Apa yang Membuat Kita Yakin Memilih Dia Menjadi Pasangan Hidup?
Setelah menyadari bahwa menikah bukan sekadar karena saling mencintai, muncul pertanyaan berikutnya yang jauh lebih sulit: apa yang membuat kita yakin memilih dia sebagai pasangan hidup?
Pertanyaan ini ternyata tidak mudah dijawab.
Dulu, ketika menentukan pasangan hidup, mungkin kita tidak memiliki daftar kriteria yang panjang. Kita tidak membuat tabel tentang karakter, pendidikan, pekerjaan, keluarga, keuangan, atau kesamaan hobi. Kita hanya mempunyai harapan sederhana: semoga bertemu seseorang yang mengerti kita dan kita juga bisa mengerti dia.
Saya sendiri pernah berada dalam posisi seperti itu. Harapan tentang pasangan terasa sederhana dan bahkan agak kabur. Ada pula keyakinan tentang jodoh yang cukup kuat. Selebihnya, kehidupan berjalan melalui perjumpaan dengan orang-orang tertentu, kedekatan wilayah, lingkungan pergaulan, kecocokan, komunikasi, dan proses saling mengenal.
Ada proses mencoba, mengalami ketidakcocokan, belajar, kemudian mencoba lagi. Sampai akhirnya bertemu dengan seseorang yang dirasakan tepat.
Pengalaman tersebut membuat saya berpikir: apakah menentukan pasangan hidup memang hanya soal menemukan seseorang yang kebetulan hadir dan kemudian terasa cocok?
Atau sebenarnya kita bisa belajar mempunyai cara yang lebih jelas dalam memilih?
Kita Sering Tidak Punya Rumus Memilih Pasangan
Banyak orang memasuki hubungan dengan membawa perasaan, bukan pemahaman.
Kita tertarik kepada seseorang karena perhatian yang diberikan. Kita merasa nyaman karena sering berbicara. Kita merasa cocok karena mempunyai kesamaan. Kedekatan membuat perasaan tumbuh, lalu hubungan berjalan semakin serius.
Semua itu wajar.
Masalahnya, rasa cocok belum tentu sama dengan kesiapan untuk menjalani pernikahan.
Seseorang bisa sangat menyenangkan untuk diajak berbicara, tetapi belum tentu mampu menghadapi konflik. Seseorang bisa sangat romantis, tetapi belum tentu bertanggung jawab. Seseorang bisa mempunyai banyak kesamaan dengan kita, tetapi memiliki nilai hidup yang ternyata sulit dipertemukan.
Karena itu, memilih pasangan hidup membutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar perasaan.
Kita membutuhkan kesempatan untuk mengenal seseorang secara lebih utuh.
Jodoh Bukan Alasan untuk Berhenti Memilih
Bagi sebagian orang, konsep jodoh mempunyai tempat penting dalam menentukan pasangan. Ada keyakinan bahwa seseorang yang memang ditakdirkan menjadi pasangan akan menemukan jalannya sendiri.
Keyakinan tersebut dapat memberikan penghiburan. Namun, bukan berarti manusia kemudian tidak perlu melakukan proses memilih.
Mempercayai jodoh tidak berarti kita berhenti mengenal seseorang.
Kita tetap perlu melihat bagaimana dia menghadapi masalah. Kita perlu mengetahui bagaimana dia memperlakukan orang lain. Kita perlu memahami pandangannya tentang keluarga, uang, pekerjaan, anak, tanggung jawab, dan kehidupan bersama.
Sebab ketika seseorang berkata, “Saya memilih dia,” sebenarnya ia sedang mengambil keputusan berdasarkan manusia nyata yang dikenalnya, bukan berdasarkan gambaran ideal tentang seseorang yang belum tentu ada.
“Saya Ingin Dia Mengerti Saya”
Dulu saya hanya memiliki harapan sederhana: menemukan seseorang yang mengerti saya dan saya mengerti dia.
Sekilas, kalimat itu terdengar terlalu sederhana untuk dijadikan dasar menentukan pasangan hidup. Namun, semakin dipikirkan, ternyata di dalamnya terdapat sesuatu yang penting.
Apa sebenarnya arti “mengerti”?
Mengerti bukan berarti selalu setuju.
Mengerti berarti mengetahui bagaimana pasangan berpikir, apa yang penting baginya, apa yang membuatnya terluka, bagaimana ia menghadapi tekanan, dan apa yang ia harapkan dari kehidupan.
Begitu pula sebaliknya. Kita ingin pasangan mengenal diri kita, bukan hanya versi diri yang kita tampilkan ketika sedang ingin membuatnya terkesan.
Karena itu, mengenal pasangan sebelum menikah bukan sekadar mengetahui kesukaannya. Kita perlu mengenal cara dia mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, menghadapi perbedaan, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Dari sinilah rasa yakin mulai mempunyai dasar.
Pasangan yang Tepat Bukan Pasangan yang Sempurna
Ada kecenderungan mencari pasangan dengan daftar kriteria yang semakin panjang.Harus memiliki pendidikan tertentu. Pekerjaan tertentu. Karakter tertentu. Penampilan tertentu. Keluarga tertentu. Hobi yang sama. Bahkan memiliki selera yang sama.
Padahal manusia bukan produk yang bisa dipilih berdasarkan spesifikasi.
Pasangan yang tepat bukan berarti orang yang memenuhi seluruh keinginan kita.
Ia adalah manusia nyata dengan kekurangan, kebiasaan yang mungkin berbeda, dan sisi-sisi yang baru akan kita kenal setelah hubungan berjalan lebih jauh.
Pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Apakah dia sempurna untuk saya?”
Melainkan:
“Dengan segala yang saya ketahui tentang dirinya, apakah kami dapat membangun kehidupan bersama?”
Ini membuat proses memilih pasangan menjadi lebih realistis.
Perhatikan Bagaimana Dia Menghadapi Perbedaan
Salah satu cara menentukan pasangan hidup adalah melihat apa yang terjadi ketika hubungan tidak berjalan sesuai keinginan.
Ketika masih jatuh cinta, banyak hal terasa mudah. Tetapi kehidupan pernikahan akan menghadirkan perbedaan.
Bagaimana kalian berbicara ketika marah?
Apakah salah satu selalu ingin menang?
Apakah kalian bisa meminta maaf?
Apakah masalah dibicarakan atau justru dihindari?
Bagaimana keputusan tentang uang dibuat?
Bagaimana hubungan dengan keluarga besar?
Bagaimana pandangan mengenai anak dan tanggung jawab rumah tangga?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terasa kurang romantis ketika sedang jatuh cinta. Namun, justru hal-hal tersebut dapat memperlihatkan apakah dua orang mempunyai kemampuan untuk menjalani kehidupan bersama.
Kecocokan pasangan bukan berarti tidak pernah berbeda. Kecocokan justru terlihat dari kemampuan menghadapi perbedaan.
Pengalaman “Mencoba dan Salah” Tetap Mempunyai Arti
Tidak semua orang menemukan pasangan melalui proses yang terencana.
Ada yang bertemu secara kebetulan. Ada yang diperkenalkan teman. Ada yang bertemu di sekolah, tempat kerja, gereja, komunitas, atau lingkungan tempat tinggal.
Kedekatan kemudian menciptakan kesempatan untuk saling mengenal.
Dalam proses itu, kita mungkin pernah salah memilih. Hubungan tidak berjalan. Kita kecewa. Kita belajar. Kita menjadi lebih memahami diri sendiri.
Pengalaman tersebut sebenarnya dapat menjadi bagian dari proses menentukan pasangan hidup.
Kita belajar bahwa ternyata kita membutuhkan komunikasi yang terbuka. Kita belajar bahwa ada perbedaan tertentu yang sulit kita jalani. Kita belajar mengenali karakter yang sehat maupun pola hubungan yang tidak sehat.
Jadi, pengalaman salah dalam hubungan tidak selalu sia-sia. Ia dapat membuat kita semakin mampu mengenali apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam sebuah hubungan.
Namun, pengalaman hanya berguna jika kita belajar darinya.
Jadi, Apa yang Membuat Kita Yakin Memilih Dia?
Mungkin kita tidak pernah mendapatkan kepastian seratus persen.
Kita tidak tahu seperti apa pasangan kita sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Kita tidak tahu perubahan apa yang akan terjadi dalam kehidupan. Kita juga tidak tahu persoalan apa yang akan datang setelah pernikahan.
Karena itu, keyakinan memilih pasangan bukanlah keyakinan bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja.
Keyakinan itu lebih sederhana.
Kita mengenalnya.
Kita mengetahui kelebihan dan kekurangannya.
Kita memahami nilai-nilai hidupnya.
Kita sudah melihat bagaimana ia menghadapi perbedaan.
Kita tahu bahwa ia bukan manusia sempurna.
Dan setelah semua itu, kita tetap berkata:
“Saya memilih dia.”
Dulu mungkin kita hanya berdoa agar menemukan seseorang yang mengerti kita dan kita mengerti dia. Sekarang kita dapat melihat bahwa doa itu bukan jawaban akhir.
Itu adalah awal dari perjalanan untuk belajar mengenal.
Karena pada akhirnya, memilih pasangan hidup bukan hanya tentang siapa yang datang kepada kita, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar mengenali orang yang sedang berdiri di hadapan kita.
Dan mungkin, keyakinan terbesar dalam memilih pasangan bukan ketika kita menemukan seseorang yang membuat kita yakin bahwa masa depan akan selalu mudah.
Melainkan ketika kita menemukan seseorang yang membuat kita berkata:
“Saya tidak tahu seperti apa masa depan nanti. Tetapi saya mengenal orang yang ingin saya jalani bersama.”
BACA JUGA:

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.