Menikah Bukan Sekadar Karena Saling Mencintai: Apakah Cinta Saja Cukup?
Ketika dua orang saling mencintai dan ingin menghabiskan hidup bersama, menikah sering terasa seperti langkah yang paling wajar.
Mereka saling mencintai.
Mereka merasa nyaman bersama.
Mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain.
Lalu muncul kesimpulan sederhana: kalau kami saling mencintai, bukankah itu sudah cukup untuk menikah?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana itu.
Cinta memang menjadi salah satu alasan terbesar seseorang mengambil keputusan untuk menikah. Kita tentu berharap menikah dengan seseorang yang kita cintai, bukan sekadar dengan seseorang yang dipilih karena alasan-alasan lain. Namun, apakah cinta—terutama perasaan cinta yang sedang begitu kuat—cukup untuk menjadi satu-satunya dasar memasuki pernikahan?
Di sinilah kita perlu membedakan antara jatuh cinta, romantisme, dan keputusan untuk membangun kehidupan bersama.
Kita Dibentuk oleh Romantisme tentang Cinta
Sejak lama, cara kita memandang cinta banyak dipengaruhi oleh romantisme.
Kita mendengarkan lagu-lagu cinta yang berbicara tentang kerinduan dan pengorbanan. Kita membaca novel tentang dua orang yang berjuang melawan berbagai rintangan demi bersama. Kita menonton film, drama, dan sinetron yang menghadirkan kisah cinta penuh air mata sebelum akhirnya dua tokohnya bersatu.
Banyak kisah cinta juga menggambarkan perjuangan yang heroik.
Seseorang rela menunggu bertahun-tahun.
Seseorang berjuang melawan penolakan keluarga.
Seseorang menempuh perjalanan jauh demi orang yang dicintainya.
Semua itu membentuk gambaran dalam diri kita bahwa cinta adalah sesuatu yang luar biasa. Dan memang, cinta dapat menjadi pengalaman manusia yang sangat kuat.
Kemudian suatu hari kita mengalaminya sendiri.
Kita bertemu seseorang.
Kita tertarik.
Hubungan mulai berkembang.
Dan ketika sedang jatuh cinta, dunia memang bisa terasa berbeda.
Pesan singkat dari pasangan dapat membuat kita tersenyum.
Pertemuan yang sederhana terasa istimewa.
Kehadirannya membuat hari terasa lebih menyenangkan.
Kita mulai merindukan.
Kita mulai membayangkan masa depan.
Dan dalam keadaan seperti itu, tidak mengherankan jika seseorang merasa sedang mabuk kepayang.
Pada tahap ini, romantisme yang selama ini hanya kita dengarkan dalam lagu atau lihat dalam film seolah menjadi nyata dalam kehidupan kita sendiri.
Romantisme Tidak Salah, Tetapi Jangan Berhenti di Sana
Tulisan ini bukan ingin mengatakan bahwa romantisme itu buruk.
Jatuh cinta bukan sesuatu yang harus dicurigai.
Perasaan cinta, kerinduan, perhatian, kejutan kecil, kata-kata hangat, dan keinginan untuk membahagiakan pasangan adalah bagian yang indah dalam hubungan manusia.
Pernikahan pun tidak seharusnya kehilangan semua itu.
Justru kehidupan pernikahan akan terasa kering jika dua orang hanya hidup bersama tanpa kasih sayang, perhatian, kehangatan, dan usaha untuk membuat pasangannya merasa dicintai.
Masalahnya bukan pada romantisme.
Masalahnya muncul ketika kita menjadikan romantisme sebagai satu-satunya cara untuk melihat pernikahan.
Karena romantisme dapat membuat kita melihat seseorang melalui perasaan yang sangat kuat. Ketika sedang jatuh cinta, kekurangan pasangan kadang terlihat kecil. Bahkan ada hal-hal yang sebenarnya perlu diperhatikan justru dianggap tidak penting.
“Tidak apa-apa, nanti juga berubah.”
“Yang penting kami saling mencintai.”
“Setelah menikah semuanya pasti akan lebih baik.”
Kalimat-kalimat seperti ini terdengar romantis, tetapi kehidupan tidak selalu berjalan seperti kisah dalam novel.
Dalam Kisah Romantis, Pernikahan Sering Menjadi Akhir Cerita
Banyak cerita cinta berakhir ketika dua orang akhirnya berhasil bersama.
Setelah menghadapi berbagai rintangan, mereka menikah.
Lalu cerita selesai.
Kita mengenal kalimat yang sangat terkenal:
“Dan mereka hidup bahagia selamanya.”
Tetapi kehidupan nyata berbeda.
Dalam kehidupan nyata, pernikahan bukan akhir cerita.
Pernikahan justru merupakan awal dari cerita yang sebenarnya.
Setelah pesta pernikahan selesai, para tamu pulang, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa, dua orang mulai menghadapi kenyataan hidup bersama.
Ada pekerjaan.
Ada kebutuhan ekonomi.
Ada tagihan.
Ada pekerjaan rumah.
Ada keluarga besar.
Ada kebiasaan yang berbeda.
Ada perbedaan cara berpikir.
Ada konflik.
Ada hari-hari ketika salah satu sedang lelah dan tidak ingin berbicara.
Ada masa ketika kondisi ekonomi tidak mudah.
Ada sakit.
Ada kegagalan.
Dan bagi sebagian pasangan, ada pula kehadiran anak yang membawa kebahagiaan sekaligus tanggung jawab baru.
Di sinilah cinta romantis bertemu dengan realitas kehidupan.
Dan pernikahan membutuhkan kemampuan untuk menghadapi keduanya.
Saling Mencintai Belum Tentu Berarti Siap Menikah
Dua orang dapat benar-benar saling mencintai.
Tidak ada yang meragukan perasaan mereka.
Namun, mereka belum tentu siap untuk menikah.
Misalnya, mereka belum mampu menyelesaikan konflik dengan baik.
Setiap pertengkaran berakhir dengan saling diam selama berhari-hari.
Atau setiap perbedaan pendapat berubah menjadi pertengkaran besar.
Mungkin salah satu terlalu mudah marah.
Mungkin yang lain selalu menghindari masalah.
Mereka bisa saling mencintai, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan bersama.
Begitu juga dalam hal lain.
Mereka mungkin belum pernah berbicara serius mengenai keuangan.
Belum pernah membicarakan kehidupan setelah menikah.
Belum memiliki kesepakatan tentang hubungan dengan keluarga besar.
Memiliki pandangan yang sangat berbeda mengenai anak dan pendidikan.
Atau memiliki nilai-nilai kehidupan yang ternyata sulit dipertemukan.
Dalam keadaan seperti ini, mengatakan:
“Yang penting kami saling mencintai”
mungkin tidak cukup.
Karena cinta tidak secara otomatis membuat seseorang matang.
Cinta tidak otomatis membuat seseorang mampu berkomunikasi.
Cinta tidak otomatis membuat seseorang mampu mengendalikan emosi.
Cinta juga tidak otomatis membuat seseorang bertanggung jawab.
Dari “Apakah Aku Mencintainya?” ke “Apakah Kami Mampu Hidup Bersama?”
Ini mungkin pertanyaan penting yang perlu muncul ketika sebuah hubungan mulai menuju pernikahan.
Selama pacaran, seseorang tentu bertanya:
Apakah saya mencintainya?
Tetapi ketika mulai mempertimbangkan pernikahan, pertanyaannya perlu berkembang:
Apakah kami mampu menjalani kehidupan bersama?
Kedua pertanyaan tersebut tidak sama.
Seseorang bisa sangat mencintai pasangannya, tetapi kehidupan bersama membutuhkan lebih banyak hal.
Bagaimana kami berkomunikasi?
Bagaimana kami menyelesaikan konflik?
Bagaimana kami mengambil keputusan?
Bagaimana kami mengelola uang?
Bagaimana kami menghadapi masalah?
Bagaimana hubungan kami dengan keluarga masing-masing?
Bagaimana jika suatu hari salah satu kehilangan pekerjaan?
Bagaimana kami membagi tanggung jawab?
Apakah kami dapat menghormati perbedaan?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak seindah kata-kata dalam lagu cinta.
Tetapi justru pertanyaan seperti inilah yang akan hadir dalam kehidupan sehari-hari setelah menikah.
Pernikahan Membutuhkan Lebih dari Sekadar Perasaan
Perasaan cinta dapat berubah dalam intensitasnya.
Ada masa ketika kita merasa sangat jatuh cinta.
Ada masa ketika hubungan terasa begitu menyenangkan.
Tetapi ada pula hari-hari biasa.
Ada hari ketika pasangan sedang menyebalkan.
Ada masa ketika pekerjaan dan persoalan hidup membuat hubungan tidak selalu terasa romantis.
Jika pernikahan hanya dibangun di atas perasaan cinta yang sedang menggebu-gebu, apa yang terjadi ketika perasaan tersebut sedang tidak sekuat sebelumnya?
Di sinilah pernikahan membutuhkan fondasi yang lebih luas.
Cinta perlu berjalan bersama dengan komitmen.
Cinta membutuhkan tanggung jawab.
Cinta membutuhkan penghormatan.
Cinta membutuhkan komunikasi.
Cinta membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan konflik.
Cinta juga membutuhkan kesediaan untuk terus belajar dan bertumbuh.
Mungkin cinta membawa dua orang untuk ingin bersama.
Tetapi kehidupan pernikahan membutuhkan keputusan untuk tetap membangun kebersamaan itu setiap hari.
Memberikan Bunga Tidak Sama dengan Menyelesaikan Masalah
Seseorang mungkin sangat romantis.
Ia pandai memberikan kejutan.
Ia selalu mengingat hari-hari penting.
Ia mampu mengatakan kata-kata cinta yang membuat pasangannya bahagia.
Semua itu tentu menyenangkan.
Tetapi kehidupan pernikahan juga akan menanyakan hal-hal lain.
Apakah ia mampu mendengarkan ketika pasangannya sedang terluka?
Apakah ia mampu meminta maaf ketika melakukan kesalahan?
Apakah ia mampu menghormati pasangannya ketika sedang marah?
Apakah ia bersedia membicarakan masalah daripada melarikan diri?
Apakah ia mampu bertanggung jawab?
Seseorang mungkin pandai mengatakan:
“Aku mencintaimu.”
Tetapi pernikahan juga membutuhkan kemampuan untuk mengatakan:
“Mari kita selesaikan masalah ini bersama.”
Di sinilah cinta mulai bergerak dari sekadar perasaan menjadi tindakan.
Menikah Berarti Belajar Menjalani Kenyataan Bersama
Cinta romantis sering berbicara tentang bagaimana seseorang membuat kita merasa bahagia.
Pernikahan membawa pertanyaan yang lebih luas.
Bukan hanya:
“Apakah saya bahagia bersamanya?”
Tetapi juga:
“Apakah kami mampu menghadapi kehidupan bersama?”
Ada perbedaan besar antara menikmati kebersamaan ketika semuanya berjalan baik dan tetap bekerja sama ketika kehidupan sedang sulit.
Menikah berarti belajar menerima bahwa pasangan kita adalah manusia.
Ia memiliki kelebihan.
Ia juga memiliki kekurangan.
Kita pun demikian.
Karena itu, keputusan menikah bukan keputusan untuk menemukan manusia yang sempurna.
Melainkan keputusan untuk membangun kehidupan bersama dengan seseorang yang kita cintai, sambil tetap menyadari bahwa kehidupan akan menghadirkan berbagai persoalan.
Yang penting bukan tidak pernah memiliki konflik.
Yang penting adalah bagaimana kita menghadapi konflik tersebut.
Yang penting bukan selalu memiliki perasaan romantis setiap hari.
Tetapi apakah ketika romantisme sedang tidak terasa kuat, kita masih memiliki penghormatan dan komitmen terhadap pasangan?
Cinta Tetap Penting, Tetapi Bukan Satu-Satunya
Jadi, apakah cinta penting untuk menikah?
Tentu.
Cinta adalah salah satu alasan paling manusiawi mengapa seseorang ingin menikah.
Tidak ada yang salah ketika seseorang berkata bahwa ia ingin menikahi pasangannya karena mencintainya.
Namun cinta tidak seharusnya menjadi satu-satunya pertimbangan.
Sebelum mengambil keputusan menikah, cinta perlu berjalan bersama dengan pertanyaan tentang kesiapan.
Apakah kami cukup mengenal satu sama lain?
Apakah kami mampu berkomunikasi?
Apakah kami mampu menghadapi konflik?
Apakah kami saling menghormati?
Apakah kami memiliki nilai-nilai penting yang cukup sejalan?
Apakah kami siap menjalani tanggung jawab kehidupan bersama?
Apakah kami bersedia terus belajar ketika menghadapi persoalan?
Karena pada akhirnya, pernikahan bukan sekadar tentang menemukan seseorang yang membuat jantung kita berdebar.
Pernikahan adalah keputusan untuk membangun kehidupan bersama dengan segala kenyataannya.
Dari Mabuk Kepayang Menuju Cinta yang Dewasa
Mungkin setiap hubungan memang dapat dimulai dengan perasaan yang kuat.
Dengan ketertarikan.
Dengan kerinduan.
Dengan romantisme.
Dengan rasa ingin selalu bersama.
Namun ketika hubungan mulai menuju pernikahan, seseorang perlu bergerak dari sekadar mabuk kepayang menuju cinta yang lebih dewasa.
Cinta yang dewasa bukan berarti kehilangan romantisme.
Cinta yang dewasa justru dapat membuat romantisme memiliki makna yang lebih dalam.
Bukan hanya memberikan bunga ketika semuanya sedang baik.
Tetapi tetap hadir ketika pasangan sedang mengalami masa sulit.
Bukan hanya mengatakan cinta ketika hubungan terasa menyenangkan.
Tetapi juga belajar menyelesaikan persoalan ketika terjadi perbedaan.
Bukan hanya berkata:
“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Tetapi berani berkata:
“Aku bersedia belajar menjalani kehidupan bersamamu.”
Mungkin inilah salah satu perbedaan antara sekadar jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah.
Jatuh cinta dapat terjadi karena perasaan.
Tetapi membangun pernikahan membutuhkan kesadaran.
Cinta dapat membawa dua orang untuk bertemu.
Romantisme dapat membuat hubungan terasa indah.
Namun pernikahan membutuhkan sesuatu yang lebih besar: komitmen, kematangan, penghormatan, tanggung jawab, komunikasi, dan kesediaan untuk bertumbuh bersama.
Karena itu, sebelum mengatakan, “Kami saling mencintai, maka kami akan menikah,” mungkin ada satu pertanyaan lain yang perlu dijawab terlebih dahulu:
“Kami memang saling mencintai. Tetapi apakah kami juga siap membangun dan menjalani kehidupan bersama?”
Sebab menikah bukan sekadar menemukan seseorang untuk dicintai.
Menikah adalah memutuskan untuk belajar mencintai seseorang dalam seluruh kenyataan kehidupan.Artikel ini sudah membentuk rangkaian yang cukup kuat dengan artikel pertama: artikel pertama berbicara tentang keputusan di akhir pacaran, sedangkan artikel kedua membawa pembaca pada pertanyaan yang lebih dalam sebelum menikah: cinta memang penting, tetapi apakah cinta saja cukup?
BACA JUGA:

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.