Bagaimana Ia Memperlakukan Orang yang Tidak Bisa Memberinya Apa-Apa?
Memilih pasangan hidup sering kali membuat kita terlalu fokus pada satu pertanyaan: “Bagaimana dia memperlakukan saya?”
Pertanyaan tersebut tentu penting. Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah menarik: “Bagaimana dia memperlakukan orang lain ketika tidak ada kepentingan apa pun yang bisa diperoleh darinya?”
Pertanyaan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi seseorang yang sedang menjalani hubungan dan mulai memikirkan pernikahan.
Sebab, ketika seseorang sedang jatuh cinta, sangat mungkin ia berusaha menampilkan sisi terbaik dirinya. Ia lebih sabar, lebih perhatian, lebih romantis, dan mungkin lebih berhati-hati dalam berbicara.
Itu bukan berarti semua perhatian tersebut palsu. Bisa saja memang demikian karakternya.
Namun, kita juga perlu menyadari bahwa seseorang dapat memperlakukan orang yang dicintainya dengan sangat baik, sementara memperlakukan orang lain dengan buruk.
Karena itu, sebelum memutuskan menikah, tidak ada salahnya sesekali menjadi pengamat terhadap cara calon pasangan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.
Mengapa Interaksi dengan Orang Lain Menarik untuk Diamati?
Ketika seseorang sedang berpacaran, ada kemungkinan ia sedang berada dalam fase memberikan kesan terbaik kepada pasangannya.
Ia mungkin berusaha menjaga ucapan, mengendalikan emosi, memberikan perhatian, dan menghindari perilaku yang dapat membuat pasangannya kecewa.
Sekali lagi, hal tersebut tidak selalu buruk. Justru kemampuan mengendalikan diri merupakan kualitas positif.
Tetapi ada situasi yang mungkin lebih spontan.
Bagaimana ia berbicara kepada pelayan restoran?
Bagaimana ia memperlakukan petugas kebersihan?
Bagaimana sikapnya kepada pengemudi kendaraan umum atau ojek?
Bagaimana ia berbicara kepada orang yang lebih tua?
Bagaimana ia memperlakukan seseorang yang melakukan kesalahan kecil?
Bagaimana reaksinya ketika berhadapan dengan orang yang tidak memiliki posisi, uang, atau pengaruh?
Situasi-situasi tersebut dapat memberikan gambaran tambahan tentang karakter seseorang.
Bukan berarti satu kejadian langsung menentukan seluruh kepribadiannya. Namun, pola perilaku yang berulang patut diperhatikan.
Jangan Hanya Melihat Bagaimana Ia Memperlakukan Orang yang Penting Baginya
Salah satu cara sederhana untuk memahami seseorang adalah memperhatikan apakah perlakuannya berubah berdasarkan status orang yang dihadapinya.
Misalnya, seseorang sangat ramah kepada atasannya, tetapi kasar kepada bawahan.
Sangat sopan kepada orang kaya, tetapi meremehkan orang miskin.
Sangat perhatian kepada orang yang dianggap memiliki pengaruh, tetapi tidak peduli kepada orang yang dianggap tidak penting.
Perbedaan perilaku semacam ini tidak otomatis membuktikan seseorang memiliki karakter buruk. Kita perlu memahami konteksnya.
Tetapi apabila pola tersebut terus berulang, kita memiliki alasan untuk bertanya:
Apakah kebaikannya diberikan karena memang menghargai manusia, atau karena ada sesuatu yang ingin diperolehnya?
Pertanyaan ini penting dalam memilih pasangan.
Sebab, pasangan hidup bukan hanya akan berhubungan dengan kita. Ia juga akan berinteraksi dengan keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, orang tua ketika semakin tua, anak-anak, bahkan orang asing yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Cara Ia Memperlakukan Orang yang Tidak Bisa Memberinya Apa-Apa
Bayangkan seseorang sedang makan bersama pasangannya di sebuah restoran.
Ia bersikap sangat romantis kepada pasangan. Namun ketika pelayan datang terlambat membawa makanan, ia langsung memarahi pelayan tersebut.
Atau ketika pesanan salah, ia mempermalukan orang yang melayaninya.
Mungkin kita berpikir:
“Yang penting dia baik kepada saya.”
Tetapi pertanyaan berikutnya justru perlu diajukan:
“Suatu hari nanti, ketika saya tidak bisa memenuhi keinginannya, apakah mungkin saya juga akan diperlakukan seperti itu?”
Tentu tidak otomatis demikian.
Namun, cara seseorang memperlakukan orang lain dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana ia menghadapi frustrasi, perbedaan status, kesalahan, dan ketidaknyamanan.
Karena itu, jangan hanya melihat apakah ia romantis kepada kita.
Lihat juga apakah ia tetap memiliki rasa hormat ketika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Perhatikan Cara Ia Memperlakukan Orang yang Lebih Lemah
Ini mungkin salah satu pengamatan yang paling penting.
Bagaimana ia berbicara kepada anak kecil?
Bagaimana ia memperlakukan orang lanjut usia?
Bagaimana sikapnya terhadap orang yang memiliki keterbatasan?
Bagaimana ia berbicara kepada pekerja rumah tangga?
Bagaimana ia memperlakukan orang yang sedang melakukan pekerjaan sederhana?
Kita tidak sedang mencari pasangan yang harus selalu sempurna dan sabar dalam setiap situasi.
Tetapi jika seseorang secara konsisten menggunakan posisi atau kekuasaannya untuk merendahkan orang lain, hal tersebut patut menjadi perhatian.
Pernikahan juga merupakan hubungan yang melibatkan dinamika kekuasaan.
Ada saatnya salah satu pasangan lebih kuat secara finansial. Ada saatnya salah satu memiliki karier lebih baik. Ada saatnya salah satu lebih banyak mengambil keputusan.
Karena itu, kemampuan menggunakan kekuatan tanpa merendahkan orang lain merupakan kualitas yang penting.
Jangan Terjebak pada Satu Kejadian
Meskipun demikian, pengamatan terhadap pasangan juga harus dilakukan dengan adil.
Jangan melihat satu kejadian kemudian langsung menyimpulkan:
“Dia orang jahat.”
Seseorang bisa saja sedang lelah, mengalami masalah, atau berada dalam kondisi tertentu yang membuat responsnya tidak ideal.
Yang perlu dicari bukanlah satu kesalahan.
Carilah pola.
Apakah perilaku tersebut terjadi berulang kali?
Apakah ia menyadari kesalahannya?
Apakah ia meminta maaf?
Apakah ia mau memperbaiki diri?
Atau justru ia merasa tidak ada yang salah dengan mempermalukan orang lain?
Di sinilah pengamatan menjadi lebih objektif.
Kita bukan sedang mencari kesalahan calon pasangan, melainkan mencoba memahami pola karakter dan cara ia berhubungan dengan manusia lain.
Apakah Ia Hanya Baik kepada Orang yang Disukainya?
Ada orang yang sangat baik kepada orang-orang yang disukainya, tetapi sangat buruk kepada orang yang tidak disukainya.
Ini juga perlu diperhatikan.
Sebab kehidupan pernikahan tidak akan selalu menghadirkan orang-orang yang kita sukai.
Akan ada mertua yang berbeda pendapat.
Ada saudara yang sulit diajak bekerja sama.
Ada tetangga yang menyebalkan.
Ada teman kerja yang tidak menyenangkan.
Ada orang yang mungkin tidak cocok dengan kita.
Dalam situasi seperti itu, kita tidak mungkin meminta pasangan selalu menyukai semua orang.
Tetapi kita dapat berharap bahwa ia tetap mampu menghormati manusia meskipun tidak menyukainya.
Ini perbedaan yang penting.
Menyukai seseorang adalah pilihan perasaan. Menghormati seseorang adalah pilihan perilaku.
Bagaimana Ia Bersikap Ketika Tidak Mendapatkan Keinginannya?
Ini sebenarnya masih berhubungan dengan artikel sebelumnya tentang bagaimana pasangan berkomunikasi ketika tidak sependapat.
Keduanya memiliki akar yang sama: respons seseorang ketika realitas tidak sesuai dengan keinginannya.
Ketika restoran penuh, bagaimana reaksinya?
Ketika pelayanan lambat?
Ketika seseorang melakukan kesalahan?
Ketika pendapatnya ditolak?
Ketika permintaannya tidak bisa dipenuhi?
Ketika ia harus menunggu?
Hal-hal sederhana tersebut bisa menjadi “jendela kecil” untuk melihat bagaimana seseorang mengelola emosi.
Orang yang matang bukan berarti tidak pernah kecewa atau marah.
Ia mungkin tetap kecewa.
Namun, ia tidak otomatis menjadikan kekecewaannya sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Jangan Lupa Mengamati Diri Sendiri
Ada satu jebakan dalam gagasan “mengamati calon pasangan”.
Kita bisa terlalu sibuk menilai dia sampai lupa bahwa kita juga sedang dinilai.
Jika kita ingin pasangan yang menghormati pelayan restoran, apakah kita sendiri menghormati pelayan?
Jika kita ingin pasangan yang sabar terhadap orang tua, apakah kita sendiri sabar?
Jika kita berharap pasangan tidak mudah merendahkan orang lain, apakah kita juga melakukan hal yang sama?
Pernikahan bukan proses mencari seseorang yang memiliki karakter sempurna untuk memenuhi standar kita.
Kita juga sedang menawarkan diri sebagai pasangan kepada orang lain.
Karena itu, pengamatan terhadap calon pasangan seharusnya berjalan dua arah.
Dari Pengamatan Menuju Pertanyaan yang Lebih Dalam
Pada akhirnya, tujuan mengamati interaksi pasangan dengan orang lain bukan untuk mengumpulkan daftar kesalahan.
Tujuannya adalah mendapatkan gambaran yang lebih utuh.
Kita ingin mengetahui apakah ia memiliki rasa hormat kepada manusia lain.
Apakah ia mampu mengendalikan diri ketika frustrasi.
Apakah ia memperlakukan orang berdasarkan nilai kemanusiaannya atau berdasarkan manfaat yang dapat diberikan.
Apakah ia mampu meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Dan yang tidak kalah penting, apakah ia bersedia belajar ketika menyadari bahwa perilakunya tidak tepat.
Karena ketika seseorang menikah, ia tidak hanya menikah dengan sisi romantis pasangannya.
Ia juga hidup bersama cara pasangannya menghadapi dunia.
Pernikahan Adalah Perjalanan Panjang, Bukan Hanya Masa PDKT
Mungkin inilah alasan mengapa memilih pasangan membutuhkan waktu.
Kita tidak harus terburu-buru menyimpulkan seseorang hanya karena ia terlihat baik dalam beberapa kali pertemuan.
Sebaliknya, kita juga tidak perlu mencari-cari kesalahan secara berlebihan.
Cukup hadir dalam kehidupan sehari-hari dan belajar mengamati.
Lihat bagaimana ia berbicara kepada orang lain.
Lihat bagaimana ia menghadapi kesalahan.
Lihat bagaimana ia menggunakan kekuasaan.
Lihat bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki sesuatu untuk diberikan kepadanya.
Dan lihat bagaimana ia bereaksi ketika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sebab cinta dapat membuat seseorang melihat pasangan melalui kacamata yang sangat indah.
Itu bukan sesuatu yang harus disalahkan.
Tetapi sebelum cinta diteruskan menjadi pernikahan, ada baiknya kita juga memberi kesempatan kepada akal sehat untuk ikut berbicara.
Bukan untuk mencari pasangan yang sempurna.
Bukan pula untuk menghitung berapa persen pasangan memiliki kekurangan.
Melainkan untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:
“Apakah orang ini memiliki karakter yang membuat saya bersedia menjalani kehidupan panjang bersamanya?”
Sebab pernikahan bukan hanya tentang bagaimana seseorang memperlakukan kita ketika ia sedang berusaha mendapatkan hati kita.
Pernikahan adalah tentang bagaimana ia memperlakukan manusia lain ketika tidak ada keuntungan yang bisa diperolehnya.
Dan mungkin, dari sana kita bisa melihat sedikit lebih jelas siapa dirinya sebenarnya.
BACA JUGA:
Apakah Modal Cinta Cukup untuk Menikah?
Hubungan Cinta (Pacaran) Bisa Putus, Bagaimana Megatasinya?
Jangan Menikahi Seseorang Karena Potensinya

Posting Komentar
Karena saya percaya pengalaman Anda adalah berharga bagi keluarga lainnya.