dapat menghasilkan tekanan yang tidak disadari.
Mengapa Orang Tua Sering Mengungkit Pengorbanan Masa Lalu?
Kita juga perlu jujur melihat persoalan ini dari sisi orang tua.
Tidak semua orang tua yang mengatakan:
«“Kami sudah berkorban begitu banyak untukmu!”»
berniat untuk memanipulasi anak.
Sering kali kalimat tersebut keluar ketika orang tua sedang berada dalam keadaan emosional.
Misalnya ketika:
- anak sulit diatur;
- nasihat tidak didengarkan;
- anak mengambil keputusan yang tidak disetujui;
- orang tua merasa kehilangan kendali;
- orang tua merasa pengorbanannya tidak dihargai.
Dalam keadaan frustrasi, orang tua sering kembali kepada masa lalu.
Mereka mengingat semua yang pernah dilakukan:
«“Dulu ibu tidak tidur mengurus kamu.”»
«“Ayah bekerja keras supaya kamu bisa sekolah.”»
«“Kami mengorbankan banyak hal demi masa depanmu.”»
Mengapa masa lalu tiba-tiba muncul?
Karena orang tua sedang mencoba mencari kekuatan moral untuk menghadapi persoalan hari ini.
Ketika nasihat tidak berhasil, mereka mengingatkan anak tentang pengorbanan.
Ketika aturan tidak dipatuhi, mereka menunjukkan betapa besar perjuangan yang telah dilakukan.
Tanpa disadari, masa lalu kemudian digunakan untuk memperoleh kepatuhan pada masa kini.
Kita Mungkin Sedang Mewariskan Pola yang Pernah Kita Terima
Di sinilah kita perlu bercermin.
Banyak orang tua hari ini sebenarnya pernah menjadi anak yang mendengar kalimat serupa.
Mereka juga pernah mendengar:
«“Orang tua sudah membesarkan kamu.”»
«“Jangan pernah melawan orang tua.”»
«“Kamu harus tahu bagaimana susahnya kami mencari uang.”»
Pesan tersebut diulang berkali-kali sejak kecil.
Lalu pesan itu tertanam.
Bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang menjadi orang tua dan menghadapi anak yang sulit diatur, tanpa sadar bahasa yang sama keluar kembali.
Kita mungkin merasa sedang mendidik anak.
Padahal kita sedang mewariskan pola yang dahulu digunakan untuk mendidik kita.
Inilah salah satu alasan mengapa pola pengasuhan dapat terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bukan karena semua orang tua berniat menyakiti anak.
Tetapi karena banyak orang tidak pernah belajar cara lain.
Ketika Rasa Bersalah Menjadi Cara Mengendalikan Anak
Ada perbedaan antara membantu anak memahami pengorbanan keluarga dan membuat anak merasa bersalah.
Orang tua tentu boleh menceritakan perjuangannya.
Bahkan anak perlu mengetahui bahwa hidup tidak selalu mudah.
Mereka perlu belajar menghargai pekerjaan orang tua, memahami kondisi keluarga, dan mengembangkan rasa terima kasih.
Tetapi pendidikan tentang pengorbanan berbeda dengan menggunakan rasa bersalah untuk mengendalikan.
Misalnya:
Membantu anak memahami:
«“Ayah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, mari kita belajar menggunakan uang dengan bijaksana.”»
Berbeda dengan:
«“Ayah sudah bekerja mati-matian untukmu, jadi kamu harus melakukan apa yang ayah katakan.”»
Kalimat pertama mengajak anak memahami.
Kalimat kedua menempatkan pengorbanan sebagai alat untuk menuntut kepatuhan.
Hasilnya mungkin sama: anak melakukan sesuatu.
Tetapi proses batinnya berbeda.
Anak yang memahami akan belajar bertanggung jawab.
Anak yang merasa bersalah mungkin hanya belajar untuk menyerah.
Kepatuhan Tidak Selalu Berarti Anak Memahami
Ini adalah hal yang penting bagi orang tua.
Seorang anak dapat diam bukan karena setuju.
Ia dapat menurut bukan karena memahami.
Ia dapat berhenti melawan bukan karena sadar.
Kadang-kadang anak hanya sudah tidak memiliki tenaga untuk berdebat.
Ia merasa:
«“Kalau saya terus melawan, orang tua akan semakin marah.”»
Atau:
«“Lebih baik saya menyerah daripada membuat mereka kecewa.”»
Dari luar, orang tua mungkin melihat:
“Anak saya akhirnya menurut.”
Tetapi di dalam diri anak mungkin sedang terjadi sesuatu yang berbeda:
- rasa bersalah;
- ketakutan;
- kemarahan yang dipendam;
- perasaan tidak didengar;
- keinginan untuk segera menjauh ketika dewasa.
Karena itu, keberhasilan orang tua tidak seharusnya hanya diukur dari satu pertanyaan:
«“Apakah anak saya menurut?”»
Pertanyaan yang mungkin lebih penting adalah:
«“Apakah anak saya memahami?”»
Dan lebih jauh lagi:
«“Apakah anak saya masih merasa aman berbicara dengan saya?”»
Pengorbanan Orang Tua Bukan Tagihan yang Harus Dibayar Anak
Ini bukan berarti anak tidak perlu bersyukur.
Bukan berarti anak boleh mengabaikan orang tua.
Dan bukan berarti perjuangan orang tua tidak perlu dihargai.
Justru rasa terima kasih kepada orang tua adalah sesuatu yang penting.
Namun, rasa terima kasih akan kehilangan maknanya ketika dipaksa keluar melalui rasa bersalah.
Anak yang bersyukur karena memahami kasih dan perjuangan orang tuanya berbeda dengan anak yang berkata “terima kasih” karena takut dianggap tidak tahu diri.
Pengorbanan orang tua seharusnya dapat menjadi cerita tentang kasih, bukan daftar tagihan.
Orang tua dapat mengatakan:
«“Kami memang berjuang membesarkanmu. Kami ingin kamu mengetahui perjalanan keluarga kita supaya kamu belajar menghargai kehidupan.”»
Kalimat ini berbeda dengan:
«“Kami sudah melakukan semuanya untukmu. Sekarang kamu harus membalasnya dengan mengikuti semua keinginan kami.”»
Perbedaan kecil dalam cara berbicara dapat menghasilkan hubungan yang sangat berbeda.
Belajar Menjadi Orang Tua dengan Bahasa yang Berbeda
Mungkin tantangan terbesar bagi orang tua bukan hanya mendidik anak.
Kadang-kadang tantangan terbesar adalah berhenti mengulang semua yang dahulu kita alami.
Kita bisa saja mencintai orang tua kita dan tetap mengakui bahwa beberapa cara yang mereka gunakan dahulu tidak perlu diwariskan.
Kita dapat menghormati generasi sebelumnya tanpa harus mengulangi seluruh pola pengasuhannya.
Ketika frustrasi menghadapi anak, mungkin kita perlu berhenti sejenak sebelum berkata:
«“Setelah semua yang ayah dan ibu lakukan untukmu!”»
Lalu mencoba bertanya kepada diri sendiri:
Apa sebenarnya yang sedang saya rasakan?
Apakah saya marah?
Apakah saya kecewa?
Apakah saya takut terhadap masa depan anak?
Apakah saya merasa tidak dihargai?
Ataukah saya sebenarnya sedang kehilangan kendali?
Kadang-kadang, kemarahan hanyalah bahasa yang kita gunakan ketika tidak tahu bagaimana menyampaikan ketakutan dan luka.
Dan mungkin anak tidak membutuhkan daftar panjang tentang pengorbanan orang tuanya.
Mereka membutuhkan orang tua yang mampu berkata:
«“Saya sedang kecewa.”»
«“Saya khawatir dengan keputusanmu.”»
«“Saya takut sesuatu yang buruk terjadi kepadamu.”»
«“Saya ingin kamu mendengarkan saya karena saya mencintaimu.”»
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin tidak selalu membuat anak langsung patuh.
Tetapi setidaknya hubungan dibangun di atas kejujuran, bukan rasa bersalah.
BACA JUGA:
Ketika Anak Mengatakan: "Aku tidak Minta Dilahirkan"
Penutup: Mengubah Warisan Pengasuhan dari Satu Generasi ke Generasi Berikutnya
Banyak dari kita menerima cerita tentang betapa besar perjuangan orang tua sejak masih kecil.
Kita diajarkan untuk mengingat penderitaan ibu ketika melahirkan.
Kita diingatkan tentang ayah yang bekerja keras.
Kita diminta memahami bahwa kehidupan yang kita nikmati tidak datang dengan mudah.
Semua itu bukan sesuatu yang salah.
Yang perlu kita perhatikan adalah ketika cerita tentang pengorbanan berubah menjadi senjata untuk mendapatkan kepatuhan.
Karena anak memang perlu belajar bersyukur.
Tetapi anak tidak seharusnya hidup sebagai tahanan dari rasa bersalah.
Dan orang tua memang berhak berharap anak menghargai perjuangannya.
Tetapi pengorbanan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memiliki seluruh kendali atas kehidupan anak.
Mungkin inilah tantangan bagi generasi orang tua hari ini:
bagaimana kita tetap mengajarkan rasa terima kasih tanpa menciptakan utang emosional?
Bagaimana kita meminta anak menghormati kita tanpa membuat mereka kehilangan dirinya sendiri?
Dan bagaimana kita dapat berkata kepada anak:
«“Kami berjuang membesarkanmu karena kami mencintaimu, bukan supaya suatu hari nanti kamu hidup untuk membayar semua pengorbanan kami.”»
Sebab mungkin warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak bukanlah daftar panjang tentang betapa besar pengorbanan kita.
Melainkan kemampuan untuk mengatakan:
“Kami menerima cinta dari generasi sebelumnya. Kami belajar dari kesalahan mereka. Dan kami berharap hubungan kita denganmu bisa menjadi lebih baik daripada yang pernah kami alami.”

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.