Jangan Menikahi Potensi Seseorang: Kenali Dia, Bukan Bayangan Masa Depannya

Table of Contents


Dalam menentukan pasangan hidup, kita sering mendengar nasihat agar memilih seseorang berdasarkan karakter, bukan hanya perasaan. Namun ada satu jebakan lain yang tidak kalah penting: jangan menikahi potensi seseorang.


Kalimat ini mungkin terdengar aneh. Bukankah kita seharusnya melihat potensi seseorang? Bukankah seseorang yang rajin, pintar, pekerja keras, dan mempunyai masa depan cerah merupakan pasangan yang menarik?


Tentu saja boleh dipertimbangkan. Masalahnya muncul ketika kita tidak lagi melihat manusia yang ada di depan kita, melainkan menikahi gambaran tentang siapa yang kita harapkan akan menjadi dirinya kelak.


Potensi dapat membuat kita salah memilih dalam dua arah.


Kita bisa berpikir, “Sekarang dia memang belum baik, tetapi nanti pasti berubah.”


Sebaliknya, kita juga bisa berpikir, “Dia pintar, kaya, sukses, dan berpendidikan. Berarti kehidupan pernikahan kami pasti akan baik.”


Keduanya sama-sama membutuhkan kehati-hatian.


Ketika Kita Berharap Pasangan Akan Berubah


Bentuk pertama dari “menikahi potensi” adalah melihat kekurangan seseorang, lalu berharap pernikahan akan mengubahnya.


Dia sekarang tidak bertanggung jawab terhadap uang, tetapi kita berpikir suatu hari dia akan belajar.


Dia mudah marah, tetapi kita yakin setelah menikah dia akan lebih dewasa.


Dia belum mempunyai arah hidup, tetapi kita merasa sebenarnya dia mempunyai kemampuan besar.


Dia tidak terlalu peduli terhadap hal-hal yang penting bagi kita, tetapi kita berharap nanti dia akan berubah.


Harapan seperti ini manusiawi. Kita semua memang bisa berubah.


Tetapi persoalannya adalah: perubahan seseorang tidak berada sepenuhnya di tangan kita.


Kita dapat mendukung pasangan untuk bertumbuh. Kita dapat memberikan ruang, nasihat, dan teladan. Tetapi kita tidak dapat menjadikan pernikahan sebagai proyek untuk memperbaiki manusia lain.


Karena itu, ketika menentukan pasangan, kita perlu bertanya:


«“Kalau dia tidak berubah seperti yang saya harapkan, apakah saya tetap bersedia memilihnya?”»


Pertanyaan ini mungkin tidak nyaman, tetapi dapat membantu kita melihat hubungan dengan lebih jujur.


Potensi Tidak Selalu Berarti Kekurangan


Namun, “jangan menikahi potensi seseorang” tidak hanya berlaku untuk orang yang kita harapkan berubah.


Potensi juga bisa berarti kelebihan yang kita anggap akan menjamin masa depan.


Seseorang pintar.


Seseorang kaya.


Seseorang berpendidikan tinggi.


Seseorang mempunyai karier yang bagus.


Seseorang memiliki bisnis.


Seseorang mempunyai jabatan.


Seseorang sangat berbakat dalam bidang tertentu.


Semua itu adalah kualitas nyata. Tidak ada yang salah mempertimbangkannya ketika memilih pasangan.


Tetapi kita harus berhati-hati ketika mulai menyimpulkan:


«“Karena dia pintar, dia pasti menjadi pasangan yang baik.”»


atau:


«“Karena dia kaya, pernikahan kami pasti aman.”»


Itu adalah lompatan kesimpulan.


Kehebatan seseorang dalam satu bidang tidak otomatis menunjukkan bagaimana dia menjadi pasangan hidup.



Orang Hebat Belum Tentu Pasangan yang Tepat


Seseorang dapat menjadi pengusaha yang luar biasa, tetapi belum tentu mampu berkomunikasi dengan pasangannya.


Seseorang dapat sangat pintar, tetapi tidak mampu mendengarkan.


Seseorang dapat sukses dalam pekerjaan, tetapi tidak bertanggung jawab dalam hubungan.


Seseorang dapat mempunyai banyak uang, tetapi tidak menghargai batasan pasangannya.


Seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi, tetapi tidak mampu menerima perbedaan pendapat.


Karena itu, ketika memilih pasangan, kita perlu membedakan dua pertanyaan:


“Apakah dia orang yang hebat?”


dan


“Apakah dia pasangan yang dapat saya ajak membangun kehidupan?”


Keduanya tidak sama.


Kita boleh mengagumi seseorang karena pencapaiannya. Tetapi mengagumi seseorang tidak otomatis berarti kita cocok hidup bersamanya.


Jangan Menikahi Kehidupan yang Kita Bayangkan


Kadang-kadang yang kita cintai bukan orangnya, melainkan kehidupan yang kita bayangkan akan kita dapatkan melalui dirinya.


Kita melihat seseorang yang kaya dan membayangkan kehidupan yang nyaman.


Kita melihat seseorang yang sukses dan membayangkan masa depan yang terjamin.


Kita melihat seseorang yang terkenal dan membayangkan kehidupan sosial yang lebih baik.


Kita melihat seseorang yang sangat pintar dan membayangkan anak-anak kita kelak juga akan menjadi pintar.


Tanpa sadar, kita mulai memilih paket kehidupan, bukan manusia.


Pertanyaannya kemudian menjadi penting:


«“Apakah saya benar-benar mengenal dia, atau saya sedang jatuh cinta kepada kehidupan yang saya bayangkan bersamanya?”»


Inilah salah satu pertanyaan yang perlu muncul sebelum mengambil keputusan menikah.


Lihat Manusia di Balik Semua Kelebihannya


Kekayaan bisa berkurang.


Jabatan bisa hilang.


Karier bisa berubah.


Penampilan akan berubah.


Prestasi bisa berhenti.


Kondisi kesehatan dapat berubah.


Karena itu, ketika menentukan pasangan, kita perlu melihat lebih jauh daripada atribut yang sedang dimilikinya.


Bagaimana dia memperlakukan orang yang tidak dapat memberikan keuntungan kepadanya?


Bagaimana dia menghadapi kegagalan?


Bagaimana dia menerima kritik?


Apakah dia mampu meminta maaf?


Apakah dia menghargai batasan?


Apakah dia dapat berdialog ketika berbeda pendapat?


Apakah dia bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuatnya?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita dari “apa yang dia punya” kepada “siapa dia.”


Dan untuk pernikahan, perbedaan tersebut sangat penting.


Bukan Berarti Kita Harus Mengabaikan Kelebihan


Tentu saja, jangan sampai gagasan ini dipahami secara berlebihan.


Memilih pasangan hidup bukan berarti kita harus mengabaikan pendidikan, pekerjaan, kondisi ekonomi, kecerdasan, atau berbagai kualitas lainnya.


Semua itu merupakan bagian dari kehidupan nyata.


Masalahnya bukan pada kelebihannya.


Masalahnya adalah ketika kelebihan tersebut dijadikan jaminan bahwa pernikahan pasti berhasil.


Begitu pula dengan kekurangan.


Kita tidak harus mencari manusia yang sudah sempurna sebelum menikah.


Semua orang masih bertumbuh.


Yang penting adalah melihat arah pertumbuhannya.


Seseorang mungkin belum mapan, tetapi mempunyai tanggung jawab dan kemauan untuk bekerja.


Seseorang mungkin belum pandai berkomunikasi, tetapi mau belajar dan menerima masukan.


Seseorang mungkin mempunyai kekurangan tertentu, tetapi menyadari kekurangan tersebut dan berusaha memperbaikinya.


Ada perbedaan antara orang yang sedang bertumbuh dengan orang yang kita harapkan akan berubah.


Jangan Menjadikan Pernikahan sebagai Proyek Mengubah Pasangan


Pernikahan seharusnya bukan proyek untuk membentuk pasangan sesuai dengan gambaran kita.


Kita bukan menikah dengan seseorang sambil membawa cetak biru:


«“Setelah menikah, saya akan membuat dia menjadi seperti ini.”»


Hubungan semacam itu dapat menghasilkan kekecewaan karena semakin lama kita menyadari bahwa manusia tidak mudah dibentuk sesuai keinginan orang lain.


Pasangan dapat berubah, tetapi perubahan yang sehat harus lahir dari kesadaran dirinya sendiri.


Kita dapat menjadi teman dalam pertumbuhan itu, tetapi bukan pemilik hidupnya.


Jadi, Apa yang Sebenarnya Kita Pilih?


Pada akhirnya, pertanyaan paling penting dalam memilih pasangan bukan hanya:


“Apa yang dia punya?”


Bukan pula:


“Dia akan menjadi seperti apa nanti?”


Melainkan:


«“Siapa orang yang sedang berdiri di hadapan saya sekarang?”»


Kenali karakternya.


Kenali nilai hidupnya.


Kenali cara dia menghadapi masalah.


Kenali bagaimana dia memperlakukan orang lain.


Kenali bagaimana kalian menyelesaikan perbedaan.


Kemudian tanyakan apakah kehidupan kalian dapat berjalan bersama.


Kita tidak membutuhkan pasangan yang sudah selesai menjadi manusia. Kita semua masih belajar dan bertumbuh.


Tetapi sebelum menikah, kita perlu cukup jujur untuk membedakan antara seseorang yang sedang bertumbuh dengan seseorang yang hanya kita harapkan akan berubah.


Kita juga perlu membedakan antara mencintai seseorang dengan mencintai kekayaan, kepintaran, status, kesuksesan, atau kehidupan yang kita bayangkan akan kita dapatkan darinya.


Sebab pada akhirnya, kita tidak menikahi potensi seseorang. Kita menikahi manusia yang ada di depan kita.


Dan semakin jujur kita mengenal manusia itu, semakin sadar pula keputusan kita ketika berkata:


“Saya memilih dia.”


BACA JUGA:

Apakah Modal Cinta Cukup untuk Menikah?

Hubungan Cinta (Pacaran) Bisa Putus, Bagaimana Megatasinya?

Benarkah Dia Jodoh Saya?

Menikah Karena Cocok atau Karena Jatuh Cinta?

Posting Komentar