Bagaimana Ia Berkomunikasi Ketika Tidak Sependapat? Ujian Sebelum Menikah

Table of Contents


Memilih pasangan hidup bukan hanya tentang menemukan seseorang yang membuat kita bahagia ketika semuanya berjalan baik. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: bagaimana ia berkomunikasi ketika tidak sependapat dengan kita?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh bagian penting dalam kehidupan pernikahan. Sebab, pernikahan bukan hanya perjalanan selama satu atau dua tahun ketika semuanya masih terasa menyenangkan. Pernikahan adalah keputusan jangka panjang yang mempertemukan dua manusia dengan latar belakang, kebiasaan, pengalaman, keinginan, dan cara berpikir yang berbeda.

Karena itu, masa pacaran sebenarnya dapat menjadi kesempatan untuk mengenali pasangan secara lebih realistis. Bukan dengan sengaja menciptakan pertengkaran, apalagi menguji pasangan seperti sedang mengikuti ujian, tetapi dengan menjadi pengamat terhadap pola perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.


Jangan Hanya Melihat Bagaimana Ia Memperlakukan Kita Saat Bahagia

Ketika seseorang sedang jatuh cinta, sangat mudah untuk melihat sisi terbaik dari pasangannya.

Ia perhatian, menyenangkan, romantis, suka membantu, dan selalu berusaha membuat kita bahagia. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu situasi yang sering lebih banyak mengungkap karakter seseorang: ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Bagaimana reaksinya ketika pendapatnya ditolak?

Apa yang dilakukan ketika rencana yang sudah dibuat harus berubah?

Bagaimana sikapnya ketika kita mengatakan tidak?

Apakah ia mau mendengarkan alasan kita?

Atau ia langsung marah, menyalahkan, merendahkan, mendiamkan, bahkan mengancam hubungan?

Perbedaan pendapat bukan sesuatu yang harus ditakuti dalam hubungan. Justru, dua orang yang akan menikah hampir pasti akan mengalami perbedaan pendapat.

Yang perlu diperhatikan bukan apakah konflik itu ada, tetapi bagaimana pasangan menghadapi konflik tersebut.


Laki-Laki atau Perempuan, Siapa yang Lebih Tinggi Egonya?

Dalam membicarakan komunikasi pasangan, kita sebaiknya tidak terjebak pada anggapan bahwa laki-laki pasti lebih dominan atau perempuan pasti lebih emosional.

Ego tidak mengenal jenis kelamin.

Laki-laki dapat memiliki ego tinggi. Perempuan juga dapat memiliki ego tinggi. Demikian pula, keduanya bisa memiliki kemampuan komunikasi yang sangat matang.

Seorang laki-laki mungkin merasa harus selalu menang karena menganggap dirinya sebagai kepala keluarga. Sebaliknya, seorang perempuan juga mungkin sulit menerima pendapat pasangan karena merasa pengalaman atau pertimbangannya selalu diabaikan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:

“Siapa yang egonya lebih tinggi?”

Melainkan:

“Apa yang dilakukan seseorang ketika egonya terluka?”

Apakah ia tetap mampu menghormati pasangan?

Apakah ia bersedia mendengarkan?

Apakah ia dapat mengakui kesalahan?

Apakah ia mampu mengatakan, “Saya tidak setuju, tetapi saya mengerti alasanmu”?

Kemampuan tersebut jauh lebih penting daripada apakah seseorang laki-laki atau perempuan.



Masa Pacaran sebagai Kesempatan Mengamati

Masa pacaran tidak harus dipandang sebagai masa untuk mencari-cari kesalahan pasangan. Namun, masa ini juga jangan hanya digunakan untuk menikmati sisi romantis hubungan.

Ada baiknya seseorang belajar menjadi pengamat.

Perhatikan bagaimana pasangan menghadapi hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika restoran yang dipilih ternyata penuh, bagaimana reaksinya?

Ketika rencana liburan berubah, apakah ia menyalahkan orang lain?

Ketika Anda mempunyai pendapat berbeda tentang uang, keluarga, pekerjaan, atau masa depan, apakah ia memberikan ruang untuk berdiskusi?

Hal-hal tersebut mungkin tampak kecil. Namun, pola yang muncul berulang kali dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana seseorang menghadapi perbedaan.

Kita tidak sedang mencari manusia sempurna.

Kita sedang mencari tahu apakah dua manusia yang tidak sempurna dapat belajar hidup bersama.


Jangan Menghitung Kesalahan Seperti Statistik

Mungkin muncul pertanyaan: bagaimana kalau selama sepuluh kali berbeda pendapat, misalnya enam atau tujuh kali pasangan menunjukkan sikap negatif?

Apakah berarti hubungan harus dihentikan?

Tidak sesederhana itu.

Angka 60–70 persen dapat menjadi bahan refleksi, tetapi jangan menjadikannya rumus matematis untuk menentukan seseorang layak atau tidak layak menjadi pasangan.

Sebab, tidak semua perilaku mempunyai bobot yang sama.

Seseorang mungkin tujuh kali bersikap defensif karena belum terbiasa menerima kritik, tetapi setelah diajak berbicara ia mulai belajar mengendalikan diri.

Itu berbeda dengan seseorang yang beberapa kali saja melakukan penghinaan, ancaman, intimidasi, manipulasi, atau kekerasan.

Dengan kata lain, frekuensi penting, tetapi jenis perilakunya jauh lebih penting.

Bedakan Kekurangan dengan Pola yang Berbahaya

Dalam hubungan, kita semua memiliki kekurangan.

Ada orang yang mudah tersinggung. Ada yang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Ada yang belum pandai mengungkapkan perasaan. Ada yang cenderung defensif ketika dikritik.

Hal-hal tersebut masih mungkin menjadi bagian dari proses pertumbuhan.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah seseorang memiliki kemauan untuk memperbaiki diri.

Misalnya, setelah bertengkar ia mengatakan:

«“Tadi saya terlalu emosi. Saya minta maaf. Kita bicarakan lagi dengan lebih tenang.”»

Kalimat seperti itu menunjukkan adanya kesadaran.

Sebaliknya, jika setiap kali perilakunya dipersoalkan jawabannya selalu:

«“Memang saya begini. Kalau kamu mencintai saya, kamu harus menerima saya.”»

maka persoalannya menjadi lebih serius.

Pernikahan membutuhkan dua orang yang bersedia bertumbuh. Bukan satu orang yang terus-menerus berusaha memperbaiki orang lain.


Jangan Menikah dengan Harapan Akan Mengubahnya

Ini bagian yang sangat penting.

Jangan memilih pasangan berdasarkan bayangan tentang siapa dia nanti setelah menikah.

Kita dapat berharap seseorang berkembang. Kita dapat mendukung perubahan positif. Tetapi jangan menjadikan pernikahan sebagai proyek untuk memperbaiki karakter pasangan.

Jika sekarang seseorang mudah menghina ketika marah, jangan berpikir:

“Setelah menikah nanti dia pasti berubah.”

Jika sekarang seseorang tidak mau berdiskusi mengenai keuangan, jangan berasumsi:

“Nanti setelah menikah dia akan mengerti.”

Jika sekarang seseorang selalu menggunakan ancaman ketika berbeda pendapat, jangan menganggap:

“Setelah menikah dia akan lebih dewasa.”

Kita sebaiknya menilai pasangan berdasarkan siapa dirinya sekarang sekaligus melihat apakah ia menunjukkan kemauan nyata untuk bertumbuh.

Harapan boleh ada. Tetapi keputusan besar sebaiknya tidak dibangun hanya berdasarkan harapan.


Pertanyaan yang Lebih Penting daripada “Apakah Kami Saling Mencintai?”

Cinta memang penting dalam pernikahan. Tetapi cinta saja tidak otomatis membuat dua orang mampu menyelesaikan konflik.

Karena itu, sebelum menikah, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting:

“Ketika kami berbeda pendapat, apakah saya masih merasa aman untuk menjadi diri sendiri?”

Apakah kita masih bisa mengatakan tidak?

Apakah kita dapat mengungkapkan pendapat tanpa takut dihukum?

Apakah pasangan mampu mendengarkan tanpa langsung menyerang?

Apakah setelah konflik kita dapat kembali berbicara?

Apakah pasangan mampu mengakui kesalahan?

Apakah kita juga mampu melakukan hal yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita melihat hubungan secara lebih realistis.


Konflik Bukan Musuh dalam Pernikahan

Ada anggapan bahwa pasangan yang cocok adalah pasangan yang jarang bertengkar.

Belum tentu.

Dua orang yang sangat mencintai pun dapat berbeda pendapat. Bahkan pasangan yang memiliki nilai-nilai yang sama tetap dapat memiliki cara berpikir berbeda.

Yang membedakan hubungan yang sehat bukan ketiadaan konflik, melainkan kemampuan mengelola konflik.

Pasangan yang sehat bukan pasangan yang selalu mengatakan “iya”.

Kadang-kadang justru pasangan yang sehat mampu mengatakan:

“Saya berbeda pendapat.”

Kemudian menjelaskan alasannya tanpa merendahkan.

Perbedaan pendapat seperti ini bukan ancaman. Justru dapat menjadi kesempatan bagi dua orang untuk menemukan keputusan yang lebih baik.


Pada Akhirnya, yang Dicari Bukan Pasangan Sempurna

Memilih pasangan hidup bukan mencari manusia yang tidak pernah marah, tidak pernah salah, dan selalu memahami kita.

Manusia seperti itu mungkin hanya ada dalam bayangan.

Yang lebih realistis adalah mencari seseorang yang mau belajar, mau mendengar, mau bertanggung jawab, dan bersedia bertumbuh bersama.

Demikian pula, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita juga mampu melakukan hal yang sama?

Sebab, artikel tentang memilih pasangan seharusnya tidak hanya mengajarkan kita mengamati calon pasangan. Kita juga perlu bercermin.

Mungkin pasangan kita mempunyai ego. Tetapi apakah kita juga mempunyai ego?

Mungkin dia sulit meminta maaf. Apakah kita mudah meminta maaf?

Mungkin dia sulit mendengarkan. Apakah kita benar-benar mendengarkan?

Pada akhirnya, pernikahan adalah perjalanan dua orang, bukan ujian yang hanya diberikan kepada salah satunya.

Karena itu, selama masa pacaran, jangan hanya bertanya:

“Apakah saya bahagia bersamanya?”

Tambahkan pertanyaan yang lebih jauh:

“Bagaimana kami menghadapi ketidaksetujuan?”

“Apakah kami dapat berbeda tanpa saling menghancurkan?”

Dan yang mungkin paling penting:

“Ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang kami inginkan, apakah kami masih mampu memperlakukan satu sama lain dengan hormat?”

Sebab pernikahan bukan hanya tentang bagaimana dua orang menikmati masa-masa ketika hidup berjalan sesuai rencana.

Pernikahan juga tentang bagaimana dua orang menghadapi hari ketika rencana berubah, keadaan sulit, keinginan bertabrakan, dan keduanya tidak mendapatkan apa yang diinginkan.

Di situlah hubungan diuji.

Bukan untuk mencari siapa yang menang, melainkan apakah keduanya masih memilih untuk menyelesaikan persoalan sebagai pasangan, bukan sebagai dua orang yang sedang berusaha mengalahkan satu sama lain.

BACA JUGA:

Apakah Modal Cinta Cukup untuk Menikah?

Hubungan Cinta (Pacaran) Bisa Putus, Bagaimana Megatasinya?

Benarkah Dia Jodoh Saya?

Posting Komentar