Pacaran Serius Berada di Ujung Penentuan: Lanjut ke Pernikahan atau “Maaf, Kita Tidak Cocok”?

Table of Contents


Pacaran pada usia tertentu tidak lagi sekadar tentang memiliki seseorang yang disukai, pergi bersama, saling berkirim pesan, atau menikmati perhatian dari lawan jenis. Ketika hubungan sudah memasuki tahap pacaran serius, ada pertanyaan yang pada akhirnya harus dijawab: apakah hubungan ini akan dilanjutkan menuju pernikahan atau justru harus diakhiri?

Pertanyaan tersebut tidak selalu mudah.

Apalagi ketika keduanya sudah saling mencintai, sudah melewati banyak pengalaman bersama, dan mungkin telah membayangkan kehidupan sebagai suami istri. Dalam keadaan seperti itu, mengatakan “maaf, kita tidak cocok” dapat terasa jauh lebih berat daripada mempertahankan hubungan.

Namun justru karena itulah pacaran serius membutuhkan kejujuran.

Cinta memang penting. Tetapi cinta saja tidak cukup untuk memastikan bahwa dua orang mampu menjalani kehidupan bersama.


Pacaran Adalah Masa untuk Mengenal Pasangan Lebih Dalam

Ketika seseorang tertarik kepada lawan jenis dan mendapatkan sambutan, hubungan biasanya dimulai dari ketertarikan. Mereka kemudian memutuskan untuk berpacaran dan mulai menjalani proses pengenalan.

Pada usia SMA, pacaran mungkin lebih banyak menjadi bagian dari proses mengenal perasaan dan lawan jenis. Tetapi ketika seseorang sudah berada pada usia yang lebih matang, konteksnya dapat berbeda.

Pacaran bisa menjadi bagian dari proses untuk mencari pasangan hidup.

Karena itu, pacaran serius seharusnya memberikan ruang bagi dua orang untuk mengenal satu sama lain dengan lebih mendalam.

Bukan hanya mengetahui makanan kesukaan, hobi, film favorit, atau tempat yang ingin dikunjungi.

Lebih dari itu, mereka perlu mengenal bagaimana pasangan berpikir, mengambil keputusan, menghadapi masalah, mengelola emosi, memperlakukan orang lain, dan menghadapi perbedaan.

Sebab orang yang menyenangkan sebagai pacar belum tentu otomatis menjadi pasangan hidup yang baik.


Jangan Hanya Melihat Sisi Terbaik Pasangan

Pada masa awal hubungan, seseorang biasanya berusaha menunjukkan sisi terbaiknya.

Pasangan terlihat perhatian, penyayang, romantis, sabar, dan selalu berusaha membuat hubungan tetap menyenangkan.

Semua itu tentu baik.

Tetapi pengenalan terhadap pasangan tidak boleh berhenti pada apa yang terlihat ketika semuanya berjalan baik.

Justru karakter seseorang sering lebih terlihat ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.

Bagaimana ia ketika marah?

Bagaimana ketika keinginannya ditolak?

Bagaimana ketika terjadi perbedaan pendapat?

Bagaimana ketika menghadapi persoalan keuangan?

Bagaimana ketika berhadapan dengan keluarga pasangan?

Bagaimana ketika pasangan melakukan kesalahan?

Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kepentingan apa pun baginya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting dalam mengenal pasangan.

Sebab pernikahan bukan kehidupan yang setiap harinya dipenuhi bunga, makan malam romantis, dan kata-kata manis.

Ada tagihan, pekerjaan, keluarga, sakit, kegagalan, perbedaan pendapat, kelelahan, dan berbagai persoalan kehidupan lainnya.

Karena itu, seseorang perlu melihat bagaimana pasangannya menghadapi kenyataan hidup.


“Kita Cocok” Perlu Didefinisikan Lebih Dalam

Kata cocok sering digunakan ketika seseorang berbicara tentang hubungan.

“Kami cocok.”

Tetapi cocok dalam hal apa?

Mungkin keduanya sama-sama menyukai musik yang sama. Sama-sama senang bepergian. Sama-sama memiliki selera humor. Atau sama-sama menikmati kegiatan tertentu.

Semua itu menyenangkan, tetapi belum tentu cukup untuk menjadi dasar keputusan menikah.

Kecocokan yang lebih penting justru dapat ditemukan pada hal-hal yang lebih mendasar.

Bagaimana pandangan mengenai keluarga?

Bagaimana mengelola uang?

Bagaimana menyelesaikan konflik?

Bagaimana memandang pekerjaan?

Apakah ingin mempunyai anak?

Bagaimana mendidik anak?

Bagaimana menghadapi keluarga besar?

Apa prinsip hidup yang tidak dapat dikompromikan?

Bagaimana menghadapi perbedaan?

Pertanyaan semacam ini mungkin terasa kurang romantis dibandingkan membicarakan masa depan dengan penuh impian. Namun justru inilah pembicaraan yang diperlukan ketika hubungan menuju pernikahan.


Jangan Menikah Hanya Karena Sudah Lama Berpacaran

Ada jebakan lain dalam hubungan yang sudah berjalan cukup lama.

Karena sudah bersama bertahun-tahun, seseorang merasa sayang jika hubungan tersebut berakhir.

“Sudah terlalu lama.”

“Sayang kalau putus.”

“Sudah banyak yang kita lalui.”

“Orang tua juga sudah tahu.”

Alasan-alasan tersebut dapat membuat seseorang mempertahankan hubungan meskipun sebenarnya mulai melihat adanya persoalan yang serius.

Padahal lamanya pacaran bukan jaminan bahwa sebuah pernikahan akan berhasil.

Begitu juga sebaliknya, berakhirnya hubungan setelah bertahun-tahun bukan berarti waktu tersebut sia-sia.

Bisa jadi selama hubungan itu berlangsung, keduanya justru mendapatkan pengenalan yang sangat penting: mereka mengetahui bahwa kehidupan bersama ternyata tidak akan menjadi pilihan yang baik.

Dalam keadaan seperti itu, mengatakan “maaf, kita tidak cocok” mungkin merupakan keputusan yang menyakitkan, tetapi lebih jujur daripada menikah karena merasa tidak enak untuk mengakhiri hubungan.


Cinta Jangan Sampai Membuat Kita Kehilangan Pertimbangan

Ada ungkapan seperti “cinta mati” yang menggambarkan seseorang yang mencintai pasangannya dengan sangat kuat.

Cinta yang besar tentu bukan sesuatu yang harus dicurigai.

Tetapi ada persoalan ketika seseorang karena begitu mencintai pasangannya kemudian tidak lagi mau melihat persoalan yang sebenarnya ada di depan mata.

Semua tanda peringatan dianggap tidak penting.

Semua perbedaan dianggap bisa diselesaikan nanti.

Semua konflik dianggap akan hilang setelah menikah.

Padahal menikah bukan obat untuk menyelesaikan persoalan pacaran.

Persoalan yang tidak diselesaikan sebelum menikah justru dapat terbawa ke dalam kehidupan rumah tangga.

Karena itu, keputusan menikah membutuhkan cinta sekaligus pertimbangan yang sehat.

Bukan memilih antara cinta atau pertimbangan, melainkan menggunakan keduanya secara bersama-sama.


Pacaran Serius Juga Menjadi Waktu untuk Menguji Diri Sendiri

Ada satu pertanyaan yang sering terlupakan ketika seseorang sedang mencari pasangan:

“Apakah dia cocok dengan saya?”

Pertanyaan itu wajar. Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

“Apakah saya cocok menjadi pasangan hidup baginya?”

Kita mungkin menginginkan pasangan yang sabar, tetapi apakah kita sendiri mampu bersabar?

Kita ingin pasangan yang terbuka berkomunikasi, tetapi apakah kita mampu mendengarkan?

Kita ingin pasangan yang setia, tetapi apakah kita mampu menjaga batas dalam hubungan?

Kita ingin dihargai, tetapi apakah kita juga menghargai?

Jadi, pacaran bukan hanya kesempatan untuk menilai calon pasangan. Pacaran serius juga merupakan kesempatan untuk mengevaluasi diri sendiri.

Pernikahan mempertemukan dua manusia yang sama-sama memiliki kekurangan. Karena itu, kesiapan untuk bertumbuh mungkin jauh lebih penting daripada mencari pasangan yang dianggap sempurna.


Jika Harus Berpisah, Bukan Berarti Pacaran Itu Gagal

Ini mungkin bagian yang paling sulit diterima.

Masyarakat sering melihat hubungan yang berakhir sebagai kegagalan.

Padahal tidak selalu demikian.

Ada hubungan yang memang berakhir karena keduanya tidak cocok untuk menjalani kehidupan bersama. Dan mengetahui hal tersebut sebelum menikah justru dapat menjadi sebuah bentuk keberhasilan dalam proses pengenalan.

Pacaran telah membantu mereka menemukan kenyataan.

Mereka telah mengenal.

Mereka telah mempertimbangkan.

Mereka telah mencoba.

Kemudian mereka mengambil keputusan.

Jika keputusan akhirnya adalah melanjutkan, maka hubungan tersebut dapat bergerak menuju tahap berikutnya dengan kesadaran yang lebih matang.

Jika keputusan akhirnya adalah berpisah, maka keduanya juga perlu memiliki keberanian untuk menerima kenyataan tersebut.

Tidak semua cinta harus berakhir di pelaminan.

Tetapi cinta yang dewasa seharusnya berani menghadapi kenyataan, termasuk kenyataan bahwa orang yang kita cintai mungkin bukan orang yang tepat untuk kita nikahi.


Ujung Penentuan Membutuhkan Kejujuran

Pada akhirnya, pacaran serius memang akan sampai pada sebuah titik penentuan.

Bukan berarti harus terburu-buru menikah.

Bukan pula berarti setiap hubungan harus dipaksa menuju pernikahan.

Yang diperlukan adalah kejujuran.

Apakah kita benar-benar mengenal pasangan?

Apakah kita dapat menerima kekurangannya?

Apakah perbedaan mendasar dapat dikelola?

Apakah kita mampu menyelesaikan konflik?

Apakah nilai-nilai kehidupan kita cukup sejalan?

Apakah kita berdua siap bertumbuh?

Dan yang tidak kalah penting:

Apakah kita ingin menikah karena benar-benar siap menjalani kehidupan bersama, atau hanya karena takut kehilangan hubungan yang sudah terlanjur lama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak mudah dijawab.

Namun lebih baik menghadapi pertanyaan yang sulit ketika masih berpacaran daripada menghindarinya sampai setelah menikah.

Sebab pada akhirnya, pacaran serius bukan hanya tentang mempertahankan seseorang yang kita cintai. Pacaran serius adalah proses untuk mengetahui apakah cinta tersebut dapat menjadi dasar bagi kehidupan bersama.

Dan ketika akhirnya harus memilih antara “kita lanjut menuju pernikahan” atau “maaf, ternyata kita tidak cocok”, keduanya membutuhkan keberanian.

Keberanian untuk mencintai.

Keberanian untuk berpikir.

Dan, bila diperlukan, keberanian untuk melepaskan.

Posting Komentar